Fitnah Tajsim

Bismillah,
Jika anda ditanya oleh seseorang “apakah Allah Berjism”? apa jawaban anda?

Jika anda jawab “Ya” maka anda belum tentu benar. Jika anda jawab “Tidak” Maka anda kemungkinan salah.

Eh, mcm tu pulak…. Bingungkan???

Apa itu Jism?

Ibnu Mandzur berkata:

الجِسْمُ: جماعة البَدَنِ أَو الأَعضاء من الناس والإِبل والدواب وغيرهم من الأَنواع العظيمة

Aljismu: kumpulan dari badan atau anggota-anggota seorang manusia, unta, binatang berkaki empat, dan lain-lain yang merupakan bagian yang makhluk yang besar.

Para ahli bahasa hanya menggunakan istilah Jism untuk sesuatu yang berat dan padat, mereka tidak menamakan udara sebagai jism dan jasad sebagaimana halnya dengan tubuh manusia yang jelas mereka sebut sebagai jism.

Pandangan ahli bahasa tentang Jism sesuai dengan firman Allah taala:

وإذا رأيتهم تعجبك أجسامهم

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum”.

(QS al Munâfiqûn:4)

Dalam ayat lain Allah berfirman

وزاده بسطة في العلم والجسم

“Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”.

(QS albaqarah:247)

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Adapun ahli kalam dan para filsafat berselisih tentang makna Jism: Sebahagian dari mereka mengatakan bahwa Jism itu adalah sesuatu yang wujud, sebahagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang berdiri sendiri, sebagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang tersusun dari atom, sebahagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang tersusun dari materi dan gambaran, sebahagian lagi mengatakan bahwa bahwa jism adalah sesuatu yang dapat ditunjuk dengan isyarat indra, sebahagian lagi mengatakan bahwa jism itu tidak tersusun dari apapun tapi ia justeru yang ditunjuk [1]

Apa yang didefinisikan oleh para mutakallimin dan ahli filsafat sama sekali tidak dikenal dalam bahasa arab baik dalam kitab-kitab maupun syair-syair mereka. Roh sekalipun ditunjuk, turun, dan naik serta berdiri sendiri namun tidak dinamakan sebagai jism oleh ahli bahasa. Karena itulah mereka menyebutkan istilah jism dan roh. Disini dapat kita ketahui bahwa “dan” disini memberi kesan makna yang berbeza(mughayarah).

Teka-teki

Jadi manakah yang anda pilih ketika menjawab Ya atau Tidak?

Jika dinafikan, lalu bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa jism itu sesuatu yang dapat ditunjuk, padahal Ahlusunnah dan juga Asyairah beriman bahwa Allah dapat dilihat disyurga. Padahal sesuatu yang dilihat dengan mata adalah sesuatu yang ditunjuki dengan indra.?

Jika dikatakan Allah adalah jism, lalu bagaimana dengan pendapat ahli bahasa yang mengatakan bahwa tubuh dan anggota-anggotanya adalah jism[2]?

Bingungkah anda?

Disinilah perlunya memahami sesuatu secara menyeluruh dan terperinci.

Ibnu Taimiyah berkata:

أما الكلام في الجسم والجوهر ونفيهما أو إثباتهما , فبدعةٌ

ليس لها أصلٌ في كتاب الله ولا سنة رسوله

ولا تكلم أحدٌ من الأئمة والسلف بذلك نفياً ولا إثباتاً . انتهى

Adapun pembicaraan tentang jism dan jawhar serta penafian dan penetapannya merupakan kebidahan yang tidak memiliki asal dari kitab Allah dan sunnah rasulnya serta tidak pernah dibicarakan oleh seorangpun dari para imam-imam Salaf dengan menafikannya atau menetapkannya.[3]

Dalam tempat lain beliau mengatakan:

وأما القول الثالث: فهو القول الثابت عن أئمة السنة المحضة

كالإمام أحمد ومَنْ دونه , فلا يطلقون لفظ الجسم لا نفياً ولا إثباتاً , لوجهين :

أحدهما : أنه ليس مأثوراً , لا في كتاب ولا سنة ,

ولا أثر عن أحد من الصحابة والتابعين لهم بإحسان , ولا غيرهم من أئمة المسلمين ,

فصار من البدع المذمومة .

الثاني : أن معناه يدخل فيه حق وباطل ,

والذين أثبتوه أدخلوا فيه من النقص والتمثيل ما هو باطل ,

والذين نفوه أدخلوا فيه من التعطيل والتحريف ما هو باطل . انتهى

Dan adapun pendapat yang ketiga: itulah pendapat yang tetap dari para imam Sunnah yang murni. Seperti Imam Ahmad dan selainnya. Mereka tidak memutlakkan lafadz jism baik dalam penafian maupun penetapan karena dua hal.

Pertama: hal tersebut tidak ma’tsur baik dalam qur’an, sunnah, maupun atsar sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Tidak juga dari para imam kaum musllimin yang lain. Maka jadilah hal tersebut sebagai bid’ah yang tercela.

Kedua: maknanya boleh jadi sesuatu yang haq dan boleh jadi juga sesuatu yang batil.

Orang-orang yang menetapkannya [secara mutlak] berkemungkinan masuk dalam penjelekkan dan penyerupaan yang merupakan sebuah kebathilan.[4]

Sedangkan orang yang menafikannya [secara mutlak] boleh masuk dalam ta’thil dan tahrif yang juga merupakan sebuah kebatilan.[5] [6]

Kesimpulan

Lafadz jism terkait sifat Allah adalah lafadz yang Muhtamil serta sebuah pembahasan muhdats (bid’ah) yang diada-adakan oleh para filsafat dan Mutakallimun. Sebagai Ahlissunnah kita harus menghindarinya.

Jika kita ditanya tentang hal ini maka Ibnu Taimiyah memberikan Jalan keluar dengan perkataannya:

فيقال لمن سأل بلفظ الجسم : ما تعني بقولك ؟

أتعني بذلك أنه من جنس شيء من المخلوقات ؟

فإن عنيتَ ذلك , فالله قد بيَّنَ في كتابه أنه لا مثل له , ولا كفوَ له , ولا نِدَّ له ؛

وقال : ( أفمن يخلق كمن لا يخلق )

فالقرءان يدل على أن الله لا يماثله شيء , لا في ذاته ولا صفاته ولا أفعاله ,

فإن كنتَ تريد بلفظ الجسم ما يتضمن مماثلة الله لشيء من المخلوقات ,

فجوابك في القرءان والسنة . انتهى

Maka direspon bagi siapapun yang bertanya dengan lafadz jism: apa yang anda maksud? Apakah yang anda maksud adalah bahwa Dia termasuk jenis dari makhluknya? Kalau jelas begitu maksudnya, maka Allah telah menjelaskan didalam kitabnya bahwa Dia tidak serupa, setara, dan tidak bersekutu dengan apapun.

Allah berfirman:
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?
(QS al Nahl:17).

Al Qur’an menunjukkan bahwa Allah tidak diserupai oleh apapun baik zat, sifat, maupun perbuatannya.

Kalau yang engkau maksud dengan lafadz Jism mengandung penyerupaan Allah dengan makhluknya, maka jawaban untukmu ada didalan Alqur’an dan Sunnah.[7]

Selanjutnya beliau menegaskan:

ولهذا اتفق السلف والأئمة على الإنكار على المشبهة الذين يقولون

بصر كبصري , ويدٌ كيدي , وقدم كقدمي . انتهى

Oleh karena itu Salaf telah bersepakat untuk mengingkari Musyabbihah yang mengatakan penglihatan [Allah] seperti penglihatanku, tangan [Allah] seperti tanganku, kaki [Allah] seperti kakiku.[8]

Disini Ahlussunnah dan salaf tidak membicarakan penafian maupun penetapan jism pada Allah, begitu juga lafadz-lafadz lain yang tidak terdapat dalam al Qur’an maupun Sunnah seperti arah dan tahayyuz dan semisalnya. Tetapi Ahlussunnah menyifatkan Allah Taala sesuai dengan apa yang Ia Sifatkan bagi dirinya dalam al-Qur’an dan apa yang disifatkan oleh Rasulnya. Mereka tidak melangkahi al-Qur’an dan Hadits.

Imam al Barbahari berkata:

Tidak membicarakan rabb kecuali sesuai dengan apa yang Ia sifatkan bagi dirinya Ajja Wajalla dalam Qur’an dan yang dijelaskan oleh Rasulullah untuk para sahabatnya.[9]

Beliau juga menjelaskan bahwa lafadz-lafadz bid’ah tersebut adalah sumber bid’ah:

Ketahuilah! Semoga Allah memuliakanmu! Kalau saja manusia menahan diri dalam perkara-perkara muhdats, tidak melangkah lebih jauh, dan tidak melahirkan kalimat-kalimat yang tidak pernah datang dari atsar Rasulullah juga sahabatnya,maka niscaya tidak akan ada kebid’ahan[10]

Al Hafidz Abdul Ghani al Maqdisi Rahimahullah menyetujui kaidah seperti ini dengan mengatakan:

“Termasuk Sunnah yang tetap adalah diam dari sesuatu yang tidak datang nashnya dari Rasulullah Shallallâhu alaihi Wasallam atau yang telah disepakati oleh kaum muslimin untuk memutlakkannya dan meninggalkan perselisihan dalam penafian dan penetapannya. Begitu juga pada perkara yang hanya dapat ditetapkan dengan nash Syari’, dan juga pada perkara yang hanya dapat dinafikan dengan dalil Sami’ [11]

Tulisan dan nukilan Ibnu taimiyah juga menjadi bukti bahwa beliau bukanlah seorang mujassimah. Justeru ketika Asyairah membatasi bahwa jism itu adalah satu hal, ternyata ibnu taimiyah telah merinci dan menyikapi lafadz jism dari berbagai isu yang beredar tentang jism menurut berbagai firqah dan mengambil solusi yang wasath.

Semoga bermanfaat

_________
FooteNote:
[1] Majmû’ Fatâwa Syaikhul islam Ibnu Taimiyah III/32
[2] Sekte karamiyah merupakan golongan Mujassimah yang berkeyakinan Allah adalah Jism dalam artian bertubuh dan bertulang. wal iyadzubillah
[3] Dar ut taahrudh al aql wan naql 4/146
[4] Kalau kita mengatakan Allah jism maka boleh jadi kita akan seperti karamiyah yang menetapkan bahwa Allah adalah seperti tubuh yang terdiri dari tulang dan daging. Waliyadzubillah
[5] Ada yang berpendapat bahwa jism itu yang ditunjuk padahal sesuatu yang terlihat itu adalah sesuatu yang ditunjuki oleh indra. Dengan menafikannya secara mutlak maka boleh jadi kita seperti mu’tazilah yang tidak mengimani bahwa kita dapat melihat Allah diakhirat kelak.
[6] Minhajussunnah Nabawiyyah I/204
[7] Dar ut taahrudh al aql wan naql 10/307
[8] Dar ut taahrudh al aql wan naql 10/309
[9] Syarhussunnah hal. 69
[10] Syarhussunnah hal. 105
[11] Aqâid Aimmatusshalaf hal 132

Sumber: http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/09/21/fitnah-tajsim/
(dengan sedikit alih bahasa)

Abu Bakr Tidak Dijamin Syurga, Bahkan Tidak Layak Disebut Sahabat Yang Paling Utama …?

Begitulah igauan kebanyakkan orang Syi’ah yang mendakwa melandaskan perkataannya dari sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam kitab Ahlus-Sunnah. Mereka berdalil dengan hadits berikut:

وَحَدَّثَنِي، عَنْ مَالِك، عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، أَنَّهُ بَلَغَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ: ” هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ “، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ: أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا، كَمَا أَسْلَمُوا، وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” بَلَى، وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي ” فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ بَكَى، ثُمَّ قَالَ: أَئِنَّا لَكَائِنُونَ بَعْدَكَ

Dan telah menceritakan kepadaku dari Maalik, dari Abu Nadlr Maulaa ‘Umar bin ‘Ubaidillah, telah sampai kepadanya bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para syuhadaa’ Uhud :

“Aku bersaksi atas mereka”. Lalu Abu Bakr Ash-Shiddiiq berkata: “Apakah kami bukan saudara mereka wahai Rasulullah ?. Kami memeluk agama Islam sebagaimana mereka juga memeluk Islam. Dan kami pun berjihad sebagaimana mereka juga berjihad ?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tentu. Akan tetapi aku tidak tahu apa yang kalian lakukan setelahku”. Maka, Abu Bakr pun menangis dan menangis, lalu berkata: “Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?”

– [Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’, 3/40 no. 1083 – tahqiq: Al-Hilaaliy].

Abun-Nadlr maulaa ‘Umar bin ‘Ubaidillah, namanya adalah Saalim bin Abi Umayyah Al-Qurasyiy At-Taimiy, termasuk tingkatan shighaarut-taabi’iin (thabaqah kelima). Seorang yang tsiqah lagi tsabat, namun banyak memursalkan riwayat. Wafat tahun 129 H
– [lihat biografi dirinya dalam kitab: Asmaausy-Syuyuukh Al-Imaam Maalik bin Anas oleh Ibnu Khalfuun, hal. 211; Tahdziibul-Kamaal oleh Al-Mizziy, 10/127-130 no. 2141; Tahdziibut-Tahdziib oleh Ibnu Hajar, 3/431-432 no. 797; dan Siyaru A’laamin-Nubalaa’ oleh Adz-Dzahabiy, 6/6-7 no. 2].

Mengetahu info seperti ini dengan mudah kita menyimpulkan bahwa riwayat ini lemah disebabkan mursal, kerana Abun-Nadlr jelas tidak pernah bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebenarnya, jika kita berhenti sampai di sini pun sudah sedar kebatilan apa yang mereka canangkan tentang Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu.

Lagi pula, bagaimana dapat difahami dari riwayat di atas bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu tidak dijamin masuk syurga ?. Tidak ada, kecuali perkataan orang Syi’ah yang sedang kebingungan saja.

Banyak ulama yang menjelaskan hadits di atas dengan penjelasan beragam.

Yang perlu diberi catatan, seandainya kita menerima hadits tersebut, baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa Abu Bakr dan para sahabat lainnya adalah saudara dari para syuhadaa’ Uhud yang telah mendahului mereka. Iaitu, saudara dalam hal keimanan.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dalam riwayat di atas, bersaksi atas kesyahidan para sahabat yang gugur di medan Uhud. Baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak bersaksi atas diri Abu Bakr dan yang lainnya maksudnya: baginda tidak bersaksi apakah Abu Bakr dan yang lainnya juga meninggal di medan pertempuran sebagai syahiid sebagaimana syuhadaa’ Uhud. Oleh kerana itu Abu Bakr menangis dan kemudian berkata: “Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?”. Kenyataannya Abu Bakr memang masih hidup setelah baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan penjadi pengganti baginda sebagai Khaliifah mengatur urusan kaum muslimin. Dan kenyataannya (lagi), Abu Bakr tidaklah meninggal sebagai syahiid di medan pertempuran sebagaimana syuhadaa’ Uhud.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa makna bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak bersaksi atas diri Abu Bakr dan para sahabat lainnya adalah isyarat bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan mendahului mereka (wafat). Mendengar hal itu. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu pun menangis dan berkata: ‘Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?’.
Ibnu ‘Abdil-Barr menjelaskan bahwa maksud persaksian baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada syuhadaa’ Uhud adalah persaksian akan keimanan yang benar, selamat dari dosa-dosa yang membinasakan serta pergantian dan perubahan, dan berlomba-lomba dalam urusan dunia [selesai]. Jelas, kerana syuhadaa’ Uhud itu telah menutup usianya dalam membela agama Allah.
Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui apa yang dilakukan para sahabat sepeninggal baginda adalah tidak mengetahui keseluruhan amal mereka secara tafshil, termasuk dengan cara apa mereka akan menutup usia. Apakah akan syaahid di medan pertempuran atau dengan cara yang lainnya.
Apa yang dikatakan baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallamtidak mengetahui apa yang terjadi setelah baginda meninggal merupakan realisasi daripada keumuman firman Allah ta’ala :

 

قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”

– [QS. Al-An’am: 50].

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”

– [QS. An-Naml: 65].

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”

– [QS. Al-A’raaf: 188].

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

– [QS. Luqmaan: 34].

Lantas, apa yang salah dari perkataan baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu ?.[1]

Dan ingat bung Syi’ah, bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan shighah jamak:

“Apakah kami bukan saudara mereka wahai Rasulullah ?. Kami memeluk agama Islam sebagaimana mereka juga memeluk Islam. Dan kami pun berjihad sebagaimana mereka juga berjihad ?”

(أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا، كَمَا أَسْلَمُوا، وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا؟).

Ertinya, ia (Abu Bakr) bertanya bukan hanya mewakili diri pribadi, termasuk juga di dalamnya ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Jika demikian, mengapa mereka hanya mengkhususkan kepada Abu Bakr, dengan mengecualikan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhumaa ?. Tentu, mereka lakukan itu kerana kebencian mereka terhadap Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu. Penyakit lama. Sekaligus ini juga ingin menyimpulkan kesimpulan orang Syi’ah itu:
Catatan :

  • Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar dan sahabat lainnya kerana Rasulullah SAW telah memberikan kesaksian kepada Mereka
  • Rasulullah SAWW tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakar dan sahabat lainnya kerana Rasulullah SAWmengatakan tidak mengetahui apa yang akan mereka (termasuk Abu Bakar) perbuat sepeninggal baginda SAW.Saya tambah berdasarkan logika kesimpulan yang salah di atas :
    1. Para syuhadaa Uhud lebih utama dari Abu Bakr dan sahabat lainnya, termasuk ‘Aliy bin Abi Thaalib; kerana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kesaksian kepada mereka
    2. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakr dan sahabat lainnya, termasuk ‘Aliy bin Abi Thaalib; kerana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui apa yang akan mereka (termasuk Abu Bakr dan ‘Aliy bin Abi Thaalib) perbuat sepeninggal baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Menjadi lebih ‘adil’ bukan kesimpulan salah ini ?.
Adapun persaksian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu masuk syurga, jelas sekali ada dalam banyak riwayat, di antaranya :

حدثنا هشام بن عمار ثنا سفيان عن الحسن بن عمارة عن فراس عن الشعبي عن الحارث عن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر وعمر سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين إلا النبيين والمرسلين لا تخبرهما يا علي ما داما حيين

Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar: Telah menceritakan kepada kami Sufyaan (bin ‘Uyainah), dari Al-Hasan bin Al-‘Umaarah, dari Firaas, dari Asy-Sya’biy, dari Al-Haarits, dari ‘Aliy, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Abu Bakr dan ‘Umar adalah dua orang pemimpin bagi orang-orang dewasa penduduk syurga, dari kalangan terdahulu maupun yang kemudian selain para Nabi dan Rasul. Jangan engkau khabarkan hal ini kepada mereka wahai ‘Aliy, selama mereka masih hidup”

– [Sunan Ibni Maajah no. 95; shahih dengan keseluruhan jalannya – baca selengkapnya dalam artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/03/keutamaan-abu-bakr-dan-umar-yang.html%5D.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ، وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ ”

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Muhammad, dari ‘Abdurrahmaan bin Humaid, dari ayahnya, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Abu Bakr di syurga, ‘Umar di syurga, ‘Utsmaan di syurga, ‘Aliy di syurga, Thalhah di syurga, Az-Zubair di syurga, ‘Abdurrahmaan in ‘Auf di syurga, Sa’d di syurga, Sa’iid di syurga, dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarraah di syurga”

– [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3747. Diriwayatkan juga oleh Ahmad 1/193 dan dalam Al-Fadlaail no. 278, An-Nasaa’iy dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 91, Abu Ya’laa no. 835, Ibnu Hibbaan no. 7002, dan yang lainnya; shahih].

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِي الْفَزَارِيَّ، عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ الْأَشْجَعِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ ”

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Umar: Telah menceritakan kepada kami Marwaan, iaitu Al-Fazzaariy, dari Yaziid – ia adalah Ibnu Kaisaan – , dari Abu Haazim Al-Asyjaa’iy, dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Siapakah di antara kalian yang memasuki waktu pagi dalam keadaan berpuasa di hari ini?”. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Aku”. Baginda kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang telah mengiringi jenazah pada hari ini?”. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Aku”. Baginda kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang telah memberi makan kepada orang miskin pada hari ini?”. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Aku”. Baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang telah membesuk orang sakit pada hari ini?”. Abu Bakr menjawab: “Aku”. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seluruh perkara tersebut terkumpul pada diri seseorang melainkan dia akan masuk syurga”

– [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1028].

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي حَفْصَةَ، وَالْأَعْمَشِ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ صَهْبَانَ، وَابْنِ أَبِي لَيْلَى، وَكَثِيرٍ النَّوَّاءِ كُلِّهِمْ، عَنْ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ أَهْلَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى لَيَرَاهُمْ مَنْ تَحْتَهُمْ كَمَا تَرَوْنَ النَّجْمَ الطَّالِعَ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ، وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ مِنْهُمْ وَأَنْعَمَا ”

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah: Telah menceritakan Muhammad bin Fudlail, dari Saalim bin Abi Hafshah, Al-A’masy, ‘Abdullah bin Shahbaan, Ibnu Abi Lailaa, dan Katsiir An-Nawaa’, semuanya dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa’iid, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya derajat penghuni syurga yang paling tinggi benar-benar akan melihat orang-orang yang ada di bawah mereka sebagaimana kalian melihat bintang terbit di ufuk langit. Dan sesungguhnya Abu Bakr dan ‘Umar termasuk di antara mereka dan yang paling baik”

[Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3658; hasan dengan keseluruhan jalannya].
Dan masih banyak hadits lain yang menetapkan persaksian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu sebagai penghuni syurga. Di atas saya ambil yang pendek-pendek saja.
Adapun penetapan bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu sebagai sahabat yang paling utama, saya kira orang Syi’ah tersebut hanyalah kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu. Atau bahkan tidak mau tahu ?

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ قَالَ خَالِدٌ الْحَذَّاءُ حَدَّثَنَا عَنْ أَبِي عُثْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ فَقُلْتُ مِنْ الرِّجَالِ فَقَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَعَدَّ رِجَالًا

Telah menceritakan kepada kami Mua’llaa bin Asad: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Mukhtaar, ia berkata: Telah berkata Khaalid Al-Hadzdzaa’ dari Abu ‘Utsmaan, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu: Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya beserta rombongan pasukan Dzatus-Sulaasil. Lalu aku (‘Amru) bertanya kepada baginda:
“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?”. Baginda menjawab: “‘Aisyah”. Aku kembali bertanya : “Kalau dari kalangan laki-laki?”. Baginda menjawab: “Bapaknya (iaitu Abu Bakr)”. Aku kembali bertanya: “Kemudian siapa lagi?”. Baginda menjawab: “‘Umar bin Al-Khaththab”. Selanjutnya baginda menyebutkan beberapa orang laki-laki”

– [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3662].

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ، ثنا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: كُنَّا نَتَحَدَّثُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّ خَيْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا: أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، فَيَبْلُغُ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلا يُنْكِرُهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘’Amru bin ‘Utsmaan: Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah : Telah menceritakan kepada kami Al-Laits bin Sa’d, dari Yaziid bin Abi Habiib, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata:
“Kami berkata di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ‘bahwasannya sebaik-baik umat setelah Nabinya (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) adalah Abu Bakr, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsmaan’. Lalu sampailah hal itu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka baginda tidak mengingkarinya[2]”

– [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim no. 1193; shahih].

‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu termasuk yang orang yang mengunggulkan Abu Bakr (dan ‘Umar) dibandingkan sahabat lain, termasuk dirinya :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو صَالِحٍ الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى، قثنا شِهَابُ بْنُ خِرَاشٍ، قثنا الْحَجَّاجُ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ حُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: كُنْتُ أَرَى أَنَّ عَلِيًّا أَفْضَلَ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ أَرَى أَنَّ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ بَعْدِ رَسُولِ اللَّهِ أَفْضَلَ مِنْكَ، قَالَ: أَوَلا أُحَدِّثُكَ يَا أَبَا جُحَيْفَةَ، بِأَفْضَلِ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: أَفَلا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ وَأَبِي بَكْرٍ؟ قَالَ: قُلْتُ: بَلَى فَدَيْتُكَ، قَالَ: عُمَرُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Shaalih Al-Hakam bin Muusaa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syihaab bin Khiraasy, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaaj bin Diinaar, dari Hushain bin ‘Abdirrahmaan, dari Abu Juhaifah, ia berkata:
Dulu aku berpandangan bahwasannya ‘Aliy adalah orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata kepadanya: “Wahai Miirul-mukminiin, sesungguhnya aku tidak memandang seorang pun di antara kaum muslimin setelah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lebih utama dari engkau”. ‘Aliy berkata : “Tidakkah engkau mau aku beritahukan kepadamu wahai Abu Juhaifah tentang orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Aku berkata : “Tentu”. ‘Aliy berkata : “Abu Bakr”. Kemudian ia melanjutkan : “Tidakkah engkau mau aku beritahukan kepadamu orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr ?”. Aku berkata : “Tentu, berilah aku penjelasan”. ‘Aliy berkata : “’Umar”

– [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 404; hasan, dan shahih dengan keseluruhan jalannya].
Madzhab Ahlul-Bait adalah mencintai Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu :

حَدَّثَنَا أَبُو ذَرٍّ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، نَا عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ أَشْكَابٍ، نَا إِسْحَاقُ بْنُ أَزْرَقَ، عَنْ بَسَّامِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الصَّيْرَفِيِّ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ قُلْتُ: مَا تَقُولُ فِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا؟ فَقَالَ: ” وَاللَّهِ إِنِّي لأَتَوَلاهُمَا وَأَسْتَغْفِرُ لَهُمَا، وَمَا أَدْرَكْنَا أَحَدًا مِنْ أَهْلِ بَيْنِي إِلا وَهُوَ يَتَوَلاهُمَا ”

Telah menceritakan kepada kami Abu Dzarr Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr: Telah mengkhabarkan kepada kami ’Aliy bin Al-Husain bin Asykaab: Telah mengkhabarkan kepada kami Ishaaq bin Azraq, dari Bassaam bin ’Abdillah Ash-Shairafiy, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Abu Ja’far, aku berkata: ”Apa komentarmu tentang Abu Bakr dan ’Umar radliyallaahu ’anhumaa ?”. Maka ia menjawab: “Demi Allah, sungguh aku menjadikan mereka berdua sebagai wali dan memintakan ampun untuk mereka berdua. Tidaklah kami menjumpai seorang pun dari kalangan Ahlul-Baitku kecuali ia juga menjadikan mereka berdua sebagai wali”

– [Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 41; shahih – baca selengkapnya di artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/04/berlepas-dirinya-imam-ahlul-bait.html%5D.
Jika Syi’ah dengki dan benci kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu, sebenarnya itu hanyalah mewarisi agama ‘Abdullah bin Saba’.

حَدَّثَنَا عَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ، قَالَ: أنا شُعْبَةُ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: مَا لِي وَلِهَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ، يَعْنِي: عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَبَإٍ، وَكَانَ يَقَعُ فِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ.

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Marzuuq, ia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, ia berkata: Telah berkata ‘Aliy (bin Abi Thaalib): “Apa urusanku dengan orang hitam jelek ini – iaitu ‘Abdullah bin Saba’ – . Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah no. 4358; shahih].

Kita, Ahlus-Sunnah, bermadzhab dengan madzhab Ahlul-Bait, madzhabnya ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Syi’ah juga ngaku-ngaku mengikuti ‘Aliy, tapi mungkin yang dimaksud bukan Ibnu Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu, tapi ‘Aliy yang lain entah siapa….
Wallaahul-musta’aan.

Artikel: abul-jauzaa’ – 1432 H – revised: 12-5-2011].

Nota kaki:
– – –

  1. Namun kesaksian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara umum ada sebagaimana terdapat dalam banyak riwayat :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَكَانُوا يَضْرِبُونَنَا عَلَى الشَّهَادَةِ وَالْعَهْدِ وَنَحْنُ صِغَارٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsiir: Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari Manshuur, dari Ibraahiim, dari ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah radliyallaahu ‘anhu: Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya”. Ibrahim berkata: “Dahulu, mereka (para sahabat) memukul kami saat masih kecil bila melanggar perjanjian dan persaksian (untuk sebuah pengajaran)”.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3651. Diriwayatkan pula oleh Muslim no. 2533, At-Tirmidziy no. 3859, Ibnu Maajah no. 2363, Ahmad 1/378 & 434 & 442, dan Ath-Thayaalisiy no. 299.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ كُلُّهُمْ عَنْ حُسَيْنٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ مُجَمَّعِ بْنِ يَحْيَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُلْنَا لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ قَالَ فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ مَا زِلْتُمْ هَاهُنَا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ قَالَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, Ishaaq bin Ibraahiim, ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, semuanya dari Husain. Telah berkata Abu Bakr: Telah menceritakan kepada kami Husain bin ‘Aliy Al-Ju’fiy, dari Mujammi’ bin Yahyaa, dari Sa’iid bin Abi Burdah, dari Abu Burdah, dari ayahnya, ia berkata:
“Kami pernah melaksanakan shalat Maghrib berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami berkata: ‘Sebaiknya kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menunggu waktu shalat ‘Isya’. Ayah Abu Burdah berkata: ‘Kami duduk-duduk di masjid, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami seraya bertanya: ‘Kalian masih di sini?’. Kami menjawab: ‘Benar ya Rasulullaah! Kami telah melaksanakan shalat Maghrib berjamaah bersama engkau. Oleh kerana itu kami memilih untuk duduk-duduk di masjid sambil menunggu shalat ‘Isya’ berjamaah dengan engkau’. Rasulullah pun berkata: ‘Kalian benar-benar telah melakukan kebaikan.’ Lalu Rasulullah mengangkat kepalanya ke atas dan berkata: ‘Bintang-bintang ini merupakan amanah/penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang tersebut hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Aku adalah amanah/penjaga para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para sahabatku, akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Para sahabatku adalah amanah/penjaga umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka”.

– [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2531. Diriwayatkan pula oleh Ahmad 4/398-399].
Selengkapnya baca artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/riwayat-riwayat-tentang-keutamaan-para.html.

[2] Tambahan lafadh yang bergaris bawah adalah shahih. Baqiyyah bin Al-Waliid mempunyai mutaba’ah dari Abun-Nadlr Haasyim bin Al-Qaasim Al-Laitsiy, sebagaimana diriwayatkan dalam Bughyatul-Baahits ‘an Zawaaidi Musnad Al-Haarits no. 964.

Yaziid bin Abi Habiib juga mempunyai mutaba’ah dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-‘Adawiy :

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلانَ، مِنْ أَهْلِ مَرْوَ، نا حُجَيْنُ بْنُ الْمُثَنَّى، نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمَاجِشُونَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: ” كُنَّا نَقُولُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، وَيَبْلُغُ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلا يُنْكِرُهُ عَلَيْنَا ”

Telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Ghailaan dari kalangan penduduk negeri Marwi: Telah mengkhabarkan kepada kami Hujain bin Al-Mutsannaa: Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Maajisyuun, dari ‘Ubaidullah, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, ia berkata:
“Dulu kami (para sahabat) mengatakan di zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan. Dan sampailah hal itu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau tidak mengingkari kami akan hal itu”

– [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad no. 1357 dan dari jalannya Al-Khallaal dalam As-Sunnah no. 580; shahih].
Juga Bukair bin ‘Abdillah bin Al-Asyja’ sebagaimana diriwayatkan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 8702 (sanadnya dla’iif).

Naafi’ mempunyai mutaba’ah dari Saalim bin ‘Abdillah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Syaahiin dalam Syarh Madzaahib Ahlis-Sunnah no. 193 (sanadnya dla’iif, kerana Yaziid bin Qurrah Al-Hadlramiy, majhuul haal), dan Abu Shaalih Dzakwaan sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 2602 (sanadnya lemah, kerana Muhammad bin Al-Husain Al-Faarisiy, majhuul) dan Ibnul-‘Arabiy dalam Mu’jam-nya no. 1322 (shahih).

Sebahagian Sahabat adalah Golongan Munafikun … ?

Satu dari sekian banyak syubhat yang dilancarkan oleh Syi’ah Rafidhah Nawashib adalah mereka mengatakan bahwa sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sebahagiannya adalah munafik, mereka menganggap bahwa sahabat adalah munafik dan munafik adalah sahabat. Bagi mereka tidak ada perbezaan diantara kedua entiti tersebut. Dengan syubhat yang dilancarkan itu, dapatlah kita ketahui arah tujuan mereka, iaitu tidak lain untuk merendah-rendahkan generasi awal Islam.

Jika generasi awal Islam sudah berhasil direndah-rendahkan maka apapun yang datang melalui mereka akan turut direndah-rendahkan, iaitu berupa hadits bahkan Al-Qur’an, kerana Al-Qur’an maupun hadits tidaklah sampai ke generasi kita tanpa melalui generasi awal Islam (sahabat). Sungguh hal yang membahayakan jika ternyata penyampai agama kita ini adalah orang-orang munafik, inilah yang kaum Syi’ah hendak buktikan dengan syubhat-syubhat mereka. Ini adalah serangan yang ganas yang ditujukan langsung ke jantung agama Islam yang dilakukan oleh kaum Syi’ah yang mengaku diri mereka sebahagian dari Islam.

Maka hendaknya kaum muslimin berhati-hati terhadap syubhat-syubhat kaum Syi’ah yang menyesatkan.

Salah satu dalil yang dipakai oleh orang Syi’ah tersebut dalam menyebarkan syubhatnya adalah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Muslim yang berikut:

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata:

“Saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam kepadamu?.

Ammar menjawab:
“Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak beliau sampaikan juga kepada orang-orang”.

Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam yang bersabda:
Di antara sahabatku ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada lapan orang yang tidak akan masuk syurga sampai unta memasuki lubang jarum”.

Lapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.

– [Sahih Muslim 4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi].

Matan hadits Sahih Muslim di atas menyatakan bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menyebutkan ada sahabat baginda yang munafik

Kita jawab,

[Pertama]

Ini adalah kesalahan fatal si Syi’i tersebut dalam memahami hadits di atas. Mereka tidak membezakan antara entiti munafik dan entiti sahabat pada hadits ini. Yang dimaksud dengan “Fii Ashabii” dalam hadits di atas adalah “di tengah-tengah sahabat”, ertinya terdapat dua belas munafik yang menyusup atau menyatu di tengah-tengah para sahabat Nabi. Jelaslah, sahabat bukan sang munafik dan sang munafik pula bukanlah sahabat. Bahkan yang benar pada hadits di atas, nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sedang membezakan antara entiti yang bernama munafik dengan entiti yang bernama sahabat.

Untuk lebih jelasnya mari kita ambil contoh ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu adanya Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.

– [Al-Hujurat : 7].

Pada ayat di atas yang di maksud dengan “fii kum” adalah “di tengah-tengah kalian atau di kalangan kalian atau di antara kalian (sahabat) adanya Rasulullah”, tidak dapat diertikan bahwa mereka (sahabat) adalah Rasulullah atau Rasulullah adalah mereka (sahabat), jelas entiti mereka (sahabat) berbeza dengan entiti Rasulullah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوَاْ إِن تُطِيعُواْ فَرِيقاً مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَن يَعْتَصِم بِاللّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

– [Ali Imran : 100-101]

Pada ayat di atas “wa fii kum rasuuluhu” ertinya “di tengah-tengah kalian ada rasul-Nya”, tidak boleh dikatakan Rasul-Nya adalah kalian atau kalian adalah Rasul-Nya.

Jadi jelas nabi shalallahu ‘alaihi wasalam telah membezakan antara munafik dengan sahabat melalui sabda beliau pada hadits di atas, sehingga tidak ada hujjah bagi Syi’ah untuk menuduh sahabat adalah sang munafik atau sang munafik pula adalah sahabat dengan hadits tersebut, kerana justru Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sendiri telah membezakan antara entiti munafik dan entiti sahabat pada hadits di atas.

[Kedua]

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah kaum munafik pada saat Nabi shalallahu ‘alaihi bersabda demikian tidaklah banyak, hanya dua belas orang saja, sehingga dapat dikatakan bahwa munafik pada saat itu adalah kelompok minoritas yang terhina yang berada diantara ribuan sahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan kedok mereka (kaum munafik tersebut) sudah terungkap melalui perbuatan dan kiasan kata-kata mereka.

[Ketiga]

Hadits di atas menjelaskan bahawa nabi shalallahu ‘alaihi wasalam telah mengetahui siapakah orangnya kaum munafik tersebut yang berada di sekeliling baginda berdasarkan pengetahuan yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Semoga dapat direnungkan dengan baik.

Wassalam

Artikel alfanarku
http://alfanarku.wordpress.com/2011/08/13/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim-membantah-rafidhi-nashibi/ (dengan sedikit alih bahasa)

Taatilah Aku Jika Aku Taat Pada Allah

Kekuasaan di zaman kini adalah kebanggaan.
Kekuasaan di zaman kini adalah prospek.
Kekuasaan di zaman kini adalah harga diri.
Yang semua itu harus dicapai walau dengan cara yang Harom dan zalim sekalipun.

Di dalam Islam, kekuasaan adalah amanah yang akan menjadi penyebab dia bermula mendapat naungan Yaumul Mahsyar, dan bahkan surga yang Allah سبحانه وتعالى janjikan bagi penguasa yang adil. Tetapi kekuasaan dalam Islam tidak diberikan pada orang yang ambisi. Bahkan kekuasaan tidak berarti jika orang itu tidak mengajarkan, tidak menjalankan Syari’at yang didalamnya membuktikan ketaatan dan kepatuhan terhadap Allah سبحانه وتعالى. Tidak wajib ditaati, wajib dinasehati, dan bahkan bisa jadi (kalau sudah keterlaluan) harus dipecat dan dikucilkan.

Berikut ini bagian dari satu tetes apa yang harus kita ketahui bahwa ketaatan pada pemimpin itu menjadi wajib, SELAMA Pemimpin itu taat pada Allah سبحانه وتعالى dan pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Download:
Taatilah Aku Jika Aku Taat Pada Allah

Sikap Kepada Penguasa Yang Zalim

Alhamdulillah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah meninggalkan kepada kita Agama Islam yang sempurna. Tidak ada suatu perkara yang penting pun yang terlewati dari agama ini.

Barangsiapa tetap berpegang teguh kepada agama ini setelah sampai hujjah kepadanya maka dia adalah termasuk orang yang selamat, Insyaa Allah. Dan barangsiapa yang berpaling setelah sampai keterangan dari perkara agama ini maka dia akan binasa. Semoga Allah SWT menggolongkan kita kepada orang yang tetap mendengar dan taat dari setiap perintah-perintah yang telah disampaikan oleh-Nya lewat lisan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Aamiin.

A. Sikap Seorang Muslim Kepada Penguasa Yang Zhalim, Mendengar dan Taat

1. Dari Wail bin Hujr, berkata: Kami bertanya:

Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu jika kami punya amir (dimana mereka) menahan hak kami dan mereka meminta haknya dari kami? Maka beliau menjawab: (Hendaknya kalian) dengar dan taati mereka, karena hanyalah atas mereka apa yang mereka perbuat, dan atas kalian yang kalian perbuat.

(HR. Muslim no. 1846 dari hadits Asyats bin Qais)

2. Dari Hudzaifah bin Yaman berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang (dikalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya: Apa yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda: (Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.

(Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya no. 1847 (52))

3. Dari Adi bin Hathim ra. berkata:

Kami bertanya:Ya Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang (ketaatan) kepada (amir) yang bertaqwa, akan tetapi bagaimana yang berbuat (demikian) dan berbuat (demikian) (Adi bin Hathim menyebutkan perbuatan yang jelek)? Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Bertaqwalah kepada Allah dan (tetaplah) mendengar dan taat (kepada mereka).

(HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal hal 493 no. 1069)

4. Dari Abu Hurairah ra. dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Wajib bagi kamu mendengar dan taat baik dalam keadaan sulit ataupun mudah, semangat ataupun tidak suka, walaupun ia sewenang-wenang terhadapmu.

(HR. Muslim)

B. Mendengar & taat dalam perkara yang maruf, bukan dalam perkara maksiat

5. Dari Ibnu Umar ra. berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Wajib atas seorang muslim (untuk) mendengar dan taat (kepada pemimpin) pada apa yang ia sukai ataupun yang ia benci, kecuali kalau ia diperintah (untuk) berbuat maksiat, maka tidak ada mendengar dan taat.

(HR. Bukhari dan Muslim)

C. Larangan Menghina (Menjelek-Jelekkan) Penguasa & Perintah Memuliakannya Walau Zalim Sekalipun

6. Dari Muawiyah berkata:

Tatkala Abu Dzar keluar ke Ribdzah, dia ditemui sekelompok orang dari Irak, kemudian mereka berkata: Wahai Abu Dzar, pancangkanlah bendera (perang) untuk kami, niscaya akan datang orang-orang yang membelamu. (Maka) Abu Dzar berkata: Pelan-pelan (bersabarlah) wahai Ahlul Islam, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Akan ada sepeninggalku seorang sulthan (pemimpin), muliakanlah dia, maka barangsiapa mencari-cari kehinaannya, berarti dia telah melubangi Islam dengan satu celah dan tidak akan diterima taubatnya sampai dia mampu mengembalikannya seperti semula.

(Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)

7. Dari Abi Bakrah ra. berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Sulthan adalah naungan Allah dimuka bumi, barangsiapa menghinanya, maka Allah akan menghinakan dia (orang yang menghina sulthan), dan barangsiapa memuliakannya, niscaya Allah akan memuliakan dia.

(Hadits shahih riwayat Ibnu AbiAshim, Ahmad, At-Thoyalisi, Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal no. 1017 dan 1023, dan dalam As-Shahihah 2297)

8. Dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi beliau berkata:

Dulu aku pernah bersama Abi Bakrah berada dibawah mimbar Ibnu Amir dan beliau sedang berkhutbah sambil mengenakan pakaian tipis. Kemudian Abu Bilal berkata: Lihatlah oleh kalian pada pemimpin kita, dia mengenakan baju orang-orang fasiq. Lantas Abi Bakrah pun langsung angkat bicara: Diam kamu! Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah di muka bumi niscaya Allah menghinakannya.

(Tirmidzi dalam sunannya (2225))

9. Didalam At-Tarikh AL-Kabir (7/18) oleh Al-Bukhari dari Aun As-Sahmy beliau berkata:

Janganlah kalian mencela Al-Hajjaj (Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi) karena dia adalah pemimpin kalian dan dia bukan pemimpinku. Adapun ucapan beliau: dia bukan pemimpinku, karena Abu Umamah tinggal di Syam sedangkan Al-Hajjaj pemimpin Iraq.

10. Dikitab yang sama (8/104) Imam Bukhari meriwayatkan dari Abi Jamrah Ad-DhobiI, beliau berkata:

Tatkala sampai kepadaku (khabar) pembakaran rumah, lalu aku keluar menuju Makkah dan berkali-kali aku mendatangi Ibnu Abbas sampai beliau mengenaliku dan senang kepadaku. Lalu aku mencela Al-Hajjaj di depan Ibnu Abbas sampai beliau berkata: Janganlah kamu menjadi penolong bagi syaithan.

11. Hannad mengeluarkan (riwayat) dalam Az-Zuhd (II/464):

Abdah menceritakan kepada kami dari Az-Zibriqan, berkata, Aku pernah berada disisi Abu Wail Syaqiq bin Salamah lalu au mulai mencela Al-Hajjaj dan au sebutkan kejelekan-kejelekannya. Lantas beliau berkata, Janganlah engkau mencercanya, siapa tahu barangkali dia berdoa, Ya Allah, ampunilah aku, kemudian Allah mengampuninya.

12. Dari Ibnu Abi Dunya mengeluarkan dalam kitab Ash-Shamtu wa Adabu Lisan hal 145 dan juga Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (5/41-42) dari Zaid bin Qudamah beliau berkata: Saya berkata kepada Manshur bin Al-Mutamar:

Jika aku puasa apakah aku boleh mencela sulthan (penguasa/pemimpin)?
Beliau berkata: Tidak boleh.
Lalu aku terus bertanya apakah aku boleh mencela Ahli Ahwa (para pengekor hawa nafsu/Ahlul Bidah)?
Beliau menjawab: YA! (boleh).

13. Ibnu Abdil Barr telah mengeluarkan dalam At-Tamhiid (XXI/287) dengan sanadnya dari Abu Darda ra. bahwa ia berkata,

Sesungguhnya awal terjadinya kemunafikan pada diri seseorang adalah cacimakiannya terhadap pimpinan/pemerintahnya.

14. Ibnu Ab Syaibah rahimahullahu taala berkata dalam Al-Mushannaf XV/75 & II/137-138:

Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami dari Ibrahim bin Maisarah dari Thawus, berkata,
Pernah disebutkan (nama-nama) para pemimpin negara dihadapan Ibnu Abbas, lalu seseorang sangat bersemangat mencacimaki kehormatan mereka.

Lalu dia lakukan demikian sambil meninggi-ninggikan (badannya), sampai-sampai dirumah itu aku tida melihat orang yang lebih tinggi daripadanya. Kemudian aku mendengar Ibnu Abbas ra. berkata, Janganlah engkau jadikan dirimu sebagai fitnah (pemicu kekacauan) bagi orang-orang yang zhalim.
Maka serta merta orang tersebut merendahkan tubuhnya sampai-sampai dirumah tersebut aku tidak melihat orang yang lebih rendah / merendahkan tubuhnya daripadanya.

D. Tidak Boleh Memberontak Selama Penguasanya Tidak Kafir atau Masih Menegakkan Shalat

15. Dari Ummu Salamah r.a. berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Akan ada sepeninggalku nanti pemimpin (yang) kalian mengenalnya dan mengingkari (kejelekannya), maka barangsiapa mengingkarinya (berarti) dia telah berlepas diri, dan barangsiapa membencinya (berarti) dia telah selamat, akan tetapi barangsiapa yang meridhoinya (akan) mengikutinya. Mereka para sahabat bertanya: Apakah tidak kita perangi (saja) dengan pedang? Beliau menjawab: Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat ditengah-tengah kalian.

(HR. Muslim 6/23)

16. Dari Said Al-Khudri beliau berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

Akan ada nanti para penguasa yang kulit-kulit kalian menjadi lembut terhadap mereka dan hati-hati pun menjadi tenang kepada mereka. Kemudian akan ada para penguasa yang hati-hati (manusia) akan menjadi benci kepada mereka dan kulit-kulit pun akan merinding ketakutan terhadap mereka. Kemudian ada seorang lelaki bertanya: Wahai Rasulullah, tidakah kita perangi saja mereka? Beliau bersabda: Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat ditengah-tengah kalian.

(As-Sunna Ibnu Abi Ashim hal. 498)

17. Dari Ubadah bin As-Shamit ra., beliau menceritakan:

Kami membaiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mendengar dan taat (kepada pemerintah muslimin) dalam keadaan kami senang atau benci kepadanya, dalam keadaan kesulitan atau kemudahan, dan dalam keadaan kami dirugikan olehnya, dan tidak boleh kita memberontak kepada pemerintah. Kemudian beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Kecuali kalau kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian mempunyai bukti dari Allah pada perbuatan pemerintah tersebut.

(HR. Bukhari dan Muslim)

E. Tercelanya melakukan tanzhim rahsia (Gerakan bawah tanah)

18. Dari Ibnu Umar ra. berkata:

Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lalu bertanya:
Wahai Arsulullah, berwasiatlah kepada kami. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Dengarlah, taatlah, wajib bagi kalian dengan (sikap) terang-terangan (terbuka), dan hati-hatilah kalian dari (rencana) rahasia.

(Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)

F. Perintah untuk bersabar menghadapi pemimpin yang zhalim

19. Dari Anas berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Sepeninggalku nanti kalian akan menemui atsarah (pemerintah yang tidak menunaikan haq rakyatnya-ed) maka bersabarlah sampai kalian menemuiku.

(HR. Bukhari dan Muslim)

20. Dari Anas bin Malik berkata:

Para pembesar kami dari kalangan sahabat Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam melarang kami. Mereka berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Janganlah kalian mencela pemimpin-pemimpin kalian, janganlah kalian dengki kepada mereka dan janganlah kalian membenci mereka, (akan tetapi) bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya perkaranya (adalah) dekat.

(Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal, hal 474 no. 1015)

21. Dari Abdullah bin Abbas ra. bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Barangsiapa melihat sesuatu yang ia benci ada pada pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar, karena barangsiapa melepaskan diri dari Al-Jamaah meskipun sejengkal maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.

(HR. Bukhari dan Muslim)

22. Dalam riwayat Muslim:

Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya (pemerintah) maka hendaklah ia bersabar. Karena tida ada seorang manusiapun yang keluar dari (kekuasaan) penguasa meskipun sejengkal lalu dia mati dalam keadaan demikian, melainkan matinya tak lain dalam keadaan mati jahiliyyah.

G. Buah Dari Mengikuti Sunnah

23. Dari Abul Yaman Al-Hauzani dari Abu Darda ra. beliau berkata:

Hati-hati kalian, jangan kalian melaknat para penguasa. Sebab, sesungguhnya melaknat mereka adalah kemelut dan kebencian terhadap mereka adalah kemandulan yang tidak mendatangkan buah apa-apa.
Ada yang menyatakan, Ya Abu Darda, lantas bagaimana kami berbuat jika kami melihat apa yang tidak kami sukai ada pada mereka?
Beliau menjawab, Bersabarlah! Sesungguhnya Allah bila melihat perkara itu ada pada mereka maka Dia akan mencegahnya dari kalian dengan kematiannya.

(HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (II/488)

H. Cara Menasehati Penguasa

1. Dari Iyadh bin Ghanim berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

Barangsiapa berkeinginan menasehati sulthan (penguasa), maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan (di depan umum) dan hendaknya dia mengambil tangannya (dengan empat mata dan tersembunyi). Jika dia mau medengar (nasehat tersebut) itulah yang dimaksud, dan jika tidak (mau mendengar), maka dia telah menunaikan kewajiban atasnya.

(Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal hal. 507 no. 1096)

2. Dari Ubaidillah bin Al-Khiyar berkata:

Aku pernah mendatangi Usamah bin Zaid, kemudian saya katakan kepadanya: Tidakkah kau nasehati Utsman bin Affan agar menegakkan had (hukuman) atas Al-Walid?
Usamah berkata: Apakah kau kira aku tidak mau menasehatinya kecuali dihadapanmu?! Demi Allah, aku telah menasehatinya antara aku dan dia saja. Aku tidak mau membuka pintu kejelekan kemudian aku menjadi orang pertama yang membukanya.

(Atsar shahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Wallahu A’lam Bish-Shawab.

[Kontributor: Abu Abdirrahman Uli, 06 Desember 2001 ]
Artikel: http://www.perpustakaan-islam.com

Syiah = Yahudi

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan janganlah Engkau hinakan aku (Ibrahim) pada hari mereka (musyrikin) dibangkitkan. Pada hari (dimana) harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang-orang yang mendatangi Allah dengan hati yang salim (bersih dan selamat)”

[QS. Asy-Syu’ara : 88-89].

Demikianlah Ibrahim Khalilullah berdo’a kepada Rabb semesta alam tatkala mengingkari ayahnya bersama kesyirikan dan aqidah kufurnya. Dan tidak diragukan lagi bahwa hati yang salim dalam ayat tersebut adalah hati yang serat dengan sinar Tauhid dan selamat dari kegelapan syirik dan segala macam bentuk kekufuran. Namun Iblis dan bala tentaranya tak pernah bosan menjalankan misi mereka untuk menjauhkan hamba-hamba Ar-Rahman dari hati yang salim. Dan Syiah adalah salah satu produk mereka untuk misi keji tersebut.

Kami bawakan risalah ini (Insya Allah secara ber-seri) kehadapan pembaca, untuk memudahkan penelitian kita tentang konspirasi Yahudi melalui agama Syiah yang sepintas lalu menampakkan label Islam yang pada hakikatnya merupakan seruan untuk berbondong-bondong menuju panasnya Jahannam.

Dan pada seri yang pertama ini kami hadirkan kepada pembaca tentang tanda munculnya Syiah sebagai pengantar untuk menyelami hakikat mereka lebih dalam lagi dan mengungkap fitnah mereka kepada ummat. Semoga kita dapat menjumpai Allah dengan hati yang salim.

Ikhtiar Seorang Yahudi Melahirkan Syiah

Adalah orang-orang Yahudi yang pertama kali menebarkan racun di dalam agama Islam ini, untuk memalingkan pemuda-pemuda Islam dari agama dan aqidah yang lurus. Dan adalah Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi pemuka munafik yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman yang geram melihat Islam tersiar dan tersebar di jazirah Arab, di Imperium Romawi, negeri-negeri Parsi sampai ke Afrika dan masuk jauh di Asia, bahkan sampai berkibar di perbatasan-perbatasan Eropah.

Ibnu Saba’ ingin menghadang langkah Islam supaya tidak mendunia dengan merencanakan makar bersama Yahudi San’a (Yaman) untuk mengacaukan Islam dan ummatnya. Mereka menyebarkan orang-orangnya termasuk Ibnu Saba’ sendiri ke berbagai wilayah Islam termasuk ibukota Khalifah, Madinah Nabawiyah.

Mereka mulai menyulut fitnah dengan memprovokasi orang-orang lugu dan berhati sakit untuk menentang Khalifah Utsman. Pada waktu itu juga memperlihatkan rasa cinta kepada ‘Ali bin Abi Thalib Rhadhiallahu ‘anhu. Mereka mengaku dan mendukung kelompok ‘Ali, padahal ‘Ali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Fitnah ini terus menggelinding. Mereka mencampur pemikiran mereka dengan aqidah-aqidah yang rusak. Dan mereka menyebut diri sebagai Syiah ‘Ali” (pendukung ‘Ali), padahal ‘Ali membenci mereka, bahkan ‘Ali sendiri telah menghukum mereka dengan siksaan yang pedih, begitu pula putra-putra dari keturunan ‘Ali membenci dan melaknat mereka, akan tetapi kenyataan ini ditutup-tutupi serta kemudian diganti secara licik dan keji.

Pada waktu itu Parsi (Majusi) juga menyimpan dendam kesumat, karena di zaman Khalifah ‘Umar bin Khattab, negeri kufur mereka hancur di saat puncak kejayaannya oleh ‘Umar sendiri, demikian pula Yahudi yang diusir dari Madinah oleh beliau. Maka bertemulah Majusi dan Yahudi menyatukan rencana mereka untuk menumpas Islam dari dalam.

 

Pengakuan Tokoh-Tokoh Besar Syiah

Seorang ‘Ulama Syiah pada abad 3H, Abu Muhammad Al-Hasan bin Musa An-Nubakhti mengatakan dalam kitabnya “Firaq Asy-Syiah :

“Abdullah bin Saba’ adalah orang yang menampakkan cacian kepada Abu Bakar, ‘Umar dan Utsman serta para sahabat, ia berlepas diri dari mereka dan mengatakan bahwa ‘Ali telah memerintahkannya berbuat demikian. Maka ‘Ali menangkapnya dan menanyakan tentang ucapannya itu, ternyata ia mengakuinya, maka ‘Ali memerintahkan untuk membunuhnya. Orang-orang berteriak kepada ‘Ali, “Wahai Amirul mukminin! Apakah Anda akan membunuh seorang yang mengajak untuk mencintai Anda, ahlul bait, keluarga Anda dan mengajak untuk membenci musuh-musuh Anda?” Maka ‘Ali mengusirnya ke Madain (ibukota Iran waktu itu).

Dan sekelompok ahli ilmu dari sahabat ‘Ali mengisahkan bahwa Ibnu Saba’ adalah seorang Yahudi lalu masuk Islam dan menyatakan setia kepada ‘Ali. Ketika masih Yahudi ia berkata bahwa Yusa’ bin Nun adalah Washi (penerima wasiat) dari Nabi Musa ‘Alaihissalam -secara berlebihan- kemudian ketika Islamnya, setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia mengatakan tentang ‘Ali sebagai penerima wasiat dari Rasulullah (sebagaimana Musa kepada Yusa’ bin Nun). Dia adalah orang pertama yang menyebarkan faham tentang Imamah ‘Ali, menampakkan permusuhan terhadap musuh-musuh ‘Ali (yang tidak lain adalah para Sahabat yang dicintai ‘Ali) dan mengungkap para lawannya. Dari sanalah orang-orang diluar Syiah mengatakan bahwa akar masalah “Rafdh” (menolak selain Khalifah ‘Ali) diambil dari Yahudi.

Ketika kabar kematian ‘Ali sampai ke telinga Ibnu Saba’ di Madain dia berkata kepada yang membawa berita duka,

Kamu berdusta, seandainya engkau datang kepada kami dengan membawa (bukti) otaknya yang diletakkan dalam 70 kantong dan saksi sebanyak 70 orang yang adil, kami tetap meyakini bahwa dia (‘Ali) belum mati dan tidak terbunuh. Dia tidak mati sebelum mengisi bumi dengan keadilan.”

Demikianlah ucapan orang yang dipercaya oleh semua orang Syiah dalam bukunya “Firaq Asy-Syiah

[hal. 43-44. Cet Al-Haidariyah,Najef 1379 H]. Ucapan senada juga diungkapkan oleh Abu Umar Al-Kasysyi, ulama Syiah abad 4 H dalam bukunya yang tersohor “Rijal Al-Kasysyi” [hal. 101. Mu’assasah Al-A’lami. Karbala Iraq].

Kini setelah lebih dari seribu tahun sebagian Hakham (pemimpin ulama) Syiah mengingkari keberadaan Ibnu Saba’ dengan tujuan supaya tidak terbongkar kebusukan mereka. Di antara yang mengingkarinya adalah Muhammad Al-Husain Ali Kasyf Al-Ghitha di dalam kitabnya “Ashl Asy-Syiah wa ashuluha.”

Namun anehnya banyak sekali kitab-kitab Syiah yang mengukuhkan tentang keberadaan Ibnu Saba’ sebagai peletak batu pertama agama Syiah. Sebagian ulama Syiah kontemporer telah mengubah pola mereka dan mulai mengakui adanya tokoh Ibnu Saba’, setelah bukti tampak di depan mata mereka dan tidak bisa lagi mengelak. Mengelak harganya sangat mahal bagi mereka sebab konsekuensinya adalah menganggap cacat sumber-sumber agama mereka.karena itu Muhammad Husain Az-Zen seorang Syiah kontemporer mengatakan,

Bagaimanapun juga Ibnu Saba’ memang ada dan dia telah menampakkan sikap ghuluw (melampaui batas), sekalipun ada yang meragukannya dan menjadikannya tokoh dalam khayalan. Adapun kami sesuai dengan penelitian terakhir maka kami tidak meragukan keberadaannya dan ghuluwnya.”

[Asy-Syiah wa At-Tarikh, hal. 213].

 

Kemiripan Dua Saudara Kembar, Syiah dan Yahudi

Persinggungan antara aqidah Syiah dan aqidah Yahudi yang kotor itu bisa dilihat dari poin-poin berikut :

  1. Yahudi telah mengubah-ubah Taurat, begitu pula Syiah mereka punya Al-Qur’an hasil kerajinan tangan mereka yakni “Mushaf Fathimah” yang tebalnya 3 kali Al-Qur’an kaum Muslimin.Mereka menganggap ayat Al-Qur’an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh Sahabat menghapus sepuluh ribu lebih ayat
  2. Yahudi menuduh Maryam yang suci berzina [QS. Maryam : 28], Syiahmelakukan hal yang sama terhadap istri Rasulullah ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha sebagaimana yang diungkapkan Al-Qummi (pembesar Syiah) dalam “Tafsir Al-Qummi (II 34)”
  3. Yahudi mengatakan, “kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja”. [QS. Al-Baqarah : 80] Syiah lebih dahsyat lagi dengan mengatakan, “Api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syiah” sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang dianggap suci “Fashl Kitab (hal.157)”
  4. Yahudi meyakini bahwa, Allah mengetahui sesuatu setelah tadinya tidak tahu, begitu juga dengan Syiah
  5. Yahudi beranggapan bahwa ucapan “amin” dalam shalat adalah membatalkan shalat. Syiah juga beranggapan yang sama.
  6. Yahudi berkata, “Allah mewajibkan kita lima puluh shalat” Begitu pula dengan Syiah.
  7. Yahudi keluar dari shalat tanpa salam,cukup dengan mengangkat tangan dan memukulkan pada lutut. Syiah juga mengamalkan hal yang sama.
  8. Yahudi miring sedikit dari kiblat, begitu pula dengan Syiah.
  9. Yahudi berkata “Tidak layak (tidak sah) kerajaan itu melainkan di tangan keluarga Daud”. Syiah berkata,” tidak layak Imamah itu melainkan pada ‘Ali dan keturunanannya
  10. Yahudi mengakhirkan Shalat hingga bertaburnya bintang-bintang di langit. Syiah juga mengakhirkan Shalat sebagaimana Yahudi
  11. Yahudi mengkultuskan Ahbar (‘ulama) dan Ruhban (para pendeta) mereka sampai tingkat ibadah dan menuhankan. Syiah begitu pula, bersifat Ghuluw (melampaui batas) dalam mencintai para Imam mereka dan mengkultuskannya hingga di atas kelas manusia.
  12. Yahudi mengatakan Ilyas dan Finhas bin ‘Azar bin Harun akan kembali (reinkarnasi) setelah mereka bedua meninggal dunia. Syiah lebih seru, mereka menyuarakan kembalinya (reinkarnasinya) ‘Ali, Al-Hasan, Al-Husain, dan Musa bin Ja’far yang dikhayalkan itu.
  13. Yahudi tidak Shalat melainkan sendiri-sendiri, Syiah juga beranggapan yang sama, ini dikarenakan mereka meyakini bahwa tidak ada Shalat berjama’ah sebelum datangnya “Pemimpin ke-dua belas” yaitu Imam Mahdi.
  14. Yahudi tidak melakukan sujud sebelum menundukkan kepalanya berkali-kali, mirip ruku. Syiah Rafidhah juga demikian.
  15. Yahudi menghalalkan darah setiap muslim. Demikian pula Syiah, mereka menghalalkan darah Ahlussunnah.
  16. Yahudi mengharamkan makan kelinci dan limpa dan jenis ikan yang disebut jariu dan marmahi. Begitu pula orang-orang Syiah.
  17. Yahudi tidak menghitung Talak sedikitpun melainkan pada setiap Haid. Begitu pula Syiah.
  18. Yahudi dalam syari’at Ya’qub membolehkan nikah dengan dua orang wanita yang bersaudara sekaligus. Syiah juga membolehkan penggabungan (dalam akad nikah) antara seorang wanita dengan bibinya.
  19. Yahudi tidak menggali liang lahad untuk jenazah mereka. Syiah Rafidhah juga demikian.
  20. Yahudi memasukkan tanah basah bersama-sama jenazah mereka dalam kain kafannya demikian juga Syiah Rafidhah.
  21. Yahudi tidak menetapkan adanya jihad hingga Allah mengutus Dajjal. Syiah Rafidhah mengatakan,”tidak ada jihad hingga Allah mengutus Imam Mahdi datang.”

[kitab Badzl Al-majhud fi Itsbat musyabahah Ar-Rafidhah li Al-Yahud , oleh Abdullah Al-jamili]

Ini adalah setetes air dari luasnya samudra tentang kemiripan mereka dengan Yahudi, karena sesungguhnya Syiah merupakan aqidah campuran dari Yahudi, Nashrani, Parsi (Majusi), Romawi dan Hindu. Mereka aduk unsur-unsur itu bagaikan adonan lalu dituangkan dalam satu cetakan kemudian diletakkan dalam suatu kemasan dan disajikan dengan nama “Syiah”. Maka jelaslah sudah, sebagaimana jelasnya mentari yang tak diselimuti awan bahwa “Syiah adalah Yahudi dan Yahudi adalah Syiah”.

Akan lebih jelas lagi bagi Anda tentang apa dan bagimana Syiah dalam peranannya menghancurkan Islam Serta membuka jalan bagi musuh-musuh Islam jika Anda menyimak siri-siri selanjutnya tentang Syiah.

Nantikan seri : “Mengenal Agama Syiah” berikutnya yang berisikan:

• “Menyelami gelapnya aqidah Syiah
• “Kawin Kontrak, Taqiyah. ritual kaum Syiah
• “Tikaman Syiah terhadap Sahabat”
• “Syiah, membuat kita tertawa, marah dan menangis”
• “Salafiyyin Rabbani menelanjangi Syiah
• “Syiah di Indonesia. Studi tokoh, gerakan dan media dakwah mereka”
• “Bahaya taqrib (Pendekatan Sunnah-Syiah)”

(Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, “Asy-Syiah minhum ‘alaihim”)

http://rafidhah.wordpress.com/2007/02/24/syiah-yahudi/
Artikel: http://ustadzrofii.wordpress.com

Penduduk Yahudi di Iran

Tidak banyak orang yang tahu bahwa penduduk Yahudi kedua terbesar setelah Israel tidaklah tinggal di Amerika atau Eropah melainkan justru tinggal di Iran!

Iran…?

Bukankah Iran sangat memusuhi Israel dan bahkan Ahmadinejad mempertanyakan kebenaran jumlah korban Holocaust?

Ya. Saat ini ada sekitar 25.000 penduduk Yahudi di Iran bahkan mereka memiliki perwakilan di parlemen Iran! Meski pemerintahan Iran berseteru dengan Israel tapi mereka masih mampu menetap di Iran dan tidak bersedia untuk berpindah ke Israel walaupun telah dipujuk berbuat demikian. Bahkan ketika pemerintah Israel mencadangkan bayaran pampasan kepada keluarga Yahudi Iran yang mahu berpindah ke Israel sebanyak AS$60,000, malah penduduk Yahudi Iran mengecamnya dengan pernyataan :

“Identiti Yahudi Iran tidak dapat dibeli dengan wang. Penduduk Yahudi Iran adalah termasuk penduduk tertua di Iran. Yahudi Iran mencintai identiti dan budaya Iran mereka. Jadi ancaman dan rayuan ahli politik kebudak-budakan seperti ini tidak akan berhasil.”

Lantas bagaimana keadaan penduduk Yahudi jika Iran dan Israel berseteru?

Apakah hak hidup dan hak minoriti mereka diakui? Meski Iran dianggap sebagai negara yang ‘tidak toleran’ di mata Barat, terutamanya berkaitan permusuhan mereka terhadap Israel, pemerintahnya justru memberikan tempat dan perlindungan bagi warga Yahudi Iran. Bapa Revolusi Iran, Imam Khomeini, melindungi agama dan penduduk Yahudi dan, seperti Kristien Armenia, mereka dianggap sebagai ‘Ahli Kitab’ dan mendapatkan kebebasan menjalankan agama mereka berdasarkan Konstitusi Islam Iran tahun 1979. Imam Khomeini membezakan antara penduduk Yahudi dengan Zionisme dan menganggap penduduk Yahudi tersebut sebagai warganegara Iran dan melindungi hak-hak mereka.

Berdasarkan Konstitusi tersebut penduduk Yahudi Iran dapat memilih perwakilannya di parlemen Iran dan menikmati hak-hak administrasi mandiri tertentu. Penguburan dan hukum perceraian Yahudi diterima oleh pengadilan Islam Iran. Bahkan penduduk Yahudi Iran juga dikenakan kewajiban menjadi tetera Iran.

Penyangkalan Holocaust

Ahmadinejad beberapa kali menyampaikan slogan “Hapuskan Israel dari Peta” dan mempertanyakan jumlah korban Holocaust selama Perang Dunia II yang dianggapnya berlebihan.

Mr Mohtamed, perwakilan warga Yahudi di parlemen, menentang sikap presidennya – yang menunjukkan bahwa warga yahudi dibenarkan dengan bebas menyampaikan pendapatnya di Iran. Ia juga mengutuk keras pameran kartun tentang Holocaust oleh akhbar Iran yang dimiliki oleh pemerintah daerah.

Meskipun menentang pemerintah Israel, pemerintahan Ahmadinejad baru-baru ini menyumbangkan sejumlah dana ke Rumah Sakit Yahudi Teheran, satu diantara hanya empat hospital Yahudi di seluruh dunia yang dananya disumbangkan oleh masyarakat Yahudi diserata tempat – sesuatu yang agak aneh mengenangkan bahawa organisasi bantuan tempatan pun kesulitan menerima bantuan dana dari luar Iran karena kuatir akan dianggap sebagai boneka asing.

Ciamak Morsathegh, pengarah hospital ini berkata:

“Anti Semitism bukanlah fenomena Timur, bukan juga fenomena Islam atau Iran. Anti Semitism adalah fenomena Eropah,”

Ia menambahkan bahwa orang Yahudi di Iran, bahkan dalam kondisi yang paling buruk pun, tidak pernah mengalami penderitaan seperti orang-orang Yahudi di Eropah.

“Dengarkan saya, komunitas Yahudi disini tidak menghadapi kesulitan. Posisi kami tidak seburuk yang diperkirakan orang di luar Iran. Kami menjalankan agama kami dengan bebas, kami merayakan perayaan keagamaan kami, dan kami juga punya sekolah dan Taman Kanak-kanak sendiri.” kata Farangis Hassidim pekerja Yahudi di hospital tersebut.

Bagaimana dengan komunikasi mereka dengan sanak saudara yang ada di Israel?

Sambil memotong daging, Hersel Gabriel seorang peniaga kecil-kecilan itu mengatakan bahwa ia menyangka akan berlaku masalah ketika kembali dari Israel, ternyata petugas imigresen tidak berkata apa pun tentang hal tersebut.

“Apa pun yang dikatakan di luar itu bohong semua –kami hidup aman di Iran– kalau kita tidak berpolitik dan tidak mengganggu mereka maka mereka juga tidak mengganggu mereka,” katanya.

Pelanggannya, Giti, suri rumah tangga separuh usia, berkata bahwa dia dengan mudah mengubungi dua orang anaknya di Tel Aviv melalui telpon ataupun mengunjungi mereka.

“Tidak ada masalah pergi ataupun kembali; saya pergi ke Israel sekali melalui Turki dan sekali melalui Cyprus dan tidak ada masalah sama sekali. Yang lucu adalah bahwa sebelum revolusi islam di Iran, mungkin hanya ada 20 orang tua yang beribadah di sinagog.”

Bisik Nahit Eliyason, 48, sambil melintasi empat wanita lain untuk mencari tempat duduk yang kosong di Sinagog.

“Sekarang tempat ini penuh. Sulit untuk mencari tempat kosong.”

Paris Yashaya, produser film yang mengetuai komunitas Yahudi Teheran menambahkan:

“Kami lebih kecil dalam jumlah, tapi lebih kuat dalam segi lain.” Sebagai masyarakat  bukan muslim, orang-orang Yahudi diperbolehkan menyimpan minuman keras di rumahnya dan berdansa. Kadang-kadang saya pikir mereka lebih bertolak ansur terhadap orang Yahudi berbanding pada diri mereka sendiri….. Kalau kami berkumpul di rumah, dan keluarga sedang merayakan upacara dengan anggur dan musik yang terlalu keras, dan jika mereka tahu bahwa kami Yahudi maka mereka tidak akan menegur kami.”

Kata Eliyason:

“Di mana-mana di dunia ada orang yang tidak suka pada orang-orang Yahudi. Di Inggris mereka menggambar swastika (lambang Nazi) di kuburan Yahudi. Saya tidak beranggapan bahwa Iran lebih berbahaya bagi orang Yahudi berbanding di negara lain.”

Artikel: Satria Dharma, Balikpapan, 25 Januari 2008
http://satriadharma.com

Rujukan:

Iran’s proud but discreet Jews

By Frances Harrison
BBC News, Tehran

http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/5367892.stm

Jews in Iran Describe a Life of Freedom Despite Anti-Israel Actions by Tehran
Michael Theodoulou, Special to The Christian Science Monitor

http://www.csmonitor.com/durable/1998/02/03/intl/intl.3.html

Iran’s Jews learn to live with Ahmadinejad
Ewen MacAskill, Simon Tisdall and Robert Tait in Tehran
Tuesday June 27, 2006
The Guardian

http://www.guardian.co.uk/iran/story/0,,1807160,00.html

IRAN: Life of Jews Living in Iran
Iran remains home to Jewish enclave.
By Barbara Demick

http://www.sephardicstudies.org/iran.html

Gambar dari: http://www.corfuholidays.biz/general/information/The_Jewish_Quarter_of_Corfu/