Category Archives: Manhaj

Fitnah Tajsim

Bismillah,
Jika anda ditanya oleh seseorang “apakah Allah Berjism”? apa jawaban anda?

Jika anda jawab “Ya” maka anda belum tentu benar. Jika anda jawab “Tidak” Maka anda kemungkinan salah.

Eh, mcm tu pulak…. Bingungkan???

Apa itu Jism?

Ibnu Mandzur berkata:

الجِسْمُ: جماعة البَدَنِ أَو الأَعضاء من الناس والإِبل والدواب وغيرهم من الأَنواع العظيمة

Aljismu: kumpulan dari badan atau anggota-anggota seorang manusia, unta, binatang berkaki empat, dan lain-lain yang merupakan bagian yang makhluk yang besar.

Para ahli bahasa hanya menggunakan istilah Jism untuk sesuatu yang berat dan padat, mereka tidak menamakan udara sebagai jism dan jasad sebagaimana halnya dengan tubuh manusia yang jelas mereka sebut sebagai jism.

Pandangan ahli bahasa tentang Jism sesuai dengan firman Allah taala:

وإذا رأيتهم تعجبك أجسامهم

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum”.

(QS al Munâfiqûn:4)

Dalam ayat lain Allah berfirman

وزاده بسطة في العلم والجسم

“Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”.

(QS albaqarah:247)

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Adapun ahli kalam dan para filsafat berselisih tentang makna Jism: Sebahagian dari mereka mengatakan bahwa Jism itu adalah sesuatu yang wujud, sebahagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang berdiri sendiri, sebagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang tersusun dari atom, sebahagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang tersusun dari materi dan gambaran, sebahagian lagi mengatakan bahwa bahwa jism adalah sesuatu yang dapat ditunjuk dengan isyarat indra, sebahagian lagi mengatakan bahwa jism itu tidak tersusun dari apapun tapi ia justeru yang ditunjuk [1]

Apa yang didefinisikan oleh para mutakallimin dan ahli filsafat sama sekali tidak dikenal dalam bahasa arab baik dalam kitab-kitab maupun syair-syair mereka. Roh sekalipun ditunjuk, turun, dan naik serta berdiri sendiri namun tidak dinamakan sebagai jism oleh ahli bahasa. Karena itulah mereka menyebutkan istilah jism dan roh. Disini dapat kita ketahui bahwa “dan” disini memberi kesan makna yang berbeza(mughayarah).

Teka-teki

Jadi manakah yang anda pilih ketika menjawab Ya atau Tidak?

Jika dinafikan, lalu bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa jism itu sesuatu yang dapat ditunjuk, padahal Ahlusunnah dan juga Asyairah beriman bahwa Allah dapat dilihat disyurga. Padahal sesuatu yang dilihat dengan mata adalah sesuatu yang ditunjuki dengan indra.?

Jika dikatakan Allah adalah jism, lalu bagaimana dengan pendapat ahli bahasa yang mengatakan bahwa tubuh dan anggota-anggotanya adalah jism[2]?

Bingungkah anda?

Disinilah perlunya memahami sesuatu secara menyeluruh dan terperinci.

Ibnu Taimiyah berkata:

أما الكلام في الجسم والجوهر ونفيهما أو إثباتهما , فبدعةٌ

ليس لها أصلٌ في كتاب الله ولا سنة رسوله

ولا تكلم أحدٌ من الأئمة والسلف بذلك نفياً ولا إثباتاً . انتهى

Adapun pembicaraan tentang jism dan jawhar serta penafian dan penetapannya merupakan kebidahan yang tidak memiliki asal dari kitab Allah dan sunnah rasulnya serta tidak pernah dibicarakan oleh seorangpun dari para imam-imam Salaf dengan menafikannya atau menetapkannya.[3]

Dalam tempat lain beliau mengatakan:

وأما القول الثالث: فهو القول الثابت عن أئمة السنة المحضة

كالإمام أحمد ومَنْ دونه , فلا يطلقون لفظ الجسم لا نفياً ولا إثباتاً , لوجهين :

أحدهما : أنه ليس مأثوراً , لا في كتاب ولا سنة ,

ولا أثر عن أحد من الصحابة والتابعين لهم بإحسان , ولا غيرهم من أئمة المسلمين ,

فصار من البدع المذمومة .

الثاني : أن معناه يدخل فيه حق وباطل ,

والذين أثبتوه أدخلوا فيه من النقص والتمثيل ما هو باطل ,

والذين نفوه أدخلوا فيه من التعطيل والتحريف ما هو باطل . انتهى

Dan adapun pendapat yang ketiga: itulah pendapat yang tetap dari para imam Sunnah yang murni. Seperti Imam Ahmad dan selainnya. Mereka tidak memutlakkan lafadz jism baik dalam penafian maupun penetapan karena dua hal.

Pertama: hal tersebut tidak ma’tsur baik dalam qur’an, sunnah, maupun atsar sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Tidak juga dari para imam kaum musllimin yang lain. Maka jadilah hal tersebut sebagai bid’ah yang tercela.

Kedua: maknanya boleh jadi sesuatu yang haq dan boleh jadi juga sesuatu yang batil.

Orang-orang yang menetapkannya [secara mutlak] berkemungkinan masuk dalam penjelekkan dan penyerupaan yang merupakan sebuah kebathilan.[4]

Sedangkan orang yang menafikannya [secara mutlak] boleh masuk dalam ta’thil dan tahrif yang juga merupakan sebuah kebatilan.[5] [6]

Kesimpulan

Lafadz jism terkait sifat Allah adalah lafadz yang Muhtamil serta sebuah pembahasan muhdats (bid’ah) yang diada-adakan oleh para filsafat dan Mutakallimun. Sebagai Ahlissunnah kita harus menghindarinya.

Jika kita ditanya tentang hal ini maka Ibnu Taimiyah memberikan Jalan keluar dengan perkataannya:

فيقال لمن سأل بلفظ الجسم : ما تعني بقولك ؟

أتعني بذلك أنه من جنس شيء من المخلوقات ؟

فإن عنيتَ ذلك , فالله قد بيَّنَ في كتابه أنه لا مثل له , ولا كفوَ له , ولا نِدَّ له ؛

وقال : ( أفمن يخلق كمن لا يخلق )

فالقرءان يدل على أن الله لا يماثله شيء , لا في ذاته ولا صفاته ولا أفعاله ,

فإن كنتَ تريد بلفظ الجسم ما يتضمن مماثلة الله لشيء من المخلوقات ,

فجوابك في القرءان والسنة . انتهى

Maka direspon bagi siapapun yang bertanya dengan lafadz jism: apa yang anda maksud? Apakah yang anda maksud adalah bahwa Dia termasuk jenis dari makhluknya? Kalau jelas begitu maksudnya, maka Allah telah menjelaskan didalam kitabnya bahwa Dia tidak serupa, setara, dan tidak bersekutu dengan apapun.

Allah berfirman:
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?
(QS al Nahl:17).

Al Qur’an menunjukkan bahwa Allah tidak diserupai oleh apapun baik zat, sifat, maupun perbuatannya.

Kalau yang engkau maksud dengan lafadz Jism mengandung penyerupaan Allah dengan makhluknya, maka jawaban untukmu ada didalan Alqur’an dan Sunnah.[7]

Selanjutnya beliau menegaskan:

ولهذا اتفق السلف والأئمة على الإنكار على المشبهة الذين يقولون

بصر كبصري , ويدٌ كيدي , وقدم كقدمي . انتهى

Oleh karena itu Salaf telah bersepakat untuk mengingkari Musyabbihah yang mengatakan penglihatan [Allah] seperti penglihatanku, tangan [Allah] seperti tanganku, kaki [Allah] seperti kakiku.[8]

Disini Ahlussunnah dan salaf tidak membicarakan penafian maupun penetapan jism pada Allah, begitu juga lafadz-lafadz lain yang tidak terdapat dalam al Qur’an maupun Sunnah seperti arah dan tahayyuz dan semisalnya. Tetapi Ahlussunnah menyifatkan Allah Taala sesuai dengan apa yang Ia Sifatkan bagi dirinya dalam al-Qur’an dan apa yang disifatkan oleh Rasulnya. Mereka tidak melangkahi al-Qur’an dan Hadits.

Imam al Barbahari berkata:

Tidak membicarakan rabb kecuali sesuai dengan apa yang Ia sifatkan bagi dirinya Ajja Wajalla dalam Qur’an dan yang dijelaskan oleh Rasulullah untuk para sahabatnya.[9]

Beliau juga menjelaskan bahwa lafadz-lafadz bid’ah tersebut adalah sumber bid’ah:

Ketahuilah! Semoga Allah memuliakanmu! Kalau saja manusia menahan diri dalam perkara-perkara muhdats, tidak melangkah lebih jauh, dan tidak melahirkan kalimat-kalimat yang tidak pernah datang dari atsar Rasulullah juga sahabatnya,maka niscaya tidak akan ada kebid’ahan[10]

Al Hafidz Abdul Ghani al Maqdisi Rahimahullah menyetujui kaidah seperti ini dengan mengatakan:

“Termasuk Sunnah yang tetap adalah diam dari sesuatu yang tidak datang nashnya dari Rasulullah Shallallâhu alaihi Wasallam atau yang telah disepakati oleh kaum muslimin untuk memutlakkannya dan meninggalkan perselisihan dalam penafian dan penetapannya. Begitu juga pada perkara yang hanya dapat ditetapkan dengan nash Syari’, dan juga pada perkara yang hanya dapat dinafikan dengan dalil Sami’ [11]

Tulisan dan nukilan Ibnu taimiyah juga menjadi bukti bahwa beliau bukanlah seorang mujassimah. Justeru ketika Asyairah membatasi bahwa jism itu adalah satu hal, ternyata ibnu taimiyah telah merinci dan menyikapi lafadz jism dari berbagai isu yang beredar tentang jism menurut berbagai firqah dan mengambil solusi yang wasath.

Semoga bermanfaat

_________
FooteNote:
[1] Majmû’ Fatâwa Syaikhul islam Ibnu Taimiyah III/32
[2] Sekte karamiyah merupakan golongan Mujassimah yang berkeyakinan Allah adalah Jism dalam artian bertubuh dan bertulang. wal iyadzubillah
[3] Dar ut taahrudh al aql wan naql 4/146
[4] Kalau kita mengatakan Allah jism maka boleh jadi kita akan seperti karamiyah yang menetapkan bahwa Allah adalah seperti tubuh yang terdiri dari tulang dan daging. Waliyadzubillah
[5] Ada yang berpendapat bahwa jism itu yang ditunjuk padahal sesuatu yang terlihat itu adalah sesuatu yang ditunjuki oleh indra. Dengan menafikannya secara mutlak maka boleh jadi kita seperti mu’tazilah yang tidak mengimani bahwa kita dapat melihat Allah diakhirat kelak.
[6] Minhajussunnah Nabawiyyah I/204
[7] Dar ut taahrudh al aql wan naql 10/307
[8] Dar ut taahrudh al aql wan naql 10/309
[9] Syarhussunnah hal. 69
[10] Syarhussunnah hal. 105
[11] Aqâid Aimmatusshalaf hal 132

Sumber: http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/09/21/fitnah-tajsim/
(dengan sedikit alih bahasa)

Advertisements

Taatilah Aku Jika Aku Taat Pada Allah

Kekuasaan di zaman kini adalah kebanggaan.
Kekuasaan di zaman kini adalah prospek.
Kekuasaan di zaman kini adalah harga diri.
Yang semua itu harus dicapai walau dengan cara yang Harom dan zalim sekalipun.

Di dalam Islam, kekuasaan adalah amanah yang akan menjadi penyebab dia bermula mendapat naungan Yaumul Mahsyar, dan bahkan surga yang Allah سبحانه وتعالى janjikan bagi penguasa yang adil. Tetapi kekuasaan dalam Islam tidak diberikan pada orang yang ambisi. Bahkan kekuasaan tidak berarti jika orang itu tidak mengajarkan, tidak menjalankan Syari’at yang didalamnya membuktikan ketaatan dan kepatuhan terhadap Allah سبحانه وتعالى. Tidak wajib ditaati, wajib dinasehati, dan bahkan bisa jadi (kalau sudah keterlaluan) harus dipecat dan dikucilkan.

Berikut ini bagian dari satu tetes apa yang harus kita ketahui bahwa ketaatan pada pemimpin itu menjadi wajib, SELAMA Pemimpin itu taat pada Allah سبحانه وتعالى dan pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Download:
Taatilah Aku Jika Aku Taat Pada Allah

Sikap Kepada Penguasa Yang Zalim

Alhamdulillah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah meninggalkan kepada kita Agama Islam yang sempurna. Tidak ada suatu perkara yang penting pun yang terlewati dari agama ini.

Barangsiapa tetap berpegang teguh kepada agama ini setelah sampai hujjah kepadanya maka dia adalah termasuk orang yang selamat, Insyaa Allah. Dan barangsiapa yang berpaling setelah sampai keterangan dari perkara agama ini maka dia akan binasa. Semoga Allah SWT menggolongkan kita kepada orang yang tetap mendengar dan taat dari setiap perintah-perintah yang telah disampaikan oleh-Nya lewat lisan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Aamiin.

A. Sikap Seorang Muslim Kepada Penguasa Yang Zhalim, Mendengar dan Taat

1. Dari Wail bin Hujr, berkata: Kami bertanya:

Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu jika kami punya amir (dimana mereka) menahan hak kami dan mereka meminta haknya dari kami? Maka beliau menjawab: (Hendaknya kalian) dengar dan taati mereka, karena hanyalah atas mereka apa yang mereka perbuat, dan atas kalian yang kalian perbuat.

(HR. Muslim no. 1846 dari hadits Asyats bin Qais)

2. Dari Hudzaifah bin Yaman berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang (dikalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya: Apa yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda: (Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.

(Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya no. 1847 (52))

3. Dari Adi bin Hathim ra. berkata:

Kami bertanya:Ya Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang (ketaatan) kepada (amir) yang bertaqwa, akan tetapi bagaimana yang berbuat (demikian) dan berbuat (demikian) (Adi bin Hathim menyebutkan perbuatan yang jelek)? Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Bertaqwalah kepada Allah dan (tetaplah) mendengar dan taat (kepada mereka).

(HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal hal 493 no. 1069)

4. Dari Abu Hurairah ra. dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Wajib bagi kamu mendengar dan taat baik dalam keadaan sulit ataupun mudah, semangat ataupun tidak suka, walaupun ia sewenang-wenang terhadapmu.

(HR. Muslim)

B. Mendengar & taat dalam perkara yang maruf, bukan dalam perkara maksiat

5. Dari Ibnu Umar ra. berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Wajib atas seorang muslim (untuk) mendengar dan taat (kepada pemimpin) pada apa yang ia sukai ataupun yang ia benci, kecuali kalau ia diperintah (untuk) berbuat maksiat, maka tidak ada mendengar dan taat.

(HR. Bukhari dan Muslim)

C. Larangan Menghina (Menjelek-Jelekkan) Penguasa & Perintah Memuliakannya Walau Zalim Sekalipun

6. Dari Muawiyah berkata:

Tatkala Abu Dzar keluar ke Ribdzah, dia ditemui sekelompok orang dari Irak, kemudian mereka berkata: Wahai Abu Dzar, pancangkanlah bendera (perang) untuk kami, niscaya akan datang orang-orang yang membelamu. (Maka) Abu Dzar berkata: Pelan-pelan (bersabarlah) wahai Ahlul Islam, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Akan ada sepeninggalku seorang sulthan (pemimpin), muliakanlah dia, maka barangsiapa mencari-cari kehinaannya, berarti dia telah melubangi Islam dengan satu celah dan tidak akan diterima taubatnya sampai dia mampu mengembalikannya seperti semula.

(Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)

7. Dari Abi Bakrah ra. berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Sulthan adalah naungan Allah dimuka bumi, barangsiapa menghinanya, maka Allah akan menghinakan dia (orang yang menghina sulthan), dan barangsiapa memuliakannya, niscaya Allah akan memuliakan dia.

(Hadits shahih riwayat Ibnu AbiAshim, Ahmad, At-Thoyalisi, Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal no. 1017 dan 1023, dan dalam As-Shahihah 2297)

8. Dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi beliau berkata:

Dulu aku pernah bersama Abi Bakrah berada dibawah mimbar Ibnu Amir dan beliau sedang berkhutbah sambil mengenakan pakaian tipis. Kemudian Abu Bilal berkata: Lihatlah oleh kalian pada pemimpin kita, dia mengenakan baju orang-orang fasiq. Lantas Abi Bakrah pun langsung angkat bicara: Diam kamu! Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah di muka bumi niscaya Allah menghinakannya.

(Tirmidzi dalam sunannya (2225))

9. Didalam At-Tarikh AL-Kabir (7/18) oleh Al-Bukhari dari Aun As-Sahmy beliau berkata:

Janganlah kalian mencela Al-Hajjaj (Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi) karena dia adalah pemimpin kalian dan dia bukan pemimpinku. Adapun ucapan beliau: dia bukan pemimpinku, karena Abu Umamah tinggal di Syam sedangkan Al-Hajjaj pemimpin Iraq.

10. Dikitab yang sama (8/104) Imam Bukhari meriwayatkan dari Abi Jamrah Ad-DhobiI, beliau berkata:

Tatkala sampai kepadaku (khabar) pembakaran rumah, lalu aku keluar menuju Makkah dan berkali-kali aku mendatangi Ibnu Abbas sampai beliau mengenaliku dan senang kepadaku. Lalu aku mencela Al-Hajjaj di depan Ibnu Abbas sampai beliau berkata: Janganlah kamu menjadi penolong bagi syaithan.

11. Hannad mengeluarkan (riwayat) dalam Az-Zuhd (II/464):

Abdah menceritakan kepada kami dari Az-Zibriqan, berkata, Aku pernah berada disisi Abu Wail Syaqiq bin Salamah lalu au mulai mencela Al-Hajjaj dan au sebutkan kejelekan-kejelekannya. Lantas beliau berkata, Janganlah engkau mencercanya, siapa tahu barangkali dia berdoa, Ya Allah, ampunilah aku, kemudian Allah mengampuninya.

12. Dari Ibnu Abi Dunya mengeluarkan dalam kitab Ash-Shamtu wa Adabu Lisan hal 145 dan juga Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (5/41-42) dari Zaid bin Qudamah beliau berkata: Saya berkata kepada Manshur bin Al-Mutamar:

Jika aku puasa apakah aku boleh mencela sulthan (penguasa/pemimpin)?
Beliau berkata: Tidak boleh.
Lalu aku terus bertanya apakah aku boleh mencela Ahli Ahwa (para pengekor hawa nafsu/Ahlul Bidah)?
Beliau menjawab: YA! (boleh).

13. Ibnu Abdil Barr telah mengeluarkan dalam At-Tamhiid (XXI/287) dengan sanadnya dari Abu Darda ra. bahwa ia berkata,

Sesungguhnya awal terjadinya kemunafikan pada diri seseorang adalah cacimakiannya terhadap pimpinan/pemerintahnya.

14. Ibnu Ab Syaibah rahimahullahu taala berkata dalam Al-Mushannaf XV/75 & II/137-138:

Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami dari Ibrahim bin Maisarah dari Thawus, berkata,
Pernah disebutkan (nama-nama) para pemimpin negara dihadapan Ibnu Abbas, lalu seseorang sangat bersemangat mencacimaki kehormatan mereka.

Lalu dia lakukan demikian sambil meninggi-ninggikan (badannya), sampai-sampai dirumah itu aku tida melihat orang yang lebih tinggi daripadanya. Kemudian aku mendengar Ibnu Abbas ra. berkata, Janganlah engkau jadikan dirimu sebagai fitnah (pemicu kekacauan) bagi orang-orang yang zhalim.
Maka serta merta orang tersebut merendahkan tubuhnya sampai-sampai dirumah tersebut aku tidak melihat orang yang lebih rendah / merendahkan tubuhnya daripadanya.

D. Tidak Boleh Memberontak Selama Penguasanya Tidak Kafir atau Masih Menegakkan Shalat

15. Dari Ummu Salamah r.a. berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Akan ada sepeninggalku nanti pemimpin (yang) kalian mengenalnya dan mengingkari (kejelekannya), maka barangsiapa mengingkarinya (berarti) dia telah berlepas diri, dan barangsiapa membencinya (berarti) dia telah selamat, akan tetapi barangsiapa yang meridhoinya (akan) mengikutinya. Mereka para sahabat bertanya: Apakah tidak kita perangi (saja) dengan pedang? Beliau menjawab: Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat ditengah-tengah kalian.

(HR. Muslim 6/23)

16. Dari Said Al-Khudri beliau berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

Akan ada nanti para penguasa yang kulit-kulit kalian menjadi lembut terhadap mereka dan hati-hati pun menjadi tenang kepada mereka. Kemudian akan ada para penguasa yang hati-hati (manusia) akan menjadi benci kepada mereka dan kulit-kulit pun akan merinding ketakutan terhadap mereka. Kemudian ada seorang lelaki bertanya: Wahai Rasulullah, tidakah kita perangi saja mereka? Beliau bersabda: Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat ditengah-tengah kalian.

(As-Sunna Ibnu Abi Ashim hal. 498)

17. Dari Ubadah bin As-Shamit ra., beliau menceritakan:

Kami membaiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mendengar dan taat (kepada pemerintah muslimin) dalam keadaan kami senang atau benci kepadanya, dalam keadaan kesulitan atau kemudahan, dan dalam keadaan kami dirugikan olehnya, dan tidak boleh kita memberontak kepada pemerintah. Kemudian beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Kecuali kalau kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian mempunyai bukti dari Allah pada perbuatan pemerintah tersebut.

(HR. Bukhari dan Muslim)

E. Tercelanya melakukan tanzhim rahsia (Gerakan bawah tanah)

18. Dari Ibnu Umar ra. berkata:

Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lalu bertanya:
Wahai Arsulullah, berwasiatlah kepada kami. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Dengarlah, taatlah, wajib bagi kalian dengan (sikap) terang-terangan (terbuka), dan hati-hatilah kalian dari (rencana) rahasia.

(Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)

F. Perintah untuk bersabar menghadapi pemimpin yang zhalim

19. Dari Anas berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Sepeninggalku nanti kalian akan menemui atsarah (pemerintah yang tidak menunaikan haq rakyatnya-ed) maka bersabarlah sampai kalian menemuiku.

(HR. Bukhari dan Muslim)

20. Dari Anas bin Malik berkata:

Para pembesar kami dari kalangan sahabat Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam melarang kami. Mereka berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Janganlah kalian mencela pemimpin-pemimpin kalian, janganlah kalian dengki kepada mereka dan janganlah kalian membenci mereka, (akan tetapi) bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya perkaranya (adalah) dekat.

(Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal, hal 474 no. 1015)

21. Dari Abdullah bin Abbas ra. bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Barangsiapa melihat sesuatu yang ia benci ada pada pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar, karena barangsiapa melepaskan diri dari Al-Jamaah meskipun sejengkal maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.

(HR. Bukhari dan Muslim)

22. Dalam riwayat Muslim:

Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya (pemerintah) maka hendaklah ia bersabar. Karena tida ada seorang manusiapun yang keluar dari (kekuasaan) penguasa meskipun sejengkal lalu dia mati dalam keadaan demikian, melainkan matinya tak lain dalam keadaan mati jahiliyyah.

G. Buah Dari Mengikuti Sunnah

23. Dari Abul Yaman Al-Hauzani dari Abu Darda ra. beliau berkata:

Hati-hati kalian, jangan kalian melaknat para penguasa. Sebab, sesungguhnya melaknat mereka adalah kemelut dan kebencian terhadap mereka adalah kemandulan yang tidak mendatangkan buah apa-apa.
Ada yang menyatakan, Ya Abu Darda, lantas bagaimana kami berbuat jika kami melihat apa yang tidak kami sukai ada pada mereka?
Beliau menjawab, Bersabarlah! Sesungguhnya Allah bila melihat perkara itu ada pada mereka maka Dia akan mencegahnya dari kalian dengan kematiannya.

(HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (II/488)

H. Cara Menasehati Penguasa

1. Dari Iyadh bin Ghanim berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

Barangsiapa berkeinginan menasehati sulthan (penguasa), maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan (di depan umum) dan hendaknya dia mengambil tangannya (dengan empat mata dan tersembunyi). Jika dia mau medengar (nasehat tersebut) itulah yang dimaksud, dan jika tidak (mau mendengar), maka dia telah menunaikan kewajiban atasnya.

(Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal hal. 507 no. 1096)

2. Dari Ubaidillah bin Al-Khiyar berkata:

Aku pernah mendatangi Usamah bin Zaid, kemudian saya katakan kepadanya: Tidakkah kau nasehati Utsman bin Affan agar menegakkan had (hukuman) atas Al-Walid?
Usamah berkata: Apakah kau kira aku tidak mau menasehatinya kecuali dihadapanmu?! Demi Allah, aku telah menasehatinya antara aku dan dia saja. Aku tidak mau membuka pintu kejelekan kemudian aku menjadi orang pertama yang membukanya.

(Atsar shahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Wallahu A’lam Bish-Shawab.

[Kontributor: Abu Abdirrahman Uli, 06 Desember 2001 ]
Artikel: http://www.perpustakaan-islam.com

Langkah-Langkah Syaitan Untuk Menyesatkan Manusia

Ketika manusia sibuk untuk mengalahkan musuhnya, sama ada musuh yang tak sealiran dengannya, musuh yang dibencinya, mereka lupa akan musuh mereka yang hakiki, yang tidak mereka sedari akan kehadirannya iaitulah syaitan dan tentera-tenteranya.

Syaitan merupakan musuh yang jelas diberitakan oleh Allah dalam al-Quran sebagaimana firmanNya:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.”

[Yassin:60]

Ibnu kathir dalam Tafsirnya ketika menafsirkan ayat ini berkata:

“Ini adalah celaan Allah kepada mereka yang mengingkari Allah dari kalangan bani Adam iaitulah mereka yang mentaati syaitan sedangkan syaitan adalah musuhnya yang nyata, dan mereka yang melakukan maksiat kepada Allah sedangkan Dialah yang menciptakannya dan mengurniakan rezeki kepadanya.”

[Tafsir al-Quran al-`Azhim, Ibn Kathir, 3/167]

Cara-Cara Syaitan Menyesatkan Manusia

Syaitan telah berjanji di hadapan Allah bahawa dia akan menyesatkan dengan pelbagai bentuk cara dan keadaan, hakikat ini dirakamkan dalam al-Quran:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ () ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab: “Kerana Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.  kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

[Al-`Aaraf: 17]

Inilah janji iblis dan tentera-tenteranya iaitulah syaitan dikalangan jin dan manusia, mereka akan berusaha untuk menyesatkan manusia daripada jalan yang lurus:

وقوله: {ثم لآتينهم من بين أيديهم ومن خلفهم} الآية، قال ابن عباس: {ثم لآتينهم من بين أيديهم} أشككهم في آخرتهم {ومن خلفهم} أرعبهم في دنياهم {وعن أيمانهم} أشبه عليهم أمر دينهم {وعن شمائلهم} أشهي لهم المعاصي

Berkata Ibnu `Abbas radiallahu`anhuma ketika menafsirkan ayat di atas:

“Iblis datang dari muka (hadapan) manusia, bermaksud dia akan menimbulkan syak (keraguan) terhadap hari akhirat, dan dia datang dari belakang, iaitulah dia menggalakkan atau menakutkan manusia tentang dunia mereka, ia datang dari kanan mereka iaitulah dia menimbulkan kesamaran pada urusan agama mereka dan ia datang dari kiri manusia iaitulah dia menjadikan lazat (membangkitkan) syahwat kepada mereka terhadap maksiat.”

[Tafsir al-Quran al-`Azhim, Ibn Kathir, 1/152]

Begitu juga langkah-langkah syaitan sangat berbahaya dan halus sehingga Allah Ta`ala memerintahkan agar kita menjauhi langkah-langkah syaitan, FirmanNya:

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ () إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, kerana sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

[Al-Baqarah:169]

Berdasarkan huraian Ibnu `Abbas radiallahu`nhuma dan ayat di atas kita mendapati beberapa cara dan langkah-langkah yang digunakan oleh syaitan untuk menyesatkan manusia antaranya:

1. Menimbulkan syak (keraguan) terhadap hari akhirat.

Hari akhirat adalah termasuk dalam perkara-perkara berkaitan keimanan dan akidah. Praktikalnya, apabila iblis dan syaitan menyerang keyakinan kita akan hari akhirat, maka secara automatik keraguan akan timbul dalam hati kita. Ketika itu hilang dalam hati dan fikiran kita akan Maha Melihatnya Allah, malaikat, dosa dan pahala, syurga dan neraka. Apabila iblis dan syaitan berjaya menimbulkan keraguan dalam keimanan kita maka ketika itu, kita akan melakukan dosa dan perkara yang dilarang oleh Allah. Ketika itu kita sudah terjerat dalam perangkap iblis yang berjaya dengan rancangannya. Maka ketika itu, dosa dan maksiat seperti syirik, bid`ah, berzina, mengumpat, mendedahkan aurat, minum arak dan sebagainya dilakukan tanpa ada rasa bersalah.

Hal ini berlaku kerana mereka tidak yakin dengan Allah dan berita-berita yang disampaikan oleh al-Quran dan As-Sunnah seperti firmanNya:

أَلَا إِنَّهُمْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَاءِ رَبِّهِمْ أَلَا إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيط

“Ingatlah bahawa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahawa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.”

[Fusshilat: 54]

2. Menimbulkan kesamaran dan memerintahkan agar bercakap tentang Allah tanpa ilmu.

Antara jalan yang digunakan oleh iblis dan syaitan untuk menyesatkan manusia ialah dengan menimbulkan kesamaran terhadap mereka antaranya ialah iblis menimbulkan kesamaran diantara syirik dengan Tauhid, Sunnah dengan bid`ah, yang halal dengan yang haram, perkara yang boleh memasukkan ke syurga ataupun ke neraka. Hal ini boleh diatasi hanyalah dengan jalan menuntut dan mendalami ilmu agama berdasarkan al-Quran dan sunnah Rasulullah sallallahu`alaihiwasallam serta mengikuti manhaj Salafus Soleh. Begitulah juga mereka yang bermudah-mudah berkata tentang Allah atau Sifat-sifatNya, dan berkenaan agamaNya tanpa ilmu dan petujuk yang benar, mereka yang telah terpedaya dengan perintah syaitan agar berkata tentang Allah tanpa ilmu terdiri daripada orang-orang Yahudi dan Nasrani serta kebanyakan ahli bid`ah seperti Syiah, Muktazilah, Jahmiyyah, Khawarij, Sufiyyah dan Asya`irah, mereka terperangkap dengan tipu daya syaitan ini lalu terjatuh dalam bid`ah-bid`ah mereka apabila mereka bercakap tentang Allah dan agamanya tanpa ilmu dan petunjuk Salaf, mereka yang melakukan perkara sebegini jelaslah mereka telah berjaya diperdaya oleh Iblis dan tenteranya. Antara contoh petunjuk Nabi sallallahu`alaihiwasallam menjelaskan solusi untuk masalah ini:

يأتي الشيطان أحدكم فيقول فمن خلق كذا من خلق كذا؟ حتى يقول :من خلق ربك , فإذا بلغه فليستعذ بالله ولينته.

“Syaitan akan datang kepada kamu, dan berkata: “siapakah yang mencipta ini ?, dan ini?”, hinggalah dia berkata: “Siapa yang mencipta Tuhanmu?, jika smpai kepadanya (syak tersebut) maka hendaklah dia isti`azah minta prlindungan kepada Allah dan berhenti (dari memikirkannya).”

‎[HR Bukhari dlm Khalq `Afalul`Ibad 11, bab Sifat Iblis dan tenteranya, Imam Al-Asbahani, Al-Hujjah fi bayan Al-Mahajjah m/s;108]

Satu lagi petunjuk Nabawiyyah dlm masalah mengekang bisikan syaitan tersebut ke dalam hati kita:

إن أحدكم يأتيه الشيطان فيقول: من خلقك؟ فيقول: الله، فيقول: فمن خلق الله؟! فإذا وجد ذلك أحدكم فليقرأ: آمنت بالله ورسله، فإن ذلك يذهب عنه “.

Sesungguhnya salah seorang dikalangan kamu akan didatangi syaitan lalu dia berkata: “siapakah yg menciptamu?”, lalu dia menjawab Allah, lalu dia bertanya lagi; “siapa Allah?” sesiapa yang mendapati keadaan tersebut dikalangan kamu maka bacalah; “aku beriman dgn Allah dan rasul-rasulNya, maka sesungguhnya hal tersebut menghilangkan was-was darinya”. .

[HR Ahmad, Silsilah As-Shahihah no:116]

Selain itu, berpegang teguh dengan Al-Quran, As-Sunnah serta petunjuk Salaf merupakan perisai yang paling ampuh bagi mengekang kesamaran serta syubhat-syubhat yang dibawa oleh iblis dan tentera-tenteranya syaitan sama ada dikalangan jin mahupun manusia.

3. Menyeru kepada kejahatan dan perkara yang keji (seperti zina, liwat dan sebagainya) serta membangkitkan syahwat (kelazatan) dalam perkara maksiat.

Sesungguhnya inilah jalan yang paling banyak manusia terjerat dan terperangkap di dalamnya. Ketahuilah syahwat antara perkara yang paling mudah digunakan oleh iblis dan tentera-tenteranya untuk menyesatkan manusia. Kita lihat di zaman sekarang berapa ramai yang terlibat dengan perzinaan, pelacuran dan sebagainya?. Permulaan syahwat ialah dengan pandangan mata, kemudian berpindah kepada fikiran yang membangkitkan angan-angan, kemudian tangan tak putus-putus bermesej dan tak cukup bermesej teringin pula nak bertemu dan apabila nafsu menguasai diri dan apabila syahwat dan perasaan menggantikan tempat iman maka berlakulah perkara yang dibenci oleh Allah.

Sesungguhnya iblis telah berjanji bahawa dia akan menyesatkan kita dengan membangkitkan angan-angan kosong seperti dirakamkan dalam al-Quran:

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ

“Dan aku akan benar-benar menyesatkan mereka, dan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka”. .

[an-Nisa`: 119]

Hendaklah perkara sebegini diambil perhatian, kadang-kadang kita melihat sesuatu perkara itu sebagai baik padahal ianya adalah perangkap syaitan. Sesetengah mereka sangat suka mendengar muzik dan lagu-lagu yang mengandungi lirik yang membangkitkan syahwat dan lagu yang melekakan kononya ianya dapat menenangkan perasaan padahal ianya hanyalah melalaikan dan menimbulkan angan-angan kosong. Tidak kurang juga mereka yang menghalalkan muzik dan menggunakannya atas nama muzik islam, nasyid dan sebagainya, Sebahagian mereka pula merasa tidak malu apabila menunjukkan aurat mereka di hadapan manusia, sanggup menjadikan tubuh-tubuh mereka sebagai bahan tontonan di khalayak ramai, bertabarruj di dalam internet, akhbar-akhbar dan majalah-majalah dan mereka merasakan perkara itu adalah baik bagi mereka. Sedangkan ianya hanyalah nikmat yang sementara.

4. Menakut-nakutkan dalam urusan agama sehingga berputus asa dengan rahmat Allah.

Apabila Iblis dan syaitan berjaya menjerumuskan seseorang terhadap kemaksiatan terhadap kepada Allah maka dia tidak hanya berhenti di situ malah dia akan menakut-nakutkan mereka yang berdosa dengan dosa mereka sehinggakan dia membuatkan mereka yang berdosa akan berputus asa daripada untuk bertaubat kepada Allah, sedangkan Allah membukakan pintu taubat bagi sesiapa yang mengharapkan keampunan dan rahmatNya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَلِقَائِهِ أُولَئِكَ يَئِسُوا مِنْ رَحْمَتِي وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.

“Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmatKu, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.”

[al-Ankabut: 23]

Dan Allah berfirman lagi:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

[an-Nuur: 31]

Dan Allah berfirman lagi:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Wahai hamba-hambaKu yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[az-Zumar:53]

Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu katanya:Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من تاب قبل أن تطلع الشمس من مغربها تاب الله عليه

“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari sebelah barat maka Allah menerima taubatnya.”

[HR Muslim]

Dan daripada Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhu katanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنّ الله عزّوجلّ يقبل توبة العبد ما لم يغرغر

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seseorang hambaNya selagi nyawanya belum sampai di kerongkongan.”

Semoga dengan apa yang disampaikan ini dapat memperingati diri kita semua dan semoga kita digolongkan dalam golongan orang-orang yang sentiasa berwaspada terhadap langkah-langkah syaitan untuk menyesatkan kita, semoga kita sentiasa termasuk di kalangan golongan yang selamat daripada tipu daya iblis dan tentera-tenteranya serta memasukkan kita dalam golongan yang sentiasa bertaubat dan kembali kepada Allah Ta`ala.

Yang Mengharap keampunanNya,
Abul Hussein
Universiti Islam Madinah An-Nabawiyyah.
26 Jumadil Thani 1432H/29 Mei 2011

 

Pengertian Kelompok Sesat

Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i -rahimahullah- mendapat pertanyaan sebagai berikut,

هل الإخوان المسلمون يدخلون تحت مسمى الفرقة الناجية، والطائفة المنصورة، أهل السنة والجماعة منهجًا وأفرادًا أم لا؟

“Apakah al Ikhwan al Muslimun (IM) itu termasuk firqoh najiyyah (golongan yang selamat), thoifah manshuroh (golongan yang mendapatkan pertolongan), ahli sunah wal jamaah secara manhaj kelompok dan person-personnya ataukah tidak?”.

الجواب: أما المنهج فمنهج مبتدع من تأسيسه ومن أول أمره، فالمؤسس كان يطوف بالقبور وهو حسن البنا، ويدعو إلى التقريب بين السنة والشيعة، ويحتفل بالموالد، فالمنهج من أول أمره منهج مبتدع ضال.

Jawaban beliau, “Adapun manhaj atau jalan IM secara kelompok adalah jalan yang bid’ah semenjak awal berdirinya dan semenjak pertama kali keberadaannya. Pendiri IM yaitu Hasan al Banna adalah orang yang tawaf mengelilingi kubur, mempropagandakan upaya mendekatkan sunnah dan syi’ah dan merayakan maulid Nabi. Jadi manhaj atau jalan beragama IM secara kelompok adalah manhaj yang bid’ah dan sesat.

أما الأفراد فلا نستطيع أن نجري عليهم حكمًا عامًا، فمن كان يعرف أفكار حسن البنا المبتدع ثم يمشي بعدها فهو ضال، ومن كان لا يعرف هذا ودخل معهم باسم أنه ينصر الإسلام والمسلمين ولا يعرف حقيقة أمرهم فلسنا نحكم عليه بشيء، لكننا نعتبره مخطئًا ويجب عليه أن يعيد النظر حتى لا يضيع عمره بعد الأناشيد والتمثيليات، وانتهاز الفرص لجمع الأموال.

Sedangkan person yang ada dalam IM maka kami tidak bisa memberi penilaian secara general. Sehingga perlu kita rinci:

a. Person yang mengetahui pemikiran-pemikiran Hasan al Banna kemudian masih tetap mengikutinya maka orang tersebut adalah orang yang sesat.

b. Sedangkan orang yang tidak mengetahui hal ini dan bergabung bersama mereka karena beranggapan bahwa IM itu menolong Islam dan kaum muslimin serta tidak mengetahui hakikat IM yang sebenarnya maka kita tidak bisa memberi penilaian sesat terhadap orang tersebut. Akan tetapi kita menilainya sebagai orang yang keliru. Orang tersebut berkewajiban untuk melakukan pengkajian ulang supaya waktu dan umurnya tidak terbuang sia-sia dikarenakan sibuk dengan nasyid dan sandiwara serta memanfaatkan berbagai kesempatan untuk mengumpulkan harta”

[Tuhfah al Mujib fi As-ilah al Hadhir wa al Gharib, terbitan Dar Haramain Kairo, halaman 101, cetakan pertama 1424 H].

***

Dalam keterangan di atas terdapat kaedah dalam penilaian yang sangat penting namun dilalaikan oleh banyak orang.

Kaedah tersebut iaitu penilaian sesat yang diberikan oleh para ulama ahli sunah terhadap suatu kelompok adalah penilaian terhadap manhaj atau jalan beragama kelompok tersebut, bukan penilaian untuk semua person/individu atau anggota kelompok tersebut.

Sedangkan penilaian untuk masing-masing person atau anggota kelompok tersebut maka itu tergantung keadaan person tersebut, apakah dia mengetahui letak kesesatan manhaj atau jalan beragama kelompok tersebut ataukah tidak. Hanya orang yang telah mengetahui letak penyimpangan dan kesesatan kelompok tersebut namun masih saja mendukung kesesatan tersebutlah yang dinilai sebagai orang yang sesat sebagaimana sesatnya kelompok yang dia ikuti.

Contoh lain selain kelompok yang telah dibahas dalam fatwa di atas adalah LDII. Ketika kita nilai bahwa LDII adalah kelompok sesat maka hal ini bukanlah berarti kita menilai semua anggota LDII adalah orang sesat. Untuk person dan anggota LDII kita perlu memberi rincian. Anggota yang telah mengetahui kesesatan LDII dalam masalah takfir (tuduhan kafir) kepada orang yang berada di luar LDII dan sisi kesesatan yang lain, itulah orang yang kita nilai sebagai orang yang sesat dan ahli bid’ah. Sedangkan orang LDII yang masuk LDII karena kepolosannya dan karena dia mengira LDII itu berada dalam kebenaran lantaran materi kajiannya adalah al Qur’an, kutub sittah (enam buku induk dalam bidang hadits) dan kitab yang jumlahnya 13 yang seluruhnya hanya berisi ayat al Qur’an dan hadits nabi maka orang semacam ini tidak kita nilai sebagai orang yang sesat atau ahli bid’ah. Orang tersebut hanya kita nilai sebagai orang yang keliru secara tidak sengaja dan orang yang salah jalan dikarenakan tertipu dengan penampilan luar dari LDII.

Dengan memahami kaedah ini secara baik maka kita akan bisa memahami perkataan para ulama dengan tepat dan lebih bisa bersikap arif dan bijaksana dalam bersikap dan memberi penilaian.

Sungguh ilmu itu sangat indah dan bernilai. Semoga kita selalu menjadi pencarinya.

Artikel www.ustadzaris.com