Monthly Archives: Jun 2011

Taatilah Aku Jika Aku Taat Pada Allah

Kekuasaan di zaman kini adalah kebanggaan.
Kekuasaan di zaman kini adalah prospek.
Kekuasaan di zaman kini adalah harga diri.
Yang semua itu harus dicapai walau dengan cara yang Harom dan zalim sekalipun.

Di dalam Islam, kekuasaan adalah amanah yang akan menjadi penyebab dia bermula mendapat naungan Yaumul Mahsyar, dan bahkan surga yang Allah سبحانه وتعالى janjikan bagi penguasa yang adil. Tetapi kekuasaan dalam Islam tidak diberikan pada orang yang ambisi. Bahkan kekuasaan tidak berarti jika orang itu tidak mengajarkan, tidak menjalankan Syari’at yang didalamnya membuktikan ketaatan dan kepatuhan terhadap Allah سبحانه وتعالى. Tidak wajib ditaati, wajib dinasehati, dan bahkan bisa jadi (kalau sudah keterlaluan) harus dipecat dan dikucilkan.

Berikut ini bagian dari satu tetes apa yang harus kita ketahui bahwa ketaatan pada pemimpin itu menjadi wajib, SELAMA Pemimpin itu taat pada Allah سبحانه وتعالى dan pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Download:
Taatilah Aku Jika Aku Taat Pada Allah

Sikap Kepada Penguasa Yang Zalim

Alhamdulillah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah meninggalkan kepada kita Agama Islam yang sempurna. Tidak ada suatu perkara yang penting pun yang terlewati dari agama ini.

Barangsiapa tetap berpegang teguh kepada agama ini setelah sampai hujjah kepadanya maka dia adalah termasuk orang yang selamat, Insyaa Allah. Dan barangsiapa yang berpaling setelah sampai keterangan dari perkara agama ini maka dia akan binasa. Semoga Allah SWT menggolongkan kita kepada orang yang tetap mendengar dan taat dari setiap perintah-perintah yang telah disampaikan oleh-Nya lewat lisan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Aamiin.

A. Sikap Seorang Muslim Kepada Penguasa Yang Zhalim, Mendengar dan Taat

1. Dari Wail bin Hujr, berkata: Kami bertanya:

Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu jika kami punya amir (dimana mereka) menahan hak kami dan mereka meminta haknya dari kami? Maka beliau menjawab: (Hendaknya kalian) dengar dan taati mereka, karena hanyalah atas mereka apa yang mereka perbuat, dan atas kalian yang kalian perbuat.

(HR. Muslim no. 1846 dari hadits Asyats bin Qais)

2. Dari Hudzaifah bin Yaman berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang (dikalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya: Apa yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda: (Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.

(Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya no. 1847 (52))

3. Dari Adi bin Hathim ra. berkata:

Kami bertanya:Ya Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang (ketaatan) kepada (amir) yang bertaqwa, akan tetapi bagaimana yang berbuat (demikian) dan berbuat (demikian) (Adi bin Hathim menyebutkan perbuatan yang jelek)? Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Bertaqwalah kepada Allah dan (tetaplah) mendengar dan taat (kepada mereka).

(HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal hal 493 no. 1069)

4. Dari Abu Hurairah ra. dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Wajib bagi kamu mendengar dan taat baik dalam keadaan sulit ataupun mudah, semangat ataupun tidak suka, walaupun ia sewenang-wenang terhadapmu.

(HR. Muslim)

B. Mendengar & taat dalam perkara yang maruf, bukan dalam perkara maksiat

5. Dari Ibnu Umar ra. berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Wajib atas seorang muslim (untuk) mendengar dan taat (kepada pemimpin) pada apa yang ia sukai ataupun yang ia benci, kecuali kalau ia diperintah (untuk) berbuat maksiat, maka tidak ada mendengar dan taat.

(HR. Bukhari dan Muslim)

C. Larangan Menghina (Menjelek-Jelekkan) Penguasa & Perintah Memuliakannya Walau Zalim Sekalipun

6. Dari Muawiyah berkata:

Tatkala Abu Dzar keluar ke Ribdzah, dia ditemui sekelompok orang dari Irak, kemudian mereka berkata: Wahai Abu Dzar, pancangkanlah bendera (perang) untuk kami, niscaya akan datang orang-orang yang membelamu. (Maka) Abu Dzar berkata: Pelan-pelan (bersabarlah) wahai Ahlul Islam, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Akan ada sepeninggalku seorang sulthan (pemimpin), muliakanlah dia, maka barangsiapa mencari-cari kehinaannya, berarti dia telah melubangi Islam dengan satu celah dan tidak akan diterima taubatnya sampai dia mampu mengembalikannya seperti semula.

(Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)

7. Dari Abi Bakrah ra. berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Sulthan adalah naungan Allah dimuka bumi, barangsiapa menghinanya, maka Allah akan menghinakan dia (orang yang menghina sulthan), dan barangsiapa memuliakannya, niscaya Allah akan memuliakan dia.

(Hadits shahih riwayat Ibnu AbiAshim, Ahmad, At-Thoyalisi, Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal no. 1017 dan 1023, dan dalam As-Shahihah 2297)

8. Dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi beliau berkata:

Dulu aku pernah bersama Abi Bakrah berada dibawah mimbar Ibnu Amir dan beliau sedang berkhutbah sambil mengenakan pakaian tipis. Kemudian Abu Bilal berkata: Lihatlah oleh kalian pada pemimpin kita, dia mengenakan baju orang-orang fasiq. Lantas Abi Bakrah pun langsung angkat bicara: Diam kamu! Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah di muka bumi niscaya Allah menghinakannya.

(Tirmidzi dalam sunannya (2225))

9. Didalam At-Tarikh AL-Kabir (7/18) oleh Al-Bukhari dari Aun As-Sahmy beliau berkata:

Janganlah kalian mencela Al-Hajjaj (Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi) karena dia adalah pemimpin kalian dan dia bukan pemimpinku. Adapun ucapan beliau: dia bukan pemimpinku, karena Abu Umamah tinggal di Syam sedangkan Al-Hajjaj pemimpin Iraq.

10. Dikitab yang sama (8/104) Imam Bukhari meriwayatkan dari Abi Jamrah Ad-DhobiI, beliau berkata:

Tatkala sampai kepadaku (khabar) pembakaran rumah, lalu aku keluar menuju Makkah dan berkali-kali aku mendatangi Ibnu Abbas sampai beliau mengenaliku dan senang kepadaku. Lalu aku mencela Al-Hajjaj di depan Ibnu Abbas sampai beliau berkata: Janganlah kamu menjadi penolong bagi syaithan.

11. Hannad mengeluarkan (riwayat) dalam Az-Zuhd (II/464):

Abdah menceritakan kepada kami dari Az-Zibriqan, berkata, Aku pernah berada disisi Abu Wail Syaqiq bin Salamah lalu au mulai mencela Al-Hajjaj dan au sebutkan kejelekan-kejelekannya. Lantas beliau berkata, Janganlah engkau mencercanya, siapa tahu barangkali dia berdoa, Ya Allah, ampunilah aku, kemudian Allah mengampuninya.

12. Dari Ibnu Abi Dunya mengeluarkan dalam kitab Ash-Shamtu wa Adabu Lisan hal 145 dan juga Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (5/41-42) dari Zaid bin Qudamah beliau berkata: Saya berkata kepada Manshur bin Al-Mutamar:

Jika aku puasa apakah aku boleh mencela sulthan (penguasa/pemimpin)?
Beliau berkata: Tidak boleh.
Lalu aku terus bertanya apakah aku boleh mencela Ahli Ahwa (para pengekor hawa nafsu/Ahlul Bidah)?
Beliau menjawab: YA! (boleh).

13. Ibnu Abdil Barr telah mengeluarkan dalam At-Tamhiid (XXI/287) dengan sanadnya dari Abu Darda ra. bahwa ia berkata,

Sesungguhnya awal terjadinya kemunafikan pada diri seseorang adalah cacimakiannya terhadap pimpinan/pemerintahnya.

14. Ibnu Ab Syaibah rahimahullahu taala berkata dalam Al-Mushannaf XV/75 & II/137-138:

Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami dari Ibrahim bin Maisarah dari Thawus, berkata,
Pernah disebutkan (nama-nama) para pemimpin negara dihadapan Ibnu Abbas, lalu seseorang sangat bersemangat mencacimaki kehormatan mereka.

Lalu dia lakukan demikian sambil meninggi-ninggikan (badannya), sampai-sampai dirumah itu aku tida melihat orang yang lebih tinggi daripadanya. Kemudian aku mendengar Ibnu Abbas ra. berkata, Janganlah engkau jadikan dirimu sebagai fitnah (pemicu kekacauan) bagi orang-orang yang zhalim.
Maka serta merta orang tersebut merendahkan tubuhnya sampai-sampai dirumah tersebut aku tidak melihat orang yang lebih rendah / merendahkan tubuhnya daripadanya.

D. Tidak Boleh Memberontak Selama Penguasanya Tidak Kafir atau Masih Menegakkan Shalat

15. Dari Ummu Salamah r.a. berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Akan ada sepeninggalku nanti pemimpin (yang) kalian mengenalnya dan mengingkari (kejelekannya), maka barangsiapa mengingkarinya (berarti) dia telah berlepas diri, dan barangsiapa membencinya (berarti) dia telah selamat, akan tetapi barangsiapa yang meridhoinya (akan) mengikutinya. Mereka para sahabat bertanya: Apakah tidak kita perangi (saja) dengan pedang? Beliau menjawab: Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat ditengah-tengah kalian.

(HR. Muslim 6/23)

16. Dari Said Al-Khudri beliau berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

Akan ada nanti para penguasa yang kulit-kulit kalian menjadi lembut terhadap mereka dan hati-hati pun menjadi tenang kepada mereka. Kemudian akan ada para penguasa yang hati-hati (manusia) akan menjadi benci kepada mereka dan kulit-kulit pun akan merinding ketakutan terhadap mereka. Kemudian ada seorang lelaki bertanya: Wahai Rasulullah, tidakah kita perangi saja mereka? Beliau bersabda: Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat ditengah-tengah kalian.

(As-Sunna Ibnu Abi Ashim hal. 498)

17. Dari Ubadah bin As-Shamit ra., beliau menceritakan:

Kami membaiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mendengar dan taat (kepada pemerintah muslimin) dalam keadaan kami senang atau benci kepadanya, dalam keadaan kesulitan atau kemudahan, dan dalam keadaan kami dirugikan olehnya, dan tidak boleh kita memberontak kepada pemerintah. Kemudian beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Kecuali kalau kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian mempunyai bukti dari Allah pada perbuatan pemerintah tersebut.

(HR. Bukhari dan Muslim)

E. Tercelanya melakukan tanzhim rahsia (Gerakan bawah tanah)

18. Dari Ibnu Umar ra. berkata:

Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lalu bertanya:
Wahai Arsulullah, berwasiatlah kepada kami. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Dengarlah, taatlah, wajib bagi kalian dengan (sikap) terang-terangan (terbuka), dan hati-hatilah kalian dari (rencana) rahasia.

(Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)

F. Perintah untuk bersabar menghadapi pemimpin yang zhalim

19. Dari Anas berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Sepeninggalku nanti kalian akan menemui atsarah (pemerintah yang tidak menunaikan haq rakyatnya-ed) maka bersabarlah sampai kalian menemuiku.

(HR. Bukhari dan Muslim)

20. Dari Anas bin Malik berkata:

Para pembesar kami dari kalangan sahabat Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam melarang kami. Mereka berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Janganlah kalian mencela pemimpin-pemimpin kalian, janganlah kalian dengki kepada mereka dan janganlah kalian membenci mereka, (akan tetapi) bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya perkaranya (adalah) dekat.

(Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal, hal 474 no. 1015)

21. Dari Abdullah bin Abbas ra. bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Barangsiapa melihat sesuatu yang ia benci ada pada pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar, karena barangsiapa melepaskan diri dari Al-Jamaah meskipun sejengkal maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.

(HR. Bukhari dan Muslim)

22. Dalam riwayat Muslim:

Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya (pemerintah) maka hendaklah ia bersabar. Karena tida ada seorang manusiapun yang keluar dari (kekuasaan) penguasa meskipun sejengkal lalu dia mati dalam keadaan demikian, melainkan matinya tak lain dalam keadaan mati jahiliyyah.

G. Buah Dari Mengikuti Sunnah

23. Dari Abul Yaman Al-Hauzani dari Abu Darda ra. beliau berkata:

Hati-hati kalian, jangan kalian melaknat para penguasa. Sebab, sesungguhnya melaknat mereka adalah kemelut dan kebencian terhadap mereka adalah kemandulan yang tidak mendatangkan buah apa-apa.
Ada yang menyatakan, Ya Abu Darda, lantas bagaimana kami berbuat jika kami melihat apa yang tidak kami sukai ada pada mereka?
Beliau menjawab, Bersabarlah! Sesungguhnya Allah bila melihat perkara itu ada pada mereka maka Dia akan mencegahnya dari kalian dengan kematiannya.

(HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (II/488)

H. Cara Menasehati Penguasa

1. Dari Iyadh bin Ghanim berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

Barangsiapa berkeinginan menasehati sulthan (penguasa), maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan (di depan umum) dan hendaknya dia mengambil tangannya (dengan empat mata dan tersembunyi). Jika dia mau medengar (nasehat tersebut) itulah yang dimaksud, dan jika tidak (mau mendengar), maka dia telah menunaikan kewajiban atasnya.

(Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal hal. 507 no. 1096)

2. Dari Ubaidillah bin Al-Khiyar berkata:

Aku pernah mendatangi Usamah bin Zaid, kemudian saya katakan kepadanya: Tidakkah kau nasehati Utsman bin Affan agar menegakkan had (hukuman) atas Al-Walid?
Usamah berkata: Apakah kau kira aku tidak mau menasehatinya kecuali dihadapanmu?! Demi Allah, aku telah menasehatinya antara aku dan dia saja. Aku tidak mau membuka pintu kejelekan kemudian aku menjadi orang pertama yang membukanya.

(Atsar shahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Wallahu A’lam Bish-Shawab.

[Kontributor: Abu Abdirrahman Uli, 06 Desember 2001 ]
Artikel: http://www.perpustakaan-islam.com

Syiah = Yahudi

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan janganlah Engkau hinakan aku (Ibrahim) pada hari mereka (musyrikin) dibangkitkan. Pada hari (dimana) harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang-orang yang mendatangi Allah dengan hati yang salim (bersih dan selamat)”

[QS. Asy-Syu’ara : 88-89].

Demikianlah Ibrahim Khalilullah berdo’a kepada Rabb semesta alam tatkala mengingkari ayahnya bersama kesyirikan dan aqidah kufurnya. Dan tidak diragukan lagi bahwa hati yang salim dalam ayat tersebut adalah hati yang serat dengan sinar Tauhid dan selamat dari kegelapan syirik dan segala macam bentuk kekufuran. Namun Iblis dan bala tentaranya tak pernah bosan menjalankan misi mereka untuk menjauhkan hamba-hamba Ar-Rahman dari hati yang salim. Dan Syiah adalah salah satu produk mereka untuk misi keji tersebut.

Kami bawakan risalah ini (Insya Allah secara ber-seri) kehadapan pembaca, untuk memudahkan penelitian kita tentang konspirasi Yahudi melalui agama Syiah yang sepintas lalu menampakkan label Islam yang pada hakikatnya merupakan seruan untuk berbondong-bondong menuju panasnya Jahannam.

Dan pada seri yang pertama ini kami hadirkan kepada pembaca tentang tanda munculnya Syiah sebagai pengantar untuk menyelami hakikat mereka lebih dalam lagi dan mengungkap fitnah mereka kepada ummat. Semoga kita dapat menjumpai Allah dengan hati yang salim.

Ikhtiar Seorang Yahudi Melahirkan Syiah

Adalah orang-orang Yahudi yang pertama kali menebarkan racun di dalam agama Islam ini, untuk memalingkan pemuda-pemuda Islam dari agama dan aqidah yang lurus. Dan adalah Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi pemuka munafik yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman yang geram melihat Islam tersiar dan tersebar di jazirah Arab, di Imperium Romawi, negeri-negeri Parsi sampai ke Afrika dan masuk jauh di Asia, bahkan sampai berkibar di perbatasan-perbatasan Eropah.

Ibnu Saba’ ingin menghadang langkah Islam supaya tidak mendunia dengan merencanakan makar bersama Yahudi San’a (Yaman) untuk mengacaukan Islam dan ummatnya. Mereka menyebarkan orang-orangnya termasuk Ibnu Saba’ sendiri ke berbagai wilayah Islam termasuk ibukota Khalifah, Madinah Nabawiyah.

Mereka mulai menyulut fitnah dengan memprovokasi orang-orang lugu dan berhati sakit untuk menentang Khalifah Utsman. Pada waktu itu juga memperlihatkan rasa cinta kepada ‘Ali bin Abi Thalib Rhadhiallahu ‘anhu. Mereka mengaku dan mendukung kelompok ‘Ali, padahal ‘Ali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Fitnah ini terus menggelinding. Mereka mencampur pemikiran mereka dengan aqidah-aqidah yang rusak. Dan mereka menyebut diri sebagai Syiah ‘Ali” (pendukung ‘Ali), padahal ‘Ali membenci mereka, bahkan ‘Ali sendiri telah menghukum mereka dengan siksaan yang pedih, begitu pula putra-putra dari keturunan ‘Ali membenci dan melaknat mereka, akan tetapi kenyataan ini ditutup-tutupi serta kemudian diganti secara licik dan keji.

Pada waktu itu Parsi (Majusi) juga menyimpan dendam kesumat, karena di zaman Khalifah ‘Umar bin Khattab, negeri kufur mereka hancur di saat puncak kejayaannya oleh ‘Umar sendiri, demikian pula Yahudi yang diusir dari Madinah oleh beliau. Maka bertemulah Majusi dan Yahudi menyatukan rencana mereka untuk menumpas Islam dari dalam.

 

Pengakuan Tokoh-Tokoh Besar Syiah

Seorang ‘Ulama Syiah pada abad 3H, Abu Muhammad Al-Hasan bin Musa An-Nubakhti mengatakan dalam kitabnya “Firaq Asy-Syiah :

“Abdullah bin Saba’ adalah orang yang menampakkan cacian kepada Abu Bakar, ‘Umar dan Utsman serta para sahabat, ia berlepas diri dari mereka dan mengatakan bahwa ‘Ali telah memerintahkannya berbuat demikian. Maka ‘Ali menangkapnya dan menanyakan tentang ucapannya itu, ternyata ia mengakuinya, maka ‘Ali memerintahkan untuk membunuhnya. Orang-orang berteriak kepada ‘Ali, “Wahai Amirul mukminin! Apakah Anda akan membunuh seorang yang mengajak untuk mencintai Anda, ahlul bait, keluarga Anda dan mengajak untuk membenci musuh-musuh Anda?” Maka ‘Ali mengusirnya ke Madain (ibukota Iran waktu itu).

Dan sekelompok ahli ilmu dari sahabat ‘Ali mengisahkan bahwa Ibnu Saba’ adalah seorang Yahudi lalu masuk Islam dan menyatakan setia kepada ‘Ali. Ketika masih Yahudi ia berkata bahwa Yusa’ bin Nun adalah Washi (penerima wasiat) dari Nabi Musa ‘Alaihissalam -secara berlebihan- kemudian ketika Islamnya, setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia mengatakan tentang ‘Ali sebagai penerima wasiat dari Rasulullah (sebagaimana Musa kepada Yusa’ bin Nun). Dia adalah orang pertama yang menyebarkan faham tentang Imamah ‘Ali, menampakkan permusuhan terhadap musuh-musuh ‘Ali (yang tidak lain adalah para Sahabat yang dicintai ‘Ali) dan mengungkap para lawannya. Dari sanalah orang-orang diluar Syiah mengatakan bahwa akar masalah “Rafdh” (menolak selain Khalifah ‘Ali) diambil dari Yahudi.

Ketika kabar kematian ‘Ali sampai ke telinga Ibnu Saba’ di Madain dia berkata kepada yang membawa berita duka,

Kamu berdusta, seandainya engkau datang kepada kami dengan membawa (bukti) otaknya yang diletakkan dalam 70 kantong dan saksi sebanyak 70 orang yang adil, kami tetap meyakini bahwa dia (‘Ali) belum mati dan tidak terbunuh. Dia tidak mati sebelum mengisi bumi dengan keadilan.”

Demikianlah ucapan orang yang dipercaya oleh semua orang Syiah dalam bukunya “Firaq Asy-Syiah

[hal. 43-44. Cet Al-Haidariyah,Najef 1379 H]. Ucapan senada juga diungkapkan oleh Abu Umar Al-Kasysyi, ulama Syiah abad 4 H dalam bukunya yang tersohor “Rijal Al-Kasysyi” [hal. 101. Mu’assasah Al-A’lami. Karbala Iraq].

Kini setelah lebih dari seribu tahun sebagian Hakham (pemimpin ulama) Syiah mengingkari keberadaan Ibnu Saba’ dengan tujuan supaya tidak terbongkar kebusukan mereka. Di antara yang mengingkarinya adalah Muhammad Al-Husain Ali Kasyf Al-Ghitha di dalam kitabnya “Ashl Asy-Syiah wa ashuluha.”

Namun anehnya banyak sekali kitab-kitab Syiah yang mengukuhkan tentang keberadaan Ibnu Saba’ sebagai peletak batu pertama agama Syiah. Sebagian ulama Syiah kontemporer telah mengubah pola mereka dan mulai mengakui adanya tokoh Ibnu Saba’, setelah bukti tampak di depan mata mereka dan tidak bisa lagi mengelak. Mengelak harganya sangat mahal bagi mereka sebab konsekuensinya adalah menganggap cacat sumber-sumber agama mereka.karena itu Muhammad Husain Az-Zen seorang Syiah kontemporer mengatakan,

Bagaimanapun juga Ibnu Saba’ memang ada dan dia telah menampakkan sikap ghuluw (melampaui batas), sekalipun ada yang meragukannya dan menjadikannya tokoh dalam khayalan. Adapun kami sesuai dengan penelitian terakhir maka kami tidak meragukan keberadaannya dan ghuluwnya.”

[Asy-Syiah wa At-Tarikh, hal. 213].

 

Kemiripan Dua Saudara Kembar, Syiah dan Yahudi

Persinggungan antara aqidah Syiah dan aqidah Yahudi yang kotor itu bisa dilihat dari poin-poin berikut :

  1. Yahudi telah mengubah-ubah Taurat, begitu pula Syiah mereka punya Al-Qur’an hasil kerajinan tangan mereka yakni “Mushaf Fathimah” yang tebalnya 3 kali Al-Qur’an kaum Muslimin.Mereka menganggap ayat Al-Qur’an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh Sahabat menghapus sepuluh ribu lebih ayat
  2. Yahudi menuduh Maryam yang suci berzina [QS. Maryam : 28], Syiahmelakukan hal yang sama terhadap istri Rasulullah ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha sebagaimana yang diungkapkan Al-Qummi (pembesar Syiah) dalam “Tafsir Al-Qummi (II 34)”
  3. Yahudi mengatakan, “kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja”. [QS. Al-Baqarah : 80] Syiah lebih dahsyat lagi dengan mengatakan, “Api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syiah” sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang dianggap suci “Fashl Kitab (hal.157)”
  4. Yahudi meyakini bahwa, Allah mengetahui sesuatu setelah tadinya tidak tahu, begitu juga dengan Syiah
  5. Yahudi beranggapan bahwa ucapan “amin” dalam shalat adalah membatalkan shalat. Syiah juga beranggapan yang sama.
  6. Yahudi berkata, “Allah mewajibkan kita lima puluh shalat” Begitu pula dengan Syiah.
  7. Yahudi keluar dari shalat tanpa salam,cukup dengan mengangkat tangan dan memukulkan pada lutut. Syiah juga mengamalkan hal yang sama.
  8. Yahudi miring sedikit dari kiblat, begitu pula dengan Syiah.
  9. Yahudi berkata “Tidak layak (tidak sah) kerajaan itu melainkan di tangan keluarga Daud”. Syiah berkata,” tidak layak Imamah itu melainkan pada ‘Ali dan keturunanannya
  10. Yahudi mengakhirkan Shalat hingga bertaburnya bintang-bintang di langit. Syiah juga mengakhirkan Shalat sebagaimana Yahudi
  11. Yahudi mengkultuskan Ahbar (‘ulama) dan Ruhban (para pendeta) mereka sampai tingkat ibadah dan menuhankan. Syiah begitu pula, bersifat Ghuluw (melampaui batas) dalam mencintai para Imam mereka dan mengkultuskannya hingga di atas kelas manusia.
  12. Yahudi mengatakan Ilyas dan Finhas bin ‘Azar bin Harun akan kembali (reinkarnasi) setelah mereka bedua meninggal dunia. Syiah lebih seru, mereka menyuarakan kembalinya (reinkarnasinya) ‘Ali, Al-Hasan, Al-Husain, dan Musa bin Ja’far yang dikhayalkan itu.
  13. Yahudi tidak Shalat melainkan sendiri-sendiri, Syiah juga beranggapan yang sama, ini dikarenakan mereka meyakini bahwa tidak ada Shalat berjama’ah sebelum datangnya “Pemimpin ke-dua belas” yaitu Imam Mahdi.
  14. Yahudi tidak melakukan sujud sebelum menundukkan kepalanya berkali-kali, mirip ruku. Syiah Rafidhah juga demikian.
  15. Yahudi menghalalkan darah setiap muslim. Demikian pula Syiah, mereka menghalalkan darah Ahlussunnah.
  16. Yahudi mengharamkan makan kelinci dan limpa dan jenis ikan yang disebut jariu dan marmahi. Begitu pula orang-orang Syiah.
  17. Yahudi tidak menghitung Talak sedikitpun melainkan pada setiap Haid. Begitu pula Syiah.
  18. Yahudi dalam syari’at Ya’qub membolehkan nikah dengan dua orang wanita yang bersaudara sekaligus. Syiah juga membolehkan penggabungan (dalam akad nikah) antara seorang wanita dengan bibinya.
  19. Yahudi tidak menggali liang lahad untuk jenazah mereka. Syiah Rafidhah juga demikian.
  20. Yahudi memasukkan tanah basah bersama-sama jenazah mereka dalam kain kafannya demikian juga Syiah Rafidhah.
  21. Yahudi tidak menetapkan adanya jihad hingga Allah mengutus Dajjal. Syiah Rafidhah mengatakan,”tidak ada jihad hingga Allah mengutus Imam Mahdi datang.”

[kitab Badzl Al-majhud fi Itsbat musyabahah Ar-Rafidhah li Al-Yahud , oleh Abdullah Al-jamili]

Ini adalah setetes air dari luasnya samudra tentang kemiripan mereka dengan Yahudi, karena sesungguhnya Syiah merupakan aqidah campuran dari Yahudi, Nashrani, Parsi (Majusi), Romawi dan Hindu. Mereka aduk unsur-unsur itu bagaikan adonan lalu dituangkan dalam satu cetakan kemudian diletakkan dalam suatu kemasan dan disajikan dengan nama “Syiah”. Maka jelaslah sudah, sebagaimana jelasnya mentari yang tak diselimuti awan bahwa “Syiah adalah Yahudi dan Yahudi adalah Syiah”.

Akan lebih jelas lagi bagi Anda tentang apa dan bagimana Syiah dalam peranannya menghancurkan Islam Serta membuka jalan bagi musuh-musuh Islam jika Anda menyimak siri-siri selanjutnya tentang Syiah.

Nantikan seri : “Mengenal Agama Syiah” berikutnya yang berisikan:

• “Menyelami gelapnya aqidah Syiah
• “Kawin Kontrak, Taqiyah. ritual kaum Syiah
• “Tikaman Syiah terhadap Sahabat”
• “Syiah, membuat kita tertawa, marah dan menangis”
• “Salafiyyin Rabbani menelanjangi Syiah
• “Syiah di Indonesia. Studi tokoh, gerakan dan media dakwah mereka”
• “Bahaya taqrib (Pendekatan Sunnah-Syiah)”

(Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, “Asy-Syiah minhum ‘alaihim”)

http://rafidhah.wordpress.com/2007/02/24/syiah-yahudi/
Artikel: http://ustadzrofii.wordpress.com

Penduduk Yahudi di Iran

Tidak banyak orang yang tahu bahwa penduduk Yahudi kedua terbesar setelah Israel tidaklah tinggal di Amerika atau Eropah melainkan justru tinggal di Iran!

Iran…?

Bukankah Iran sangat memusuhi Israel dan bahkan Ahmadinejad mempertanyakan kebenaran jumlah korban Holocaust?

Ya. Saat ini ada sekitar 25.000 penduduk Yahudi di Iran bahkan mereka memiliki perwakilan di parlemen Iran! Meski pemerintahan Iran berseteru dengan Israel tapi mereka masih mampu menetap di Iran dan tidak bersedia untuk berpindah ke Israel walaupun telah dipujuk berbuat demikian. Bahkan ketika pemerintah Israel mencadangkan bayaran pampasan kepada keluarga Yahudi Iran yang mahu berpindah ke Israel sebanyak AS$60,000, malah penduduk Yahudi Iran mengecamnya dengan pernyataan :

“Identiti Yahudi Iran tidak dapat dibeli dengan wang. Penduduk Yahudi Iran adalah termasuk penduduk tertua di Iran. Yahudi Iran mencintai identiti dan budaya Iran mereka. Jadi ancaman dan rayuan ahli politik kebudak-budakan seperti ini tidak akan berhasil.”

Lantas bagaimana keadaan penduduk Yahudi jika Iran dan Israel berseteru?

Apakah hak hidup dan hak minoriti mereka diakui? Meski Iran dianggap sebagai negara yang ‘tidak toleran’ di mata Barat, terutamanya berkaitan permusuhan mereka terhadap Israel, pemerintahnya justru memberikan tempat dan perlindungan bagi warga Yahudi Iran. Bapa Revolusi Iran, Imam Khomeini, melindungi agama dan penduduk Yahudi dan, seperti Kristien Armenia, mereka dianggap sebagai ‘Ahli Kitab’ dan mendapatkan kebebasan menjalankan agama mereka berdasarkan Konstitusi Islam Iran tahun 1979. Imam Khomeini membezakan antara penduduk Yahudi dengan Zionisme dan menganggap penduduk Yahudi tersebut sebagai warganegara Iran dan melindungi hak-hak mereka.

Berdasarkan Konstitusi tersebut penduduk Yahudi Iran dapat memilih perwakilannya di parlemen Iran dan menikmati hak-hak administrasi mandiri tertentu. Penguburan dan hukum perceraian Yahudi diterima oleh pengadilan Islam Iran. Bahkan penduduk Yahudi Iran juga dikenakan kewajiban menjadi tetera Iran.

Penyangkalan Holocaust

Ahmadinejad beberapa kali menyampaikan slogan “Hapuskan Israel dari Peta” dan mempertanyakan jumlah korban Holocaust selama Perang Dunia II yang dianggapnya berlebihan.

Mr Mohtamed, perwakilan warga Yahudi di parlemen, menentang sikap presidennya – yang menunjukkan bahwa warga yahudi dibenarkan dengan bebas menyampaikan pendapatnya di Iran. Ia juga mengutuk keras pameran kartun tentang Holocaust oleh akhbar Iran yang dimiliki oleh pemerintah daerah.

Meskipun menentang pemerintah Israel, pemerintahan Ahmadinejad baru-baru ini menyumbangkan sejumlah dana ke Rumah Sakit Yahudi Teheran, satu diantara hanya empat hospital Yahudi di seluruh dunia yang dananya disumbangkan oleh masyarakat Yahudi diserata tempat – sesuatu yang agak aneh mengenangkan bahawa organisasi bantuan tempatan pun kesulitan menerima bantuan dana dari luar Iran karena kuatir akan dianggap sebagai boneka asing.

Ciamak Morsathegh, pengarah hospital ini berkata:

“Anti Semitism bukanlah fenomena Timur, bukan juga fenomena Islam atau Iran. Anti Semitism adalah fenomena Eropah,”

Ia menambahkan bahwa orang Yahudi di Iran, bahkan dalam kondisi yang paling buruk pun, tidak pernah mengalami penderitaan seperti orang-orang Yahudi di Eropah.

“Dengarkan saya, komunitas Yahudi disini tidak menghadapi kesulitan. Posisi kami tidak seburuk yang diperkirakan orang di luar Iran. Kami menjalankan agama kami dengan bebas, kami merayakan perayaan keagamaan kami, dan kami juga punya sekolah dan Taman Kanak-kanak sendiri.” kata Farangis Hassidim pekerja Yahudi di hospital tersebut.

Bagaimana dengan komunikasi mereka dengan sanak saudara yang ada di Israel?

Sambil memotong daging, Hersel Gabriel seorang peniaga kecil-kecilan itu mengatakan bahwa ia menyangka akan berlaku masalah ketika kembali dari Israel, ternyata petugas imigresen tidak berkata apa pun tentang hal tersebut.

“Apa pun yang dikatakan di luar itu bohong semua –kami hidup aman di Iran– kalau kita tidak berpolitik dan tidak mengganggu mereka maka mereka juga tidak mengganggu mereka,” katanya.

Pelanggannya, Giti, suri rumah tangga separuh usia, berkata bahwa dia dengan mudah mengubungi dua orang anaknya di Tel Aviv melalui telpon ataupun mengunjungi mereka.

“Tidak ada masalah pergi ataupun kembali; saya pergi ke Israel sekali melalui Turki dan sekali melalui Cyprus dan tidak ada masalah sama sekali. Yang lucu adalah bahwa sebelum revolusi islam di Iran, mungkin hanya ada 20 orang tua yang beribadah di sinagog.”

Bisik Nahit Eliyason, 48, sambil melintasi empat wanita lain untuk mencari tempat duduk yang kosong di Sinagog.

“Sekarang tempat ini penuh. Sulit untuk mencari tempat kosong.”

Paris Yashaya, produser film yang mengetuai komunitas Yahudi Teheran menambahkan:

“Kami lebih kecil dalam jumlah, tapi lebih kuat dalam segi lain.” Sebagai masyarakat  bukan muslim, orang-orang Yahudi diperbolehkan menyimpan minuman keras di rumahnya dan berdansa. Kadang-kadang saya pikir mereka lebih bertolak ansur terhadap orang Yahudi berbanding pada diri mereka sendiri….. Kalau kami berkumpul di rumah, dan keluarga sedang merayakan upacara dengan anggur dan musik yang terlalu keras, dan jika mereka tahu bahwa kami Yahudi maka mereka tidak akan menegur kami.”

Kata Eliyason:

“Di mana-mana di dunia ada orang yang tidak suka pada orang-orang Yahudi. Di Inggris mereka menggambar swastika (lambang Nazi) di kuburan Yahudi. Saya tidak beranggapan bahwa Iran lebih berbahaya bagi orang Yahudi berbanding di negara lain.”

Artikel: Satria Dharma, Balikpapan, 25 Januari 2008
http://satriadharma.com

Rujukan:

Iran’s proud but discreet Jews

By Frances Harrison
BBC News, Tehran

http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/5367892.stm

Jews in Iran Describe a Life of Freedom Despite Anti-Israel Actions by Tehran
Michael Theodoulou, Special to The Christian Science Monitor

http://www.csmonitor.com/durable/1998/02/03/intl/intl.3.html

Iran’s Jews learn to live with Ahmadinejad
Ewen MacAskill, Simon Tisdall and Robert Tait in Tehran
Tuesday June 27, 2006
The Guardian

http://www.guardian.co.uk/iran/story/0,,1807160,00.html

IRAN: Life of Jews Living in Iran
Iran remains home to Jewish enclave.
By Barbara Demick

http://www.sephardicstudies.org/iran.html

Gambar dari: http://www.corfuholidays.biz/general/information/The_Jewish_Quarter_of_Corfu/

Apakah Daulah Saudi Penyokong dan Tali Barut Amerika dan Hakikat Disebalik Hisbullah di Lubnan?

Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Muhammad Al Luhaidan
(Ketua Majlis Qadha’ A’la [Saudi Arabia])

 

Penanya:

“Syaikh, kami memiliki beberapa pertanyaan. Kami minta izin kepada Anda untuk menyebarkannya.”

Pertama ada pertanyaan yang berbunyi:

“Kami mendengar di sebagian media adanya celaan kepada negeri kita ini (Saudi ) dan pemerintahnya, khususnya di akhir-akhir ini. Hal ini terjadi setelah (kejadian) Israel menyerang Libanon. Beberapa komen yang akan keterlaluan hingga mereka menjadikan negara Saudi, Israel dan Amerika sebagai satu kelompok. Semuanya kafir dan saling berwala’ (berloyalitas).

Maka apa komentar anda, sebab kami mengetahui bagaimana pemerintah kami mencintai Islam dan kaum Muslimin? (Pemerintah kami) juga mendakwahkan Islam yang benar lagi murni, bahkan diantara mereka (pemerintah) dan para ulama saling memberi nasihat dan musyawarah dalam agama.”

 

Maka jawab beliau:
Kekufuran itu adalah kalimat klasik yang biasa mereka lontarkan. Yang mereka ucapkan tidak lain adalah dusta. Tidak diragukan lagi bahwa kerajaan Saudi Arabia adalah yang menjadi target untuk diganggu oleh Amerika…

Bukankah mereka telah menekan lembaga-lembaga sosial dan bercita-cita untuk menghentikan dan membekukan bantuan (kaum muslimin untuk muslimin).

(Amerika) menghalangi usaha-usaha baik mereka (Arab Saudi) –semoga Allah melenyapkan kebongkakan Amerika dan menghancurkan kekuatannya-. Bukankah mereka menuduh para pembesar (negeri ini) sebagai pengganas?! Yaitu apa yang mereka ulurkan berupa sedekah untuk orang-orang fakir dari kaum muslimin dan pertolongan mereka terhadap yayasan-yayasan sosial di sana dalam mengajarkan ilmu.

Maka yang mengatakan bahwa Saudi bersama Yahudi dan Amerika, tidak lain hal itu diucapkan oleh orang yang di hatinya ada kedengkian terhadap aqidah ini dan para pembawa serta pembelanya. Kedengkian-kedengkian itu hanya akan menjerumuskan pelakunya ke lembah kehinaan dan kejelekan.

Tidak diragukan lagi… bahwa di dunia Islam tidak ada negara yang dapat memberikan bantuan melalui badan-badan dan lembaga-lembaga sosial seperti yang dilakukan oleh negara ini , baik atas nama pemerintah ataupun pribadi.

Saya tidak suka kalau disebut “Israil (yang membantai-pent)”, sebab Israil adalah nama lain dari Nabi Allah, Ya’qub alaihissalam.

Adapun mereka, (yang membantai), adalah keluarga para babi dan monyet… Tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah Yahudi, bukan Israil. Tapi mereka menggunakan nama itu. Kemudian menjadi kesalahan dari ummat ini, baik itu negara Islam atau yang menjadikan Islam sebagai simbolnya menamakan mereka dengan nama Israil.

Negara Yahudi menamakan dirinya dengan Israil, yakni di atas dasar keyahudian. Dan tidak diragukan lagi bahwa setiap orang yang berakal di dunia ini, apakah dari Nasrani di Barat ataupun orang kafir di Timur, melainkan dia tahu bahwa Amerika sangat gigih untuk melecehkan dunia Islam –diantaranya termasuk Arab Saudi–.

Namun –dengan pertolongan Allah sajalah– dikarenakan kita berpegang teguh kepada agama kita yang benar dan kita menggigitnya –dengan gigi geraham kita– secara jujur, serta kita mengikhlaskan amal kita untuk Allah. Maka Allah menolong hamba-hambanya yang beriman. Tidak ada penyebab terlambat datangnya pertolongan Allah melainkan karena kehinaan hamba-hamba-Nya tersebut, yakni disaat mereka menyia-nyiakan agamanya.

Maka kita mohon kepada Allah agar menampakkan kekuasaan-Nya -dengan segera tanpa ditunda- atas Amerika yang akan membahagiakan kaum mukminin…Iya.”

 

Penanya:

“Jazakallahu khairan, Syaikh.”

Ada penanya berkata:
“Syaikh Shalih bin Muhammad Al Luhaidan yang mulia, semoga Allah menjaga Anda dan membimbing Anda. Tidak tersamarkan atas Anda berbagai kondisi yang dialami kaum muslimin di dunia Islam, terjadi berbagai fitnah dan peperangan. Khususnya peperangan yang terjadi antara Yahudi dan kelompok Hizbullah yang merupakan kelompok Syi’ah di Libanon. Maka apa sikap seorang muslim terhadap peperangan ini?

Sebab kita mendengar adanya ajakan untuk berjihad bersama mereka dan mendo’akan kemenangan untuk mereka ketika qunut.
Kaum muslimin menjadi bingung terhadap hal ini. Maka apa pengarahan dari Anda?”

Jawab:
“Tidak diragukan lagi bahwa kelompok yang menamakan dirinya dengan Hizbullah (kelompok Allah-pent) adalah Hizbur Rafidhah (kelompok rafidhah). Dan Rafidhah telah diketahui (kesesatannya-pent) dan telah diketahuinya (sesatnya) manhaj metode mereka. Hakikat mereka adalah mereka menganggap mayoritas Ahlus Sunnah…(bahwa-pent) semua Ahlus Sunnah adalah orang kafir. Inilah mereka dan perkara ini tidaklah samar bagi orang yang menelaah buku-buku mereka.

Maka kita berlindung kepada Allah, jika kebenaran menolong dan membela mereka serta membantu mereka, hal itu akan membuat mereka semakin kuat. (Ingatlah) mereka bagian dari Iran. Tidak ragu lagi (benarnya-pent). Hanya saja ucapan pemimpin Mesir, bahwa Syi’ah yang ada di negara itu berbeda dengan Iran. Sesungguhnya kecondongan dan Iman mereka bersama Iran.

Namun manusia jika mereka ditimpa musibah, hendaknya mereka berusaha untuk mengobatinya dengan apa yang tepat dijadikan sebagai obat berbagai kondisi tersebut.

Adapun apa yang menimpa Libanon secara umum, kalau tidak bisa dikatakan semua, dalangnya adalah kelompok ini. Mereka yang menamakan dirinya dengan kelompok Allah (Hizbullah), sebenarnya mereka adalah Hizbusy Syaithon (Kelompok/Partai Setan) ! Sekian.

(Fatwa ini adalah kutipan fatwa suara syaikh Shalih Al Luhaidan ketika menjawab dua pertanyaan saat Daurah Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah. URL Sumber http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=337317. Fatwa ini diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Mu’awiyah Muhammad Ali bin Ismail al Medani)

Artikel Asal dan Transkrip dalam bahasa Arab
http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/03/24/apakah-kerajaan-saudi-arabia-berjalan-bersama-yahudi-dan-amerika/

Antara Saudi dan Iran

Berbicara tentang sebuah realiti memang harus didasari ilmu. bagaimana jadinya jika ternyata seseorang salah dalam berbicara tentang sebuah realiti? Tentu kekonyolanlah yang akan ia dapatkan. Terlebih ketika realiti tersebut memang sudah menjadi suatu yang umum diketahui semua kalangan.

Kiranya inilah yang sering menimpa sebagian saudara-saudara kita kaum muslimin, di mana mereka sering salah dalam menyikapi sebuah realiti yang sebenarnya sudah jelas keadaannya, sebagaimana jelasnya rembulan purnama dimalam yang cerah.

Diantaranya adalah ketika menyikapi daulah Saudi Arabiyah yang dipenuhi kebaikan. Padahal dengan sangat jelas kebaikannya dapat dirasakan semua kalangan, baik bagi mereka yang berada di negeri tersebut atau yang berada di luar, tak terkecuali kaum muslimin yang berada di Indonesia. diantara kebaikannya untuk masyarakat Indonesia adalah:

  1. Bantuan untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Aceh Darussalam dalam jumlah yang sangat besar.
  2. Bantuan dana untuk pembangunan masjid di daerah Palu senilai 900 juta.
  3. dan masih banyak lagi yang tidak mungkin kami sebutkan satu per satu.

Demikian pula bantuannya untuk saudara-saudaranya yang tertimpa bencana di berbagai negeri dibelahan dunia:

  1. Untuk saudaranya yang tertimpa musibah di daerah Gaza dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan himbauan ini langsung dari raja Abdullah.
  2. dan masih banyak lagi yang sekali lagi; tidak bisa kami sebutkan satu persatu dalam tulisan yang terbatas ini.

Berbeza halnya dengan Iran, sebuah negara yang sejak awal munculnya sudah memikul sejarah buram.

  1. Iran atau yang juga disebut sebagai Persia adalah basis orang-orang majusi, para penyembah api.
  2. Iran yang padanya terdapat sebuah daerah yang bernama Ashbahan adalah basis bagi orang-orang yahudi dan akan menjadi pengikut Dajjal. sebagaimana yang telah dijelaskan nabi kita didalam haditsnya yang shahih.Yang lebih ‘mengagumkan’ ternyata Iran adalah salah satu negara yang memiliki banyak  ‘koleksi’ bangsa Yahudi.
  3. Iran adalah markas besar bangsa Syi’ah Rafidhah dengan ‘pimpinan’ nya: Ayat Syaithan Al-Khumaini.

Semoga Allah melindungi kita semua dari fitnah Majusi, Yahudi, dan Syi’ah.

Itulah sebagian kecil dari potret buram negara Iran yang dieluh-eluhkan sebagian kalangan sebagai negara Islam.
Bahkan sampai hari ini keloyalan mereka terhadap bangsa Yahudi sangatlah jelas, tentunya bagi mereka yang selalu memperhatikan waqi’/ realiti yang terjadi tidak akan mengingkarinya, cukuplah ini sebagai bukti,

ini juga,

ini juga,

ini juga,

ini juga,

ini juga,

ini juga.

dan masih banyak lagi…….

Walaupun secara zahirnya ia selalu mengecam Yahudi dan kebijakannya, ternyata….. subhanallah.

Artikel: http://haulasyiah.wordpress.com

Akibat Belajar Islam di Negeri Iran

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-

Beliau bersabda,

سَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ, يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ, وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا اْلأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ . قِيْلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قال: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِيْ أَمْرِ العَامَّةِ

“Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu; di dalamnya pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan; orang yang penipu dipercaya, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat, serta ruwaibidhoh ikut berbicara”. Ada yang bertanya, “Apa itu ruwaibidhoh (orang lemah)?” Beliau bersabda, “Dia adalah seorang hina (dungu) berkomentar tentang urusan umum”.

[HR. Ibnu Majah dalam Kitab Al-Fitan (4036). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no.1887)]

Tulisan ini sengaja kami angkat & komentari dalam menyikap sebuah artikel berjudul “Islam: Inovasi atau Stagnasi?” yang ditulis oleh Ismail Amin, seorang mahasiswa Mostafa Internasional University Islamic Republic of Iran.

Beliau kami sebut di sini dengan nama “si Penulis”.

Ia merupakan sebuah contoh mudah bahawa seorang yang belajar kepada orang-orang Syi’ah-Rofidhoh di Repulik Iran, akan mengalami perubahan dalam gaya bahasa dan berfikir bebas, tanpa kawalan dalam mengeritik perkara yang sudah baku, dan tak ada hak otoriti baginya dalam hal itu. Sehinggakan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pun berusaha dikritiknya.

Pembaca akan melihat sepak terjangnya dalam beberapa poin berikut:

Tertipu dengan Kemajuan kaum kafir, dan Bersedih atas Kemunduran Kaum Muslimin dalam Perkara Keduaniaan

Para pembaca yang budiman, si Penulis termasuk rantaian para korban yang tertipu dengan kemajuan kaum kafir –semisal USA- dalam teknologi dan perekonomian, dan sebaliknya menyedihkan ketertinggalan dan kemunduran kaum muslimin dalam hal itu.

Dengarkan ia bersedih,

“Ketertinggalan bangsa kita, khususnya umat Islam, dalam pengembangan ilmu pengetahuan tidak terbantahkan. Etos keilmuan masyarakat kita sangat rendah”.

[Lihat Tribun Timur (hal.4)]

Sebelumnya ia mengawali kesedihannya dengan menukil ucapan orang yang sepemikiran dengannya, yaitu Nurcholis Madjid saat ia berkata,

“Praktis di semua penganut agama besar di muka bumi ini, para pemeluk Islam adalah yang paling rendah dalam sains dan teknologi”.

[Tribun (hal.4)]

Seorang yang menyinari dirinya dengan cahaya Al-Qur’an & Sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sebenarnya tak perlu terlalu menyedihkan hal itu.

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”.

(QS. Ali Imraan: 196-197).

Kebebasan dan kemajuan orang-orang kafir dalam perdagangan dan teknologi tidak perlu menyedihkan kita, karena mereka hanya bersenang-senang dalam waktu pendek. Adapun orang-orang beriman mereka akan mendapatkan kesenangan abadi. Kalian Cuma bisa berusaha di dunia, Allah yang menentukan kemenangan. [Lihat Taisir Al-Karim (hal. 162)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

فَوَاللهِ لاَ الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas diri kalian. Tapi khawatirkan kalau dibukakan dunia bagi kalian sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang (kafir) sebelum kalian, lalu mereka pun berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka berlomba-lomba meraihnya; (aku juga khawatirkan) kalau dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka”.

[HR. Al-Buhkoriy dalam Shohih-nya (3158, 4015 & 6425), dan Muslim (2961)]

Yang perlu disedihkan adalah terjadinya kemunduran beragama. Kalian akan melihat kemunduran beragama ini dengan merebaknya kesyirikan dimana-mana, bid’ah, maksiat, dan kekafiran sebagaimana yang terlihat di negeri kita, bahkan di negeri yang dikagumi oleh si Penulis, yaitu Iran. Di Iran –khususnya bulan Muharram- banyak terjadi kesyirikan, bid’ah, maksiat, kekafiran dan pelanggaran agama ketika memperingati hari kematian Husain.

Di hari itu mereka (Syi’ah-Rofidhoh) di hari Karbala’ berpesta pora sambil menzalimi diri mereka dengan melukai kepala mereka sebagai ungkapan belasungkawa atas penderitaan Husain saat ia dibunuh menurut sangkaan mereka yang batil. Di hari itu mereka melakukan acara ritual yang aneh dengan meletakkan dahi mereka dan bersujud di tanah sambil merangkak, menuju pusara Husain yang mereka pertuhankan. Belum lagi kebencian mereka yang amat ekstrim kepada para pejuang Islam, yakni para sahabat, seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Abu Hurairah, A’isyah dan lainnya -radhiyallahu ‘anhum- .

Pesantren Dianggap sebagai Tempat Pembelengguan Akal

Di mata si Penulis, pesantren dianggap tempat pembelengguan akal. Ini nampak dalam ucapannya,

“Kebanyakan lembaga pendidikan Islam (baca: pesantren) justru menjadi tempat pembelengguan potensi kreatif anak didik yang paling efektif”.

[Tribun hal.4]

Pesantren merupakan pusat pendidikan Islam dari dulu sampai kini yang menciptakan banyak kader ulama, bukan tempat pembelengguan akal. Jika sebagian pesantren memusatkan perhatiannya dengan masalah agama sehingga mereka minima akedemiknya, maka ini bukanlah suatu celaan bagi pesantren.

Sama halnya, jika ada lembaga pendidikan umum yang memusatkan perhatiannya dengan ilmu akademik sehingga lebih minima ilmu agamanya, maka ini juga bukanlah celaan baginya. Masing-masing lembaga mengembangkan kemampuannya dalam membangun Islam. Perlu diketahui oleh si Penulis, pesantren kini juga telah mengembangkan sayapnya dalam ilmu akademik. Lalu mengapa si Penulis menyudutkan pesantren? Apakah si Penulis menginginkan kita semua sibuk dengan ilmu dunia sehingga kita meninggalkan ilmu agama dan semua jahil? Ataukah sekedar cari jalan mencela Islam & ulama agar ia popular?! Wallahu a’lam.

Sebenarnya yang perlu disalahkan (dikritik) oleh si Penulis jika umat Islam terbelakang dalam teknologi adalah para inteketual dan cendekiawan yang berkaprah di ilmu akademik. Jangan malah pesantren dikambing hitamkan sehingga pada gilirannya memberikan pendapat bahwa Islam tidak relevan , statik, dan tidak menerima perkembangan teknologi yang membangun Islam. Jika ada yang memusatkan diri belajar agama, maka tak ada salahnya agar kaum muslimin juga kuat dalam segi agama. Sebab kejayaan itu ada pada kekuatan pemeluknya berpegang teguh dengan agamanya.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَيَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegang ekor-ekor sapi (sibuk ternak), ridho dengan bercocok tanam (sibuk tani), dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan kehinaan atas diri kalian; tak akan dicabut oleh Allah sampai kalian kembali kepada agama kalian”.

[HR. Abu Dawud dalam Kitabul Ijaroh (3462). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (11)]

Dengan kembali kepada agama-Nya, maka Allah akan bukakan bagi mereka pintu-pintu kebaikan dan berkah duniawi dan ukhrawi, seperti yang dialami oleh negeri Saudi Arabia.

Berburuk Sangka kepada Ulama & Tidak Menghargai Jasa Para Ulama

Kebiasaan orang Syi’ah-Rofidhoh dalam mencela ulama, ini diadopsi dan diserap oleh si Penulis. Lihat saja ia merendahkan ulama dan menutup mata dari jasa baik mereka saat si Penulis berkata,

“Selain itu, apapun dari ustadz dan ulama selalu dianggap benar tanpa studi kritis yang berarti. Islam yang kita kenal dari mereka tidak lebih dari deretan aturan hitam putih”.

[Lihat Tribun (hal.4)]

Apa yang dinyatakan oleh si Penulis tidak boleh dibenarkan secara mutlak. Sebab kaum muslimin faham bahawa para ulama bukan nabi dan rasul sehingga harus taqlid sepenuhnya. Kaum muslimin faham bahwa seorang ulama hanyalah pewaris para nabi dalam menyampaikan risalah Islam, namun mereka tak maksum (tak bersih dari dosa dan kesalahan). Mereka manusia biasa seperti kita, boleh jadi benar atau salah. Jika ia benar karena mengikuti Sunnah, maka kita wajib mengikutinya. Sebaliknya, jika mereka keliru karena menyelisihi sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka kita tinggalkan ucapan ulama tersebut, dengan tetap memuliakannya sesuai posisinya, tanpa ekstrim dalam mendudukkan mereka seperti nabi atau tuhan !!

Al-Imam Malik -rahimahullah- berkata,

“Setiap orang boleh diambil ucapan dan pendapatnya, dan juga boleh ditinggalkan kecuali penghuni kubur ini (yakni Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-)”.

[Lihat Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih (2/91)oleh Ibnu Abdil Barr]

Jadi, para ulama adalah pewaris para nabi dalam menyampaikan risalah Islam, diletakkkan pada tempatnya, tanpa mengkultuskannya, dan tidak pula merendahkan dan menghinakannya.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ, وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا, وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sedang para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Tapi mereka hanya mewariskan ilmu (agama). Jadi, barang siapa yang mengambilnya, maka sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak”.

[HR. Al-Bukhoriy secara mu’allaq dalam Kitabul Ilmi (1/37), Abu Dawud dalam Kitab Al-Ilmi (3641), At-Tirmidziy dalam Kitabul Ilmi (2682), dan Ibnu Majah (223). Lihat Shohih Al-Jami’ (6297)]

Si Penulis bukan Cuma ulama masa kini yang direndahkan, bahkan sahabat dan murid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yaitu sahabat Abu Hurairah. Tak heran jika si Penulis melakukan hal itu, sebab para pendahulu mereka dan guru mereka di Iran yang beragama Syi’ah-Rofidhoh, amat besar kebenciannya kepada para sahabat, utamanya Abu Hurairah, karena beliaulah yang banyak meriwayatkan hadits yang berisi ajaran Islam. Mereka mencela Abu Hurairah agar dapat menjauhkan kaum muslimin dari Islam.

Dengarkan si Penulis merendahkan sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-,

“Maksimalisme agama pada dasarnya hanya menempatkan otak hanya sebagai isi kepala tanpa peran berarti… Maksimalisme agama hanya akan menyeret manusia zaman Bill Gates ini ke zaman Abu Hurairah”.

[Lihat Tribun (hal.4)]

Ini merupakan pelecehan kepada sahabat Abu Hurairah, sebab ucapan ini menjelaskan bahwa Abu Hurairah termasuk orang yang terpasung otaknya, hanya membebek buta kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Bahkan ini merupakan pelecehan kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sebab menuduh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memasung otak dan akal para sahabatnya, tanpa dibiarkan berpikir. Sungguh ini adalah ucapan kufur yang bisa membuat seorang murtad, sebab mengolok-olok Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman”.

(QS. At-Taubah: 65-66).

Syaikh Ibnu Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata ketika menafsirkan ayat ini,

“Sesungguhnya mengolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya adalah kekafiran yang mengeluarkan orang dari agamanya, karena prinsip agama ini terbangun di atas pengagungan kepada Allah, agama, dan Rasul-Nya. Sedangkan mengolok sesuatu di antara perkara itu adalah merobohkan prinsip ini, dan menentangnya dengan sekeras-kerasnya”.

[Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 343)]

Demikian pula mengolok-olok sahabat, apalagi sampai merendahkan dan mencelanya, bahkan sampai mengkafirkannya. Perbuatan seperti hanyalah dilakukan kaum zindiq (munafiq). Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda dalam menerangkan martabat para sahabat,

لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَلَوْا أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Andaikan seorang di antara kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, niscaya infaq itu tak mampu mencapai satu mud infaq mereka, dan tidak pula setengahnya”.

[HR.Al-Bukhary dalam Ash-Shahih (3470), Muslim (2541)].

Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Rozy -rahimahullah- berkata,

“Apabila engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka ketahui bahwa orang itu zindiq. Karena Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- di sisi kami benar, dan Al-Qur’an adalah kebenaran. Sedangkan yang menyampaikan Al-Qur’an ini kepada kami adalah para sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam-. Mereka (para pencela tersebut) hanyalah berkeinginan untuk menjatuhkan saksi-saksi kami agar mereka bisa membatalkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Padahal celaan itu lebih pantas bagi mereka, sedang mereka adalah orang-orang zindiq”.

[Lihat Al-Kifayah, (hal. 49)]

Terakhir, kami nasihatkan melalui ucapan Al-Hafizh Ibnu Asakir -rahimahullah-,

“Ketahuilah bahwa daging para ulama -rahmatullah alaih- adalah beracun. Diantara sunnnatullah dalam menyingkap aib orang yang merendahkan mereka adalah telah dimaklumi, karena mencela mereka dengan sesuatu yang tak ada pada mereka adalah perkaranya besar”.

[Lihat Tabyiin Kadzib Al-Muftari (hal. 29)]

Mudah-mudahan torehan pena ini menjadi nasihat bagi si Penulis dan orang-orang yang tertipu dengan agama Syi’ah-Rofidhoh. Kami berharap kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Penyayang agar kami dimatikan di atas Islam yang dibawa oleh para sahabat.

Sumber:

Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 95 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

judul asli: Bahaya Kebebasan Berpikir
Sumber: http://almakassari.com/?p=320
Artikel: http://haulasyiah.wordpress.com