Abu Bakr Tidak Dijamin Syurga, Bahkan Tidak Layak Disebut Sahabat Yang Paling Utama …?

Begitulah igauan kebanyakkan orang Syi’ah yang mendakwa melandaskan perkataannya dari sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam kitab Ahlus-Sunnah. Mereka berdalil dengan hadits berikut:

وَحَدَّثَنِي، عَنْ مَالِك، عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، أَنَّهُ بَلَغَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ: ” هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ “، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ: أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا، كَمَا أَسْلَمُوا، وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” بَلَى، وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي ” فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ بَكَى، ثُمَّ قَالَ: أَئِنَّا لَكَائِنُونَ بَعْدَكَ

Dan telah menceritakan kepadaku dari Maalik, dari Abu Nadlr Maulaa ‘Umar bin ‘Ubaidillah, telah sampai kepadanya bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para syuhadaa’ Uhud :

“Aku bersaksi atas mereka”. Lalu Abu Bakr Ash-Shiddiiq berkata: “Apakah kami bukan saudara mereka wahai Rasulullah ?. Kami memeluk agama Islam sebagaimana mereka juga memeluk Islam. Dan kami pun berjihad sebagaimana mereka juga berjihad ?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tentu. Akan tetapi aku tidak tahu apa yang kalian lakukan setelahku”. Maka, Abu Bakr pun menangis dan menangis, lalu berkata: “Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?”

– [Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’, 3/40 no. 1083 – tahqiq: Al-Hilaaliy].

Abun-Nadlr maulaa ‘Umar bin ‘Ubaidillah, namanya adalah Saalim bin Abi Umayyah Al-Qurasyiy At-Taimiy, termasuk tingkatan shighaarut-taabi’iin (thabaqah kelima). Seorang yang tsiqah lagi tsabat, namun banyak memursalkan riwayat. Wafat tahun 129 H
– [lihat biografi dirinya dalam kitab: Asmaausy-Syuyuukh Al-Imaam Maalik bin Anas oleh Ibnu Khalfuun, hal. 211; Tahdziibul-Kamaal oleh Al-Mizziy, 10/127-130 no. 2141; Tahdziibut-Tahdziib oleh Ibnu Hajar, 3/431-432 no. 797; dan Siyaru A’laamin-Nubalaa’ oleh Adz-Dzahabiy, 6/6-7 no. 2].

Mengetahu info seperti ini dengan mudah kita menyimpulkan bahwa riwayat ini lemah disebabkan mursal, kerana Abun-Nadlr jelas tidak pernah bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebenarnya, jika kita berhenti sampai di sini pun sudah sedar kebatilan apa yang mereka canangkan tentang Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu.

Lagi pula, bagaimana dapat difahami dari riwayat di atas bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu tidak dijamin masuk syurga ?. Tidak ada, kecuali perkataan orang Syi’ah yang sedang kebingungan saja.

Banyak ulama yang menjelaskan hadits di atas dengan penjelasan beragam.

Yang perlu diberi catatan, seandainya kita menerima hadits tersebut, baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa Abu Bakr dan para sahabat lainnya adalah saudara dari para syuhadaa’ Uhud yang telah mendahului mereka. Iaitu, saudara dalam hal keimanan.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dalam riwayat di atas, bersaksi atas kesyahidan para sahabat yang gugur di medan Uhud. Baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak bersaksi atas diri Abu Bakr dan yang lainnya maksudnya: baginda tidak bersaksi apakah Abu Bakr dan yang lainnya juga meninggal di medan pertempuran sebagai syahiid sebagaimana syuhadaa’ Uhud. Oleh kerana itu Abu Bakr menangis dan kemudian berkata: “Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?”. Kenyataannya Abu Bakr memang masih hidup setelah baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan penjadi pengganti baginda sebagai Khaliifah mengatur urusan kaum muslimin. Dan kenyataannya (lagi), Abu Bakr tidaklah meninggal sebagai syahiid di medan pertempuran sebagaimana syuhadaa’ Uhud.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa makna bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak bersaksi atas diri Abu Bakr dan para sahabat lainnya adalah isyarat bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan mendahului mereka (wafat). Mendengar hal itu. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu pun menangis dan berkata: ‘Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?’.
Ibnu ‘Abdil-Barr menjelaskan bahwa maksud persaksian baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada syuhadaa’ Uhud adalah persaksian akan keimanan yang benar, selamat dari dosa-dosa yang membinasakan serta pergantian dan perubahan, dan berlomba-lomba dalam urusan dunia [selesai]. Jelas, kerana syuhadaa’ Uhud itu telah menutup usianya dalam membela agama Allah.
Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui apa yang dilakukan para sahabat sepeninggal baginda adalah tidak mengetahui keseluruhan amal mereka secara tafshil, termasuk dengan cara apa mereka akan menutup usia. Apakah akan syaahid di medan pertempuran atau dengan cara yang lainnya.
Apa yang dikatakan baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallamtidak mengetahui apa yang terjadi setelah baginda meninggal merupakan realisasi daripada keumuman firman Allah ta’ala :

 

قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”

– [QS. Al-An’am: 50].

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”

– [QS. An-Naml: 65].

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”

– [QS. Al-A’raaf: 188].

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

– [QS. Luqmaan: 34].

Lantas, apa yang salah dari perkataan baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu ?.[1]

Dan ingat bung Syi’ah, bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan shighah jamak:

“Apakah kami bukan saudara mereka wahai Rasulullah ?. Kami memeluk agama Islam sebagaimana mereka juga memeluk Islam. Dan kami pun berjihad sebagaimana mereka juga berjihad ?”

(أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا، كَمَا أَسْلَمُوا، وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا؟).

Ertinya, ia (Abu Bakr) bertanya bukan hanya mewakili diri pribadi, termasuk juga di dalamnya ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Jika demikian, mengapa mereka hanya mengkhususkan kepada Abu Bakr, dengan mengecualikan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhumaa ?. Tentu, mereka lakukan itu kerana kebencian mereka terhadap Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu. Penyakit lama. Sekaligus ini juga ingin menyimpulkan kesimpulan orang Syi’ah itu:
Catatan :

  • Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar dan sahabat lainnya kerana Rasulullah SAW telah memberikan kesaksian kepada Mereka
  • Rasulullah SAWW tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakar dan sahabat lainnya kerana Rasulullah SAWmengatakan tidak mengetahui apa yang akan mereka (termasuk Abu Bakar) perbuat sepeninggal baginda SAW.Saya tambah berdasarkan logika kesimpulan yang salah di atas :
    1. Para syuhadaa Uhud lebih utama dari Abu Bakr dan sahabat lainnya, termasuk ‘Aliy bin Abi Thaalib; kerana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kesaksian kepada mereka
    2. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakr dan sahabat lainnya, termasuk ‘Aliy bin Abi Thaalib; kerana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui apa yang akan mereka (termasuk Abu Bakr dan ‘Aliy bin Abi Thaalib) perbuat sepeninggal baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Menjadi lebih ‘adil’ bukan kesimpulan salah ini ?.
Adapun persaksian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu masuk syurga, jelas sekali ada dalam banyak riwayat, di antaranya :

حدثنا هشام بن عمار ثنا سفيان عن الحسن بن عمارة عن فراس عن الشعبي عن الحارث عن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر وعمر سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين إلا النبيين والمرسلين لا تخبرهما يا علي ما داما حيين

Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar: Telah menceritakan kepada kami Sufyaan (bin ‘Uyainah), dari Al-Hasan bin Al-‘Umaarah, dari Firaas, dari Asy-Sya’biy, dari Al-Haarits, dari ‘Aliy, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Abu Bakr dan ‘Umar adalah dua orang pemimpin bagi orang-orang dewasa penduduk syurga, dari kalangan terdahulu maupun yang kemudian selain para Nabi dan Rasul. Jangan engkau khabarkan hal ini kepada mereka wahai ‘Aliy, selama mereka masih hidup”

– [Sunan Ibni Maajah no. 95; shahih dengan keseluruhan jalannya – baca selengkapnya dalam artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/03/keutamaan-abu-bakr-dan-umar-yang.html%5D.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ، وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ ”

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Muhammad, dari ‘Abdurrahmaan bin Humaid, dari ayahnya, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Abu Bakr di syurga, ‘Umar di syurga, ‘Utsmaan di syurga, ‘Aliy di syurga, Thalhah di syurga, Az-Zubair di syurga, ‘Abdurrahmaan in ‘Auf di syurga, Sa’d di syurga, Sa’iid di syurga, dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarraah di syurga”

– [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3747. Diriwayatkan juga oleh Ahmad 1/193 dan dalam Al-Fadlaail no. 278, An-Nasaa’iy dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 91, Abu Ya’laa no. 835, Ibnu Hibbaan no. 7002, dan yang lainnya; shahih].

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِي الْفَزَارِيَّ، عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ الْأَشْجَعِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ ”

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Umar: Telah menceritakan kepada kami Marwaan, iaitu Al-Fazzaariy, dari Yaziid – ia adalah Ibnu Kaisaan – , dari Abu Haazim Al-Asyjaa’iy, dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Siapakah di antara kalian yang memasuki waktu pagi dalam keadaan berpuasa di hari ini?”. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Aku”. Baginda kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang telah mengiringi jenazah pada hari ini?”. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Aku”. Baginda kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang telah memberi makan kepada orang miskin pada hari ini?”. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Aku”. Baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang telah membesuk orang sakit pada hari ini?”. Abu Bakr menjawab: “Aku”. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seluruh perkara tersebut terkumpul pada diri seseorang melainkan dia akan masuk syurga”

– [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1028].

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي حَفْصَةَ، وَالْأَعْمَشِ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ صَهْبَانَ، وَابْنِ أَبِي لَيْلَى، وَكَثِيرٍ النَّوَّاءِ كُلِّهِمْ، عَنْ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ أَهْلَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى لَيَرَاهُمْ مَنْ تَحْتَهُمْ كَمَا تَرَوْنَ النَّجْمَ الطَّالِعَ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ، وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ مِنْهُمْ وَأَنْعَمَا ”

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah: Telah menceritakan Muhammad bin Fudlail, dari Saalim bin Abi Hafshah, Al-A’masy, ‘Abdullah bin Shahbaan, Ibnu Abi Lailaa, dan Katsiir An-Nawaa’, semuanya dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa’iid, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya derajat penghuni syurga yang paling tinggi benar-benar akan melihat orang-orang yang ada di bawah mereka sebagaimana kalian melihat bintang terbit di ufuk langit. Dan sesungguhnya Abu Bakr dan ‘Umar termasuk di antara mereka dan yang paling baik”

[Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3658; hasan dengan keseluruhan jalannya].
Dan masih banyak hadits lain yang menetapkan persaksian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu sebagai penghuni syurga. Di atas saya ambil yang pendek-pendek saja.
Adapun penetapan bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu sebagai sahabat yang paling utama, saya kira orang Syi’ah tersebut hanyalah kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu. Atau bahkan tidak mau tahu ?

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ قَالَ خَالِدٌ الْحَذَّاءُ حَدَّثَنَا عَنْ أَبِي عُثْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ فَقُلْتُ مِنْ الرِّجَالِ فَقَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَعَدَّ رِجَالًا

Telah menceritakan kepada kami Mua’llaa bin Asad: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Mukhtaar, ia berkata: Telah berkata Khaalid Al-Hadzdzaa’ dari Abu ‘Utsmaan, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu: Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya beserta rombongan pasukan Dzatus-Sulaasil. Lalu aku (‘Amru) bertanya kepada baginda:
“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?”. Baginda menjawab: “‘Aisyah”. Aku kembali bertanya : “Kalau dari kalangan laki-laki?”. Baginda menjawab: “Bapaknya (iaitu Abu Bakr)”. Aku kembali bertanya: “Kemudian siapa lagi?”. Baginda menjawab: “‘Umar bin Al-Khaththab”. Selanjutnya baginda menyebutkan beberapa orang laki-laki”

– [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3662].

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ، ثنا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: كُنَّا نَتَحَدَّثُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّ خَيْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا: أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، فَيَبْلُغُ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلا يُنْكِرُهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘’Amru bin ‘Utsmaan: Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah : Telah menceritakan kepada kami Al-Laits bin Sa’d, dari Yaziid bin Abi Habiib, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata:
“Kami berkata di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ‘bahwasannya sebaik-baik umat setelah Nabinya (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) adalah Abu Bakr, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsmaan’. Lalu sampailah hal itu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka baginda tidak mengingkarinya[2]”

– [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim no. 1193; shahih].

‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu termasuk yang orang yang mengunggulkan Abu Bakr (dan ‘Umar) dibandingkan sahabat lain, termasuk dirinya :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو صَالِحٍ الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى، قثنا شِهَابُ بْنُ خِرَاشٍ، قثنا الْحَجَّاجُ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ حُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: كُنْتُ أَرَى أَنَّ عَلِيًّا أَفْضَلَ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ أَرَى أَنَّ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ بَعْدِ رَسُولِ اللَّهِ أَفْضَلَ مِنْكَ، قَالَ: أَوَلا أُحَدِّثُكَ يَا أَبَا جُحَيْفَةَ، بِأَفْضَلِ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: أَفَلا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ وَأَبِي بَكْرٍ؟ قَالَ: قُلْتُ: بَلَى فَدَيْتُكَ، قَالَ: عُمَرُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Shaalih Al-Hakam bin Muusaa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syihaab bin Khiraasy, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaaj bin Diinaar, dari Hushain bin ‘Abdirrahmaan, dari Abu Juhaifah, ia berkata:
Dulu aku berpandangan bahwasannya ‘Aliy adalah orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata kepadanya: “Wahai Miirul-mukminiin, sesungguhnya aku tidak memandang seorang pun di antara kaum muslimin setelah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lebih utama dari engkau”. ‘Aliy berkata : “Tidakkah engkau mau aku beritahukan kepadamu wahai Abu Juhaifah tentang orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Aku berkata : “Tentu”. ‘Aliy berkata : “Abu Bakr”. Kemudian ia melanjutkan : “Tidakkah engkau mau aku beritahukan kepadamu orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr ?”. Aku berkata : “Tentu, berilah aku penjelasan”. ‘Aliy berkata : “’Umar”

– [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 404; hasan, dan shahih dengan keseluruhan jalannya].
Madzhab Ahlul-Bait adalah mencintai Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu :

حَدَّثَنَا أَبُو ذَرٍّ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، نَا عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ أَشْكَابٍ، نَا إِسْحَاقُ بْنُ أَزْرَقَ، عَنْ بَسَّامِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الصَّيْرَفِيِّ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ قُلْتُ: مَا تَقُولُ فِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا؟ فَقَالَ: ” وَاللَّهِ إِنِّي لأَتَوَلاهُمَا وَأَسْتَغْفِرُ لَهُمَا، وَمَا أَدْرَكْنَا أَحَدًا مِنْ أَهْلِ بَيْنِي إِلا وَهُوَ يَتَوَلاهُمَا ”

Telah menceritakan kepada kami Abu Dzarr Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr: Telah mengkhabarkan kepada kami ’Aliy bin Al-Husain bin Asykaab: Telah mengkhabarkan kepada kami Ishaaq bin Azraq, dari Bassaam bin ’Abdillah Ash-Shairafiy, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Abu Ja’far, aku berkata: ”Apa komentarmu tentang Abu Bakr dan ’Umar radliyallaahu ’anhumaa ?”. Maka ia menjawab: “Demi Allah, sungguh aku menjadikan mereka berdua sebagai wali dan memintakan ampun untuk mereka berdua. Tidaklah kami menjumpai seorang pun dari kalangan Ahlul-Baitku kecuali ia juga menjadikan mereka berdua sebagai wali”

– [Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 41; shahih – baca selengkapnya di artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/04/berlepas-dirinya-imam-ahlul-bait.html%5D.
Jika Syi’ah dengki dan benci kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu, sebenarnya itu hanyalah mewarisi agama ‘Abdullah bin Saba’.

حَدَّثَنَا عَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ، قَالَ: أنا شُعْبَةُ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: مَا لِي وَلِهَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ، يَعْنِي: عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَبَإٍ، وَكَانَ يَقَعُ فِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ.

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Marzuuq, ia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, ia berkata: Telah berkata ‘Aliy (bin Abi Thaalib): “Apa urusanku dengan orang hitam jelek ini – iaitu ‘Abdullah bin Saba’ – . Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah no. 4358; shahih].

Kita, Ahlus-Sunnah, bermadzhab dengan madzhab Ahlul-Bait, madzhabnya ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Syi’ah juga ngaku-ngaku mengikuti ‘Aliy, tapi mungkin yang dimaksud bukan Ibnu Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu, tapi ‘Aliy yang lain entah siapa….
Wallaahul-musta’aan.

Artikel: abul-jauzaa’ – 1432 H – revised: 12-5-2011].

Nota kaki:
– – –

  1. Namun kesaksian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara umum ada sebagaimana terdapat dalam banyak riwayat :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَكَانُوا يَضْرِبُونَنَا عَلَى الشَّهَادَةِ وَالْعَهْدِ وَنَحْنُ صِغَارٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsiir: Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari Manshuur, dari Ibraahiim, dari ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah radliyallaahu ‘anhu: Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya”. Ibrahim berkata: “Dahulu, mereka (para sahabat) memukul kami saat masih kecil bila melanggar perjanjian dan persaksian (untuk sebuah pengajaran)”.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3651. Diriwayatkan pula oleh Muslim no. 2533, At-Tirmidziy no. 3859, Ibnu Maajah no. 2363, Ahmad 1/378 & 434 & 442, dan Ath-Thayaalisiy no. 299.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ كُلُّهُمْ عَنْ حُسَيْنٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ مُجَمَّعِ بْنِ يَحْيَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُلْنَا لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ قَالَ فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ مَا زِلْتُمْ هَاهُنَا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ قَالَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, Ishaaq bin Ibraahiim, ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, semuanya dari Husain. Telah berkata Abu Bakr: Telah menceritakan kepada kami Husain bin ‘Aliy Al-Ju’fiy, dari Mujammi’ bin Yahyaa, dari Sa’iid bin Abi Burdah, dari Abu Burdah, dari ayahnya, ia berkata:
“Kami pernah melaksanakan shalat Maghrib berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami berkata: ‘Sebaiknya kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menunggu waktu shalat ‘Isya’. Ayah Abu Burdah berkata: ‘Kami duduk-duduk di masjid, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami seraya bertanya: ‘Kalian masih di sini?’. Kami menjawab: ‘Benar ya Rasulullaah! Kami telah melaksanakan shalat Maghrib berjamaah bersama engkau. Oleh kerana itu kami memilih untuk duduk-duduk di masjid sambil menunggu shalat ‘Isya’ berjamaah dengan engkau’. Rasulullah pun berkata: ‘Kalian benar-benar telah melakukan kebaikan.’ Lalu Rasulullah mengangkat kepalanya ke atas dan berkata: ‘Bintang-bintang ini merupakan amanah/penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang tersebut hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Aku adalah amanah/penjaga para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para sahabatku, akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Para sahabatku adalah amanah/penjaga umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka”.

– [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2531. Diriwayatkan pula oleh Ahmad 4/398-399].
Selengkapnya baca artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/riwayat-riwayat-tentang-keutamaan-para.html.

[2] Tambahan lafadh yang bergaris bawah adalah shahih. Baqiyyah bin Al-Waliid mempunyai mutaba’ah dari Abun-Nadlr Haasyim bin Al-Qaasim Al-Laitsiy, sebagaimana diriwayatkan dalam Bughyatul-Baahits ‘an Zawaaidi Musnad Al-Haarits no. 964.

Yaziid bin Abi Habiib juga mempunyai mutaba’ah dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-‘Adawiy :

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلانَ، مِنْ أَهْلِ مَرْوَ، نا حُجَيْنُ بْنُ الْمُثَنَّى، نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمَاجِشُونَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: ” كُنَّا نَقُولُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، وَيَبْلُغُ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلا يُنْكِرُهُ عَلَيْنَا ”

Telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Ghailaan dari kalangan penduduk negeri Marwi: Telah mengkhabarkan kepada kami Hujain bin Al-Mutsannaa: Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Maajisyuun, dari ‘Ubaidullah, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, ia berkata:
“Dulu kami (para sahabat) mengatakan di zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan. Dan sampailah hal itu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau tidak mengingkari kami akan hal itu”

– [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad no. 1357 dan dari jalannya Al-Khallaal dalam As-Sunnah no. 580; shahih].
Juga Bukair bin ‘Abdillah bin Al-Asyja’ sebagaimana diriwayatkan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 8702 (sanadnya dla’iif).

Naafi’ mempunyai mutaba’ah dari Saalim bin ‘Abdillah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Syaahiin dalam Syarh Madzaahib Ahlis-Sunnah no. 193 (sanadnya dla’iif, kerana Yaziid bin Qurrah Al-Hadlramiy, majhuul haal), dan Abu Shaalih Dzakwaan sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 2602 (sanadnya lemah, kerana Muhammad bin Al-Husain Al-Faarisiy, majhuul) dan Ibnul-‘Arabiy dalam Mu’jam-nya no. 1322 (shahih).

Tagged: , ,

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: