Monthly Archives: September 2011

Fitnah Tajsim

Bismillah,
Jika anda ditanya oleh seseorang “apakah Allah Berjism”? apa jawaban anda?

Jika anda jawab “Ya” maka anda belum tentu benar. Jika anda jawab “Tidak” Maka anda kemungkinan salah.

Eh, mcm tu pulak…. Bingungkan???

Apa itu Jism?

Ibnu Mandzur berkata:

الجِسْمُ: جماعة البَدَنِ أَو الأَعضاء من الناس والإِبل والدواب وغيرهم من الأَنواع العظيمة

Aljismu: kumpulan dari badan atau anggota-anggota seorang manusia, unta, binatang berkaki empat, dan lain-lain yang merupakan bagian yang makhluk yang besar.

Para ahli bahasa hanya menggunakan istilah Jism untuk sesuatu yang berat dan padat, mereka tidak menamakan udara sebagai jism dan jasad sebagaimana halnya dengan tubuh manusia yang jelas mereka sebut sebagai jism.

Pandangan ahli bahasa tentang Jism sesuai dengan firman Allah taala:

وإذا رأيتهم تعجبك أجسامهم

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum”.

(QS al Munâfiqûn:4)

Dalam ayat lain Allah berfirman

وزاده بسطة في العلم والجسم

“Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”.

(QS albaqarah:247)

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Adapun ahli kalam dan para filsafat berselisih tentang makna Jism: Sebahagian dari mereka mengatakan bahwa Jism itu adalah sesuatu yang wujud, sebahagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang berdiri sendiri, sebagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang tersusun dari atom, sebahagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang tersusun dari materi dan gambaran, sebahagian lagi mengatakan bahwa bahwa jism adalah sesuatu yang dapat ditunjuk dengan isyarat indra, sebahagian lagi mengatakan bahwa jism itu tidak tersusun dari apapun tapi ia justeru yang ditunjuk [1]

Apa yang didefinisikan oleh para mutakallimin dan ahli filsafat sama sekali tidak dikenal dalam bahasa arab baik dalam kitab-kitab maupun syair-syair mereka. Roh sekalipun ditunjuk, turun, dan naik serta berdiri sendiri namun tidak dinamakan sebagai jism oleh ahli bahasa. Karena itulah mereka menyebutkan istilah jism dan roh. Disini dapat kita ketahui bahwa “dan” disini memberi kesan makna yang berbeza(mughayarah).

Teka-teki

Jadi manakah yang anda pilih ketika menjawab Ya atau Tidak?

Jika dinafikan, lalu bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa jism itu sesuatu yang dapat ditunjuk, padahal Ahlusunnah dan juga Asyairah beriman bahwa Allah dapat dilihat disyurga. Padahal sesuatu yang dilihat dengan mata adalah sesuatu yang ditunjuki dengan indra.?

Jika dikatakan Allah adalah jism, lalu bagaimana dengan pendapat ahli bahasa yang mengatakan bahwa tubuh dan anggota-anggotanya adalah jism[2]?

Bingungkah anda?

Disinilah perlunya memahami sesuatu secara menyeluruh dan terperinci.

Ibnu Taimiyah berkata:

أما الكلام في الجسم والجوهر ونفيهما أو إثباتهما , فبدعةٌ

ليس لها أصلٌ في كتاب الله ولا سنة رسوله

ولا تكلم أحدٌ من الأئمة والسلف بذلك نفياً ولا إثباتاً . انتهى

Adapun pembicaraan tentang jism dan jawhar serta penafian dan penetapannya merupakan kebidahan yang tidak memiliki asal dari kitab Allah dan sunnah rasulnya serta tidak pernah dibicarakan oleh seorangpun dari para imam-imam Salaf dengan menafikannya atau menetapkannya.[3]

Dalam tempat lain beliau mengatakan:

وأما القول الثالث: فهو القول الثابت عن أئمة السنة المحضة

كالإمام أحمد ومَنْ دونه , فلا يطلقون لفظ الجسم لا نفياً ولا إثباتاً , لوجهين :

أحدهما : أنه ليس مأثوراً , لا في كتاب ولا سنة ,

ولا أثر عن أحد من الصحابة والتابعين لهم بإحسان , ولا غيرهم من أئمة المسلمين ,

فصار من البدع المذمومة .

الثاني : أن معناه يدخل فيه حق وباطل ,

والذين أثبتوه أدخلوا فيه من النقص والتمثيل ما هو باطل ,

والذين نفوه أدخلوا فيه من التعطيل والتحريف ما هو باطل . انتهى

Dan adapun pendapat yang ketiga: itulah pendapat yang tetap dari para imam Sunnah yang murni. Seperti Imam Ahmad dan selainnya. Mereka tidak memutlakkan lafadz jism baik dalam penafian maupun penetapan karena dua hal.

Pertama: hal tersebut tidak ma’tsur baik dalam qur’an, sunnah, maupun atsar sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Tidak juga dari para imam kaum musllimin yang lain. Maka jadilah hal tersebut sebagai bid’ah yang tercela.

Kedua: maknanya boleh jadi sesuatu yang haq dan boleh jadi juga sesuatu yang batil.

Orang-orang yang menetapkannya [secara mutlak] berkemungkinan masuk dalam penjelekkan dan penyerupaan yang merupakan sebuah kebathilan.[4]

Sedangkan orang yang menafikannya [secara mutlak] boleh masuk dalam ta’thil dan tahrif yang juga merupakan sebuah kebatilan.[5] [6]

Kesimpulan

Lafadz jism terkait sifat Allah adalah lafadz yang Muhtamil serta sebuah pembahasan muhdats (bid’ah) yang diada-adakan oleh para filsafat dan Mutakallimun. Sebagai Ahlissunnah kita harus menghindarinya.

Jika kita ditanya tentang hal ini maka Ibnu Taimiyah memberikan Jalan keluar dengan perkataannya:

فيقال لمن سأل بلفظ الجسم : ما تعني بقولك ؟

أتعني بذلك أنه من جنس شيء من المخلوقات ؟

فإن عنيتَ ذلك , فالله قد بيَّنَ في كتابه أنه لا مثل له , ولا كفوَ له , ولا نِدَّ له ؛

وقال : ( أفمن يخلق كمن لا يخلق )

فالقرءان يدل على أن الله لا يماثله شيء , لا في ذاته ولا صفاته ولا أفعاله ,

فإن كنتَ تريد بلفظ الجسم ما يتضمن مماثلة الله لشيء من المخلوقات ,

فجوابك في القرءان والسنة . انتهى

Maka direspon bagi siapapun yang bertanya dengan lafadz jism: apa yang anda maksud? Apakah yang anda maksud adalah bahwa Dia termasuk jenis dari makhluknya? Kalau jelas begitu maksudnya, maka Allah telah menjelaskan didalam kitabnya bahwa Dia tidak serupa, setara, dan tidak bersekutu dengan apapun.

Allah berfirman:
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?
(QS al Nahl:17).

Al Qur’an menunjukkan bahwa Allah tidak diserupai oleh apapun baik zat, sifat, maupun perbuatannya.

Kalau yang engkau maksud dengan lafadz Jism mengandung penyerupaan Allah dengan makhluknya, maka jawaban untukmu ada didalan Alqur’an dan Sunnah.[7]

Selanjutnya beliau menegaskan:

ولهذا اتفق السلف والأئمة على الإنكار على المشبهة الذين يقولون

بصر كبصري , ويدٌ كيدي , وقدم كقدمي . انتهى

Oleh karena itu Salaf telah bersepakat untuk mengingkari Musyabbihah yang mengatakan penglihatan [Allah] seperti penglihatanku, tangan [Allah] seperti tanganku, kaki [Allah] seperti kakiku.[8]

Disini Ahlussunnah dan salaf tidak membicarakan penafian maupun penetapan jism pada Allah, begitu juga lafadz-lafadz lain yang tidak terdapat dalam al Qur’an maupun Sunnah seperti arah dan tahayyuz dan semisalnya. Tetapi Ahlussunnah menyifatkan Allah Taala sesuai dengan apa yang Ia Sifatkan bagi dirinya dalam al-Qur’an dan apa yang disifatkan oleh Rasulnya. Mereka tidak melangkahi al-Qur’an dan Hadits.

Imam al Barbahari berkata:

Tidak membicarakan rabb kecuali sesuai dengan apa yang Ia sifatkan bagi dirinya Ajja Wajalla dalam Qur’an dan yang dijelaskan oleh Rasulullah untuk para sahabatnya.[9]

Beliau juga menjelaskan bahwa lafadz-lafadz bid’ah tersebut adalah sumber bid’ah:

Ketahuilah! Semoga Allah memuliakanmu! Kalau saja manusia menahan diri dalam perkara-perkara muhdats, tidak melangkah lebih jauh, dan tidak melahirkan kalimat-kalimat yang tidak pernah datang dari atsar Rasulullah juga sahabatnya,maka niscaya tidak akan ada kebid’ahan[10]

Al Hafidz Abdul Ghani al Maqdisi Rahimahullah menyetujui kaidah seperti ini dengan mengatakan:

“Termasuk Sunnah yang tetap adalah diam dari sesuatu yang tidak datang nashnya dari Rasulullah Shallallâhu alaihi Wasallam atau yang telah disepakati oleh kaum muslimin untuk memutlakkannya dan meninggalkan perselisihan dalam penafian dan penetapannya. Begitu juga pada perkara yang hanya dapat ditetapkan dengan nash Syari’, dan juga pada perkara yang hanya dapat dinafikan dengan dalil Sami’ [11]

Tulisan dan nukilan Ibnu taimiyah juga menjadi bukti bahwa beliau bukanlah seorang mujassimah. Justeru ketika Asyairah membatasi bahwa jism itu adalah satu hal, ternyata ibnu taimiyah telah merinci dan menyikapi lafadz jism dari berbagai isu yang beredar tentang jism menurut berbagai firqah dan mengambil solusi yang wasath.

Semoga bermanfaat

_________
FooteNote:
[1] Majmû’ Fatâwa Syaikhul islam Ibnu Taimiyah III/32
[2] Sekte karamiyah merupakan golongan Mujassimah yang berkeyakinan Allah adalah Jism dalam artian bertubuh dan bertulang. wal iyadzubillah
[3] Dar ut taahrudh al aql wan naql 4/146
[4] Kalau kita mengatakan Allah jism maka boleh jadi kita akan seperti karamiyah yang menetapkan bahwa Allah adalah seperti tubuh yang terdiri dari tulang dan daging. Waliyadzubillah
[5] Ada yang berpendapat bahwa jism itu yang ditunjuk padahal sesuatu yang terlihat itu adalah sesuatu yang ditunjuki oleh indra. Dengan menafikannya secara mutlak maka boleh jadi kita seperti mu’tazilah yang tidak mengimani bahwa kita dapat melihat Allah diakhirat kelak.
[6] Minhajussunnah Nabawiyyah I/204
[7] Dar ut taahrudh al aql wan naql 10/307
[8] Dar ut taahrudh al aql wan naql 10/309
[9] Syarhussunnah hal. 69
[10] Syarhussunnah hal. 105
[11] Aqâid Aimmatusshalaf hal 132

Sumber: http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/09/21/fitnah-tajsim/
(dengan sedikit alih bahasa)

Advertisements

Abu Bakr Tidak Dijamin Syurga, Bahkan Tidak Layak Disebut Sahabat Yang Paling Utama …?

Begitulah igauan kebanyakkan orang Syi’ah yang mendakwa melandaskan perkataannya dari sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam kitab Ahlus-Sunnah. Mereka berdalil dengan hadits berikut:

وَحَدَّثَنِي، عَنْ مَالِك، عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، أَنَّهُ بَلَغَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ: ” هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ “، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ: أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا، كَمَا أَسْلَمُوا، وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” بَلَى، وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي ” فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ بَكَى، ثُمَّ قَالَ: أَئِنَّا لَكَائِنُونَ بَعْدَكَ

Dan telah menceritakan kepadaku dari Maalik, dari Abu Nadlr Maulaa ‘Umar bin ‘Ubaidillah, telah sampai kepadanya bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para syuhadaa’ Uhud :

“Aku bersaksi atas mereka”. Lalu Abu Bakr Ash-Shiddiiq berkata: “Apakah kami bukan saudara mereka wahai Rasulullah ?. Kami memeluk agama Islam sebagaimana mereka juga memeluk Islam. Dan kami pun berjihad sebagaimana mereka juga berjihad ?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tentu. Akan tetapi aku tidak tahu apa yang kalian lakukan setelahku”. Maka, Abu Bakr pun menangis dan menangis, lalu berkata: “Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?”

– [Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’, 3/40 no. 1083 – tahqiq: Al-Hilaaliy].

Abun-Nadlr maulaa ‘Umar bin ‘Ubaidillah, namanya adalah Saalim bin Abi Umayyah Al-Qurasyiy At-Taimiy, termasuk tingkatan shighaarut-taabi’iin (thabaqah kelima). Seorang yang tsiqah lagi tsabat, namun banyak memursalkan riwayat. Wafat tahun 129 H
– [lihat biografi dirinya dalam kitab: Asmaausy-Syuyuukh Al-Imaam Maalik bin Anas oleh Ibnu Khalfuun, hal. 211; Tahdziibul-Kamaal oleh Al-Mizziy, 10/127-130 no. 2141; Tahdziibut-Tahdziib oleh Ibnu Hajar, 3/431-432 no. 797; dan Siyaru A’laamin-Nubalaa’ oleh Adz-Dzahabiy, 6/6-7 no. 2].

Mengetahu info seperti ini dengan mudah kita menyimpulkan bahwa riwayat ini lemah disebabkan mursal, kerana Abun-Nadlr jelas tidak pernah bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebenarnya, jika kita berhenti sampai di sini pun sudah sedar kebatilan apa yang mereka canangkan tentang Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu.

Lagi pula, bagaimana dapat difahami dari riwayat di atas bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu tidak dijamin masuk syurga ?. Tidak ada, kecuali perkataan orang Syi’ah yang sedang kebingungan saja.

Banyak ulama yang menjelaskan hadits di atas dengan penjelasan beragam.

Yang perlu diberi catatan, seandainya kita menerima hadits tersebut, baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa Abu Bakr dan para sahabat lainnya adalah saudara dari para syuhadaa’ Uhud yang telah mendahului mereka. Iaitu, saudara dalam hal keimanan.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dalam riwayat di atas, bersaksi atas kesyahidan para sahabat yang gugur di medan Uhud. Baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak bersaksi atas diri Abu Bakr dan yang lainnya maksudnya: baginda tidak bersaksi apakah Abu Bakr dan yang lainnya juga meninggal di medan pertempuran sebagai syahiid sebagaimana syuhadaa’ Uhud. Oleh kerana itu Abu Bakr menangis dan kemudian berkata: “Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?”. Kenyataannya Abu Bakr memang masih hidup setelah baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan penjadi pengganti baginda sebagai Khaliifah mengatur urusan kaum muslimin. Dan kenyataannya (lagi), Abu Bakr tidaklah meninggal sebagai syahiid di medan pertempuran sebagaimana syuhadaa’ Uhud.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa makna bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak bersaksi atas diri Abu Bakr dan para sahabat lainnya adalah isyarat bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan mendahului mereka (wafat). Mendengar hal itu. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu pun menangis dan berkata: ‘Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?’.
Ibnu ‘Abdil-Barr menjelaskan bahwa maksud persaksian baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada syuhadaa’ Uhud adalah persaksian akan keimanan yang benar, selamat dari dosa-dosa yang membinasakan serta pergantian dan perubahan, dan berlomba-lomba dalam urusan dunia [selesai]. Jelas, kerana syuhadaa’ Uhud itu telah menutup usianya dalam membela agama Allah.
Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui apa yang dilakukan para sahabat sepeninggal baginda adalah tidak mengetahui keseluruhan amal mereka secara tafshil, termasuk dengan cara apa mereka akan menutup usia. Apakah akan syaahid di medan pertempuran atau dengan cara yang lainnya.
Apa yang dikatakan baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallamtidak mengetahui apa yang terjadi setelah baginda meninggal merupakan realisasi daripada keumuman firman Allah ta’ala :

 

قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”

– [QS. Al-An’am: 50].

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”

– [QS. An-Naml: 65].

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”

– [QS. Al-A’raaf: 188].

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

– [QS. Luqmaan: 34].

Lantas, apa yang salah dari perkataan baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu ?.[1]

Dan ingat bung Syi’ah, bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan shighah jamak:

“Apakah kami bukan saudara mereka wahai Rasulullah ?. Kami memeluk agama Islam sebagaimana mereka juga memeluk Islam. Dan kami pun berjihad sebagaimana mereka juga berjihad ?”

(أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا، كَمَا أَسْلَمُوا، وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا؟).

Ertinya, ia (Abu Bakr) bertanya bukan hanya mewakili diri pribadi, termasuk juga di dalamnya ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Jika demikian, mengapa mereka hanya mengkhususkan kepada Abu Bakr, dengan mengecualikan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhumaa ?. Tentu, mereka lakukan itu kerana kebencian mereka terhadap Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu. Penyakit lama. Sekaligus ini juga ingin menyimpulkan kesimpulan orang Syi’ah itu:
Catatan :

  • Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar dan sahabat lainnya kerana Rasulullah SAW telah memberikan kesaksian kepada Mereka
  • Rasulullah SAWW tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakar dan sahabat lainnya kerana Rasulullah SAWmengatakan tidak mengetahui apa yang akan mereka (termasuk Abu Bakar) perbuat sepeninggal baginda SAW.Saya tambah berdasarkan logika kesimpulan yang salah di atas :
    1. Para syuhadaa Uhud lebih utama dari Abu Bakr dan sahabat lainnya, termasuk ‘Aliy bin Abi Thaalib; kerana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kesaksian kepada mereka
    2. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakr dan sahabat lainnya, termasuk ‘Aliy bin Abi Thaalib; kerana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui apa yang akan mereka (termasuk Abu Bakr dan ‘Aliy bin Abi Thaalib) perbuat sepeninggal baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Menjadi lebih ‘adil’ bukan kesimpulan salah ini ?.
Adapun persaksian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu masuk syurga, jelas sekali ada dalam banyak riwayat, di antaranya :

حدثنا هشام بن عمار ثنا سفيان عن الحسن بن عمارة عن فراس عن الشعبي عن الحارث عن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر وعمر سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين إلا النبيين والمرسلين لا تخبرهما يا علي ما داما حيين

Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar: Telah menceritakan kepada kami Sufyaan (bin ‘Uyainah), dari Al-Hasan bin Al-‘Umaarah, dari Firaas, dari Asy-Sya’biy, dari Al-Haarits, dari ‘Aliy, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Abu Bakr dan ‘Umar adalah dua orang pemimpin bagi orang-orang dewasa penduduk syurga, dari kalangan terdahulu maupun yang kemudian selain para Nabi dan Rasul. Jangan engkau khabarkan hal ini kepada mereka wahai ‘Aliy, selama mereka masih hidup”

– [Sunan Ibni Maajah no. 95; shahih dengan keseluruhan jalannya – baca selengkapnya dalam artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/03/keutamaan-abu-bakr-dan-umar-yang.html%5D.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ، وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ ”

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Muhammad, dari ‘Abdurrahmaan bin Humaid, dari ayahnya, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Abu Bakr di syurga, ‘Umar di syurga, ‘Utsmaan di syurga, ‘Aliy di syurga, Thalhah di syurga, Az-Zubair di syurga, ‘Abdurrahmaan in ‘Auf di syurga, Sa’d di syurga, Sa’iid di syurga, dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarraah di syurga”

– [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3747. Diriwayatkan juga oleh Ahmad 1/193 dan dalam Al-Fadlaail no. 278, An-Nasaa’iy dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 91, Abu Ya’laa no. 835, Ibnu Hibbaan no. 7002, dan yang lainnya; shahih].

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِي الْفَزَارِيَّ، عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ الْأَشْجَعِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ ”

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Umar: Telah menceritakan kepada kami Marwaan, iaitu Al-Fazzaariy, dari Yaziid – ia adalah Ibnu Kaisaan – , dari Abu Haazim Al-Asyjaa’iy, dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Siapakah di antara kalian yang memasuki waktu pagi dalam keadaan berpuasa di hari ini?”. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Aku”. Baginda kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang telah mengiringi jenazah pada hari ini?”. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Aku”. Baginda kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang telah memberi makan kepada orang miskin pada hari ini?”. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Aku”. Baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang telah membesuk orang sakit pada hari ini?”. Abu Bakr menjawab: “Aku”. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seluruh perkara tersebut terkumpul pada diri seseorang melainkan dia akan masuk syurga”

– [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1028].

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي حَفْصَةَ، وَالْأَعْمَشِ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ صَهْبَانَ، وَابْنِ أَبِي لَيْلَى، وَكَثِيرٍ النَّوَّاءِ كُلِّهِمْ، عَنْ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ أَهْلَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى لَيَرَاهُمْ مَنْ تَحْتَهُمْ كَمَا تَرَوْنَ النَّجْمَ الطَّالِعَ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ، وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ مِنْهُمْ وَأَنْعَمَا ”

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah: Telah menceritakan Muhammad bin Fudlail, dari Saalim bin Abi Hafshah, Al-A’masy, ‘Abdullah bin Shahbaan, Ibnu Abi Lailaa, dan Katsiir An-Nawaa’, semuanya dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa’iid, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya derajat penghuni syurga yang paling tinggi benar-benar akan melihat orang-orang yang ada di bawah mereka sebagaimana kalian melihat bintang terbit di ufuk langit. Dan sesungguhnya Abu Bakr dan ‘Umar termasuk di antara mereka dan yang paling baik”

[Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3658; hasan dengan keseluruhan jalannya].
Dan masih banyak hadits lain yang menetapkan persaksian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu sebagai penghuni syurga. Di atas saya ambil yang pendek-pendek saja.
Adapun penetapan bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu sebagai sahabat yang paling utama, saya kira orang Syi’ah tersebut hanyalah kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu. Atau bahkan tidak mau tahu ?

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ قَالَ خَالِدٌ الْحَذَّاءُ حَدَّثَنَا عَنْ أَبِي عُثْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ فَقُلْتُ مِنْ الرِّجَالِ فَقَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَعَدَّ رِجَالًا

Telah menceritakan kepada kami Mua’llaa bin Asad: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Mukhtaar, ia berkata: Telah berkata Khaalid Al-Hadzdzaa’ dari Abu ‘Utsmaan, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu: Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya beserta rombongan pasukan Dzatus-Sulaasil. Lalu aku (‘Amru) bertanya kepada baginda:
“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?”. Baginda menjawab: “‘Aisyah”. Aku kembali bertanya : “Kalau dari kalangan laki-laki?”. Baginda menjawab: “Bapaknya (iaitu Abu Bakr)”. Aku kembali bertanya: “Kemudian siapa lagi?”. Baginda menjawab: “‘Umar bin Al-Khaththab”. Selanjutnya baginda menyebutkan beberapa orang laki-laki”

– [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3662].

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ، ثنا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: كُنَّا نَتَحَدَّثُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّ خَيْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا: أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، فَيَبْلُغُ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلا يُنْكِرُهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘’Amru bin ‘Utsmaan: Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah : Telah menceritakan kepada kami Al-Laits bin Sa’d, dari Yaziid bin Abi Habiib, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata:
“Kami berkata di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ‘bahwasannya sebaik-baik umat setelah Nabinya (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) adalah Abu Bakr, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsmaan’. Lalu sampailah hal itu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka baginda tidak mengingkarinya[2]”

– [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim no. 1193; shahih].

‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu termasuk yang orang yang mengunggulkan Abu Bakr (dan ‘Umar) dibandingkan sahabat lain, termasuk dirinya :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو صَالِحٍ الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى، قثنا شِهَابُ بْنُ خِرَاشٍ، قثنا الْحَجَّاجُ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ حُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: كُنْتُ أَرَى أَنَّ عَلِيًّا أَفْضَلَ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ أَرَى أَنَّ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ بَعْدِ رَسُولِ اللَّهِ أَفْضَلَ مِنْكَ، قَالَ: أَوَلا أُحَدِّثُكَ يَا أَبَا جُحَيْفَةَ، بِأَفْضَلِ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: أَفَلا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ وَأَبِي بَكْرٍ؟ قَالَ: قُلْتُ: بَلَى فَدَيْتُكَ، قَالَ: عُمَرُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Shaalih Al-Hakam bin Muusaa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syihaab bin Khiraasy, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaaj bin Diinaar, dari Hushain bin ‘Abdirrahmaan, dari Abu Juhaifah, ia berkata:
Dulu aku berpandangan bahwasannya ‘Aliy adalah orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata kepadanya: “Wahai Miirul-mukminiin, sesungguhnya aku tidak memandang seorang pun di antara kaum muslimin setelah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lebih utama dari engkau”. ‘Aliy berkata : “Tidakkah engkau mau aku beritahukan kepadamu wahai Abu Juhaifah tentang orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Aku berkata : “Tentu”. ‘Aliy berkata : “Abu Bakr”. Kemudian ia melanjutkan : “Tidakkah engkau mau aku beritahukan kepadamu orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr ?”. Aku berkata : “Tentu, berilah aku penjelasan”. ‘Aliy berkata : “’Umar”

– [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 404; hasan, dan shahih dengan keseluruhan jalannya].
Madzhab Ahlul-Bait adalah mencintai Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu :

حَدَّثَنَا أَبُو ذَرٍّ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، نَا عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ أَشْكَابٍ، نَا إِسْحَاقُ بْنُ أَزْرَقَ، عَنْ بَسَّامِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الصَّيْرَفِيِّ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ قُلْتُ: مَا تَقُولُ فِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا؟ فَقَالَ: ” وَاللَّهِ إِنِّي لأَتَوَلاهُمَا وَأَسْتَغْفِرُ لَهُمَا، وَمَا أَدْرَكْنَا أَحَدًا مِنْ أَهْلِ بَيْنِي إِلا وَهُوَ يَتَوَلاهُمَا ”

Telah menceritakan kepada kami Abu Dzarr Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr: Telah mengkhabarkan kepada kami ’Aliy bin Al-Husain bin Asykaab: Telah mengkhabarkan kepada kami Ishaaq bin Azraq, dari Bassaam bin ’Abdillah Ash-Shairafiy, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Abu Ja’far, aku berkata: ”Apa komentarmu tentang Abu Bakr dan ’Umar radliyallaahu ’anhumaa ?”. Maka ia menjawab: “Demi Allah, sungguh aku menjadikan mereka berdua sebagai wali dan memintakan ampun untuk mereka berdua. Tidaklah kami menjumpai seorang pun dari kalangan Ahlul-Baitku kecuali ia juga menjadikan mereka berdua sebagai wali”

– [Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 41; shahih – baca selengkapnya di artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/04/berlepas-dirinya-imam-ahlul-bait.html%5D.
Jika Syi’ah dengki dan benci kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu, sebenarnya itu hanyalah mewarisi agama ‘Abdullah bin Saba’.

حَدَّثَنَا عَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ، قَالَ: أنا شُعْبَةُ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: مَا لِي وَلِهَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ، يَعْنِي: عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَبَإٍ، وَكَانَ يَقَعُ فِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ.

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Marzuuq, ia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, ia berkata: Telah berkata ‘Aliy (bin Abi Thaalib): “Apa urusanku dengan orang hitam jelek ini – iaitu ‘Abdullah bin Saba’ – . Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah no. 4358; shahih].

Kita, Ahlus-Sunnah, bermadzhab dengan madzhab Ahlul-Bait, madzhabnya ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Syi’ah juga ngaku-ngaku mengikuti ‘Aliy, tapi mungkin yang dimaksud bukan Ibnu Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu, tapi ‘Aliy yang lain entah siapa….
Wallaahul-musta’aan.

Artikel: abul-jauzaa’ – 1432 H – revised: 12-5-2011].

Nota kaki:
– – –

  1. Namun kesaksian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara umum ada sebagaimana terdapat dalam banyak riwayat :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَكَانُوا يَضْرِبُونَنَا عَلَى الشَّهَادَةِ وَالْعَهْدِ وَنَحْنُ صِغَارٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsiir: Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari Manshuur, dari Ibraahiim, dari ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah radliyallaahu ‘anhu: Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya”. Ibrahim berkata: “Dahulu, mereka (para sahabat) memukul kami saat masih kecil bila melanggar perjanjian dan persaksian (untuk sebuah pengajaran)”.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3651. Diriwayatkan pula oleh Muslim no. 2533, At-Tirmidziy no. 3859, Ibnu Maajah no. 2363, Ahmad 1/378 & 434 & 442, dan Ath-Thayaalisiy no. 299.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ كُلُّهُمْ عَنْ حُسَيْنٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ مُجَمَّعِ بْنِ يَحْيَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُلْنَا لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ قَالَ فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ مَا زِلْتُمْ هَاهُنَا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ قَالَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, Ishaaq bin Ibraahiim, ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, semuanya dari Husain. Telah berkata Abu Bakr: Telah menceritakan kepada kami Husain bin ‘Aliy Al-Ju’fiy, dari Mujammi’ bin Yahyaa, dari Sa’iid bin Abi Burdah, dari Abu Burdah, dari ayahnya, ia berkata:
“Kami pernah melaksanakan shalat Maghrib berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami berkata: ‘Sebaiknya kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menunggu waktu shalat ‘Isya’. Ayah Abu Burdah berkata: ‘Kami duduk-duduk di masjid, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami seraya bertanya: ‘Kalian masih di sini?’. Kami menjawab: ‘Benar ya Rasulullaah! Kami telah melaksanakan shalat Maghrib berjamaah bersama engkau. Oleh kerana itu kami memilih untuk duduk-duduk di masjid sambil menunggu shalat ‘Isya’ berjamaah dengan engkau’. Rasulullah pun berkata: ‘Kalian benar-benar telah melakukan kebaikan.’ Lalu Rasulullah mengangkat kepalanya ke atas dan berkata: ‘Bintang-bintang ini merupakan amanah/penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang tersebut hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Aku adalah amanah/penjaga para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para sahabatku, akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Para sahabatku adalah amanah/penjaga umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka”.

– [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2531. Diriwayatkan pula oleh Ahmad 4/398-399].
Selengkapnya baca artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/riwayat-riwayat-tentang-keutamaan-para.html.

[2] Tambahan lafadh yang bergaris bawah adalah shahih. Baqiyyah bin Al-Waliid mempunyai mutaba’ah dari Abun-Nadlr Haasyim bin Al-Qaasim Al-Laitsiy, sebagaimana diriwayatkan dalam Bughyatul-Baahits ‘an Zawaaidi Musnad Al-Haarits no. 964.

Yaziid bin Abi Habiib juga mempunyai mutaba’ah dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-‘Adawiy :

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلانَ، مِنْ أَهْلِ مَرْوَ، نا حُجَيْنُ بْنُ الْمُثَنَّى، نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمَاجِشُونَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: ” كُنَّا نَقُولُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، وَيَبْلُغُ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلا يُنْكِرُهُ عَلَيْنَا ”

Telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Ghailaan dari kalangan penduduk negeri Marwi: Telah mengkhabarkan kepada kami Hujain bin Al-Mutsannaa: Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Maajisyuun, dari ‘Ubaidullah, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, ia berkata:
“Dulu kami (para sahabat) mengatakan di zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan. Dan sampailah hal itu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau tidak mengingkari kami akan hal itu”

– [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad no. 1357 dan dari jalannya Al-Khallaal dalam As-Sunnah no. 580; shahih].
Juga Bukair bin ‘Abdillah bin Al-Asyja’ sebagaimana diriwayatkan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 8702 (sanadnya dla’iif).

Naafi’ mempunyai mutaba’ah dari Saalim bin ‘Abdillah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Syaahiin dalam Syarh Madzaahib Ahlis-Sunnah no. 193 (sanadnya dla’iif, kerana Yaziid bin Qurrah Al-Hadlramiy, majhuul haal), dan Abu Shaalih Dzakwaan sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 2602 (sanadnya lemah, kerana Muhammad bin Al-Husain Al-Faarisiy, majhuul) dan Ibnul-‘Arabiy dalam Mu’jam-nya no. 1322 (shahih).

Sebahagian Sahabat adalah Golongan Munafikun … ?

Satu dari sekian banyak syubhat yang dilancarkan oleh Syi’ah Rafidhah Nawashib adalah mereka mengatakan bahwa sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sebahagiannya adalah munafik, mereka menganggap bahwa sahabat adalah munafik dan munafik adalah sahabat. Bagi mereka tidak ada perbezaan diantara kedua entiti tersebut. Dengan syubhat yang dilancarkan itu, dapatlah kita ketahui arah tujuan mereka, iaitu tidak lain untuk merendah-rendahkan generasi awal Islam.

Jika generasi awal Islam sudah berhasil direndah-rendahkan maka apapun yang datang melalui mereka akan turut direndah-rendahkan, iaitu berupa hadits bahkan Al-Qur’an, kerana Al-Qur’an maupun hadits tidaklah sampai ke generasi kita tanpa melalui generasi awal Islam (sahabat). Sungguh hal yang membahayakan jika ternyata penyampai agama kita ini adalah orang-orang munafik, inilah yang kaum Syi’ah hendak buktikan dengan syubhat-syubhat mereka. Ini adalah serangan yang ganas yang ditujukan langsung ke jantung agama Islam yang dilakukan oleh kaum Syi’ah yang mengaku diri mereka sebahagian dari Islam.

Maka hendaknya kaum muslimin berhati-hati terhadap syubhat-syubhat kaum Syi’ah yang menyesatkan.

Salah satu dalil yang dipakai oleh orang Syi’ah tersebut dalam menyebarkan syubhatnya adalah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Muslim yang berikut:

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata:

“Saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam kepadamu?.

Ammar menjawab:
“Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak beliau sampaikan juga kepada orang-orang”.

Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam yang bersabda:
Di antara sahabatku ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada lapan orang yang tidak akan masuk syurga sampai unta memasuki lubang jarum”.

Lapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.

– [Sahih Muslim 4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi].

Matan hadits Sahih Muslim di atas menyatakan bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menyebutkan ada sahabat baginda yang munafik

Kita jawab,

[Pertama]

Ini adalah kesalahan fatal si Syi’i tersebut dalam memahami hadits di atas. Mereka tidak membezakan antara entiti munafik dan entiti sahabat pada hadits ini. Yang dimaksud dengan “Fii Ashabii” dalam hadits di atas adalah “di tengah-tengah sahabat”, ertinya terdapat dua belas munafik yang menyusup atau menyatu di tengah-tengah para sahabat Nabi. Jelaslah, sahabat bukan sang munafik dan sang munafik pula bukanlah sahabat. Bahkan yang benar pada hadits di atas, nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sedang membezakan antara entiti yang bernama munafik dengan entiti yang bernama sahabat.

Untuk lebih jelasnya mari kita ambil contoh ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu adanya Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.

– [Al-Hujurat : 7].

Pada ayat di atas yang di maksud dengan “fii kum” adalah “di tengah-tengah kalian atau di kalangan kalian atau di antara kalian (sahabat) adanya Rasulullah”, tidak dapat diertikan bahwa mereka (sahabat) adalah Rasulullah atau Rasulullah adalah mereka (sahabat), jelas entiti mereka (sahabat) berbeza dengan entiti Rasulullah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوَاْ إِن تُطِيعُواْ فَرِيقاً مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَن يَعْتَصِم بِاللّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

– [Ali Imran : 100-101]

Pada ayat di atas “wa fii kum rasuuluhu” ertinya “di tengah-tengah kalian ada rasul-Nya”, tidak boleh dikatakan Rasul-Nya adalah kalian atau kalian adalah Rasul-Nya.

Jadi jelas nabi shalallahu ‘alaihi wasalam telah membezakan antara munafik dengan sahabat melalui sabda beliau pada hadits di atas, sehingga tidak ada hujjah bagi Syi’ah untuk menuduh sahabat adalah sang munafik atau sang munafik pula adalah sahabat dengan hadits tersebut, kerana justru Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sendiri telah membezakan antara entiti munafik dan entiti sahabat pada hadits di atas.

[Kedua]

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah kaum munafik pada saat Nabi shalallahu ‘alaihi bersabda demikian tidaklah banyak, hanya dua belas orang saja, sehingga dapat dikatakan bahwa munafik pada saat itu adalah kelompok minoritas yang terhina yang berada diantara ribuan sahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan kedok mereka (kaum munafik tersebut) sudah terungkap melalui perbuatan dan kiasan kata-kata mereka.

[Ketiga]

Hadits di atas menjelaskan bahawa nabi shalallahu ‘alaihi wasalam telah mengetahui siapakah orangnya kaum munafik tersebut yang berada di sekeliling baginda berdasarkan pengetahuan yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Semoga dapat direnungkan dengan baik.

Wassalam

Artikel alfanarku
http://alfanarku.wordpress.com/2011/08/13/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim-membantah-rafidhi-nashibi/ (dengan sedikit alih bahasa)