Category Archives: Akidah Syiah

Abu Bakr Tidak Dijamin Syurga, Bahkan Tidak Layak Disebut Sahabat Yang Paling Utama …?

Begitulah igauan kebanyakkan orang Syi’ah yang mendakwa melandaskan perkataannya dari sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam kitab Ahlus-Sunnah. Mereka berdalil dengan hadits berikut:

وَحَدَّثَنِي، عَنْ مَالِك، عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، أَنَّهُ بَلَغَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ: ” هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ “، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ: أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا، كَمَا أَسْلَمُوا، وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” بَلَى، وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي ” فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ بَكَى، ثُمَّ قَالَ: أَئِنَّا لَكَائِنُونَ بَعْدَكَ

Dan telah menceritakan kepadaku dari Maalik, dari Abu Nadlr Maulaa ‘Umar bin ‘Ubaidillah, telah sampai kepadanya bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para syuhadaa’ Uhud :

“Aku bersaksi atas mereka”. Lalu Abu Bakr Ash-Shiddiiq berkata: “Apakah kami bukan saudara mereka wahai Rasulullah ?. Kami memeluk agama Islam sebagaimana mereka juga memeluk Islam. Dan kami pun berjihad sebagaimana mereka juga berjihad ?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tentu. Akan tetapi aku tidak tahu apa yang kalian lakukan setelahku”. Maka, Abu Bakr pun menangis dan menangis, lalu berkata: “Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?”

– [Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’, 3/40 no. 1083 – tahqiq: Al-Hilaaliy].

Abun-Nadlr maulaa ‘Umar bin ‘Ubaidillah, namanya adalah Saalim bin Abi Umayyah Al-Qurasyiy At-Taimiy, termasuk tingkatan shighaarut-taabi’iin (thabaqah kelima). Seorang yang tsiqah lagi tsabat, namun banyak memursalkan riwayat. Wafat tahun 129 H
– [lihat biografi dirinya dalam kitab: Asmaausy-Syuyuukh Al-Imaam Maalik bin Anas oleh Ibnu Khalfuun, hal. 211; Tahdziibul-Kamaal oleh Al-Mizziy, 10/127-130 no. 2141; Tahdziibut-Tahdziib oleh Ibnu Hajar, 3/431-432 no. 797; dan Siyaru A’laamin-Nubalaa’ oleh Adz-Dzahabiy, 6/6-7 no. 2].

Mengetahu info seperti ini dengan mudah kita menyimpulkan bahwa riwayat ini lemah disebabkan mursal, kerana Abun-Nadlr jelas tidak pernah bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebenarnya, jika kita berhenti sampai di sini pun sudah sedar kebatilan apa yang mereka canangkan tentang Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu.

Lagi pula, bagaimana dapat difahami dari riwayat di atas bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu tidak dijamin masuk syurga ?. Tidak ada, kecuali perkataan orang Syi’ah yang sedang kebingungan saja.

Banyak ulama yang menjelaskan hadits di atas dengan penjelasan beragam.

Yang perlu diberi catatan, seandainya kita menerima hadits tersebut, baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa Abu Bakr dan para sahabat lainnya adalah saudara dari para syuhadaa’ Uhud yang telah mendahului mereka. Iaitu, saudara dalam hal keimanan.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dalam riwayat di atas, bersaksi atas kesyahidan para sahabat yang gugur di medan Uhud. Baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak bersaksi atas diri Abu Bakr dan yang lainnya maksudnya: baginda tidak bersaksi apakah Abu Bakr dan yang lainnya juga meninggal di medan pertempuran sebagai syahiid sebagaimana syuhadaa’ Uhud. Oleh kerana itu Abu Bakr menangis dan kemudian berkata: “Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?”. Kenyataannya Abu Bakr memang masih hidup setelah baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan penjadi pengganti baginda sebagai Khaliifah mengatur urusan kaum muslimin. Dan kenyataannya (lagi), Abu Bakr tidaklah meninggal sebagai syahiid di medan pertempuran sebagaimana syuhadaa’ Uhud.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa makna bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak bersaksi atas diri Abu Bakr dan para sahabat lainnya adalah isyarat bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan mendahului mereka (wafat). Mendengar hal itu. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu pun menangis dan berkata: ‘Apakah kami benar-benar akan tetap hidup setelahmu ?’.
Ibnu ‘Abdil-Barr menjelaskan bahwa maksud persaksian baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada syuhadaa’ Uhud adalah persaksian akan keimanan yang benar, selamat dari dosa-dosa yang membinasakan serta pergantian dan perubahan, dan berlomba-lomba dalam urusan dunia [selesai]. Jelas, kerana syuhadaa’ Uhud itu telah menutup usianya dalam membela agama Allah.
Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui apa yang dilakukan para sahabat sepeninggal baginda adalah tidak mengetahui keseluruhan amal mereka secara tafshil, termasuk dengan cara apa mereka akan menutup usia. Apakah akan syaahid di medan pertempuran atau dengan cara yang lainnya.
Apa yang dikatakan baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallamtidak mengetahui apa yang terjadi setelah baginda meninggal merupakan realisasi daripada keumuman firman Allah ta’ala :

 

قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”

– [QS. Al-An’am: 50].

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”

– [QS. An-Naml: 65].

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”

– [QS. Al-A’raaf: 188].

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

– [QS. Luqmaan: 34].

Lantas, apa yang salah dari perkataan baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu ?.[1]

Dan ingat bung Syi’ah, bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan shighah jamak:

“Apakah kami bukan saudara mereka wahai Rasulullah ?. Kami memeluk agama Islam sebagaimana mereka juga memeluk Islam. Dan kami pun berjihad sebagaimana mereka juga berjihad ?”

(أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا، كَمَا أَسْلَمُوا، وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا؟).

Ertinya, ia (Abu Bakr) bertanya bukan hanya mewakili diri pribadi, termasuk juga di dalamnya ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Jika demikian, mengapa mereka hanya mengkhususkan kepada Abu Bakr, dengan mengecualikan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhumaa ?. Tentu, mereka lakukan itu kerana kebencian mereka terhadap Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu. Penyakit lama. Sekaligus ini juga ingin menyimpulkan kesimpulan orang Syi’ah itu:
Catatan :

  • Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar dan sahabat lainnya kerana Rasulullah SAW telah memberikan kesaksian kepada Mereka
  • Rasulullah SAWW tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakar dan sahabat lainnya kerana Rasulullah SAWmengatakan tidak mengetahui apa yang akan mereka (termasuk Abu Bakar) perbuat sepeninggal baginda SAW.Saya tambah berdasarkan logika kesimpulan yang salah di atas :
    1. Para syuhadaa Uhud lebih utama dari Abu Bakr dan sahabat lainnya, termasuk ‘Aliy bin Abi Thaalib; kerana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kesaksian kepada mereka
    2. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakr dan sahabat lainnya, termasuk ‘Aliy bin Abi Thaalib; kerana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui apa yang akan mereka (termasuk Abu Bakr dan ‘Aliy bin Abi Thaalib) perbuat sepeninggal baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Menjadi lebih ‘adil’ bukan kesimpulan salah ini ?.
Adapun persaksian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu masuk syurga, jelas sekali ada dalam banyak riwayat, di antaranya :

حدثنا هشام بن عمار ثنا سفيان عن الحسن بن عمارة عن فراس عن الشعبي عن الحارث عن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر وعمر سيدا كهول أهل الجنة من الأولين والآخرين إلا النبيين والمرسلين لا تخبرهما يا علي ما داما حيين

Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar: Telah menceritakan kepada kami Sufyaan (bin ‘Uyainah), dari Al-Hasan bin Al-‘Umaarah, dari Firaas, dari Asy-Sya’biy, dari Al-Haarits, dari ‘Aliy, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Abu Bakr dan ‘Umar adalah dua orang pemimpin bagi orang-orang dewasa penduduk syurga, dari kalangan terdahulu maupun yang kemudian selain para Nabi dan Rasul. Jangan engkau khabarkan hal ini kepada mereka wahai ‘Aliy, selama mereka masih hidup”

– [Sunan Ibni Maajah no. 95; shahih dengan keseluruhan jalannya – baca selengkapnya dalam artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/03/keutamaan-abu-bakr-dan-umar-yang.html%5D.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ، وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ ”

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Muhammad, dari ‘Abdurrahmaan bin Humaid, dari ayahnya, dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Abu Bakr di syurga, ‘Umar di syurga, ‘Utsmaan di syurga, ‘Aliy di syurga, Thalhah di syurga, Az-Zubair di syurga, ‘Abdurrahmaan in ‘Auf di syurga, Sa’d di syurga, Sa’iid di syurga, dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarraah di syurga”

– [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3747. Diriwayatkan juga oleh Ahmad 1/193 dan dalam Al-Fadlaail no. 278, An-Nasaa’iy dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 91, Abu Ya’laa no. 835, Ibnu Hibbaan no. 7002, dan yang lainnya; shahih].

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِي الْفَزَارِيَّ، عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ الْأَشْجَعِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟، قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ ”

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Umar: Telah menceritakan kepada kami Marwaan, iaitu Al-Fazzaariy, dari Yaziid – ia adalah Ibnu Kaisaan – , dari Abu Haazim Al-Asyjaa’iy, dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Siapakah di antara kalian yang memasuki waktu pagi dalam keadaan berpuasa di hari ini?”. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Aku”. Baginda kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang telah mengiringi jenazah pada hari ini?”. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Aku”. Baginda kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang telah memberi makan kepada orang miskin pada hari ini?”. Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu menjawab: “Aku”. Baginda shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang telah membesuk orang sakit pada hari ini?”. Abu Bakr menjawab: “Aku”. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seluruh perkara tersebut terkumpul pada diri seseorang melainkan dia akan masuk syurga”

– [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1028].

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي حَفْصَةَ، وَالْأَعْمَشِ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ صَهْبَانَ، وَابْنِ أَبِي لَيْلَى، وَكَثِيرٍ النَّوَّاءِ كُلِّهِمْ، عَنْ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ أَهْلَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى لَيَرَاهُمْ مَنْ تَحْتَهُمْ كَمَا تَرَوْنَ النَّجْمَ الطَّالِعَ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ، وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ مِنْهُمْ وَأَنْعَمَا ”

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah: Telah menceritakan Muhammad bin Fudlail, dari Saalim bin Abi Hafshah, Al-A’masy, ‘Abdullah bin Shahbaan, Ibnu Abi Lailaa, dan Katsiir An-Nawaa’, semuanya dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa’iid, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya derajat penghuni syurga yang paling tinggi benar-benar akan melihat orang-orang yang ada di bawah mereka sebagaimana kalian melihat bintang terbit di ufuk langit. Dan sesungguhnya Abu Bakr dan ‘Umar termasuk di antara mereka dan yang paling baik”

[Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3658; hasan dengan keseluruhan jalannya].
Dan masih banyak hadits lain yang menetapkan persaksian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu sebagai penghuni syurga. Di atas saya ambil yang pendek-pendek saja.
Adapun penetapan bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu sebagai sahabat yang paling utama, saya kira orang Syi’ah tersebut hanyalah kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu. Atau bahkan tidak mau tahu ?

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ قَالَ خَالِدٌ الْحَذَّاءُ حَدَّثَنَا عَنْ أَبِي عُثْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ فَقُلْتُ مِنْ الرِّجَالِ فَقَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَعَدَّ رِجَالًا

Telah menceritakan kepada kami Mua’llaa bin Asad: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Mukhtaar, ia berkata: Telah berkata Khaalid Al-Hadzdzaa’ dari Abu ‘Utsmaan, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu: Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya beserta rombongan pasukan Dzatus-Sulaasil. Lalu aku (‘Amru) bertanya kepada baginda:
“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?”. Baginda menjawab: “‘Aisyah”. Aku kembali bertanya : “Kalau dari kalangan laki-laki?”. Baginda menjawab: “Bapaknya (iaitu Abu Bakr)”. Aku kembali bertanya: “Kemudian siapa lagi?”. Baginda menjawab: “‘Umar bin Al-Khaththab”. Selanjutnya baginda menyebutkan beberapa orang laki-laki”

– [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3662].

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ، ثنا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: كُنَّا نَتَحَدَّثُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّ خَيْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا: أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، فَيَبْلُغُ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلا يُنْكِرُهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘’Amru bin ‘Utsmaan: Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah : Telah menceritakan kepada kami Al-Laits bin Sa’d, dari Yaziid bin Abi Habiib, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata:
“Kami berkata di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ‘bahwasannya sebaik-baik umat setelah Nabinya (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) adalah Abu Bakr, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsmaan’. Lalu sampailah hal itu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka baginda tidak mengingkarinya[2]”

– [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim no. 1193; shahih].

‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu termasuk yang orang yang mengunggulkan Abu Bakr (dan ‘Umar) dibandingkan sahabat lain, termasuk dirinya :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو صَالِحٍ الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى، قثنا شِهَابُ بْنُ خِرَاشٍ، قثنا الْحَجَّاجُ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ حُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: كُنْتُ أَرَى أَنَّ عَلِيًّا أَفْضَلَ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ أَرَى أَنَّ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ بَعْدِ رَسُولِ اللَّهِ أَفْضَلَ مِنْكَ، قَالَ: أَوَلا أُحَدِّثُكَ يَا أَبَا جُحَيْفَةَ، بِأَفْضَلِ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: أَفَلا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ وَأَبِي بَكْرٍ؟ قَالَ: قُلْتُ: بَلَى فَدَيْتُكَ، قَالَ: عُمَرُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Shaalih Al-Hakam bin Muusaa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syihaab bin Khiraasy, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaaj bin Diinaar, dari Hushain bin ‘Abdirrahmaan, dari Abu Juhaifah, ia berkata:
Dulu aku berpandangan bahwasannya ‘Aliy adalah orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata kepadanya: “Wahai Miirul-mukminiin, sesungguhnya aku tidak memandang seorang pun di antara kaum muslimin setelah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lebih utama dari engkau”. ‘Aliy berkata : “Tidakkah engkau mau aku beritahukan kepadamu wahai Abu Juhaifah tentang orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Aku berkata : “Tentu”. ‘Aliy berkata : “Abu Bakr”. Kemudian ia melanjutkan : “Tidakkah engkau mau aku beritahukan kepadamu orang yang paling utama setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr ?”. Aku berkata : “Tentu, berilah aku penjelasan”. ‘Aliy berkata : “’Umar”

– [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 404; hasan, dan shahih dengan keseluruhan jalannya].
Madzhab Ahlul-Bait adalah mencintai Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu :

حَدَّثَنَا أَبُو ذَرٍّ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، نَا عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ أَشْكَابٍ، نَا إِسْحَاقُ بْنُ أَزْرَقَ، عَنْ بَسَّامِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الصَّيْرَفِيِّ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ قُلْتُ: مَا تَقُولُ فِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا؟ فَقَالَ: ” وَاللَّهِ إِنِّي لأَتَوَلاهُمَا وَأَسْتَغْفِرُ لَهُمَا، وَمَا أَدْرَكْنَا أَحَدًا مِنْ أَهْلِ بَيْنِي إِلا وَهُوَ يَتَوَلاهُمَا ”

Telah menceritakan kepada kami Abu Dzarr Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr: Telah mengkhabarkan kepada kami ’Aliy bin Al-Husain bin Asykaab: Telah mengkhabarkan kepada kami Ishaaq bin Azraq, dari Bassaam bin ’Abdillah Ash-Shairafiy, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Abu Ja’far, aku berkata: ”Apa komentarmu tentang Abu Bakr dan ’Umar radliyallaahu ’anhumaa ?”. Maka ia menjawab: “Demi Allah, sungguh aku menjadikan mereka berdua sebagai wali dan memintakan ampun untuk mereka berdua. Tidaklah kami menjumpai seorang pun dari kalangan Ahlul-Baitku kecuali ia juga menjadikan mereka berdua sebagai wali”

– [Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 41; shahih – baca selengkapnya di artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/04/berlepas-dirinya-imam-ahlul-bait.html%5D.
Jika Syi’ah dengki dan benci kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu, sebenarnya itu hanyalah mewarisi agama ‘Abdullah bin Saba’.

حَدَّثَنَا عَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ، قَالَ: أنا شُعْبَةُ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: مَا لِي وَلِهَذَا الْحَمِيتِ الأَسْوَدِ، يَعْنِي: عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَبَإٍ، وَكَانَ يَقَعُ فِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ.

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Marzuuq, ia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, ia berkata: Telah berkata ‘Aliy (bin Abi Thaalib): “Apa urusanku dengan orang hitam jelek ini – iaitu ‘Abdullah bin Saba’ – . Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah no. 4358; shahih].

Kita, Ahlus-Sunnah, bermadzhab dengan madzhab Ahlul-Bait, madzhabnya ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Syi’ah juga ngaku-ngaku mengikuti ‘Aliy, tapi mungkin yang dimaksud bukan Ibnu Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu, tapi ‘Aliy yang lain entah siapa….
Wallaahul-musta’aan.

Artikel: abul-jauzaa’ – 1432 H – revised: 12-5-2011].

Nota kaki:
– – –

  1. Namun kesaksian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara umum ada sebagaimana terdapat dalam banyak riwayat :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَكَانُوا يَضْرِبُونَنَا عَلَى الشَّهَادَةِ وَالْعَهْدِ وَنَحْنُ صِغَارٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsiir: Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari Manshuur, dari Ibraahiim, dari ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah radliyallaahu ‘anhu: Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya”. Ibrahim berkata: “Dahulu, mereka (para sahabat) memukul kami saat masih kecil bila melanggar perjanjian dan persaksian (untuk sebuah pengajaran)”.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3651. Diriwayatkan pula oleh Muslim no. 2533, At-Tirmidziy no. 3859, Ibnu Maajah no. 2363, Ahmad 1/378 & 434 & 442, dan Ath-Thayaalisiy no. 299.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ كُلُّهُمْ عَنْ حُسَيْنٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ مُجَمَّعِ بْنِ يَحْيَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُلْنَا لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ قَالَ فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ مَا زِلْتُمْ هَاهُنَا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ قَالَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, Ishaaq bin Ibraahiim, ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, semuanya dari Husain. Telah berkata Abu Bakr: Telah menceritakan kepada kami Husain bin ‘Aliy Al-Ju’fiy, dari Mujammi’ bin Yahyaa, dari Sa’iid bin Abi Burdah, dari Abu Burdah, dari ayahnya, ia berkata:
“Kami pernah melaksanakan shalat Maghrib berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami berkata: ‘Sebaiknya kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menunggu waktu shalat ‘Isya’. Ayah Abu Burdah berkata: ‘Kami duduk-duduk di masjid, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami seraya bertanya: ‘Kalian masih di sini?’. Kami menjawab: ‘Benar ya Rasulullaah! Kami telah melaksanakan shalat Maghrib berjamaah bersama engkau. Oleh kerana itu kami memilih untuk duduk-duduk di masjid sambil menunggu shalat ‘Isya’ berjamaah dengan engkau’. Rasulullah pun berkata: ‘Kalian benar-benar telah melakukan kebaikan.’ Lalu Rasulullah mengangkat kepalanya ke atas dan berkata: ‘Bintang-bintang ini merupakan amanah/penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang tersebut hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Aku adalah amanah/penjaga para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para sahabatku, akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Para sahabatku adalah amanah/penjaga umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka”.

– [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2531. Diriwayatkan pula oleh Ahmad 4/398-399].
Selengkapnya baca artikel: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/riwayat-riwayat-tentang-keutamaan-para.html.

[2] Tambahan lafadh yang bergaris bawah adalah shahih. Baqiyyah bin Al-Waliid mempunyai mutaba’ah dari Abun-Nadlr Haasyim bin Al-Qaasim Al-Laitsiy, sebagaimana diriwayatkan dalam Bughyatul-Baahits ‘an Zawaaidi Musnad Al-Haarits no. 964.

Yaziid bin Abi Habiib juga mempunyai mutaba’ah dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-‘Adawiy :

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلانَ، مِنْ أَهْلِ مَرْوَ، نا حُجَيْنُ بْنُ الْمُثَنَّى، نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمَاجِشُونَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: ” كُنَّا نَقُولُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، وَيَبْلُغُ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلا يُنْكِرُهُ عَلَيْنَا ”

Telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Ghailaan dari kalangan penduduk negeri Marwi: Telah mengkhabarkan kepada kami Hujain bin Al-Mutsannaa: Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Maajisyuun, dari ‘Ubaidullah, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, ia berkata:
“Dulu kami (para sahabat) mengatakan di zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan. Dan sampailah hal itu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau tidak mengingkari kami akan hal itu”

– [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad no. 1357 dan dari jalannya Al-Khallaal dalam As-Sunnah no. 580; shahih].
Juga Bukair bin ‘Abdillah bin Al-Asyja’ sebagaimana diriwayatkan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 8702 (sanadnya dla’iif).

Naafi’ mempunyai mutaba’ah dari Saalim bin ‘Abdillah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Syaahiin dalam Syarh Madzaahib Ahlis-Sunnah no. 193 (sanadnya dla’iif, kerana Yaziid bin Qurrah Al-Hadlramiy, majhuul haal), dan Abu Shaalih Dzakwaan sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 2602 (sanadnya lemah, kerana Muhammad bin Al-Husain Al-Faarisiy, majhuul) dan Ibnul-‘Arabiy dalam Mu’jam-nya no. 1322 (shahih).

Sebahagian Sahabat adalah Golongan Munafikun … ?

Satu dari sekian banyak syubhat yang dilancarkan oleh Syi’ah Rafidhah Nawashib adalah mereka mengatakan bahwa sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sebahagiannya adalah munafik, mereka menganggap bahwa sahabat adalah munafik dan munafik adalah sahabat. Bagi mereka tidak ada perbezaan diantara kedua entiti tersebut. Dengan syubhat yang dilancarkan itu, dapatlah kita ketahui arah tujuan mereka, iaitu tidak lain untuk merendah-rendahkan generasi awal Islam.

Jika generasi awal Islam sudah berhasil direndah-rendahkan maka apapun yang datang melalui mereka akan turut direndah-rendahkan, iaitu berupa hadits bahkan Al-Qur’an, kerana Al-Qur’an maupun hadits tidaklah sampai ke generasi kita tanpa melalui generasi awal Islam (sahabat). Sungguh hal yang membahayakan jika ternyata penyampai agama kita ini adalah orang-orang munafik, inilah yang kaum Syi’ah hendak buktikan dengan syubhat-syubhat mereka. Ini adalah serangan yang ganas yang ditujukan langsung ke jantung agama Islam yang dilakukan oleh kaum Syi’ah yang mengaku diri mereka sebahagian dari Islam.

Maka hendaknya kaum muslimin berhati-hati terhadap syubhat-syubhat kaum Syi’ah yang menyesatkan.

Salah satu dalil yang dipakai oleh orang Syi’ah tersebut dalam menyebarkan syubhatnya adalah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Muslim yang berikut:

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata:

“Saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam kepadamu?.

Ammar menjawab:
“Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak beliau sampaikan juga kepada orang-orang”.

Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam yang bersabda:
Di antara sahabatku ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada lapan orang yang tidak akan masuk syurga sampai unta memasuki lubang jarum”.

Lapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.

– [Sahih Muslim 4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi].

Matan hadits Sahih Muslim di atas menyatakan bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menyebutkan ada sahabat baginda yang munafik

Kita jawab,

[Pertama]

Ini adalah kesalahan fatal si Syi’i tersebut dalam memahami hadits di atas. Mereka tidak membezakan antara entiti munafik dan entiti sahabat pada hadits ini. Yang dimaksud dengan “Fii Ashabii” dalam hadits di atas adalah “di tengah-tengah sahabat”, ertinya terdapat dua belas munafik yang menyusup atau menyatu di tengah-tengah para sahabat Nabi. Jelaslah, sahabat bukan sang munafik dan sang munafik pula bukanlah sahabat. Bahkan yang benar pada hadits di atas, nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sedang membezakan antara entiti yang bernama munafik dengan entiti yang bernama sahabat.

Untuk lebih jelasnya mari kita ambil contoh ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu adanya Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.

– [Al-Hujurat : 7].

Pada ayat di atas yang di maksud dengan “fii kum” adalah “di tengah-tengah kalian atau di kalangan kalian atau di antara kalian (sahabat) adanya Rasulullah”, tidak dapat diertikan bahwa mereka (sahabat) adalah Rasulullah atau Rasulullah adalah mereka (sahabat), jelas entiti mereka (sahabat) berbeza dengan entiti Rasulullah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوَاْ إِن تُطِيعُواْ فَرِيقاً مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَن يَعْتَصِم بِاللّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

– [Ali Imran : 100-101]

Pada ayat di atas “wa fii kum rasuuluhu” ertinya “di tengah-tengah kalian ada rasul-Nya”, tidak boleh dikatakan Rasul-Nya adalah kalian atau kalian adalah Rasul-Nya.

Jadi jelas nabi shalallahu ‘alaihi wasalam telah membezakan antara munafik dengan sahabat melalui sabda beliau pada hadits di atas, sehingga tidak ada hujjah bagi Syi’ah untuk menuduh sahabat adalah sang munafik atau sang munafik pula adalah sahabat dengan hadits tersebut, kerana justru Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sendiri telah membezakan antara entiti munafik dan entiti sahabat pada hadits di atas.

[Kedua]

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah kaum munafik pada saat Nabi shalallahu ‘alaihi bersabda demikian tidaklah banyak, hanya dua belas orang saja, sehingga dapat dikatakan bahwa munafik pada saat itu adalah kelompok minoritas yang terhina yang berada diantara ribuan sahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan kedok mereka (kaum munafik tersebut) sudah terungkap melalui perbuatan dan kiasan kata-kata mereka.

[Ketiga]

Hadits di atas menjelaskan bahawa nabi shalallahu ‘alaihi wasalam telah mengetahui siapakah orangnya kaum munafik tersebut yang berada di sekeliling baginda berdasarkan pengetahuan yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Semoga dapat direnungkan dengan baik.

Wassalam

Artikel alfanarku
http://alfanarku.wordpress.com/2011/08/13/sahabat-nabi-yang-dikatakan-munafik-dalam-shahih-muslim-membantah-rafidhi-nashibi/ (dengan sedikit alih bahasa)

Syiah = Yahudi

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan janganlah Engkau hinakan aku (Ibrahim) pada hari mereka (musyrikin) dibangkitkan. Pada hari (dimana) harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang-orang yang mendatangi Allah dengan hati yang salim (bersih dan selamat)”

[QS. Asy-Syu’ara : 88-89].

Demikianlah Ibrahim Khalilullah berdo’a kepada Rabb semesta alam tatkala mengingkari ayahnya bersama kesyirikan dan aqidah kufurnya. Dan tidak diragukan lagi bahwa hati yang salim dalam ayat tersebut adalah hati yang serat dengan sinar Tauhid dan selamat dari kegelapan syirik dan segala macam bentuk kekufuran. Namun Iblis dan bala tentaranya tak pernah bosan menjalankan misi mereka untuk menjauhkan hamba-hamba Ar-Rahman dari hati yang salim. Dan Syiah adalah salah satu produk mereka untuk misi keji tersebut.

Kami bawakan risalah ini (Insya Allah secara ber-seri) kehadapan pembaca, untuk memudahkan penelitian kita tentang konspirasi Yahudi melalui agama Syiah yang sepintas lalu menampakkan label Islam yang pada hakikatnya merupakan seruan untuk berbondong-bondong menuju panasnya Jahannam.

Dan pada seri yang pertama ini kami hadirkan kepada pembaca tentang tanda munculnya Syiah sebagai pengantar untuk menyelami hakikat mereka lebih dalam lagi dan mengungkap fitnah mereka kepada ummat. Semoga kita dapat menjumpai Allah dengan hati yang salim.

Ikhtiar Seorang Yahudi Melahirkan Syiah

Adalah orang-orang Yahudi yang pertama kali menebarkan racun di dalam agama Islam ini, untuk memalingkan pemuda-pemuda Islam dari agama dan aqidah yang lurus. Dan adalah Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi pemuka munafik yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman yang geram melihat Islam tersiar dan tersebar di jazirah Arab, di Imperium Romawi, negeri-negeri Parsi sampai ke Afrika dan masuk jauh di Asia, bahkan sampai berkibar di perbatasan-perbatasan Eropah.

Ibnu Saba’ ingin menghadang langkah Islam supaya tidak mendunia dengan merencanakan makar bersama Yahudi San’a (Yaman) untuk mengacaukan Islam dan ummatnya. Mereka menyebarkan orang-orangnya termasuk Ibnu Saba’ sendiri ke berbagai wilayah Islam termasuk ibukota Khalifah, Madinah Nabawiyah.

Mereka mulai menyulut fitnah dengan memprovokasi orang-orang lugu dan berhati sakit untuk menentang Khalifah Utsman. Pada waktu itu juga memperlihatkan rasa cinta kepada ‘Ali bin Abi Thalib Rhadhiallahu ‘anhu. Mereka mengaku dan mendukung kelompok ‘Ali, padahal ‘Ali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Fitnah ini terus menggelinding. Mereka mencampur pemikiran mereka dengan aqidah-aqidah yang rusak. Dan mereka menyebut diri sebagai Syiah ‘Ali” (pendukung ‘Ali), padahal ‘Ali membenci mereka, bahkan ‘Ali sendiri telah menghukum mereka dengan siksaan yang pedih, begitu pula putra-putra dari keturunan ‘Ali membenci dan melaknat mereka, akan tetapi kenyataan ini ditutup-tutupi serta kemudian diganti secara licik dan keji.

Pada waktu itu Parsi (Majusi) juga menyimpan dendam kesumat, karena di zaman Khalifah ‘Umar bin Khattab, negeri kufur mereka hancur di saat puncak kejayaannya oleh ‘Umar sendiri, demikian pula Yahudi yang diusir dari Madinah oleh beliau. Maka bertemulah Majusi dan Yahudi menyatukan rencana mereka untuk menumpas Islam dari dalam.

 

Pengakuan Tokoh-Tokoh Besar Syiah

Seorang ‘Ulama Syiah pada abad 3H, Abu Muhammad Al-Hasan bin Musa An-Nubakhti mengatakan dalam kitabnya “Firaq Asy-Syiah :

“Abdullah bin Saba’ adalah orang yang menampakkan cacian kepada Abu Bakar, ‘Umar dan Utsman serta para sahabat, ia berlepas diri dari mereka dan mengatakan bahwa ‘Ali telah memerintahkannya berbuat demikian. Maka ‘Ali menangkapnya dan menanyakan tentang ucapannya itu, ternyata ia mengakuinya, maka ‘Ali memerintahkan untuk membunuhnya. Orang-orang berteriak kepada ‘Ali, “Wahai Amirul mukminin! Apakah Anda akan membunuh seorang yang mengajak untuk mencintai Anda, ahlul bait, keluarga Anda dan mengajak untuk membenci musuh-musuh Anda?” Maka ‘Ali mengusirnya ke Madain (ibukota Iran waktu itu).

Dan sekelompok ahli ilmu dari sahabat ‘Ali mengisahkan bahwa Ibnu Saba’ adalah seorang Yahudi lalu masuk Islam dan menyatakan setia kepada ‘Ali. Ketika masih Yahudi ia berkata bahwa Yusa’ bin Nun adalah Washi (penerima wasiat) dari Nabi Musa ‘Alaihissalam -secara berlebihan- kemudian ketika Islamnya, setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia mengatakan tentang ‘Ali sebagai penerima wasiat dari Rasulullah (sebagaimana Musa kepada Yusa’ bin Nun). Dia adalah orang pertama yang menyebarkan faham tentang Imamah ‘Ali, menampakkan permusuhan terhadap musuh-musuh ‘Ali (yang tidak lain adalah para Sahabat yang dicintai ‘Ali) dan mengungkap para lawannya. Dari sanalah orang-orang diluar Syiah mengatakan bahwa akar masalah “Rafdh” (menolak selain Khalifah ‘Ali) diambil dari Yahudi.

Ketika kabar kematian ‘Ali sampai ke telinga Ibnu Saba’ di Madain dia berkata kepada yang membawa berita duka,

Kamu berdusta, seandainya engkau datang kepada kami dengan membawa (bukti) otaknya yang diletakkan dalam 70 kantong dan saksi sebanyak 70 orang yang adil, kami tetap meyakini bahwa dia (‘Ali) belum mati dan tidak terbunuh. Dia tidak mati sebelum mengisi bumi dengan keadilan.”

Demikianlah ucapan orang yang dipercaya oleh semua orang Syiah dalam bukunya “Firaq Asy-Syiah

[hal. 43-44. Cet Al-Haidariyah,Najef 1379 H]. Ucapan senada juga diungkapkan oleh Abu Umar Al-Kasysyi, ulama Syiah abad 4 H dalam bukunya yang tersohor “Rijal Al-Kasysyi” [hal. 101. Mu’assasah Al-A’lami. Karbala Iraq].

Kini setelah lebih dari seribu tahun sebagian Hakham (pemimpin ulama) Syiah mengingkari keberadaan Ibnu Saba’ dengan tujuan supaya tidak terbongkar kebusukan mereka. Di antara yang mengingkarinya adalah Muhammad Al-Husain Ali Kasyf Al-Ghitha di dalam kitabnya “Ashl Asy-Syiah wa ashuluha.”

Namun anehnya banyak sekali kitab-kitab Syiah yang mengukuhkan tentang keberadaan Ibnu Saba’ sebagai peletak batu pertama agama Syiah. Sebagian ulama Syiah kontemporer telah mengubah pola mereka dan mulai mengakui adanya tokoh Ibnu Saba’, setelah bukti tampak di depan mata mereka dan tidak bisa lagi mengelak. Mengelak harganya sangat mahal bagi mereka sebab konsekuensinya adalah menganggap cacat sumber-sumber agama mereka.karena itu Muhammad Husain Az-Zen seorang Syiah kontemporer mengatakan,

Bagaimanapun juga Ibnu Saba’ memang ada dan dia telah menampakkan sikap ghuluw (melampaui batas), sekalipun ada yang meragukannya dan menjadikannya tokoh dalam khayalan. Adapun kami sesuai dengan penelitian terakhir maka kami tidak meragukan keberadaannya dan ghuluwnya.”

[Asy-Syiah wa At-Tarikh, hal. 213].

 

Kemiripan Dua Saudara Kembar, Syiah dan Yahudi

Persinggungan antara aqidah Syiah dan aqidah Yahudi yang kotor itu bisa dilihat dari poin-poin berikut :

  1. Yahudi telah mengubah-ubah Taurat, begitu pula Syiah mereka punya Al-Qur’an hasil kerajinan tangan mereka yakni “Mushaf Fathimah” yang tebalnya 3 kali Al-Qur’an kaum Muslimin.Mereka menganggap ayat Al-Qur’an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh Sahabat menghapus sepuluh ribu lebih ayat
  2. Yahudi menuduh Maryam yang suci berzina [QS. Maryam : 28], Syiahmelakukan hal yang sama terhadap istri Rasulullah ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha sebagaimana yang diungkapkan Al-Qummi (pembesar Syiah) dalam “Tafsir Al-Qummi (II 34)”
  3. Yahudi mengatakan, “kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja”. [QS. Al-Baqarah : 80] Syiah lebih dahsyat lagi dengan mengatakan, “Api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syiah” sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang dianggap suci “Fashl Kitab (hal.157)”
  4. Yahudi meyakini bahwa, Allah mengetahui sesuatu setelah tadinya tidak tahu, begitu juga dengan Syiah
  5. Yahudi beranggapan bahwa ucapan “amin” dalam shalat adalah membatalkan shalat. Syiah juga beranggapan yang sama.
  6. Yahudi berkata, “Allah mewajibkan kita lima puluh shalat” Begitu pula dengan Syiah.
  7. Yahudi keluar dari shalat tanpa salam,cukup dengan mengangkat tangan dan memukulkan pada lutut. Syiah juga mengamalkan hal yang sama.
  8. Yahudi miring sedikit dari kiblat, begitu pula dengan Syiah.
  9. Yahudi berkata “Tidak layak (tidak sah) kerajaan itu melainkan di tangan keluarga Daud”. Syiah berkata,” tidak layak Imamah itu melainkan pada ‘Ali dan keturunanannya
  10. Yahudi mengakhirkan Shalat hingga bertaburnya bintang-bintang di langit. Syiah juga mengakhirkan Shalat sebagaimana Yahudi
  11. Yahudi mengkultuskan Ahbar (‘ulama) dan Ruhban (para pendeta) mereka sampai tingkat ibadah dan menuhankan. Syiah begitu pula, bersifat Ghuluw (melampaui batas) dalam mencintai para Imam mereka dan mengkultuskannya hingga di atas kelas manusia.
  12. Yahudi mengatakan Ilyas dan Finhas bin ‘Azar bin Harun akan kembali (reinkarnasi) setelah mereka bedua meninggal dunia. Syiah lebih seru, mereka menyuarakan kembalinya (reinkarnasinya) ‘Ali, Al-Hasan, Al-Husain, dan Musa bin Ja’far yang dikhayalkan itu.
  13. Yahudi tidak Shalat melainkan sendiri-sendiri, Syiah juga beranggapan yang sama, ini dikarenakan mereka meyakini bahwa tidak ada Shalat berjama’ah sebelum datangnya “Pemimpin ke-dua belas” yaitu Imam Mahdi.
  14. Yahudi tidak melakukan sujud sebelum menundukkan kepalanya berkali-kali, mirip ruku. Syiah Rafidhah juga demikian.
  15. Yahudi menghalalkan darah setiap muslim. Demikian pula Syiah, mereka menghalalkan darah Ahlussunnah.
  16. Yahudi mengharamkan makan kelinci dan limpa dan jenis ikan yang disebut jariu dan marmahi. Begitu pula orang-orang Syiah.
  17. Yahudi tidak menghitung Talak sedikitpun melainkan pada setiap Haid. Begitu pula Syiah.
  18. Yahudi dalam syari’at Ya’qub membolehkan nikah dengan dua orang wanita yang bersaudara sekaligus. Syiah juga membolehkan penggabungan (dalam akad nikah) antara seorang wanita dengan bibinya.
  19. Yahudi tidak menggali liang lahad untuk jenazah mereka. Syiah Rafidhah juga demikian.
  20. Yahudi memasukkan tanah basah bersama-sama jenazah mereka dalam kain kafannya demikian juga Syiah Rafidhah.
  21. Yahudi tidak menetapkan adanya jihad hingga Allah mengutus Dajjal. Syiah Rafidhah mengatakan,”tidak ada jihad hingga Allah mengutus Imam Mahdi datang.”

[kitab Badzl Al-majhud fi Itsbat musyabahah Ar-Rafidhah li Al-Yahud , oleh Abdullah Al-jamili]

Ini adalah setetes air dari luasnya samudra tentang kemiripan mereka dengan Yahudi, karena sesungguhnya Syiah merupakan aqidah campuran dari Yahudi, Nashrani, Parsi (Majusi), Romawi dan Hindu. Mereka aduk unsur-unsur itu bagaikan adonan lalu dituangkan dalam satu cetakan kemudian diletakkan dalam suatu kemasan dan disajikan dengan nama “Syiah”. Maka jelaslah sudah, sebagaimana jelasnya mentari yang tak diselimuti awan bahwa “Syiah adalah Yahudi dan Yahudi adalah Syiah”.

Akan lebih jelas lagi bagi Anda tentang apa dan bagimana Syiah dalam peranannya menghancurkan Islam Serta membuka jalan bagi musuh-musuh Islam jika Anda menyimak siri-siri selanjutnya tentang Syiah.

Nantikan seri : “Mengenal Agama Syiah” berikutnya yang berisikan:

• “Menyelami gelapnya aqidah Syiah
• “Kawin Kontrak, Taqiyah. ritual kaum Syiah
• “Tikaman Syiah terhadap Sahabat”
• “Syiah, membuat kita tertawa, marah dan menangis”
• “Salafiyyin Rabbani menelanjangi Syiah
• “Syiah di Indonesia. Studi tokoh, gerakan dan media dakwah mereka”
• “Bahaya taqrib (Pendekatan Sunnah-Syiah)”

(Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, “Asy-Syiah minhum ‘alaihim”)

http://rafidhah.wordpress.com/2007/02/24/syiah-yahudi/
Artikel: http://ustadzrofii.wordpress.com

Penduduk Yahudi di Iran

Tidak banyak orang yang tahu bahwa penduduk Yahudi kedua terbesar setelah Israel tidaklah tinggal di Amerika atau Eropah melainkan justru tinggal di Iran!

Iran…?

Bukankah Iran sangat memusuhi Israel dan bahkan Ahmadinejad mempertanyakan kebenaran jumlah korban Holocaust?

Ya. Saat ini ada sekitar 25.000 penduduk Yahudi di Iran bahkan mereka memiliki perwakilan di parlemen Iran! Meski pemerintahan Iran berseteru dengan Israel tapi mereka masih mampu menetap di Iran dan tidak bersedia untuk berpindah ke Israel walaupun telah dipujuk berbuat demikian. Bahkan ketika pemerintah Israel mencadangkan bayaran pampasan kepada keluarga Yahudi Iran yang mahu berpindah ke Israel sebanyak AS$60,000, malah penduduk Yahudi Iran mengecamnya dengan pernyataan :

“Identiti Yahudi Iran tidak dapat dibeli dengan wang. Penduduk Yahudi Iran adalah termasuk penduduk tertua di Iran. Yahudi Iran mencintai identiti dan budaya Iran mereka. Jadi ancaman dan rayuan ahli politik kebudak-budakan seperti ini tidak akan berhasil.”

Lantas bagaimana keadaan penduduk Yahudi jika Iran dan Israel berseteru?

Apakah hak hidup dan hak minoriti mereka diakui? Meski Iran dianggap sebagai negara yang ‘tidak toleran’ di mata Barat, terutamanya berkaitan permusuhan mereka terhadap Israel, pemerintahnya justru memberikan tempat dan perlindungan bagi warga Yahudi Iran. Bapa Revolusi Iran, Imam Khomeini, melindungi agama dan penduduk Yahudi dan, seperti Kristien Armenia, mereka dianggap sebagai ‘Ahli Kitab’ dan mendapatkan kebebasan menjalankan agama mereka berdasarkan Konstitusi Islam Iran tahun 1979. Imam Khomeini membezakan antara penduduk Yahudi dengan Zionisme dan menganggap penduduk Yahudi tersebut sebagai warganegara Iran dan melindungi hak-hak mereka.

Berdasarkan Konstitusi tersebut penduduk Yahudi Iran dapat memilih perwakilannya di parlemen Iran dan menikmati hak-hak administrasi mandiri tertentu. Penguburan dan hukum perceraian Yahudi diterima oleh pengadilan Islam Iran. Bahkan penduduk Yahudi Iran juga dikenakan kewajiban menjadi tetera Iran.

Penyangkalan Holocaust

Ahmadinejad beberapa kali menyampaikan slogan “Hapuskan Israel dari Peta” dan mempertanyakan jumlah korban Holocaust selama Perang Dunia II yang dianggapnya berlebihan.

Mr Mohtamed, perwakilan warga Yahudi di parlemen, menentang sikap presidennya – yang menunjukkan bahwa warga yahudi dibenarkan dengan bebas menyampaikan pendapatnya di Iran. Ia juga mengutuk keras pameran kartun tentang Holocaust oleh akhbar Iran yang dimiliki oleh pemerintah daerah.

Meskipun menentang pemerintah Israel, pemerintahan Ahmadinejad baru-baru ini menyumbangkan sejumlah dana ke Rumah Sakit Yahudi Teheran, satu diantara hanya empat hospital Yahudi di seluruh dunia yang dananya disumbangkan oleh masyarakat Yahudi diserata tempat – sesuatu yang agak aneh mengenangkan bahawa organisasi bantuan tempatan pun kesulitan menerima bantuan dana dari luar Iran karena kuatir akan dianggap sebagai boneka asing.

Ciamak Morsathegh, pengarah hospital ini berkata:

“Anti Semitism bukanlah fenomena Timur, bukan juga fenomena Islam atau Iran. Anti Semitism adalah fenomena Eropah,”

Ia menambahkan bahwa orang Yahudi di Iran, bahkan dalam kondisi yang paling buruk pun, tidak pernah mengalami penderitaan seperti orang-orang Yahudi di Eropah.

“Dengarkan saya, komunitas Yahudi disini tidak menghadapi kesulitan. Posisi kami tidak seburuk yang diperkirakan orang di luar Iran. Kami menjalankan agama kami dengan bebas, kami merayakan perayaan keagamaan kami, dan kami juga punya sekolah dan Taman Kanak-kanak sendiri.” kata Farangis Hassidim pekerja Yahudi di hospital tersebut.

Bagaimana dengan komunikasi mereka dengan sanak saudara yang ada di Israel?

Sambil memotong daging, Hersel Gabriel seorang peniaga kecil-kecilan itu mengatakan bahwa ia menyangka akan berlaku masalah ketika kembali dari Israel, ternyata petugas imigresen tidak berkata apa pun tentang hal tersebut.

“Apa pun yang dikatakan di luar itu bohong semua –kami hidup aman di Iran– kalau kita tidak berpolitik dan tidak mengganggu mereka maka mereka juga tidak mengganggu mereka,” katanya.

Pelanggannya, Giti, suri rumah tangga separuh usia, berkata bahwa dia dengan mudah mengubungi dua orang anaknya di Tel Aviv melalui telpon ataupun mengunjungi mereka.

“Tidak ada masalah pergi ataupun kembali; saya pergi ke Israel sekali melalui Turki dan sekali melalui Cyprus dan tidak ada masalah sama sekali. Yang lucu adalah bahwa sebelum revolusi islam di Iran, mungkin hanya ada 20 orang tua yang beribadah di sinagog.”

Bisik Nahit Eliyason, 48, sambil melintasi empat wanita lain untuk mencari tempat duduk yang kosong di Sinagog.

“Sekarang tempat ini penuh. Sulit untuk mencari tempat kosong.”

Paris Yashaya, produser film yang mengetuai komunitas Yahudi Teheran menambahkan:

“Kami lebih kecil dalam jumlah, tapi lebih kuat dalam segi lain.” Sebagai masyarakat  bukan muslim, orang-orang Yahudi diperbolehkan menyimpan minuman keras di rumahnya dan berdansa. Kadang-kadang saya pikir mereka lebih bertolak ansur terhadap orang Yahudi berbanding pada diri mereka sendiri….. Kalau kami berkumpul di rumah, dan keluarga sedang merayakan upacara dengan anggur dan musik yang terlalu keras, dan jika mereka tahu bahwa kami Yahudi maka mereka tidak akan menegur kami.”

Kata Eliyason:

“Di mana-mana di dunia ada orang yang tidak suka pada orang-orang Yahudi. Di Inggris mereka menggambar swastika (lambang Nazi) di kuburan Yahudi. Saya tidak beranggapan bahwa Iran lebih berbahaya bagi orang Yahudi berbanding di negara lain.”

Artikel: Satria Dharma, Balikpapan, 25 Januari 2008
http://satriadharma.com

Rujukan:

Iran’s proud but discreet Jews

By Frances Harrison
BBC News, Tehran

http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/5367892.stm

Jews in Iran Describe a Life of Freedom Despite Anti-Israel Actions by Tehran
Michael Theodoulou, Special to The Christian Science Monitor

http://www.csmonitor.com/durable/1998/02/03/intl/intl.3.html

Iran’s Jews learn to live with Ahmadinejad
Ewen MacAskill, Simon Tisdall and Robert Tait in Tehran
Tuesday June 27, 2006
The Guardian

http://www.guardian.co.uk/iran/story/0,,1807160,00.html

IRAN: Life of Jews Living in Iran
Iran remains home to Jewish enclave.
By Barbara Demick

http://www.sephardicstudies.org/iran.html

Gambar dari: http://www.corfuholidays.biz/general/information/The_Jewish_Quarter_of_Corfu/

Syiah: “Aisyah, Zubair, dan Tholhah Lebih Buruk dari Anjing dan Babi”

Al-Khumaini dalam kitabnya Ath-Thaharah 3/457 berkata:

Sucinya An-Nashib (Pembenci Ahlul bait) dan Al-Kharij (Pemberontak Ali) karena tujuan Dunia dan selainnya. Adapun semua sekte Nawashib bahkan Khawarij maka tidak ada dalil tentang najisnya mereka, walaupun mereka lebih dahsyat adzabnya dari orang-orang kafir. Seandainya mereka memberontak terhadap Amirul Mukminin ‘alaihis salam bukan karena prinsip agama, tapi karena unsur kekuasaan atas tujuan lainnya, seperti ‘Aisyah, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah dan yang lainnya.

Atau menancapkan permusuhan kepadanya (Ali) atau kepada salah seorang imam ‘alaihimus salam bukan karena prinsip agama tapi karena permusuhan terhadap Quraisy atau Bani Hasyim atau Bangsa Arab, atau disebabkan ia (Ali) telah membunuh anaknya atau bapaknya atau selain itu. (Itu semua) tidak menyebabkan -dengan jelas- atas kenajisannya secara zhahir, walaupun mereka lebih buruk dari anjing-anjing dan babi-babi; karena tidak ada dalil baik ijma’ atau khabar atas hal itu (atas kenajisan mereka).”

Sikap Ghuluw Syiah Terhadap Ali dan Fathimah

Muhammad Al-Mas’udi, salah seorang ‘ulama Syi’ah mengatakan dalam kitabnya Al-Asrarul Fathimiyah Hal.98:

“Kalau bukan karena ‘Ali tidak akan diciptakan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kalau bukan karena Fathimah tidak akan diciptakan keduanya.”

Begitulah kata mereka, tidak tahu dari mana igauan bathil ini mereka dapatkan. Yang jelas, semua maknanya bathil. Selain terkandung sikap ghuluw terhadap Ali dan Fathimah, pada masa yang sama ada unsur penghinaan terhadap pribadi mulia, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Ternyata aqidah bathil ini tidak hanya dianut oleh pendahulu mereka, tapi diteruskan oleh ulama mereka sekarang.

Semoga Allah menyelamatkan kaum muslimin dari bahaya Syi’ah dan aqidah Syi’ah. Amin

Bukti : Pernyataan Ulama Syiah Bahwa Al-Quran Kaum Muslimin Tidak Otentik (From Shiahs TV Channel)

Ini adalah pernyataan dari Ayatullah (Dr.) Al-Qazwiiniy, salah seorang ulama besar Syiah yang sangat disegani saat ini, bahwasannya Al-Quran yang ada di tangan kaum muslimin tidak otentik.

Menurutnya, firman Allah ta’ala :

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” [QS. Aali ‘Imraan : 33].

Menurutnya, yang benar adalah :

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ وَآلَ مُحَمَّدٍِ عَلَى الْعَالَمِينَ

““Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, dan keluarga Muhammad melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)”.

Tambahan kalimat yang berwarna merah ini dihilangkan oleh para shahabat radliyallaahu ‘anhum – (dan ini adalah kedustaan yang sangat nyata !!).

Itulah yang dikatakan oleh Al-Qazwiiniy yang ia nisbatkan (secara dusta) kepada Ja’far Ash-Shaadiq rahimahullah, semoga Allah memberikan hidayah kepadanya.

Dan inilah rekaman video yang memuat perkataannya itu :

http://www.youtube.com/watch?v=ovfz3xnsjJ0

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [QS. Al-Hijr : 9].

Jika Anda tidak waspada, maka Anda akan digiring oleh pemahaman-pemahaman mereka, yang akhirnya (jika Anda membiarkan diri Anda larut dengan syubuhaat Syiah Raafidlah) – Anda akan mendustakan agama Islam dan membenarkan agama Syiah. Dan Syiah Raafidlah bukan Islam. Agama Syiah bukanlah agama yang dianut oleh Ahlul-Bait.

Wallaahul-musta’aan.

[abul-jauzaa’ – ngaglik, sleman, yogyakarta – 1432].

Catatan dari AlFanarKu:

Sungguhnya bukti yang ditunjukkan oleh al-Akh Abul-Jauzaa di atas adalah sebuah bukti yang sangat kuat bahwa seorang ulama’ Syiah yang bernama Al-Qaswiiniy telah membuka kedok keyakinannya mengenai Al-Quran yang ada pada kita kaum muslimin saat ini, yang mungkin dia melakukan hal tersebut secara tidak sadar. Maka hanya orang yang kerdil pikiran-nya yang berusaha membela-nya.

Sesungguhnya sudah sangat jelas bahwa di dalam kitab-kitab utama pegangan syiah memang terdapat riwayat-riwayat yang mutawatir yang menyatakan bahwa Al-Quran yang ada sekarang ini sudah mengalami tahrif, dan hal ini merupakan ijma’ para ulama syiah dari zaman dulu.

Kita sering melihat bagaimana reaksi orang-orang syiah ketika disinggung masalah ini, kalau tidak  membela diri, biasanya mereka berusaha melakukan serangan balik, Artinya teman anda yang syiah akan kembalimenuduh bahwa dalam riwayat sunni juga ada yang menunjukkan Al Qur’an telah dirubah. Jelas mereka berbohong, karena isi hadits-hadits yang dimaksud oleh syiah hanyalah seputar nasakh tilawah atau perbedaan qira’at yang memang pernah ada. Dan sangat berbeda dengan riwayat-riwayat tahrif Al-Quran dalam literature syiah di mana dengan sangat transparan mereka menuduh bahwa Al-Quran telah dirubah oleh “tangan-tangan kotor”, “orang-orang zalim” yang hakikatnya tuduhan tersebut ditujukan kepada para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, karena di-masa mereka-lah Al-Quran dikumpulkan dan dikodifikasi menjadi satu mushaf.

Perlu diperhatikan bahwa banyak ulama syiah yang mengakui adanya nasakh, seperti Syaikh Thaifah At Thusi misalnya, meski demikian, kita lihat Abul Qasim Al Khu’I mengatakan bahwa nasakh itu tak lain dan tak bukan adalah tahrif itu sendiri. Semua ini adalah upaya untuk menghindar dan berputar-putar tanpa ada jawaban yang jelas. Sehingga kita perhatikan dari teman yang syiah, mereka selalu berputar-putar dalam diskusi sehingga membuat kita lelah menghadapinya. Bolehjadi mereka sengaja berbuat demikian untuk menghindar dari jawaban-jawaban yang membuatnya merasa kalah dalam debat. Kita perhatikan semua syiah suka berputar-putar dalam dialog. Saya curiga teman-teman syiah telah mengalami mutasi pada gennya sehingga mereka semua menjadi suka berbohong dan berputar-putar dalam dialog. Kita tidak lupa bagaimana taqiyah adalah salah satu ajaran pokok dalam syiah. Kita tidak heran, karena taqiyah adalah sembilan dari sepuluh bagian agama syiah. Sebenarnya cara ini merupakan sebuah aib bagi syiah yang tidak dapat menjawab tuduhan yang memang terbukti, lalu berusaha membuktikan tuduhan yang sama pada lawan.

Hal ini memang sebuah aib, tetapi hanya ini yang mereka punya, yang lebih baik daripada diam tak menjawab dan dipandang kalah dalam berdebat. Mengenai serangan balik dari syiah berkaitan masalah perubahan Al-Quran akan dibahas lebih detil Insya Allah.

Artikel asal: Abu Al-Jauzaa’, 07 Jun 2011

http://abul-jauzaa.blogspot.com/