Akidah Muktazilah & SYIAH: “Allah Wujud Bila Makan”

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, semoga salawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah.

Diantara argumen yg diberikan untuk mengukuhkan keyakinan mereka dengan akidah ini adalah dengan membuat kedustaan terhadap sahabat nabi yg juga ahlul bait seperti Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Ali ibn Husain, Zainal Abidin- radhiyallahu ‘anhu, Ja’far ash Shadiq radhiyallahu ‘anhu, bahkan sehingga kepada Imam Mujtahidin seperti Imam Asy-Syafi’i dan lain-lainya.

Antara syubhat yang mereka nukil di atas nama Imam Ali radhiyallahu ‘anhu, antaranya:

Beliau berkata:

كان ولا مكان، وهو الان على كان.

”Adalah Allah, tiada tempat bagi-Nya, dan Dia sekarang tetap seperti semula.”

Beliau radhiyallahu ‘anhu juga berkata:

إن الله تعالى خلق العرش إظهارًا لقدرته لا مكانا لذاته.

”Sesungguhnya Allah – Maha Tinggi- menciptakan Arsy untuk emnampakkan kekuasaan-Nya bukan sebagai tempat untuk Dzat-Nya.”

– [Al Farqu baina al Firaq:333].

Beliau juga berkata:

من زعم أن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود.

”Barang siapaa menganggap bahwa Tuhan kita terbatas/mahdûd maka ia telah jahil/tidak mengenal Tuhan Sang Pencipta.”

– [Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim al Isfahani,1/73, ketika menyebut sejarah Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu].

-demikian perkataan mereka (Syiah) dan juga seorang muktazilah yg mengaku sebagai ahli sunnah yg dikenal sebagai Abu Salafy ini-

 

. . . P E N J E L A S A N . . .

Syubhat mereka sangat bathil bahkan sangat lemah. Hal dan ini akan jelas dari beberapa sisi:

Pertama:

Sesungguhnya atsar ini dibawakan oleh orang-orang Syi’ah Rofidoh dalam buku-buku mereka tanpa ada sanad sama sekali. Diantaranya dalam kitab mereka Al-Kaafi (karya Al-Kulaini).

Al-Kulaini berkata:

وَ رُوِيَ أَنَّهُ سُئِلَ ( عليه السلام ) أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ سَمَاءً وَ أَرْضاً فَقَالَ ( عليه السلام ) أَيْنَ سُؤَالٌ عَنْ مَكَانٍ وَ كَانَ اللَّهُ وَ لَا مَكَانَ

Dan diriwayatkan bahwasanya Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salam ditanya : Dimanakah Robb kami sebelum menciptakan langit dan bumi?, maka Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam berkata, “Mana pertanyaan tentang tempat?! padahal Allah dahulu tanpa ada tempat.

– [Al-Kaafi 1/90 dalam بَابُ الْكَوْنِ وَ الْمَكَانِ].

Ternyata memang aqidah orang-orang syiah semisal dengan beberapa kelopok sesat seperti Asyaa’irah dan lain-lannya yang mengaku sebagai ahli sunnah, padahal mereka hanyalah bertopeng dan menjadikan aqidah orang-orang Syi’ah Rofidhoh dalam masalah “Di mana Allah” sebagai anutan mereka. -Allahu musta’an.-

Ketahuilah, bahawa memang orang-orang Rofidhoh beraqidah mu’tazilah, sebagaimana Asya’irah dalam masalah “Di mana Allah?”. Mereka (Asya’irah) sepakat dengan Mu’tazilah. (padahal Mu’tazilah adalah musuh tradisi mereka).

Atsar ini dibawakan oleh Al-Kulaini dengan tanpa sanad, bahkan dengan sighoh “Diriwayatkan” yang menunjukan lemahnya riwayat ini.

Kedua:

Demikian juga yang dinukil oleh seorang muktazilah bernama Abu Salafy dari kitab Al-Farqu bainal Firoq karya Abdul Qohir Al-Baghdadi adalah riwayat tanpa sanad sama sekali.

Abu Salafy menukilkan dari Abdul Qohir Al-Baghdadi, beliau berkata :

…”Mereka telah bersepakat bahwasanya Allah tidak diliputi tempat dan tidak berlaku waktu baginya, berbeda dengan perkataan orang-orang yang menyangka bahwasanya Allah menyetuh ‘Arsy-Nya dari kalangan Hasyimiyyah dan Karroomiyyah. Amiirul Mukminin Ali –radhiollahu ‘anhu- berkata : Sesungguhnya Allah telah menciptakan Al-‘Arsy untuk menunjukan kekuasaanNya dan bukan untuk sebagai tempat yang meliputi dzatNya. Beliau berkata juga : Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat, dan Allah sekarang sebagaimana Dia dulu”

– [Al-Farqu baynal Firoq hal 33].

Ternyata riwayat-riwayat dari Ali bin Abi Thalib yang dibawakan oleh Abdul Qohir Al-Baghdadi tanpa ada sanad sama sekali. Dan hal ini tentunya diketahui oleh Ahlul Majhul & Abu Salafy cs, Syiah, Asya’irah dalam menampilkan riwayat-riwayat dusta dan tanpa sanad ini demi untuk mendukung aqidah mereka yang bathil.

Ketiga:

Selain riwayat-riwayat tersebut tanpa sanad ternyata Abdul Qohir Al-Baghdadi sama sekali tidak dikenal sebagai seorang Muhaddits, namun demikianlah Ahlul Mahjul wa bid’ah seperti Abu Salafy cs tetap aja nekat mengambil riwayat dari orang yang tidak dikenal sebagai Muhaddits.

Keempat:

Abdul Qohir Al-Baghadadi tentunya lebih rendah kedudukannya daripada kedudukan guru besarnya yaitu Abul Hasan Al-‘Asy’ari.

Kelima:

Kalau seandainya riwayat-riwayat di atas shahih maka tidak menunjukan bahwasanya Ali bin Abi Tholib mengingkari adanya Allah di atas langit. Paling tidak dalam riwayat-riwayat di atas beliau –radhialllahu ‘anhu- hanyalah mengingkari bahwasanya Allah diliputi oleh tempat[*], dan pernyataan tersebut adalah pernyataan yang benar.

[*] Ahlus sunnah tidak mengatakan bahwa Allah berada di suatu tempat yang meliputi Allah, akan tetapi mereka mengatakan bahwasanya Allah berada di atas, iaitu di arah Atas.

Penjelasan Akidah Ahli Sunnah tentang Beza antara Tempat dan Arah

Adapun penjelasan maksud dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya Allah berada di atas, maka melalui point-point berikut ini:

1. Ketinggian itu ada dua, ada ketinggian relatif dan ada ketinggian mutlaq.

  • Adapun ketinggan relatif maka sebagaimana bila kita katakana bahwasanya lantai empat lebih tinggi daripada lantai satu, akan tetapi hal ini relatif, karena ternyata lantai empat lebih rendah daripada lantai enam.
  • Adapun ketinggian mutlak adalah ketinggian kearah atas.

Semua manusia di atas muka bumi ini bersepakat bahwasanya semakin sesuatu ke arah atas maka semakin tinggilah sesuatu tersebut. Maka jadilah paksi bumi sebagai titik ‘zero’ pusat kerendahan, dan semakin ke arah atas (iaitu ke arah langit) maka berarti semakin ke arah yang tinggi.

Oleh karenanya sering juga kita mendengar perkataan para ahli fizik:

“Tinggi gunung ini dari aras tanah…. atau dari aras air laut..”.

Oleh karenanya kita harus paham bahwasanya langit senantiasa letaknya di atas. Taruhlah jika kita sedang berada di bahagian bumi sebelah selatan, maka langit pada bahagian bumi selatan adalah di atas kita, demikian juga langit pada bahagian bumi utara juga berada di atas kita, demikian juga langit pada bahagian bumi barat dan langit pada bahagian bumi timur.

2- Apa yang ada dalam alam wujud ini hanyalah ada dua, Kholiq (yiatu Allah) dan alam semesta (yaitu seluruh makhluk).

Dan bagian alam yang paling tinggi adalah langit yang ke tujuh, dan Allah berada di atas langit yang ketujuh, yaitu Allah berada di luar alam. Janganlah di bayangkan bahwa setelah langit yang ke tujuh ada ruang hampa tempat Allah berada, karena ruang hampa juga merupakan alam. Intinya kalau dianggap ada yang lebih tinggi dari langit ketujuh dan merupakan penghujung alam semesta dan yang tertinggi maka Allah berada di balik (di luar) hal itu, dan lebih tinggi dari hal itu. Sehingga tidak ada suatu tempat (yang tempat merupakan makhluk Allah) yang meliputi Allah, karena Allah di luar alam semesta.

3- Dari penjelasan di atas, maka jika Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Allah di jihah (di arah) atas maka bukanlah maksudnya Allah berada di suatu tempat yang merupakan makhluk. Akan tetepi Allah berada di luar alam, dan berada di arah atas alam. Dan jihah tersebut bukanlah jihah yang berwujud akan tetapi jihah yang tidak berwujud karena di luar alam. (lihat penjelasan Ibnu Rusyd Al-Hafiid dalam kitabnya Al-Kasyf  ‘an Manhaj Al-Adillah hal 145-147)

4- Imam Ahmad pernah menjelaskan sebuah pendekatan pemahaman tentang hal ini.

Beliau berkata:

“Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?.

Maka ia akan menjawab : Iya.

Katakan lagi kepadanya, “Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?”. Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.

Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.

Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.

Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar dzatnya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah”

– [Ar-Rod ‘alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156].

6- Perkataan Imam Ahmad أَلَيْسَ اللهُ كَانَ وَلاَ شَيْءَ (Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?)

sama dengan perkataan كان الله ولا مكان (Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat.)

Perkataan Imam Ahmad ini di dukung oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam shahihnya:

كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

“Dahulu Allah (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya”.

(HR Al-Bukhari no 3191)

Dan kalimat  disini memberikan faedah keumuman, yaitu tidak sesuatupun selain Allah tatkala itu, termasuk alam dan tempat.

Meskipun Imam Ahmad mengatakan demikian akan tetapi beliau tetap menetapkan bahwasanya Allah berada di atas. Dari sini kita pahami bahwa penetepan adanya Allah di atas tidaklah melazimkan bahwasanya Allah berada atau diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk.

Perkataan Imam Ahmad ini mirip dengan perkataan Abdullah bin Sa’iid Al-Qottoon sebagaimana dinukil oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dalam kitabnya maqoolaat Al-Islamiyiin 1/351

Abul Hasan Al-Asy’ari berkata:

“Dan Abdullah bin Sa’iin menyangka bahwasanya Al-Baari (Allah) di zaman azali tanpa ada tempat dan zaman sebelum penciptaan makhluk, dan Allah senantiasa berada di atas kondisi tersebut, dan bahwasanya Allah beristiwaa’ di atas ‘arsyNya sebagaimana firmanNya, dan bahwasanya Allah berada di atas segala sesuatu”

Perhatikanlah para pembaca yang budiman, Abdullah bin Sa’iid meyakini bahwasanya Allah tidak bertempat, akan tetapi ia –rahimahullah- tidak memahami bahwasanya hal ini melazimkan Allah tidak di atas. Sehingga tidak ada pertentangan antara keberadaan Allah di arah atas dan kondisi Allah yang tidak diliputi suatu tempat.

Pemahaman Imam Ahmad dan Abdullah bin Sa’iid bertentangan dengan pemahaman Abu Salafy cs yang menyangka bahwa kalau kita menafikan tempat dari Allah melazimkan Allah tidak di atas. Atau dengan kata lain Abu Salafy cs menyangka kalau Allah berada di arah atas maka melazimkan Allah diliputi oleh tempat.

Wallahu a’lam..

Dipetik dari blog Ust Firanda Andirja
http://www.firanda.com/

(* dgn sedikit olahan)

Tagged: , ,

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: