Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait (2/2)

Oleh Abu Abdillah al-Dzahabi

 

Pada Artikel yang lalu telah kita sampaikan 7 Keyakinan Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait secara global. Kemudian kita lengkapi dengan kesaksian sebagian ulama salaf.

Mereka adalah:

1. Khalifatu Rasulillah saw Abu Bakar al-Shiddiq ra (w. 13 H):

2. Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab ra (w. 23 H)

3. Zaid ibn Tsabit (w. 42 H)

4. Muawiyah ibn Abi Sufyan ra (w. 60 H)

5. Abdullah ibnu Abbas ra ( w. 68 H)

6. Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad at-Thahawi (w. 321 H)

7. Al-Hasan ibn Ali al-Barbahari (w. 329 H)

8. Abu Bakar Muhammad ibnul Husain al-Ajjurri (w. 360 H)

Kini marilah kita lanjutkan dengan keesaksian ulama yang lain:

9. Abdullah ibn Muhammad al-Andalusi al-Qahthani (w. 387 H)

Beliau berkata dalam Nuniyyahnya:

وَاحْفَظْ لِأَهْلِ اْلبَيْتِ وَاجِبَ حَقِّهِمْ # وَاعْرِفْ عَلِيّاً أَيَّمَا عِرْفَانِ

لاَتَنْتَقِصْهُ وَلاَ تَزِدْ فِي قَدْرِهِ # فَعَلَيْهِ تَصْلىَ النَّارَ طَائِفَتَانِ
إِحْدَاهُمَا لاَ تَرْتَضِيْهِ خَلِيْفَةً # وَتَنُصُّهُ الْأُخْرَى إِلَهاً ثَانِي

“Jagalah hak ahlul bait yang wajib # kenalilah Ali dengan sebenar-benar mengenal

Jangan engkau merendahkannya dan jangan pula engkau lebihkan dalam kedudukannya # Atas dasar itu ada dua kelompok masuk neraka

Yang satu tidak ridha ia menjadi khalifah # Yang lain menyatakan bahwa ia adalah sesembahan yang kedua.

(Lihat Kifayatul Insan Minal Qashaid al-Ghurr al-Hisan yang dikumpulkan oleh Muhammad Ahmad Sayyid: 41)

10. [Abu Utsman Ismail al-Shabuni al-Syafi’i -Rahimahullah- (w. 449)]*

Dalam kitab Aqidatus Salam Ashahabil Hadits ( Tahqiq DR. Nashir al-Judai’: 294) mengatakan:

“Ashhabul Hadits memandang adanya tarahhum (mendoakan rahmat) untuk semua (maksud beliau seluruh sahabat yang pernah terlibat konflik karena fitnah Sabaiyyah; Ali, Mu’awiyyah, Aisyah dll) serta setia kepada mereka. Begitu pula mereka memandang adanya pengagungan kepada para isteri Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-, mendoakan mereka, mengakui jasa mereka, dan mengakui mereka sebagai ibunda kaum mukminin.”

11. Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah al-Maqdisi -Rahimahullah- (w.620 H)

Dalam Lum’atul I’tiqad, Ibnu Qudamah -Rahimahullah- mengatakan:

Termasuk sunnah adalah taradhdhi terhadap isteri-isteri Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-; ummahatul mukminin yang disucikan dan dibersihkan dari segala keburukan. Yang terbaik adalah Khadijah bint Khuwailid -Radiallahuanha- dan Aisyah al-Shiddiqah bint al-Shiddiq –Radiallauanhum- yang disucikan oleh Allah dalam kitab suci-Nya, isteri Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- di dunia dan akhirat. Maka barangsiapa menuduhnya dengan sesuatu yang telah dibersihkan oleh Allah maka ia kafir kepada Allah Yang Maha Agung (Lum’ah dengan syarah Syaikh Utsaimin: 152)

12. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -Rahimahullah- (w. 728 H)

Ibnu Taimiyah -Rahimahullah- berkata:

“Mereka (ahlussunnah) mencintai keluarga Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-, setia membela mereka dan menjaga wasiat Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- tentang mereka, dimana Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- berdiri berkhutbah pada hari ghadir Khum: Aku peringatkan kalian tentang keluargku”. Beliau berkata kepada Abbas, pamannya, yang saat itu sedang mengadukan kepada Nabi perihal sebagian orang Quraisy yang bersifat kasar kepada Bani Hasyim, maka Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- bersabda: “Demi Allah Yang jiwaku ada di tangan-Nya, mereka tidak beriman sebelum mereka mencintai kalian karena Allah dan karena kekerabatanku. Beliau berkata: Sesungguhnya Allah telah memilih Ismail, dan telah memilih Kinanah dari Bani Ismail, dan telah memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilih aku dari Bani Hasyim.” (al-Aqidah al-Wasithiyyah, syarah al-Fauzan: 195)

Adapun tentang Isteri-isteri Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- maka beliau mengatakan:

“Mereka (salaf shalih) mencintai dan membela isteri-isteri Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-, ibunda kaum mukminin. Mereka mengimani bahwa mereka adalah isteri-isteri Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- di akhirat (surga), terutama Khadijah -Radiallahuanha- ibu dari putera puteri beliau, orang yang pertama kali beriman kepada beliau dan membelanya. Dia memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasul -Shalallahu alaihi wasalam-. Dan (setelah itu) adalah shiddiqah bintu shiddiq Aisyah -Radiallahuanha-, yang dikatakan oleh Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam-: “Keutamaan Aisyah atas segala wanita seperti bubur tsarid atas segala makanan.” Mereka berlepas diri dari jalan Rawafidh yang membenci para sahabat dan mencela mereka. Serta berlepas diri dari jalan nawashibn yang menyakiti keluarga Nabi saw dengan ucapan atau perbuatan.” (al-Wasithiyyah: 198-201)

Beliau -Rahimahullah- mengatakan:

“Tidak diragukan lagi bahwa keluarga Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- memeiliki hak atas umat yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Mereka berhak mendapatkan tambahan kecintaan dan pembelaan yang tidak dimiliki oleh selain kabilah Quraisy, sebagaimana Quraisy memiliki kecintaan dan pembelaan yang tidak dimiliki oleh kabilah lain. Sebagaimana jenis bangsa Arab berhak mendapatkan kecintaan dan pembelaan yang tidak dimiliki oleh jenis bani Adam yang lain. Ini adalah madzhab Jumhur yang memandang adanya keutamaan bangsa Arab atas selain mereka, keutamaan Quraisy atas bangsa Arab, keutamaan Bani Hasyim atas seluruh Quraisy. Ini yang dinyatakan oleh para Imam seperti Imam Ahmad dan lainnya.” (Minhaj al-Sunnah: 4/599)

13. al-Hafizh Ibnu Katsir -Rahimahullah- ( w. 774 H)

Dalam tafsirnya beliau berkata:

“Kami tidak mengingkari orang-orang yang berwasiat tentang ahlul bait, memerintahkan agar berbuat baik kepada mereka, menghormati dan memuliakan mereka, karena mereka adalah keturunan suci dari rumah tangga yang paling mulia di muka bumi ini, keutamaannya, kehormatan dan nasabnya. Terutama jika mereka mengikuti sunnah Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- yang shahih dan jelas, sebagaimana pendahulu mereka al-Abbas dan keturunannya, Ali dan keturunannya –semoga Allah meridhahi mereka semua-.” (Tafsir Ibnu Katsir: 6/199

14. Muhammad ibn Ibrahim al-Wazir al-Yamani -Rahimahullah- (w. 840 H)

Dalam kitab Itsar al-Haq ‘Alal al-Khalq halaman 460-461 beliau berkata:

“Nash-nash yang banyak dan mutawatir telah menunjukkan wajibnya mencintai dan membela mereka -maksudnya ahlul bait- dan agar selalu bersama mereka.” Dalam Haditsa shahih diterangkan; “Kalian tidak masuk surga hingga beriman, dan tidak beriman sebelum kalian saling mencintai…” Di dalamnya juga: “seseorang itu dikumpulkan bersama orang yang dicintai.”

Di antara keistimewaan keluarga Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- adalah firman Allah -Subhanahu wa ta’ala-:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Oleh karena itu wajib mencintai, mengagungkan, memuliakan, dan mengakui keunggulan-keunggulan mereka, karena mereka adalah orang yang terlibat dalam ayat mubahalah, ahli mawaddah (kecintaan), ahli tathhit (penyucian), dan ahli berbagai macam jasa lainnya.

15. al-Allamah Shiddiq Hasan Khan -Rahimahullah- (w. 1307 H)

Dalam kitab al-Dinul Khalish (3/270) beliau berkata:

“Adapun ahlu sunnah maka mereka mengakui keutamaan mereka -ahlul bait- semuanya. Mereka tidak mengingkari ahlul bait yang terdiri dari para isteri dan anak-anak. Mereka juga tidak bersikap acuh dalam mengetahui para sahabat yang mulia, yang menegakkan keadilan dan inshaf (obyektifitas), jauh dari kecurangan dan nemaksakan kehendak. Mereka adalah umat yang tengah di tengah-tengah kelompok-kelompok yang batil, dusta dan menyimpang.”

Di tempat lain saat menuturkan akidah ahlus sunnah tentang isteri isteri Nabi dan keturunannya, dia mengatakan:

“Ahli sunnah menghormati semuanya, dan mengagungkannya dengan sebenar-benar mengagungkan. Ini adalah kebenaran murni. Begitu pula mengakui keagungan anak keturunan Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- dari Fatimah -Radiallahuanha-. Ahlus sunnah menyebut mereka dengan kebaikan, doa dan pujian. Barangsiapa tidak memperhatikan kehormatan isteri-isteri Nabi yang suci dan keturunan Nabi yang bersih maka ia telah menyalahi zhahirnya al-Qur`an dan pernyataan nash Qurani.” (Al-Din al-Khalish (3/268); Qathf al-Tsamar Fi Bayan Aqidah ahlil Atsar (h. 101-103)

16. Al-Allamah Abdurrahman ibn Nashir al-Sa’di -Rahimahullah- ( 1376 H)

Beliau -Rahimahullah- berkata dalam kitab at-Tanbihat al-Lathifah (94):

“Maka kecintaan kepada Keluarga Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- adalah karena banyak alasan, antara lain: 1) karena Islam mereka, jasa mereka dan keberadaan mereka di barisan terdepan. 2) Kedekatan mereka kepada Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- dan sambungnya nasab mereka dengan Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam-. 3) Anjuran dan wasiat Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- untuk mencintai mereka.”

17. Al-Allamah Hafizh ibn Ahmad al-Hakami -Rahimahullah- (1377 H)

Dalam Sullamul Wushul, beliau mengatakan:

“Ahlul Bait Nabi pilihan yang cuci # dan para pengikutnya; para pemimpin pilihan
Semua mereka di dalam al-Qur`an yang sempurna # Dipuji oleh Pencipta alam semesta Yang Maha mengetahui.”
(Ma’arijul Qabul bisyarh Sullamul Wushuil: 3/1196)

18. Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin -Rahimahullah- (1421 H)

Dalam Syarah Aqidah Wasithiyyah (2/273) beliau mengatakan:

“Di antara pokok ajaran ahlu sunnah adalah mereka mencintai keluarga Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-, mencintai mereka karena iman dan kekerabatan mereka dengan Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam-. Mereka tidak membeci seorangpun dari mereka selamanya.”

[Dalam Syarah Riyadhu shalihin jilid 3 bab 43 beliau mengatakan bahwa Ahlul bait Nabi ada dua kelompok: satu, kelompok kafir; mereka ini bukan termasuk ahlul bait meskipun secara nasab adalah dekat, karena Allah menghukumi bahwa anak nabi Nuh yang kafir bukanlah termasuk ahlul bait bagi Nabi Nuh (QS. Hud: 46). Kedua, kelompok yang beriman, inilah ahlul bait bagi Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam-. Juga termasuk ahlul bait adalah isteri-isteri Rasul -Shalallahu alaihi wasalam- (QS.al-Ahzab: 32-33) Ahlul bait memiliki dua hak: hak iman, dan hak kekerabatan dengan Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-. Sedangkan isteri-isteri Nabi saw adalah ibu para ibu bagi kaum mukmin berdasarkan QS. Al-Ahzab: 6 dan Ijma’.]*

[ ]* adalah tambahan dari redaksi.

Diterjemah dan dipublikasikan oleh Majalah qiblati pada edisi 2 th. IV Nopember 2008.

Tagged: , ,

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: