Apakah Daulah Saudi Penyokong dan Tali Barut Amerika dan Hakikat Disebalik Hisbullah di Lubnan?

Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Muhammad Al Luhaidan
(Ketua Majlis Qadha’ A’la [Saudi Arabia])

 

Penanya:

“Syaikh, kami memiliki beberapa pertanyaan. Kami minta izin kepada Anda untuk menyebarkannya.”

Pertama ada pertanyaan yang berbunyi:

“Kami mendengar di sebagian media adanya celaan kepada negeri kita ini (Saudi ) dan pemerintahnya, khususnya di akhir-akhir ini. Hal ini terjadi setelah (kejadian) Israel menyerang Libanon. Beberapa komen yang akan keterlaluan hingga mereka menjadikan negara Saudi, Israel dan Amerika sebagai satu kelompok. Semuanya kafir dan saling berwala’ (berloyalitas).

Maka apa komentar anda, sebab kami mengetahui bagaimana pemerintah kami mencintai Islam dan kaum Muslimin? (Pemerintah kami) juga mendakwahkan Islam yang benar lagi murni, bahkan diantara mereka (pemerintah) dan para ulama saling memberi nasihat dan musyawarah dalam agama.”

 

Maka jawab beliau:
Kekufuran itu adalah kalimat klasik yang biasa mereka lontarkan. Yang mereka ucapkan tidak lain adalah dusta. Tidak diragukan lagi bahwa kerajaan Saudi Arabia adalah yang menjadi target untuk diganggu oleh Amerika…

Bukankah mereka telah menekan lembaga-lembaga sosial dan bercita-cita untuk menghentikan dan membekukan bantuan (kaum muslimin untuk muslimin).

(Amerika) menghalangi usaha-usaha baik mereka (Arab Saudi) –semoga Allah melenyapkan kebongkakan Amerika dan menghancurkan kekuatannya-. Bukankah mereka menuduh para pembesar (negeri ini) sebagai pengganas?! Yaitu apa yang mereka ulurkan berupa sedekah untuk orang-orang fakir dari kaum muslimin dan pertolongan mereka terhadap yayasan-yayasan sosial di sana dalam mengajarkan ilmu.

Maka yang mengatakan bahwa Saudi bersama Yahudi dan Amerika, tidak lain hal itu diucapkan oleh orang yang di hatinya ada kedengkian terhadap aqidah ini dan para pembawa serta pembelanya. Kedengkian-kedengkian itu hanya akan menjerumuskan pelakunya ke lembah kehinaan dan kejelekan.

Tidak diragukan lagi… bahwa di dunia Islam tidak ada negara yang dapat memberikan bantuan melalui badan-badan dan lembaga-lembaga sosial seperti yang dilakukan oleh negara ini , baik atas nama pemerintah ataupun pribadi.

Saya tidak suka kalau disebut “Israil (yang membantai-pent)”, sebab Israil adalah nama lain dari Nabi Allah, Ya’qub alaihissalam.

Adapun mereka, (yang membantai), adalah keluarga para babi dan monyet… Tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah Yahudi, bukan Israil. Tapi mereka menggunakan nama itu. Kemudian menjadi kesalahan dari ummat ini, baik itu negara Islam atau yang menjadikan Islam sebagai simbolnya menamakan mereka dengan nama Israil.

Negara Yahudi menamakan dirinya dengan Israil, yakni di atas dasar keyahudian. Dan tidak diragukan lagi bahwa setiap orang yang berakal di dunia ini, apakah dari Nasrani di Barat ataupun orang kafir di Timur, melainkan dia tahu bahwa Amerika sangat gigih untuk melecehkan dunia Islam –diantaranya termasuk Arab Saudi–.

Namun –dengan pertolongan Allah sajalah– dikarenakan kita berpegang teguh kepada agama kita yang benar dan kita menggigitnya –dengan gigi geraham kita– secara jujur, serta kita mengikhlaskan amal kita untuk Allah. Maka Allah menolong hamba-hambanya yang beriman. Tidak ada penyebab terlambat datangnya pertolongan Allah melainkan karena kehinaan hamba-hamba-Nya tersebut, yakni disaat mereka menyia-nyiakan agamanya.

Maka kita mohon kepada Allah agar menampakkan kekuasaan-Nya -dengan segera tanpa ditunda- atas Amerika yang akan membahagiakan kaum mukminin…Iya.”

 

Penanya:

“Jazakallahu khairan, Syaikh.”

Ada penanya berkata:
“Syaikh Shalih bin Muhammad Al Luhaidan yang mulia, semoga Allah menjaga Anda dan membimbing Anda. Tidak tersamarkan atas Anda berbagai kondisi yang dialami kaum muslimin di dunia Islam, terjadi berbagai fitnah dan peperangan. Khususnya peperangan yang terjadi antara Yahudi dan kelompok Hizbullah yang merupakan kelompok Syi’ah di Libanon. Maka apa sikap seorang muslim terhadap peperangan ini?

Sebab kita mendengar adanya ajakan untuk berjihad bersama mereka dan mendo’akan kemenangan untuk mereka ketika qunut.
Kaum muslimin menjadi bingung terhadap hal ini. Maka apa pengarahan dari Anda?”

Jawab:
“Tidak diragukan lagi bahwa kelompok yang menamakan dirinya dengan Hizbullah (kelompok Allah-pent) adalah Hizbur Rafidhah (kelompok rafidhah). Dan Rafidhah telah diketahui (kesesatannya-pent) dan telah diketahuinya (sesatnya) manhaj metode mereka. Hakikat mereka adalah mereka menganggap mayoritas Ahlus Sunnah…(bahwa-pent) semua Ahlus Sunnah adalah orang kafir. Inilah mereka dan perkara ini tidaklah samar bagi orang yang menelaah buku-buku mereka.

Maka kita berlindung kepada Allah, jika kebenaran menolong dan membela mereka serta membantu mereka, hal itu akan membuat mereka semakin kuat. (Ingatlah) mereka bagian dari Iran. Tidak ragu lagi (benarnya-pent). Hanya saja ucapan pemimpin Mesir, bahwa Syi’ah yang ada di negara itu berbeda dengan Iran. Sesungguhnya kecondongan dan Iman mereka bersama Iran.

Namun manusia jika mereka ditimpa musibah, hendaknya mereka berusaha untuk mengobatinya dengan apa yang tepat dijadikan sebagai obat berbagai kondisi tersebut.

Adapun apa yang menimpa Libanon secara umum, kalau tidak bisa dikatakan semua, dalangnya adalah kelompok ini. Mereka yang menamakan dirinya dengan kelompok Allah (Hizbullah), sebenarnya mereka adalah Hizbusy Syaithon (Kelompok/Partai Setan) ! Sekian.

(Fatwa ini adalah kutipan fatwa suara syaikh Shalih Al Luhaidan ketika menjawab dua pertanyaan saat Daurah Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah. URL Sumber http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=337317. Fatwa ini diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Mu’awiyah Muhammad Ali bin Ismail al Medani)

Artikel Asal dan Transkrip dalam bahasa Arab
http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/03/24/apakah-kerajaan-saudi-arabia-berjalan-bersama-yahudi-dan-amerika/

Antara Saudi dan Iran

Berbicara tentang sebuah realiti memang harus didasari ilmu. bagaimana jadinya jika ternyata seseorang salah dalam berbicara tentang sebuah realiti? Tentu kekonyolanlah yang akan ia dapatkan. Terlebih ketika realiti tersebut memang sudah menjadi suatu yang umum diketahui semua kalangan.

Kiranya inilah yang sering menimpa sebagian saudara-saudara kita kaum muslimin, di mana mereka sering salah dalam menyikapi sebuah realiti yang sebenarnya sudah jelas keadaannya, sebagaimana jelasnya rembulan purnama dimalam yang cerah.

Diantaranya adalah ketika menyikapi daulah Saudi Arabiyah yang dipenuhi kebaikan. Padahal dengan sangat jelas kebaikannya dapat dirasakan semua kalangan, baik bagi mereka yang berada di negeri tersebut atau yang berada di luar, tak terkecuali kaum muslimin yang berada di Indonesia. diantara kebaikannya untuk masyarakat Indonesia adalah:

  1. Bantuan untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Aceh Darussalam dalam jumlah yang sangat besar.
  2. Bantuan dana untuk pembangunan masjid di daerah Palu senilai 900 juta.
  3. dan masih banyak lagi yang tidak mungkin kami sebutkan satu per satu.

Demikian pula bantuannya untuk saudara-saudaranya yang tertimpa bencana di berbagai negeri dibelahan dunia:

  1. Untuk saudaranya yang tertimpa musibah di daerah Gaza dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan himbauan ini langsung dari raja Abdullah.
  2. dan masih banyak lagi yang sekali lagi; tidak bisa kami sebutkan satu persatu dalam tulisan yang terbatas ini.

Berbeza halnya dengan Iran, sebuah negara yang sejak awal munculnya sudah memikul sejarah buram.

  1. Iran atau yang juga disebut sebagai Persia adalah basis orang-orang majusi, para penyembah api.
  2. Iran yang padanya terdapat sebuah daerah yang bernama Ashbahan adalah basis bagi orang-orang yahudi dan akan menjadi pengikut Dajjal. sebagaimana yang telah dijelaskan nabi kita didalam haditsnya yang shahih.Yang lebih ‘mengagumkan’ ternyata Iran adalah salah satu negara yang memiliki banyak  ‘koleksi’ bangsa Yahudi.
  3. Iran adalah markas besar bangsa Syi’ah Rafidhah dengan ‘pimpinan’ nya: Ayat Syaithan Al-Khumaini.

Semoga Allah melindungi kita semua dari fitnah Majusi, Yahudi, dan Syi’ah.

Itulah sebagian kecil dari potret buram negara Iran yang dieluh-eluhkan sebagian kalangan sebagai negara Islam.
Bahkan sampai hari ini keloyalan mereka terhadap bangsa Yahudi sangatlah jelas, tentunya bagi mereka yang selalu memperhatikan waqi’/ realiti yang terjadi tidak akan mengingkarinya, cukuplah ini sebagai bukti,

ini juga,

ini juga,

ini juga,

ini juga,

ini juga,

ini juga.

dan masih banyak lagi…….

Walaupun secara zahirnya ia selalu mengecam Yahudi dan kebijakannya, ternyata….. subhanallah.

Artikel: http://haulasyiah.wordpress.com

Akibat Belajar Islam di Negeri Iran

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-

Beliau bersabda,

سَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ, يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ, وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا اْلأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ . قِيْلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قال: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِيْ أَمْرِ العَامَّةِ

“Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu; di dalamnya pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan; orang yang penipu dipercaya, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat, serta ruwaibidhoh ikut berbicara”. Ada yang bertanya, “Apa itu ruwaibidhoh (orang lemah)?” Beliau bersabda, “Dia adalah seorang hina (dungu) berkomentar tentang urusan umum”.

[HR. Ibnu Majah dalam Kitab Al-Fitan (4036). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no.1887)]

Tulisan ini sengaja kami angkat & komentari dalam menyikap sebuah artikel berjudul “Islam: Inovasi atau Stagnasi?” yang ditulis oleh Ismail Amin, seorang mahasiswa Mostafa Internasional University Islamic Republic of Iran.

Beliau kami sebut di sini dengan nama “si Penulis”.

Ia merupakan sebuah contoh mudah bahawa seorang yang belajar kepada orang-orang Syi’ah-Rofidhoh di Repulik Iran, akan mengalami perubahan dalam gaya bahasa dan berfikir bebas, tanpa kawalan dalam mengeritik perkara yang sudah baku, dan tak ada hak otoriti baginya dalam hal itu. Sehinggakan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pun berusaha dikritiknya.

Pembaca akan melihat sepak terjangnya dalam beberapa poin berikut:

Tertipu dengan Kemajuan kaum kafir, dan Bersedih atas Kemunduran Kaum Muslimin dalam Perkara Keduaniaan

Para pembaca yang budiman, si Penulis termasuk rantaian para korban yang tertipu dengan kemajuan kaum kafir –semisal USA- dalam teknologi dan perekonomian, dan sebaliknya menyedihkan ketertinggalan dan kemunduran kaum muslimin dalam hal itu.

Dengarkan ia bersedih,

“Ketertinggalan bangsa kita, khususnya umat Islam, dalam pengembangan ilmu pengetahuan tidak terbantahkan. Etos keilmuan masyarakat kita sangat rendah”.

[Lihat Tribun Timur (hal.4)]

Sebelumnya ia mengawali kesedihannya dengan menukil ucapan orang yang sepemikiran dengannya, yaitu Nurcholis Madjid saat ia berkata,

“Praktis di semua penganut agama besar di muka bumi ini, para pemeluk Islam adalah yang paling rendah dalam sains dan teknologi”.

[Tribun (hal.4)]

Seorang yang menyinari dirinya dengan cahaya Al-Qur’an & Sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sebenarnya tak perlu terlalu menyedihkan hal itu.

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”.

(QS. Ali Imraan: 196-197).

Kebebasan dan kemajuan orang-orang kafir dalam perdagangan dan teknologi tidak perlu menyedihkan kita, karena mereka hanya bersenang-senang dalam waktu pendek. Adapun orang-orang beriman mereka akan mendapatkan kesenangan abadi. Kalian Cuma bisa berusaha di dunia, Allah yang menentukan kemenangan. [Lihat Taisir Al-Karim (hal. 162)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

فَوَاللهِ لاَ الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas diri kalian. Tapi khawatirkan kalau dibukakan dunia bagi kalian sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang (kafir) sebelum kalian, lalu mereka pun berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka berlomba-lomba meraihnya; (aku juga khawatirkan) kalau dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka”.

[HR. Al-Buhkoriy dalam Shohih-nya (3158, 4015 & 6425), dan Muslim (2961)]

Yang perlu disedihkan adalah terjadinya kemunduran beragama. Kalian akan melihat kemunduran beragama ini dengan merebaknya kesyirikan dimana-mana, bid’ah, maksiat, dan kekafiran sebagaimana yang terlihat di negeri kita, bahkan di negeri yang dikagumi oleh si Penulis, yaitu Iran. Di Iran –khususnya bulan Muharram- banyak terjadi kesyirikan, bid’ah, maksiat, kekafiran dan pelanggaran agama ketika memperingati hari kematian Husain.

Di hari itu mereka (Syi’ah-Rofidhoh) di hari Karbala’ berpesta pora sambil menzalimi diri mereka dengan melukai kepala mereka sebagai ungkapan belasungkawa atas penderitaan Husain saat ia dibunuh menurut sangkaan mereka yang batil. Di hari itu mereka melakukan acara ritual yang aneh dengan meletakkan dahi mereka dan bersujud di tanah sambil merangkak, menuju pusara Husain yang mereka pertuhankan. Belum lagi kebencian mereka yang amat ekstrim kepada para pejuang Islam, yakni para sahabat, seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Abu Hurairah, A’isyah dan lainnya -radhiyallahu ‘anhum- .

Pesantren Dianggap sebagai Tempat Pembelengguan Akal

Di mata si Penulis, pesantren dianggap tempat pembelengguan akal. Ini nampak dalam ucapannya,

“Kebanyakan lembaga pendidikan Islam (baca: pesantren) justru menjadi tempat pembelengguan potensi kreatif anak didik yang paling efektif”.

[Tribun hal.4]

Pesantren merupakan pusat pendidikan Islam dari dulu sampai kini yang menciptakan banyak kader ulama, bukan tempat pembelengguan akal. Jika sebagian pesantren memusatkan perhatiannya dengan masalah agama sehingga mereka minima akedemiknya, maka ini bukanlah suatu celaan bagi pesantren.

Sama halnya, jika ada lembaga pendidikan umum yang memusatkan perhatiannya dengan ilmu akademik sehingga lebih minima ilmu agamanya, maka ini juga bukanlah celaan baginya. Masing-masing lembaga mengembangkan kemampuannya dalam membangun Islam. Perlu diketahui oleh si Penulis, pesantren kini juga telah mengembangkan sayapnya dalam ilmu akademik. Lalu mengapa si Penulis menyudutkan pesantren? Apakah si Penulis menginginkan kita semua sibuk dengan ilmu dunia sehingga kita meninggalkan ilmu agama dan semua jahil? Ataukah sekedar cari jalan mencela Islam & ulama agar ia popular?! Wallahu a’lam.

Sebenarnya yang perlu disalahkan (dikritik) oleh si Penulis jika umat Islam terbelakang dalam teknologi adalah para inteketual dan cendekiawan yang berkaprah di ilmu akademik. Jangan malah pesantren dikambing hitamkan sehingga pada gilirannya memberikan pendapat bahwa Islam tidak relevan , statik, dan tidak menerima perkembangan teknologi yang membangun Islam. Jika ada yang memusatkan diri belajar agama, maka tak ada salahnya agar kaum muslimin juga kuat dalam segi agama. Sebab kejayaan itu ada pada kekuatan pemeluknya berpegang teguh dengan agamanya.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَيَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegang ekor-ekor sapi (sibuk ternak), ridho dengan bercocok tanam (sibuk tani), dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan kehinaan atas diri kalian; tak akan dicabut oleh Allah sampai kalian kembali kepada agama kalian”.

[HR. Abu Dawud dalam Kitabul Ijaroh (3462). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (11)]

Dengan kembali kepada agama-Nya, maka Allah akan bukakan bagi mereka pintu-pintu kebaikan dan berkah duniawi dan ukhrawi, seperti yang dialami oleh negeri Saudi Arabia.

Berburuk Sangka kepada Ulama & Tidak Menghargai Jasa Para Ulama

Kebiasaan orang Syi’ah-Rofidhoh dalam mencela ulama, ini diadopsi dan diserap oleh si Penulis. Lihat saja ia merendahkan ulama dan menutup mata dari jasa baik mereka saat si Penulis berkata,

“Selain itu, apapun dari ustadz dan ulama selalu dianggap benar tanpa studi kritis yang berarti. Islam yang kita kenal dari mereka tidak lebih dari deretan aturan hitam putih”.

[Lihat Tribun (hal.4)]

Apa yang dinyatakan oleh si Penulis tidak boleh dibenarkan secara mutlak. Sebab kaum muslimin faham bahawa para ulama bukan nabi dan rasul sehingga harus taqlid sepenuhnya. Kaum muslimin faham bahwa seorang ulama hanyalah pewaris para nabi dalam menyampaikan risalah Islam, namun mereka tak maksum (tak bersih dari dosa dan kesalahan). Mereka manusia biasa seperti kita, boleh jadi benar atau salah. Jika ia benar karena mengikuti Sunnah, maka kita wajib mengikutinya. Sebaliknya, jika mereka keliru karena menyelisihi sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka kita tinggalkan ucapan ulama tersebut, dengan tetap memuliakannya sesuai posisinya, tanpa ekstrim dalam mendudukkan mereka seperti nabi atau tuhan !!

Al-Imam Malik -rahimahullah- berkata,

“Setiap orang boleh diambil ucapan dan pendapatnya, dan juga boleh ditinggalkan kecuali penghuni kubur ini (yakni Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-)”.

[Lihat Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih (2/91)oleh Ibnu Abdil Barr]

Jadi, para ulama adalah pewaris para nabi dalam menyampaikan risalah Islam, diletakkkan pada tempatnya, tanpa mengkultuskannya, dan tidak pula merendahkan dan menghinakannya.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bersabda:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ, وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا, وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sedang para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Tapi mereka hanya mewariskan ilmu (agama). Jadi, barang siapa yang mengambilnya, maka sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak”.

[HR. Al-Bukhoriy secara mu’allaq dalam Kitabul Ilmi (1/37), Abu Dawud dalam Kitab Al-Ilmi (3641), At-Tirmidziy dalam Kitabul Ilmi (2682), dan Ibnu Majah (223). Lihat Shohih Al-Jami’ (6297)]

Si Penulis bukan Cuma ulama masa kini yang direndahkan, bahkan sahabat dan murid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yaitu sahabat Abu Hurairah. Tak heran jika si Penulis melakukan hal itu, sebab para pendahulu mereka dan guru mereka di Iran yang beragama Syi’ah-Rofidhoh, amat besar kebenciannya kepada para sahabat, utamanya Abu Hurairah, karena beliaulah yang banyak meriwayatkan hadits yang berisi ajaran Islam. Mereka mencela Abu Hurairah agar dapat menjauhkan kaum muslimin dari Islam.

Dengarkan si Penulis merendahkan sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-,

“Maksimalisme agama pada dasarnya hanya menempatkan otak hanya sebagai isi kepala tanpa peran berarti… Maksimalisme agama hanya akan menyeret manusia zaman Bill Gates ini ke zaman Abu Hurairah”.

[Lihat Tribun (hal.4)]

Ini merupakan pelecehan kepada sahabat Abu Hurairah, sebab ucapan ini menjelaskan bahwa Abu Hurairah termasuk orang yang terpasung otaknya, hanya membebek buta kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Bahkan ini merupakan pelecehan kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sebab menuduh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memasung otak dan akal para sahabatnya, tanpa dibiarkan berpikir. Sungguh ini adalah ucapan kufur yang bisa membuat seorang murtad, sebab mengolok-olok Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman”.

(QS. At-Taubah: 65-66).

Syaikh Ibnu Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata ketika menafsirkan ayat ini,

“Sesungguhnya mengolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya adalah kekafiran yang mengeluarkan orang dari agamanya, karena prinsip agama ini terbangun di atas pengagungan kepada Allah, agama, dan Rasul-Nya. Sedangkan mengolok sesuatu di antara perkara itu adalah merobohkan prinsip ini, dan menentangnya dengan sekeras-kerasnya”.

[Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 343)]

Demikian pula mengolok-olok sahabat, apalagi sampai merendahkan dan mencelanya, bahkan sampai mengkafirkannya. Perbuatan seperti hanyalah dilakukan kaum zindiq (munafiq). Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda dalam menerangkan martabat para sahabat,

لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَلَوْا أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Andaikan seorang di antara kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, niscaya infaq itu tak mampu mencapai satu mud infaq mereka, dan tidak pula setengahnya”.

[HR.Al-Bukhary dalam Ash-Shahih (3470), Muslim (2541)].

Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Rozy -rahimahullah- berkata,

“Apabila engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka ketahui bahwa orang itu zindiq. Karena Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- di sisi kami benar, dan Al-Qur’an adalah kebenaran. Sedangkan yang menyampaikan Al-Qur’an ini kepada kami adalah para sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam-. Mereka (para pencela tersebut) hanyalah berkeinginan untuk menjatuhkan saksi-saksi kami agar mereka bisa membatalkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Padahal celaan itu lebih pantas bagi mereka, sedang mereka adalah orang-orang zindiq”.

[Lihat Al-Kifayah, (hal. 49)]

Terakhir, kami nasihatkan melalui ucapan Al-Hafizh Ibnu Asakir -rahimahullah-,

“Ketahuilah bahwa daging para ulama -rahmatullah alaih- adalah beracun. Diantara sunnnatullah dalam menyingkap aib orang yang merendahkan mereka adalah telah dimaklumi, karena mencela mereka dengan sesuatu yang tak ada pada mereka adalah perkaranya besar”.

[Lihat Tabyiin Kadzib Al-Muftari (hal. 29)]

Mudah-mudahan torehan pena ini menjadi nasihat bagi si Penulis dan orang-orang yang tertipu dengan agama Syi’ah-Rofidhoh. Kami berharap kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Penyayang agar kami dimatikan di atas Islam yang dibawa oleh para sahabat.

Sumber:

Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 95 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

judul asli: Bahaya Kebebasan Berpikir
Sumber: http://almakassari.com/?p=320
Artikel: http://haulasyiah.wordpress.com

Pembelaan Terhadap Ahli Madinah Daripada Tipu Daya Dajjal dan Pengikutnya

Disaat huru-hara, demontsrasi, kekacauan, fitnah yang berlaku di hampir keseluruhan negara-negara Arab, namun Allah masih menjaga keamanan di Madinah An-Nabawiyyah di mana bumi yg bersemadinya jasad insan yang paling mulia Muhammad sallallahu ‘alaihiwasallam. Begitu juga melihat syirik, khurafat, bid’ah yang membelenggu hampir kesemua negara-negara umat memang menakutkan dan menyedihkan. Justeru disebalik kesedihan dan ketakutan itu maka Allah Ta‘ala masih menjaga kedua tanah Haram daripada belenggu kesyirikan, dan bid’ah hinggakan syi’ar Tauhid dan panji Sunnah sentiasa tertegak di sini.

Benarlah sabda Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam:

إِنَّ الإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى المَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا

“Sesungguhnya Iman akan kembali berhimpun ke Madinah sebagaimana kembalinya ular ke lubangnya.”

[HR Bukhari no:1876]

Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengulas maksud hadith ini;

قَوْله كَمَا تأزر الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا أَيْ إِنَّهَا كَمَا تَنْتَشِرُ مِنْ جُحْرِهَا فِي طَلَبِ مَا تَعِيشُ بِهِ فَإِذَا رَاعَهَا شَيْءٌ رَجَعَتْ إِلَى جُحْرِهَا كَذَلِكَ الْإِيمَانُ انْتَشَرَ فِي الْمَدِينَةِ وَكُلُّ مُؤْمِنٍ لَهُ مِنْ نَفْسِهِ سَائِقٌ إِلَى الْمَدِينَةِ لِمَحَبَّتِهِ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَشْمَلُ ذَلِكَ جَمِيع الْأَزْمِنَةِ لِأَنَّهُ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلتَّعَلُّمِ مِنْهُ وَفِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعيِهِمْ لِلِاقْتِدَاءِ بِهَدْيِهِمْ وَمِنْ بَعْدِ ذَلِكَ

“Maksud sebagaimana kembalinya ular ke lubangnya iaitu sebagaimana ianya bertebaran keluar daripada lubangnya untuk mencari apa yang boleh menjamin keberlangsungan hidupnya, apabila ada sesuatu yang mebuatkan dirinya takut maka ia kembali ke lubangnya, begitulah juga Iman (ahli-ahlinya), yang bertebaran di Madinah, dan setiap mukmin bagi dirinya sendiri akan cenderung untuk datang ke Madinah disebabkan kecintaannya terhadap Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam maka kelebihan (madinah) ini merangkumi setiap zaman kerana sesungguhnya pada zaman Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam kehadiran mereka ke sana adalah bertujuan untuk mempelajari ilmu daripada baginda, dan pada zaman Sahabat dan Tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka bertujuan untuk mengikuti dan mencontohi petunjuk mereka dan begitu orang-orang selepas mereka.”

[Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari 4/ 93]

Kata Ibn Batthal rahimahullah ketika menyifatkan Iman dan ahlinya di Madinah:

فكذلك الإيمان لما دخلته الدواخل لم يقصد المدينة إلا مؤمن صحيح الإيمان

“Begitulah iman disebabkan apa yang asing telah memasukinya (berupa syirik dan bid’ah), tidaklah bertujuan untuk datang ke Madinah melainkan seorang mukmin yang shahih imannya.”

[Syarah Shahih Al-Bukhari Ibn Batthal 4/548]

Perlu diingatkan bukan semua yang ada dan datang belajar di Madinah adalah mereka yang benar dan shahih imannya, dan maksud kalam Ibnu Batthal itu jelas menunjukkan mereka yang rosak akidahnya dan bercanggah dengan akidah yang shahih seperti penganut akidah Syiah, Sufiyyah, Asya’irah adalah tidak termasuk dalam maksud kalam Nabi kerana akidah mereka bercanggah dan berlawanan dengan Akidah Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam, para sahabat, tabi’in dan para ulama’ salafussoleh. Maka disini neraca Al-Quran dan As-Sunnah serta Manhaj Salaf sangat diperlukan untuk menentukan keshahihan akidah seseorang.

Sebab itulah Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

أَلَا إِنَّ الْمَدِينَةَ كَالْكِيرِ، تُخْرِجُ الْخَبِيثَ، لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَنْفِيَ الْمَدِينَةُ شِرَارَهَا، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Maka ketahuilah sesungguhnya Al-Madinah seperti besi (yang dibakar), keluar darinya kotoran, tidak akan berlaku kiamat hinggalah Madinah mengeluarkan orang-orang yang jahat di dalamnya, sebagaimana besi yang panas mengeluarkan kotoran besi.”

[HR Muslim no:1381]

Maka hadith ini menjadi dalil bahawasanya orang-orang yang jahat memang wujud di Madinah sehinggalah Allah mengeluarkan mereka dari Madinah apabila hampir berlaku kiamat nanti, realitinya kita melihat ramai sahaja golongan Syiah, Sufiyyah dan mereka yang tidak berada di atas Manhaj Rasulullah dan Para Salaf masih bertebaran di tanah haram Madinah, maka hadith ini menjadi jawapan konkrit terhadap syubhat sebahagian mereka yang terkeliru dengan masalah ini.

Sebab itu juga perlu diketahui sewaktu Dajjal akan keluar nanti maka ia akan keluar dari Isfahan (Iran di mana sarang dan negara Syiah) dan dia akan diikuti oleh 70 000 Yahudi daripada Isfahan, hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullah daripada Anas bin Malik daripada Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ، سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

“Dajjal akan diikuti oleh 70 000 Yahudi daripada Isfahan (Iran) mereka memakai at-Tayalisah.”

[HR Muslim no:2944]

Maka sesiapa yang berakal dan mahu memikirkan sudah mengetahui betapa eratnya hubungan Yahudi dengan Syiah Rafidhah di Iran, maka hal ini menjadikan kita perlu lebih berwaspada dengan fitnah mereka yang merupakan pengikut dajjal yang teramai sila lihat link ini :

http://www.youtube.com/watch?v=Rn4ZX99Fbxs

Akhir-akhir ini ikhwan Muslimin juga turut menunjukkan wajah mereka yang sebenar apabila dengan bangganya memuji serta menyokong Iran dan pemimpin tertinggi Syiah Rafidhah, Khomenei dan Ahmadinejad serta negara syiah Iran. sila rujuk :

http://www.youtube.com/watch?v=XNOCUcXQ8Q0

Sebagaimana yang didedahkan oleh para Ulama Salaf seperti Ahli Hadith Mesir Syeikh Ahmad Syakir rahimahullah, Ikhwan Muslimin adalah Khawarij, menurut Ulama Salaf Syam, juga anak murid utama Ahli Hadith abad ini Syeikh Al-Albani, Syeikh Salim bin ‘Eid Al-Hilali hafizahullah, beliau menyebut dajjal akan keluar dari kelompok Khawarij, Syeikh berdalilkan hadith yang diriwayatkan oleh Imam Ibn Majah dalam sunannya dengan sanad yang shahih, daripada Abdullah bin ‘Umar radiallahua’anhuma daripada Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

«يَنْشَأُ نَشْءٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، كُلَّمَا خَرَجَ قَرْنٌ قُطِعَ» قَالَ ابْنُ عُمَرَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «كُلَّمَا خَرَجَ قَرْنٌ قُطِعَ، أَكْثَرَ مِنْ عِشْرِينَ مَرَّةً، حَتَّى يَخْرُجَ فِي عِرَاضِهِمُ الدَّجَّالُ

“Akan keluar satu kelompok manusia mereka membaca Al-Quran dan bacaan mereka tidak melepasi kerongkongan mereka setiap kali mereka keluar dari kalangan setiap kurun pasti akan dipotong (gagal usaha mereka), setiap kali keluar dari kalangan mereka setiap kurun pasti akan dipotong (Nabi mengulangnya lebih dari 20 kali) sehinggalah akan keluar DAJJAL dari kalangan kelompok mereka. . .”

Sila rujuk video di sini:
https://www.facebook.com/video/video.php?v=146524348740916&comments&set=t.100001124079784&type=1

Maka sebagaimana yang shahih daripada riwayat-riwayat Hadith daripada Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam Dajjal akan datang ke bukit Uhud dan cuba memasuki Madinah, namun Dajjal akan dihalang oleh Para Malaikat yang menjaga Madinah, namun orang-orang munafik dan kurang imannya akan keluar daripada Madinah mengikuti Dajjal dan tenteranya akibat dahsyatnya fitnah Dajjal, maka hanya orang-orang yang beriman dan mengikuti manhaj Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam sahaja yang akan kekal di Madinah. Maka inilah tafsiran hadith Madinah akan mengeluarkan orang-orang yang jahat di dalamnya sebagaimana besi mengeluarkan kotoran daripadanya.

Dahsyatnya fitnah Dajjal ini digambarkan oleh Hadith-hadith Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam sehingga ramai manusia akan terpedaya dengan kehebatannya, tertipu dengan syubhatnya, air yang dibawanya sebenarnya api, syurga yang dibawanya hakikatnya adalah syurga. Kita minta perlindungan kepada Allah daripada fitnah Dajjal.

Ancaman Terhadap Tipu Daya Ke Atas Madinah

Ancaman Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam terhadap mereka yang cuba melakukan tipu daya, permusuhan, menanamkan kebencian terhadap Madinah dan ahli-ahlinya, sabda Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam:

لاَ يَكِيدُ أهْلَ المَدِينَةِ أحَدٌ إلاَّ انْمَاعَ كَمَا يَنْماعُ الْمِلْحُ فِي المَاءِ

“Tidaklah seseorang pun yang melakukan tipu daya terhadap Ahli Madinah melainkan (tipu dayanya) akan dileburkan sebagaimana leburnya garam di lautan.”

[HR Bukhari no:1887, Bab Dosa Sesiapa yang melakukan tipu daya terhadap Penduduk Madinah]

Dalam riwayat Muslim, Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَهْلَ هَذِهِ الْبَلْدَةِ بِسُوءٍ – يَعْنِي الْمَدِينَةَ – أَذَابَهُ اللهُ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ

“Sesiapa yang ingin melakukan kejahatan dan keburukan terhadap penduduk negeri ini -iaitu Madinah- Allah akan meleburkannya sebagaimana leburnya garam di lautan.”

[HR Muslim no:1382]

Kejahatan, tipu daya dan keburukan membawa maksud yang umum meliputi cercaan, kebencian, permusuhan, tuduhan dan sebagainya terhadap penduduk Madinah, bila disebut Ahli Madinah ianya merangkumi Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam, para sahabatnya, para Ulama’nya, para penuntut ilmunya dan mereka yang membawa dakwah Sunnah rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam dan Manhaj Salafussoleh pada setiap zaman. Umpamanya dakwaan Syiah, Ikhwan Muslimin dan hizbinya mencerca para Sahabat Nabi, Ulama Sunnah di Madinah, dakwaan Ahbasy dan pelampau Asya’irah yang cuba menghalang manusia daripada belajar di Madinah, tuduhan mereka bahawasanya Madinah adalah tempat Wahhabi dan lain-lain hinaan, cercaan, tuduhan dan sebagainya maka semuanya bermaksud tipu daya.

Maka seharusnya mereka yang membuat tuduhan dusta, menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap para Ulama dan penuntut ilmu di Madinah An-Nabawiyyah ini berasa gentar dengan ancaman Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam, maka kita tahu bahawasanya Madinah adalah markaz dan tempat Al-Ansar dan para sahabat Nabi, maka Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

آيَةُ الإِيمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأَنْصَار

“Tanda Keimanan adalah mencintai Al-Ansar (para Sahabat Nabi), dan tanda kemunafikan adalah membenci Al-Ansar.”

[HR Bukhari no:17, Bab Tanda Keimanan adalah Mencintai Al-Ansar]

Ditulis oleh faqir ilallah,
Abul Hussein
Universiti Islam Madinah An-Nabawiyyah-حرسها الله-
12 Jamadil Akhir 1432 H/ 15 Mei 2011 M.
http://ibnabiashim89. blogspot. com

Siapakah Ahlil Bait?: Syubhat Berkenaan Hadits Kisa’

Mencintai Ahli Bait adalah salah satu kewajipan ke atas seorang muslim yang mengakui mengikuti islam yang dibawa oleh Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam, Hal ini merupakan sesuatu yang telah ditetapkan di dalam Al-Quran, As-Sunnah serta ijma’ ulama’, malah Para ulama’ Ahli Sunnah Wal Jama’ah meletakkan bab yang tersendiri di dalam kitab-kitab mereka tentang kelebihan Ahli Bait dan kewajipan seorang muslim terhadap hak-hak mereka. Firman Allah Ta‘ala:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (32) وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Wahai isteri-isteri Nabi, kamu semua bukanlah seperti mana-mana perempuan yang lain kalau kamu tetap bertaqwa. Oleh itu janganlah kamu berkata-kata dengan lembut manja (semasa bercakap dengan lelaki asing) kerana yang demikian boleh menimbulkan keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya (menaruh tujuan buruk kepada kamu), dan sebaliknya berkatalah dengan kata-kata yang baik (sesuai dan sopan). Dan hendaklah kamu tetap diam di rumah kamu serta janganlah kamu mendedahkan diri seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah zaman dahulu; dan dirikanlah sembahyang serta berilah zakat; dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah (perintahkan kamu dengan semuanya itu) hanyalah kerana hendak menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu – wahai ‘AhlulBait’ dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya (dari segala perkara yang keji).”

[Al-Ahzab: 32-33]

Kata Al-Imam Ibn Kathir rahimahullah:

“Ayat ini merupakan nas yang menunjukkan isteri-isteri Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam termasuk Ahli Bait.”

[Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim 6/410]

Firman Allah Ta‘ala:

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورً

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang yang beriman daripada diri mereka sendiri; dan isteri-isterinya adalah menjadi ibu-ibu mereka”…

[Al-Ahzab: 6]

Kata Al-Imam Al-Qurtubhi rahimahullah (w 671 H):

شَرَّفَ اللَّهُ تَعَالَى أَزْوَاجَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنْ جَعَلَهُنَّ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ، أَيْ فِي وُجُوبِ التَّعْظِيمِ وَالْمَبَرَّةِ وَالْإِجْلَالِ وَحُرْمَةِ النِّكَاحِ عَلَى الرِّجَالِ، وَحَجْبِهِنَّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُنَّ بِخِلَافِ الْأُمَّهَاتِ

“Allah telah memuliakan isteri-isteri nabiNya Sallallahu ‘alaihiwasallam dengan menjadikan mereka sebagai ibu-ibu kepada orang-orang beriman, iaitulah kewajipan memuliakan, berbuat baik kepada mereka, dan pengharaman menikahi mereka dengan lelaki lain, dan diwajibkan hijab ke atas mereka berbeza dengan ibu-ibu (kita sendiri ).”

[Tafsir Al-Qurtubhi, Darul kutub Misriyyah , 14/123 ]

Siapakah Ahli Bait Nabi Sallallahu ‘alaihi wa‘ala aalihi wasallam ?

هم مَن تَحرُم عليهم الصَّدقةُ، وهم أزواجُه وذريَّتُه، وكلُّ مسلمٍ ومسلمةٍ من نَسْل عبد المطلب، وهم بنُو هاشِم بن عبد مَناف

Mereka ialah sesiapa yang diharamkan ke atas mereka sadaqah (zakat) iaitulah mereka ialah isteri-isteri, zuriat (anak-anak) Nabi, dan semua muslim dan muslimat daripada keturunan ‘Abdul Mutalib, mereka ialah Bani Hasyim bin ‘Abdul Manaf.

[Rujuk Jamharah Ansab AlArab Ibn Hazm, At-Tabyin Fi Ansab Al-Qurasyiyin Ibn Qudamah m/s: 76, Minhajus Sunnah Ibn Taimiyyah 7/ 304 dan Fathul Bari Ibn Hajar 78/797]

Sebagaimana diketahui ayat surah Al-Ahzab ayat 33 menjadi dalil bahawasanya isteri-isteri Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam termasuk dari Ahli Bait kerana ayat tersebut turun mengenai mereka Radiallahu ‘anhunna. Selain itu kemasukan mereka juga dikhusukan di dalam hadits lain yang menafsirkan lafaz kaifiat selawat ke atas Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari di dalam Shahihnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ الزُّرَقِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ، أَنَّهُمْ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ قَالَ: “ قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

Daripada ‘Amru bin Sulaim Az-Zarqani, katanya: Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Humaid As-Saa’idi bahawasanya mereka bertanya kepada Rasulullah, bagaimanakah cara kami berselawat ke atas engkau? Nabi bersabda: “Ucapkanlah: Ya Allah limpahkanlah selawat ke atas Muhammad, isteri-isterinya, dan zuriat-zuriatnya, sebagaimana Engkau telah limpahkan selawat ke atas keluarga Ibrahim, dan berkatilah ke atas Muhammad, isteri-isterinya dan zuriat-zuriatnya, sebagaimana engkau limpahkan keberkatan ke atas keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

[HR Bukhari no; 3369, 6320, Abu Daud no: 979, Ibn Majah no: 905, An-Nasai no: 1294 ]

Syubhat Berkenaan Hadits Kisa’

Kaum Syiah menafikan isteri-isteri Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam termasuk dari kalangan Ahli Bait Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam, mereka menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no:2424, daripada ‘Aisyah radiallahu ‘anha:

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ، مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ، فَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فَأَدْخَلَهُ، ثُمَّ جَاءَ الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ مَعَهُ، ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا، ثُمَّ جَاءَ عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ، ثُمَّ قَالَ: ” {إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا}

Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam keluar pada suatu pagi dan bersama beliau sehelai kain selimut diperbuat daripada bulu hitam, lalu datang Al-Hasan bin ‘Ali lantas Nabi menyelimutinya bersama beliau, kemudian datang Al-Husain lalu beliau masuk bersamanya, kemudian datang Fatimah lalu Nabi memasukkan beliau, kemudian datang ‘Ali lalu Nabi memasukkan beliau (menyelimuti mereka semua bersamanya ) kemudian Nabi membaca ayat: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

[Al-Ahzab:33]

Hadits ini diriwayatkan juga oleh:

  1. Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Jami’ At-Tirmidzi, no: 3205
  2. Al-Imam Abu Bakr Ibn Abi Syaibah di dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah no: 32102
  3. Musnad Ishak Ibn Rawahaih no: 1271
  4. Al-Imam Ibn Hibban dalam Shahihnya no: 6976

Walaupun ada beberapa riwayat lain yang dipertikaikan status perawinya namun riwayat dari Shahih Muslim adalah riwayat yang paling shahih.

Syiah mendakwa Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam hanya memanggil ‘Ali, Fatimah, Al-Hassan dan Al-Hussain Radiallahu ‘anhum ke dalam selimut hitam tersebut bersama beliau lalu membacakan ayat 33 surah Al-Ahzab menunjukkan Ahli Bait hanya terbatas kepada mereka berempat dan para Isteri Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam termasuk Ummul Mukminin ‘Aisyah, Hafsah Radiallahu ‘anhuma tidak termasuk dari Ahli Bait Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam.

Jawapan Al-Muhaddith Madinah An-Nabawiyyah As-Syaikh ‘Abdul Muhsin ‘Abbad Hafizahullah:

Surah Al-Ahzab (ayat 33) itu menjadi dalil menunjukkan kemasukan mereka (isteri-isteri) Nabi dalam Ahli Bait, kerana khitab dalam ayat tersebut ditujukan kepada mereka, dan kemasukan ‘Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Hussain Radiallahu ‘anhum dalam ayat tersebut ditunjukkan pula oleh As-Sunnah dalam hadits ini, dan pengkhususan Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam ke atas mereka berempat Radiallahu ‘anhum dalam hadits ini (hadits kisa’) tidak menunjukkan terbatasnya Ahli Baitnya hanya kepada mereka (berempat) sambil menafikan kerabat Nabi yang lain, akan tetapi hadits tersebut menunjukkan bahawasanya mereka termasuk daripada kerabat Nabi yang khusus. Dan persamaan dilalah (petunjuk) dalam ayat ini yang menunjukkan kemasukan isteri-isteri Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam dalam Ahli Baitnya, dan juga petunjuk yang ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah Radiallahu ‘anha yang terdahulu yang menunjukkan kemasukan ‘Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Hussain Radiallahu ‘anhum dalam Ahli Baitnya hal ini sebagaimana petunjuk dalam Firman Allah Ta‘ala:

{لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ}

Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama (pembinaannya)

[At-Taubah:108]

Bahawasanya maksud masjid di sini iaitulah Masjid Quba’, dan dilalah (petunjuk) dari As-Sunnah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no: 1398, bahawasanya yang dimaksudkan masjid yang dibina atas dasar taqwa iaitulah masjidnya (Masjid Nabawi) Sallallahu ‘alaihiwasallam. Sesungguhnya hal yang sama telah disebut oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah di dalam Risalah Fadhlu Ahlil Bait Wa Huquqihim m/s 2120.

-Selesai perkataan beliau Hafizahullah- [Rujuk : Fadhlu Ahlil Bait Wa ‘Uluw Makanatihim ‘Inda Ahli Sunnah Wal Jama’ah, Darul Ibn Athir, Riyadh m/s: 9]

Dengan keterangan tersebut maka terbatallah dakwaan bahawasanya para Isteri Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam tidak termasuk dari Ahli Bait Nabi sallallahu ‘alahiwasallam, dan dakwaan hadits Kisa’ itu statusnya lemah juga adalah tidak tepat kerana hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim di dalam Shahihnya.

Wallahu ‘alam,

Abu Ayyub Muhammad Fashan bin Ahmad Ziadi
Universiti Islam Al-Madinah An-Nabawiyyah
21 Muharram 1432 H.

Langkah-Langkah Syaitan Untuk Menyesatkan Manusia

Ketika manusia sibuk untuk mengalahkan musuhnya, sama ada musuh yang tak sealiran dengannya, musuh yang dibencinya, mereka lupa akan musuh mereka yang hakiki, yang tidak mereka sedari akan kehadirannya iaitulah syaitan dan tentera-tenteranya.

Syaitan merupakan musuh yang jelas diberitakan oleh Allah dalam al-Quran sebagaimana firmanNya:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.”

[Yassin:60]

Ibnu kathir dalam Tafsirnya ketika menafsirkan ayat ini berkata:

“Ini adalah celaan Allah kepada mereka yang mengingkari Allah dari kalangan bani Adam iaitulah mereka yang mentaati syaitan sedangkan syaitan adalah musuhnya yang nyata, dan mereka yang melakukan maksiat kepada Allah sedangkan Dialah yang menciptakannya dan mengurniakan rezeki kepadanya.”

[Tafsir al-Quran al-`Azhim, Ibn Kathir, 3/167]

Cara-Cara Syaitan Menyesatkan Manusia

Syaitan telah berjanji di hadapan Allah bahawa dia akan menyesatkan dengan pelbagai bentuk cara dan keadaan, hakikat ini dirakamkan dalam al-Quran:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ () ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab: “Kerana Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.  kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

[Al-`Aaraf: 17]

Inilah janji iblis dan tentera-tenteranya iaitulah syaitan dikalangan jin dan manusia, mereka akan berusaha untuk menyesatkan manusia daripada jalan yang lurus:

وقوله: {ثم لآتينهم من بين أيديهم ومن خلفهم} الآية، قال ابن عباس: {ثم لآتينهم من بين أيديهم} أشككهم في آخرتهم {ومن خلفهم} أرعبهم في دنياهم {وعن أيمانهم} أشبه عليهم أمر دينهم {وعن شمائلهم} أشهي لهم المعاصي

Berkata Ibnu `Abbas radiallahu`anhuma ketika menafsirkan ayat di atas:

“Iblis datang dari muka (hadapan) manusia, bermaksud dia akan menimbulkan syak (keraguan) terhadap hari akhirat, dan dia datang dari belakang, iaitulah dia menggalakkan atau menakutkan manusia tentang dunia mereka, ia datang dari kanan mereka iaitulah dia menimbulkan kesamaran pada urusan agama mereka dan ia datang dari kiri manusia iaitulah dia menjadikan lazat (membangkitkan) syahwat kepada mereka terhadap maksiat.”

[Tafsir al-Quran al-`Azhim, Ibn Kathir, 1/152]

Begitu juga langkah-langkah syaitan sangat berbahaya dan halus sehingga Allah Ta`ala memerintahkan agar kita menjauhi langkah-langkah syaitan, FirmanNya:

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ () إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, kerana sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

[Al-Baqarah:169]

Berdasarkan huraian Ibnu `Abbas radiallahu`nhuma dan ayat di atas kita mendapati beberapa cara dan langkah-langkah yang digunakan oleh syaitan untuk menyesatkan manusia antaranya:

1. Menimbulkan syak (keraguan) terhadap hari akhirat.

Hari akhirat adalah termasuk dalam perkara-perkara berkaitan keimanan dan akidah. Praktikalnya, apabila iblis dan syaitan menyerang keyakinan kita akan hari akhirat, maka secara automatik keraguan akan timbul dalam hati kita. Ketika itu hilang dalam hati dan fikiran kita akan Maha Melihatnya Allah, malaikat, dosa dan pahala, syurga dan neraka. Apabila iblis dan syaitan berjaya menimbulkan keraguan dalam keimanan kita maka ketika itu, kita akan melakukan dosa dan perkara yang dilarang oleh Allah. Ketika itu kita sudah terjerat dalam perangkap iblis yang berjaya dengan rancangannya. Maka ketika itu, dosa dan maksiat seperti syirik, bid`ah, berzina, mengumpat, mendedahkan aurat, minum arak dan sebagainya dilakukan tanpa ada rasa bersalah.

Hal ini berlaku kerana mereka tidak yakin dengan Allah dan berita-berita yang disampaikan oleh al-Quran dan As-Sunnah seperti firmanNya:

أَلَا إِنَّهُمْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَاءِ رَبِّهِمْ أَلَا إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيط

“Ingatlah bahawa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahawa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.”

[Fusshilat: 54]

2. Menimbulkan kesamaran dan memerintahkan agar bercakap tentang Allah tanpa ilmu.

Antara jalan yang digunakan oleh iblis dan syaitan untuk menyesatkan manusia ialah dengan menimbulkan kesamaran terhadap mereka antaranya ialah iblis menimbulkan kesamaran diantara syirik dengan Tauhid, Sunnah dengan bid`ah, yang halal dengan yang haram, perkara yang boleh memasukkan ke syurga ataupun ke neraka. Hal ini boleh diatasi hanyalah dengan jalan menuntut dan mendalami ilmu agama berdasarkan al-Quran dan sunnah Rasulullah sallallahu`alaihiwasallam serta mengikuti manhaj Salafus Soleh. Begitulah juga mereka yang bermudah-mudah berkata tentang Allah atau Sifat-sifatNya, dan berkenaan agamaNya tanpa ilmu dan petujuk yang benar, mereka yang telah terpedaya dengan perintah syaitan agar berkata tentang Allah tanpa ilmu terdiri daripada orang-orang Yahudi dan Nasrani serta kebanyakan ahli bid`ah seperti Syiah, Muktazilah, Jahmiyyah, Khawarij, Sufiyyah dan Asya`irah, mereka terperangkap dengan tipu daya syaitan ini lalu terjatuh dalam bid`ah-bid`ah mereka apabila mereka bercakap tentang Allah dan agamanya tanpa ilmu dan petunjuk Salaf, mereka yang melakukan perkara sebegini jelaslah mereka telah berjaya diperdaya oleh Iblis dan tenteranya. Antara contoh petunjuk Nabi sallallahu`alaihiwasallam menjelaskan solusi untuk masalah ini:

يأتي الشيطان أحدكم فيقول فمن خلق كذا من خلق كذا؟ حتى يقول :من خلق ربك , فإذا بلغه فليستعذ بالله ولينته.

“Syaitan akan datang kepada kamu, dan berkata: “siapakah yang mencipta ini ?, dan ini?”, hinggalah dia berkata: “Siapa yang mencipta Tuhanmu?, jika smpai kepadanya (syak tersebut) maka hendaklah dia isti`azah minta prlindungan kepada Allah dan berhenti (dari memikirkannya).”

‎[HR Bukhari dlm Khalq `Afalul`Ibad 11, bab Sifat Iblis dan tenteranya, Imam Al-Asbahani, Al-Hujjah fi bayan Al-Mahajjah m/s;108]

Satu lagi petunjuk Nabawiyyah dlm masalah mengekang bisikan syaitan tersebut ke dalam hati kita:

إن أحدكم يأتيه الشيطان فيقول: من خلقك؟ فيقول: الله، فيقول: فمن خلق الله؟! فإذا وجد ذلك أحدكم فليقرأ: آمنت بالله ورسله، فإن ذلك يذهب عنه “.

Sesungguhnya salah seorang dikalangan kamu akan didatangi syaitan lalu dia berkata: “siapakah yg menciptamu?”, lalu dia menjawab Allah, lalu dia bertanya lagi; “siapa Allah?” sesiapa yang mendapati keadaan tersebut dikalangan kamu maka bacalah; “aku beriman dgn Allah dan rasul-rasulNya, maka sesungguhnya hal tersebut menghilangkan was-was darinya”. .

[HR Ahmad, Silsilah As-Shahihah no:116]

Selain itu, berpegang teguh dengan Al-Quran, As-Sunnah serta petunjuk Salaf merupakan perisai yang paling ampuh bagi mengekang kesamaran serta syubhat-syubhat yang dibawa oleh iblis dan tentera-tenteranya syaitan sama ada dikalangan jin mahupun manusia.

3. Menyeru kepada kejahatan dan perkara yang keji (seperti zina, liwat dan sebagainya) serta membangkitkan syahwat (kelazatan) dalam perkara maksiat.

Sesungguhnya inilah jalan yang paling banyak manusia terjerat dan terperangkap di dalamnya. Ketahuilah syahwat antara perkara yang paling mudah digunakan oleh iblis dan tentera-tenteranya untuk menyesatkan manusia. Kita lihat di zaman sekarang berapa ramai yang terlibat dengan perzinaan, pelacuran dan sebagainya?. Permulaan syahwat ialah dengan pandangan mata, kemudian berpindah kepada fikiran yang membangkitkan angan-angan, kemudian tangan tak putus-putus bermesej dan tak cukup bermesej teringin pula nak bertemu dan apabila nafsu menguasai diri dan apabila syahwat dan perasaan menggantikan tempat iman maka berlakulah perkara yang dibenci oleh Allah.

Sesungguhnya iblis telah berjanji bahawa dia akan menyesatkan kita dengan membangkitkan angan-angan kosong seperti dirakamkan dalam al-Quran:

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ

“Dan aku akan benar-benar menyesatkan mereka, dan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka”. .

[an-Nisa`: 119]

Hendaklah perkara sebegini diambil perhatian, kadang-kadang kita melihat sesuatu perkara itu sebagai baik padahal ianya adalah perangkap syaitan. Sesetengah mereka sangat suka mendengar muzik dan lagu-lagu yang mengandungi lirik yang membangkitkan syahwat dan lagu yang melekakan kononya ianya dapat menenangkan perasaan padahal ianya hanyalah melalaikan dan menimbulkan angan-angan kosong. Tidak kurang juga mereka yang menghalalkan muzik dan menggunakannya atas nama muzik islam, nasyid dan sebagainya, Sebahagian mereka pula merasa tidak malu apabila menunjukkan aurat mereka di hadapan manusia, sanggup menjadikan tubuh-tubuh mereka sebagai bahan tontonan di khalayak ramai, bertabarruj di dalam internet, akhbar-akhbar dan majalah-majalah dan mereka merasakan perkara itu adalah baik bagi mereka. Sedangkan ianya hanyalah nikmat yang sementara.

4. Menakut-nakutkan dalam urusan agama sehingga berputus asa dengan rahmat Allah.

Apabila Iblis dan syaitan berjaya menjerumuskan seseorang terhadap kemaksiatan terhadap kepada Allah maka dia tidak hanya berhenti di situ malah dia akan menakut-nakutkan mereka yang berdosa dengan dosa mereka sehinggakan dia membuatkan mereka yang berdosa akan berputus asa daripada untuk bertaubat kepada Allah, sedangkan Allah membukakan pintu taubat bagi sesiapa yang mengharapkan keampunan dan rahmatNya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَلِقَائِهِ أُولَئِكَ يَئِسُوا مِنْ رَحْمَتِي وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.

“Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmatKu, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.”

[al-Ankabut: 23]

Dan Allah berfirman lagi:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

[an-Nuur: 31]

Dan Allah berfirman lagi:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Wahai hamba-hambaKu yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[az-Zumar:53]

Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu katanya:Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من تاب قبل أن تطلع الشمس من مغربها تاب الله عليه

“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari sebelah barat maka Allah menerima taubatnya.”

[HR Muslim]

Dan daripada Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhu katanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنّ الله عزّوجلّ يقبل توبة العبد ما لم يغرغر

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seseorang hambaNya selagi nyawanya belum sampai di kerongkongan.”

Semoga dengan apa yang disampaikan ini dapat memperingati diri kita semua dan semoga kita digolongkan dalam golongan orang-orang yang sentiasa berwaspada terhadap langkah-langkah syaitan untuk menyesatkan kita, semoga kita sentiasa termasuk di kalangan golongan yang selamat daripada tipu daya iblis dan tentera-tenteranya serta memasukkan kita dalam golongan yang sentiasa bertaubat dan kembali kepada Allah Ta`ala.

Yang Mengharap keampunanNya,
Abul Hussein
Universiti Islam Madinah An-Nabawiyyah.
26 Jumadil Thani 1432H/29 Mei 2011

 

Syiah: “Aisyah, Zubair, dan Tholhah Lebih Buruk dari Anjing dan Babi”

Al-Khumaini dalam kitabnya Ath-Thaharah 3/457 berkata:

Sucinya An-Nashib (Pembenci Ahlul bait) dan Al-Kharij (Pemberontak Ali) karena tujuan Dunia dan selainnya. Adapun semua sekte Nawashib bahkan Khawarij maka tidak ada dalil tentang najisnya mereka, walaupun mereka lebih dahsyat adzabnya dari orang-orang kafir. Seandainya mereka memberontak terhadap Amirul Mukminin ‘alaihis salam bukan karena prinsip agama, tapi karena unsur kekuasaan atas tujuan lainnya, seperti ‘Aisyah, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah dan yang lainnya.

Atau menancapkan permusuhan kepadanya (Ali) atau kepada salah seorang imam ‘alaihimus salam bukan karena prinsip agama tapi karena permusuhan terhadap Quraisy atau Bani Hasyim atau Bangsa Arab, atau disebabkan ia (Ali) telah membunuh anaknya atau bapaknya atau selain itu. (Itu semua) tidak menyebabkan -dengan jelas- atas kenajisannya secara zhahir, walaupun mereka lebih buruk dari anjing-anjing dan babi-babi; karena tidak ada dalil baik ijma’ atau khabar atas hal itu (atas kenajisan mereka).”