Category Archives: Fatwa Ahlus Sunnah

Fitnah Tajsim

Bismillah,
Jika anda ditanya oleh seseorang “apakah Allah Berjism”? apa jawaban anda?

Jika anda jawab “Ya” maka anda belum tentu benar. Jika anda jawab “Tidak” Maka anda kemungkinan salah.

Eh, mcm tu pulak…. Bingungkan???

Apa itu Jism?

Ibnu Mandzur berkata:

الجِسْمُ: جماعة البَدَنِ أَو الأَعضاء من الناس والإِبل والدواب وغيرهم من الأَنواع العظيمة

Aljismu: kumpulan dari badan atau anggota-anggota seorang manusia, unta, binatang berkaki empat, dan lain-lain yang merupakan bagian yang makhluk yang besar.

Para ahli bahasa hanya menggunakan istilah Jism untuk sesuatu yang berat dan padat, mereka tidak menamakan udara sebagai jism dan jasad sebagaimana halnya dengan tubuh manusia yang jelas mereka sebut sebagai jism.

Pandangan ahli bahasa tentang Jism sesuai dengan firman Allah taala:

وإذا رأيتهم تعجبك أجسامهم

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum”.

(QS al Munâfiqûn:4)

Dalam ayat lain Allah berfirman

وزاده بسطة في العلم والجسم

“Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”.

(QS albaqarah:247)

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Adapun ahli kalam dan para filsafat berselisih tentang makna Jism: Sebahagian dari mereka mengatakan bahwa Jism itu adalah sesuatu yang wujud, sebahagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang berdiri sendiri, sebagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang tersusun dari atom, sebahagian lagi mengatakan bahwa jism adalah sesuatu yang tersusun dari materi dan gambaran, sebahagian lagi mengatakan bahwa bahwa jism adalah sesuatu yang dapat ditunjuk dengan isyarat indra, sebahagian lagi mengatakan bahwa jism itu tidak tersusun dari apapun tapi ia justeru yang ditunjuk [1]

Apa yang didefinisikan oleh para mutakallimin dan ahli filsafat sama sekali tidak dikenal dalam bahasa arab baik dalam kitab-kitab maupun syair-syair mereka. Roh sekalipun ditunjuk, turun, dan naik serta berdiri sendiri namun tidak dinamakan sebagai jism oleh ahli bahasa. Karena itulah mereka menyebutkan istilah jism dan roh. Disini dapat kita ketahui bahwa “dan” disini memberi kesan makna yang berbeza(mughayarah).

Teka-teki

Jadi manakah yang anda pilih ketika menjawab Ya atau Tidak?

Jika dinafikan, lalu bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa jism itu sesuatu yang dapat ditunjuk, padahal Ahlusunnah dan juga Asyairah beriman bahwa Allah dapat dilihat disyurga. Padahal sesuatu yang dilihat dengan mata adalah sesuatu yang ditunjuki dengan indra.?

Jika dikatakan Allah adalah jism, lalu bagaimana dengan pendapat ahli bahasa yang mengatakan bahwa tubuh dan anggota-anggotanya adalah jism[2]?

Bingungkah anda?

Disinilah perlunya memahami sesuatu secara menyeluruh dan terperinci.

Ibnu Taimiyah berkata:

أما الكلام في الجسم والجوهر ونفيهما أو إثباتهما , فبدعةٌ

ليس لها أصلٌ في كتاب الله ولا سنة رسوله

ولا تكلم أحدٌ من الأئمة والسلف بذلك نفياً ولا إثباتاً . انتهى

Adapun pembicaraan tentang jism dan jawhar serta penafian dan penetapannya merupakan kebidahan yang tidak memiliki asal dari kitab Allah dan sunnah rasulnya serta tidak pernah dibicarakan oleh seorangpun dari para imam-imam Salaf dengan menafikannya atau menetapkannya.[3]

Dalam tempat lain beliau mengatakan:

وأما القول الثالث: فهو القول الثابت عن أئمة السنة المحضة

كالإمام أحمد ومَنْ دونه , فلا يطلقون لفظ الجسم لا نفياً ولا إثباتاً , لوجهين :

أحدهما : أنه ليس مأثوراً , لا في كتاب ولا سنة ,

ولا أثر عن أحد من الصحابة والتابعين لهم بإحسان , ولا غيرهم من أئمة المسلمين ,

فصار من البدع المذمومة .

الثاني : أن معناه يدخل فيه حق وباطل ,

والذين أثبتوه أدخلوا فيه من النقص والتمثيل ما هو باطل ,

والذين نفوه أدخلوا فيه من التعطيل والتحريف ما هو باطل . انتهى

Dan adapun pendapat yang ketiga: itulah pendapat yang tetap dari para imam Sunnah yang murni. Seperti Imam Ahmad dan selainnya. Mereka tidak memutlakkan lafadz jism baik dalam penafian maupun penetapan karena dua hal.

Pertama: hal tersebut tidak ma’tsur baik dalam qur’an, sunnah, maupun atsar sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Tidak juga dari para imam kaum musllimin yang lain. Maka jadilah hal tersebut sebagai bid’ah yang tercela.

Kedua: maknanya boleh jadi sesuatu yang haq dan boleh jadi juga sesuatu yang batil.

Orang-orang yang menetapkannya [secara mutlak] berkemungkinan masuk dalam penjelekkan dan penyerupaan yang merupakan sebuah kebathilan.[4]

Sedangkan orang yang menafikannya [secara mutlak] boleh masuk dalam ta’thil dan tahrif yang juga merupakan sebuah kebatilan.[5] [6]

Kesimpulan

Lafadz jism terkait sifat Allah adalah lafadz yang Muhtamil serta sebuah pembahasan muhdats (bid’ah) yang diada-adakan oleh para filsafat dan Mutakallimun. Sebagai Ahlissunnah kita harus menghindarinya.

Jika kita ditanya tentang hal ini maka Ibnu Taimiyah memberikan Jalan keluar dengan perkataannya:

فيقال لمن سأل بلفظ الجسم : ما تعني بقولك ؟

أتعني بذلك أنه من جنس شيء من المخلوقات ؟

فإن عنيتَ ذلك , فالله قد بيَّنَ في كتابه أنه لا مثل له , ولا كفوَ له , ولا نِدَّ له ؛

وقال : ( أفمن يخلق كمن لا يخلق )

فالقرءان يدل على أن الله لا يماثله شيء , لا في ذاته ولا صفاته ولا أفعاله ,

فإن كنتَ تريد بلفظ الجسم ما يتضمن مماثلة الله لشيء من المخلوقات ,

فجوابك في القرءان والسنة . انتهى

Maka direspon bagi siapapun yang bertanya dengan lafadz jism: apa yang anda maksud? Apakah yang anda maksud adalah bahwa Dia termasuk jenis dari makhluknya? Kalau jelas begitu maksudnya, maka Allah telah menjelaskan didalam kitabnya bahwa Dia tidak serupa, setara, dan tidak bersekutu dengan apapun.

Allah berfirman:
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?
(QS al Nahl:17).

Al Qur’an menunjukkan bahwa Allah tidak diserupai oleh apapun baik zat, sifat, maupun perbuatannya.

Kalau yang engkau maksud dengan lafadz Jism mengandung penyerupaan Allah dengan makhluknya, maka jawaban untukmu ada didalan Alqur’an dan Sunnah.[7]

Selanjutnya beliau menegaskan:

ولهذا اتفق السلف والأئمة على الإنكار على المشبهة الذين يقولون

بصر كبصري , ويدٌ كيدي , وقدم كقدمي . انتهى

Oleh karena itu Salaf telah bersepakat untuk mengingkari Musyabbihah yang mengatakan penglihatan [Allah] seperti penglihatanku, tangan [Allah] seperti tanganku, kaki [Allah] seperti kakiku.[8]

Disini Ahlussunnah dan salaf tidak membicarakan penafian maupun penetapan jism pada Allah, begitu juga lafadz-lafadz lain yang tidak terdapat dalam al Qur’an maupun Sunnah seperti arah dan tahayyuz dan semisalnya. Tetapi Ahlussunnah menyifatkan Allah Taala sesuai dengan apa yang Ia Sifatkan bagi dirinya dalam al-Qur’an dan apa yang disifatkan oleh Rasulnya. Mereka tidak melangkahi al-Qur’an dan Hadits.

Imam al Barbahari berkata:

Tidak membicarakan rabb kecuali sesuai dengan apa yang Ia sifatkan bagi dirinya Ajja Wajalla dalam Qur’an dan yang dijelaskan oleh Rasulullah untuk para sahabatnya.[9]

Beliau juga menjelaskan bahwa lafadz-lafadz bid’ah tersebut adalah sumber bid’ah:

Ketahuilah! Semoga Allah memuliakanmu! Kalau saja manusia menahan diri dalam perkara-perkara muhdats, tidak melangkah lebih jauh, dan tidak melahirkan kalimat-kalimat yang tidak pernah datang dari atsar Rasulullah juga sahabatnya,maka niscaya tidak akan ada kebid’ahan[10]

Al Hafidz Abdul Ghani al Maqdisi Rahimahullah menyetujui kaidah seperti ini dengan mengatakan:

“Termasuk Sunnah yang tetap adalah diam dari sesuatu yang tidak datang nashnya dari Rasulullah Shallallâhu alaihi Wasallam atau yang telah disepakati oleh kaum muslimin untuk memutlakkannya dan meninggalkan perselisihan dalam penafian dan penetapannya. Begitu juga pada perkara yang hanya dapat ditetapkan dengan nash Syari’, dan juga pada perkara yang hanya dapat dinafikan dengan dalil Sami’ [11]

Tulisan dan nukilan Ibnu taimiyah juga menjadi bukti bahwa beliau bukanlah seorang mujassimah. Justeru ketika Asyairah membatasi bahwa jism itu adalah satu hal, ternyata ibnu taimiyah telah merinci dan menyikapi lafadz jism dari berbagai isu yang beredar tentang jism menurut berbagai firqah dan mengambil solusi yang wasath.

Semoga bermanfaat

_________
FooteNote:
[1] Majmû’ Fatâwa Syaikhul islam Ibnu Taimiyah III/32
[2] Sekte karamiyah merupakan golongan Mujassimah yang berkeyakinan Allah adalah Jism dalam artian bertubuh dan bertulang. wal iyadzubillah
[3] Dar ut taahrudh al aql wan naql 4/146
[4] Kalau kita mengatakan Allah jism maka boleh jadi kita akan seperti karamiyah yang menetapkan bahwa Allah adalah seperti tubuh yang terdiri dari tulang dan daging. Waliyadzubillah
[5] Ada yang berpendapat bahwa jism itu yang ditunjuk padahal sesuatu yang terlihat itu adalah sesuatu yang ditunjuki oleh indra. Dengan menafikannya secara mutlak maka boleh jadi kita seperti mu’tazilah yang tidak mengimani bahwa kita dapat melihat Allah diakhirat kelak.
[6] Minhajussunnah Nabawiyyah I/204
[7] Dar ut taahrudh al aql wan naql 10/307
[8] Dar ut taahrudh al aql wan naql 10/309
[9] Syarhussunnah hal. 69
[10] Syarhussunnah hal. 105
[11] Aqâid Aimmatusshalaf hal 132

Sumber: http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/09/21/fitnah-tajsim/
(dengan sedikit alih bahasa)

Apakah Daulah Saudi Penyokong dan Tali Barut Amerika dan Hakikat Disebalik Hisbullah di Lubnan?

Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Muhammad Al Luhaidan
(Ketua Majlis Qadha’ A’la [Saudi Arabia])

 

Penanya:

“Syaikh, kami memiliki beberapa pertanyaan. Kami minta izin kepada Anda untuk menyebarkannya.”

Pertama ada pertanyaan yang berbunyi:

“Kami mendengar di sebagian media adanya celaan kepada negeri kita ini (Saudi ) dan pemerintahnya, khususnya di akhir-akhir ini. Hal ini terjadi setelah (kejadian) Israel menyerang Libanon. Beberapa komen yang akan keterlaluan hingga mereka menjadikan negara Saudi, Israel dan Amerika sebagai satu kelompok. Semuanya kafir dan saling berwala’ (berloyalitas).

Maka apa komentar anda, sebab kami mengetahui bagaimana pemerintah kami mencintai Islam dan kaum Muslimin? (Pemerintah kami) juga mendakwahkan Islam yang benar lagi murni, bahkan diantara mereka (pemerintah) dan para ulama saling memberi nasihat dan musyawarah dalam agama.”

 

Maka jawab beliau:
Kekufuran itu adalah kalimat klasik yang biasa mereka lontarkan. Yang mereka ucapkan tidak lain adalah dusta. Tidak diragukan lagi bahwa kerajaan Saudi Arabia adalah yang menjadi target untuk diganggu oleh Amerika…

Bukankah mereka telah menekan lembaga-lembaga sosial dan bercita-cita untuk menghentikan dan membekukan bantuan (kaum muslimin untuk muslimin).

(Amerika) menghalangi usaha-usaha baik mereka (Arab Saudi) –semoga Allah melenyapkan kebongkakan Amerika dan menghancurkan kekuatannya-. Bukankah mereka menuduh para pembesar (negeri ini) sebagai pengganas?! Yaitu apa yang mereka ulurkan berupa sedekah untuk orang-orang fakir dari kaum muslimin dan pertolongan mereka terhadap yayasan-yayasan sosial di sana dalam mengajarkan ilmu.

Maka yang mengatakan bahwa Saudi bersama Yahudi dan Amerika, tidak lain hal itu diucapkan oleh orang yang di hatinya ada kedengkian terhadap aqidah ini dan para pembawa serta pembelanya. Kedengkian-kedengkian itu hanya akan menjerumuskan pelakunya ke lembah kehinaan dan kejelekan.

Tidak diragukan lagi… bahwa di dunia Islam tidak ada negara yang dapat memberikan bantuan melalui badan-badan dan lembaga-lembaga sosial seperti yang dilakukan oleh negara ini , baik atas nama pemerintah ataupun pribadi.

Saya tidak suka kalau disebut “Israil (yang membantai-pent)”, sebab Israil adalah nama lain dari Nabi Allah, Ya’qub alaihissalam.

Adapun mereka, (yang membantai), adalah keluarga para babi dan monyet… Tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah Yahudi, bukan Israil. Tapi mereka menggunakan nama itu. Kemudian menjadi kesalahan dari ummat ini, baik itu negara Islam atau yang menjadikan Islam sebagai simbolnya menamakan mereka dengan nama Israil.

Negara Yahudi menamakan dirinya dengan Israil, yakni di atas dasar keyahudian. Dan tidak diragukan lagi bahwa setiap orang yang berakal di dunia ini, apakah dari Nasrani di Barat ataupun orang kafir di Timur, melainkan dia tahu bahwa Amerika sangat gigih untuk melecehkan dunia Islam –diantaranya termasuk Arab Saudi–.

Namun –dengan pertolongan Allah sajalah– dikarenakan kita berpegang teguh kepada agama kita yang benar dan kita menggigitnya –dengan gigi geraham kita– secara jujur, serta kita mengikhlaskan amal kita untuk Allah. Maka Allah menolong hamba-hambanya yang beriman. Tidak ada penyebab terlambat datangnya pertolongan Allah melainkan karena kehinaan hamba-hamba-Nya tersebut, yakni disaat mereka menyia-nyiakan agamanya.

Maka kita mohon kepada Allah agar menampakkan kekuasaan-Nya -dengan segera tanpa ditunda- atas Amerika yang akan membahagiakan kaum mukminin…Iya.”

 

Penanya:

“Jazakallahu khairan, Syaikh.”

Ada penanya berkata:
“Syaikh Shalih bin Muhammad Al Luhaidan yang mulia, semoga Allah menjaga Anda dan membimbing Anda. Tidak tersamarkan atas Anda berbagai kondisi yang dialami kaum muslimin di dunia Islam, terjadi berbagai fitnah dan peperangan. Khususnya peperangan yang terjadi antara Yahudi dan kelompok Hizbullah yang merupakan kelompok Syi’ah di Libanon. Maka apa sikap seorang muslim terhadap peperangan ini?

Sebab kita mendengar adanya ajakan untuk berjihad bersama mereka dan mendo’akan kemenangan untuk mereka ketika qunut.
Kaum muslimin menjadi bingung terhadap hal ini. Maka apa pengarahan dari Anda?”

Jawab:
“Tidak diragukan lagi bahwa kelompok yang menamakan dirinya dengan Hizbullah (kelompok Allah-pent) adalah Hizbur Rafidhah (kelompok rafidhah). Dan Rafidhah telah diketahui (kesesatannya-pent) dan telah diketahuinya (sesatnya) manhaj metode mereka. Hakikat mereka adalah mereka menganggap mayoritas Ahlus Sunnah…(bahwa-pent) semua Ahlus Sunnah adalah orang kafir. Inilah mereka dan perkara ini tidaklah samar bagi orang yang menelaah buku-buku mereka.

Maka kita berlindung kepada Allah, jika kebenaran menolong dan membela mereka serta membantu mereka, hal itu akan membuat mereka semakin kuat. (Ingatlah) mereka bagian dari Iran. Tidak ragu lagi (benarnya-pent). Hanya saja ucapan pemimpin Mesir, bahwa Syi’ah yang ada di negara itu berbeda dengan Iran. Sesungguhnya kecondongan dan Iman mereka bersama Iran.

Namun manusia jika mereka ditimpa musibah, hendaknya mereka berusaha untuk mengobatinya dengan apa yang tepat dijadikan sebagai obat berbagai kondisi tersebut.

Adapun apa yang menimpa Libanon secara umum, kalau tidak bisa dikatakan semua, dalangnya adalah kelompok ini. Mereka yang menamakan dirinya dengan kelompok Allah (Hizbullah), sebenarnya mereka adalah Hizbusy Syaithon (Kelompok/Partai Setan) ! Sekian.

(Fatwa ini adalah kutipan fatwa suara syaikh Shalih Al Luhaidan ketika menjawab dua pertanyaan saat Daurah Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah. URL Sumber http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=337317. Fatwa ini diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Mu’awiyah Muhammad Ali bin Ismail al Medani)

Artikel Asal dan Transkrip dalam bahasa Arab
http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/03/24/apakah-kerajaan-saudi-arabia-berjalan-bersama-yahudi-dan-amerika/

Pembelaan Terhadap Ahli Madinah Daripada Tipu Daya Dajjal dan Pengikutnya

Disaat huru-hara, demontsrasi, kekacauan, fitnah yang berlaku di hampir keseluruhan negara-negara Arab, namun Allah masih menjaga keamanan di Madinah An-Nabawiyyah di mana bumi yg bersemadinya jasad insan yang paling mulia Muhammad sallallahu ‘alaihiwasallam. Begitu juga melihat syirik, khurafat, bid’ah yang membelenggu hampir kesemua negara-negara umat memang menakutkan dan menyedihkan. Justeru disebalik kesedihan dan ketakutan itu maka Allah Ta‘ala masih menjaga kedua tanah Haram daripada belenggu kesyirikan, dan bid’ah hinggakan syi’ar Tauhid dan panji Sunnah sentiasa tertegak di sini.

Benarlah sabda Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam:

إِنَّ الإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى المَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا

“Sesungguhnya Iman akan kembali berhimpun ke Madinah sebagaimana kembalinya ular ke lubangnya.”

[HR Bukhari no:1876]

Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengulas maksud hadith ini;

قَوْله كَمَا تأزر الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا أَيْ إِنَّهَا كَمَا تَنْتَشِرُ مِنْ جُحْرِهَا فِي طَلَبِ مَا تَعِيشُ بِهِ فَإِذَا رَاعَهَا شَيْءٌ رَجَعَتْ إِلَى جُحْرِهَا كَذَلِكَ الْإِيمَانُ انْتَشَرَ فِي الْمَدِينَةِ وَكُلُّ مُؤْمِنٍ لَهُ مِنْ نَفْسِهِ سَائِقٌ إِلَى الْمَدِينَةِ لِمَحَبَّتِهِ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَشْمَلُ ذَلِكَ جَمِيع الْأَزْمِنَةِ لِأَنَّهُ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلتَّعَلُّمِ مِنْهُ وَفِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعيِهِمْ لِلِاقْتِدَاءِ بِهَدْيِهِمْ وَمِنْ بَعْدِ ذَلِكَ

“Maksud sebagaimana kembalinya ular ke lubangnya iaitu sebagaimana ianya bertebaran keluar daripada lubangnya untuk mencari apa yang boleh menjamin keberlangsungan hidupnya, apabila ada sesuatu yang mebuatkan dirinya takut maka ia kembali ke lubangnya, begitulah juga Iman (ahli-ahlinya), yang bertebaran di Madinah, dan setiap mukmin bagi dirinya sendiri akan cenderung untuk datang ke Madinah disebabkan kecintaannya terhadap Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam maka kelebihan (madinah) ini merangkumi setiap zaman kerana sesungguhnya pada zaman Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam kehadiran mereka ke sana adalah bertujuan untuk mempelajari ilmu daripada baginda, dan pada zaman Sahabat dan Tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka bertujuan untuk mengikuti dan mencontohi petunjuk mereka dan begitu orang-orang selepas mereka.”

[Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari 4/ 93]

Kata Ibn Batthal rahimahullah ketika menyifatkan Iman dan ahlinya di Madinah:

فكذلك الإيمان لما دخلته الدواخل لم يقصد المدينة إلا مؤمن صحيح الإيمان

“Begitulah iman disebabkan apa yang asing telah memasukinya (berupa syirik dan bid’ah), tidaklah bertujuan untuk datang ke Madinah melainkan seorang mukmin yang shahih imannya.”

[Syarah Shahih Al-Bukhari Ibn Batthal 4/548]

Perlu diingatkan bukan semua yang ada dan datang belajar di Madinah adalah mereka yang benar dan shahih imannya, dan maksud kalam Ibnu Batthal itu jelas menunjukkan mereka yang rosak akidahnya dan bercanggah dengan akidah yang shahih seperti penganut akidah Syiah, Sufiyyah, Asya’irah adalah tidak termasuk dalam maksud kalam Nabi kerana akidah mereka bercanggah dan berlawanan dengan Akidah Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam, para sahabat, tabi’in dan para ulama’ salafussoleh. Maka disini neraca Al-Quran dan As-Sunnah serta Manhaj Salaf sangat diperlukan untuk menentukan keshahihan akidah seseorang.

Sebab itulah Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

أَلَا إِنَّ الْمَدِينَةَ كَالْكِيرِ، تُخْرِجُ الْخَبِيثَ، لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَنْفِيَ الْمَدِينَةُ شِرَارَهَا، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Maka ketahuilah sesungguhnya Al-Madinah seperti besi (yang dibakar), keluar darinya kotoran, tidak akan berlaku kiamat hinggalah Madinah mengeluarkan orang-orang yang jahat di dalamnya, sebagaimana besi yang panas mengeluarkan kotoran besi.”

[HR Muslim no:1381]

Maka hadith ini menjadi dalil bahawasanya orang-orang yang jahat memang wujud di Madinah sehinggalah Allah mengeluarkan mereka dari Madinah apabila hampir berlaku kiamat nanti, realitinya kita melihat ramai sahaja golongan Syiah, Sufiyyah dan mereka yang tidak berada di atas Manhaj Rasulullah dan Para Salaf masih bertebaran di tanah haram Madinah, maka hadith ini menjadi jawapan konkrit terhadap syubhat sebahagian mereka yang terkeliru dengan masalah ini.

Sebab itu juga perlu diketahui sewaktu Dajjal akan keluar nanti maka ia akan keluar dari Isfahan (Iran di mana sarang dan negara Syiah) dan dia akan diikuti oleh 70 000 Yahudi daripada Isfahan, hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullah daripada Anas bin Malik daripada Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ، سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

“Dajjal akan diikuti oleh 70 000 Yahudi daripada Isfahan (Iran) mereka memakai at-Tayalisah.”

[HR Muslim no:2944]

Maka sesiapa yang berakal dan mahu memikirkan sudah mengetahui betapa eratnya hubungan Yahudi dengan Syiah Rafidhah di Iran, maka hal ini menjadikan kita perlu lebih berwaspada dengan fitnah mereka yang merupakan pengikut dajjal yang teramai sila lihat link ini :

http://www.youtube.com/watch?v=Rn4ZX99Fbxs

Akhir-akhir ini ikhwan Muslimin juga turut menunjukkan wajah mereka yang sebenar apabila dengan bangganya memuji serta menyokong Iran dan pemimpin tertinggi Syiah Rafidhah, Khomenei dan Ahmadinejad serta negara syiah Iran. sila rujuk :

http://www.youtube.com/watch?v=XNOCUcXQ8Q0

Sebagaimana yang didedahkan oleh para Ulama Salaf seperti Ahli Hadith Mesir Syeikh Ahmad Syakir rahimahullah, Ikhwan Muslimin adalah Khawarij, menurut Ulama Salaf Syam, juga anak murid utama Ahli Hadith abad ini Syeikh Al-Albani, Syeikh Salim bin ‘Eid Al-Hilali hafizahullah, beliau menyebut dajjal akan keluar dari kelompok Khawarij, Syeikh berdalilkan hadith yang diriwayatkan oleh Imam Ibn Majah dalam sunannya dengan sanad yang shahih, daripada Abdullah bin ‘Umar radiallahua’anhuma daripada Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

«يَنْشَأُ نَشْءٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، كُلَّمَا خَرَجَ قَرْنٌ قُطِعَ» قَالَ ابْنُ عُمَرَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «كُلَّمَا خَرَجَ قَرْنٌ قُطِعَ، أَكْثَرَ مِنْ عِشْرِينَ مَرَّةً، حَتَّى يَخْرُجَ فِي عِرَاضِهِمُ الدَّجَّالُ

“Akan keluar satu kelompok manusia mereka membaca Al-Quran dan bacaan mereka tidak melepasi kerongkongan mereka setiap kali mereka keluar dari kalangan setiap kurun pasti akan dipotong (gagal usaha mereka), setiap kali keluar dari kalangan mereka setiap kurun pasti akan dipotong (Nabi mengulangnya lebih dari 20 kali) sehinggalah akan keluar DAJJAL dari kalangan kelompok mereka. . .”

Sila rujuk video di sini:
https://www.facebook.com/video/video.php?v=146524348740916&comments&set=t.100001124079784&type=1

Maka sebagaimana yang shahih daripada riwayat-riwayat Hadith daripada Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam Dajjal akan datang ke bukit Uhud dan cuba memasuki Madinah, namun Dajjal akan dihalang oleh Para Malaikat yang menjaga Madinah, namun orang-orang munafik dan kurang imannya akan keluar daripada Madinah mengikuti Dajjal dan tenteranya akibat dahsyatnya fitnah Dajjal, maka hanya orang-orang yang beriman dan mengikuti manhaj Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam sahaja yang akan kekal di Madinah. Maka inilah tafsiran hadith Madinah akan mengeluarkan orang-orang yang jahat di dalamnya sebagaimana besi mengeluarkan kotoran daripadanya.

Dahsyatnya fitnah Dajjal ini digambarkan oleh Hadith-hadith Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam sehingga ramai manusia akan terpedaya dengan kehebatannya, tertipu dengan syubhatnya, air yang dibawanya sebenarnya api, syurga yang dibawanya hakikatnya adalah syurga. Kita minta perlindungan kepada Allah daripada fitnah Dajjal.

Ancaman Terhadap Tipu Daya Ke Atas Madinah

Ancaman Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam terhadap mereka yang cuba melakukan tipu daya, permusuhan, menanamkan kebencian terhadap Madinah dan ahli-ahlinya, sabda Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam:

لاَ يَكِيدُ أهْلَ المَدِينَةِ أحَدٌ إلاَّ انْمَاعَ كَمَا يَنْماعُ الْمِلْحُ فِي المَاءِ

“Tidaklah seseorang pun yang melakukan tipu daya terhadap Ahli Madinah melainkan (tipu dayanya) akan dileburkan sebagaimana leburnya garam di lautan.”

[HR Bukhari no:1887, Bab Dosa Sesiapa yang melakukan tipu daya terhadap Penduduk Madinah]

Dalam riwayat Muslim, Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَهْلَ هَذِهِ الْبَلْدَةِ بِسُوءٍ – يَعْنِي الْمَدِينَةَ – أَذَابَهُ اللهُ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ

“Sesiapa yang ingin melakukan kejahatan dan keburukan terhadap penduduk negeri ini -iaitu Madinah- Allah akan meleburkannya sebagaimana leburnya garam di lautan.”

[HR Muslim no:1382]

Kejahatan, tipu daya dan keburukan membawa maksud yang umum meliputi cercaan, kebencian, permusuhan, tuduhan dan sebagainya terhadap penduduk Madinah, bila disebut Ahli Madinah ianya merangkumi Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam, para sahabatnya, para Ulama’nya, para penuntut ilmunya dan mereka yang membawa dakwah Sunnah rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam dan Manhaj Salafussoleh pada setiap zaman. Umpamanya dakwaan Syiah, Ikhwan Muslimin dan hizbinya mencerca para Sahabat Nabi, Ulama Sunnah di Madinah, dakwaan Ahbasy dan pelampau Asya’irah yang cuba menghalang manusia daripada belajar di Madinah, tuduhan mereka bahawasanya Madinah adalah tempat Wahhabi dan lain-lain hinaan, cercaan, tuduhan dan sebagainya maka semuanya bermaksud tipu daya.

Maka seharusnya mereka yang membuat tuduhan dusta, menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap para Ulama dan penuntut ilmu di Madinah An-Nabawiyyah ini berasa gentar dengan ancaman Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam, maka kita tahu bahawasanya Madinah adalah markaz dan tempat Al-Ansar dan para sahabat Nabi, maka Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

آيَةُ الإِيمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأَنْصَار

“Tanda Keimanan adalah mencintai Al-Ansar (para Sahabat Nabi), dan tanda kemunafikan adalah membenci Al-Ansar.”

[HR Bukhari no:17, Bab Tanda Keimanan adalah Mencintai Al-Ansar]

Ditulis oleh faqir ilallah,
Abul Hussein
Universiti Islam Madinah An-Nabawiyyah-حرسها الله-
12 Jamadil Akhir 1432 H/ 15 Mei 2011 M.
http://ibnabiashim89. blogspot. com

Siapakah Ahlil Bait?: Syubhat Berkenaan Hadits Kisa’

Mencintai Ahli Bait adalah salah satu kewajipan ke atas seorang muslim yang mengakui mengikuti islam yang dibawa oleh Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam, Hal ini merupakan sesuatu yang telah ditetapkan di dalam Al-Quran, As-Sunnah serta ijma’ ulama’, malah Para ulama’ Ahli Sunnah Wal Jama’ah meletakkan bab yang tersendiri di dalam kitab-kitab mereka tentang kelebihan Ahli Bait dan kewajipan seorang muslim terhadap hak-hak mereka. Firman Allah Ta‘ala:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (32) وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Wahai isteri-isteri Nabi, kamu semua bukanlah seperti mana-mana perempuan yang lain kalau kamu tetap bertaqwa. Oleh itu janganlah kamu berkata-kata dengan lembut manja (semasa bercakap dengan lelaki asing) kerana yang demikian boleh menimbulkan keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya (menaruh tujuan buruk kepada kamu), dan sebaliknya berkatalah dengan kata-kata yang baik (sesuai dan sopan). Dan hendaklah kamu tetap diam di rumah kamu serta janganlah kamu mendedahkan diri seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah zaman dahulu; dan dirikanlah sembahyang serta berilah zakat; dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah (perintahkan kamu dengan semuanya itu) hanyalah kerana hendak menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu – wahai ‘AhlulBait’ dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya (dari segala perkara yang keji).”

[Al-Ahzab: 32-33]

Kata Al-Imam Ibn Kathir rahimahullah:

“Ayat ini merupakan nas yang menunjukkan isteri-isteri Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam termasuk Ahli Bait.”

[Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim 6/410]

Firman Allah Ta‘ala:

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورً

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang yang beriman daripada diri mereka sendiri; dan isteri-isterinya adalah menjadi ibu-ibu mereka”…

[Al-Ahzab: 6]

Kata Al-Imam Al-Qurtubhi rahimahullah (w 671 H):

شَرَّفَ اللَّهُ تَعَالَى أَزْوَاجَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنْ جَعَلَهُنَّ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ، أَيْ فِي وُجُوبِ التَّعْظِيمِ وَالْمَبَرَّةِ وَالْإِجْلَالِ وَحُرْمَةِ النِّكَاحِ عَلَى الرِّجَالِ، وَحَجْبِهِنَّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُنَّ بِخِلَافِ الْأُمَّهَاتِ

“Allah telah memuliakan isteri-isteri nabiNya Sallallahu ‘alaihiwasallam dengan menjadikan mereka sebagai ibu-ibu kepada orang-orang beriman, iaitulah kewajipan memuliakan, berbuat baik kepada mereka, dan pengharaman menikahi mereka dengan lelaki lain, dan diwajibkan hijab ke atas mereka berbeza dengan ibu-ibu (kita sendiri ).”

[Tafsir Al-Qurtubhi, Darul kutub Misriyyah , 14/123 ]

Siapakah Ahli Bait Nabi Sallallahu ‘alaihi wa‘ala aalihi wasallam ?

هم مَن تَحرُم عليهم الصَّدقةُ، وهم أزواجُه وذريَّتُه، وكلُّ مسلمٍ ومسلمةٍ من نَسْل عبد المطلب، وهم بنُو هاشِم بن عبد مَناف

Mereka ialah sesiapa yang diharamkan ke atas mereka sadaqah (zakat) iaitulah mereka ialah isteri-isteri, zuriat (anak-anak) Nabi, dan semua muslim dan muslimat daripada keturunan ‘Abdul Mutalib, mereka ialah Bani Hasyim bin ‘Abdul Manaf.

[Rujuk Jamharah Ansab AlArab Ibn Hazm, At-Tabyin Fi Ansab Al-Qurasyiyin Ibn Qudamah m/s: 76, Minhajus Sunnah Ibn Taimiyyah 7/ 304 dan Fathul Bari Ibn Hajar 78/797]

Sebagaimana diketahui ayat surah Al-Ahzab ayat 33 menjadi dalil bahawasanya isteri-isteri Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam termasuk dari Ahli Bait kerana ayat tersebut turun mengenai mereka Radiallahu ‘anhunna. Selain itu kemasukan mereka juga dikhusukan di dalam hadits lain yang menafsirkan lafaz kaifiat selawat ke atas Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari di dalam Shahihnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ الزُّرَقِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ، أَنَّهُمْ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ قَالَ: “ قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

Daripada ‘Amru bin Sulaim Az-Zarqani, katanya: Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Humaid As-Saa’idi bahawasanya mereka bertanya kepada Rasulullah, bagaimanakah cara kami berselawat ke atas engkau? Nabi bersabda: “Ucapkanlah: Ya Allah limpahkanlah selawat ke atas Muhammad, isteri-isterinya, dan zuriat-zuriatnya, sebagaimana Engkau telah limpahkan selawat ke atas keluarga Ibrahim, dan berkatilah ke atas Muhammad, isteri-isterinya dan zuriat-zuriatnya, sebagaimana engkau limpahkan keberkatan ke atas keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

[HR Bukhari no; 3369, 6320, Abu Daud no: 979, Ibn Majah no: 905, An-Nasai no: 1294 ]

Syubhat Berkenaan Hadits Kisa’

Kaum Syiah menafikan isteri-isteri Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam termasuk dari kalangan Ahli Bait Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam, mereka menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no:2424, daripada ‘Aisyah radiallahu ‘anha:

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ، مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ، فَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فَأَدْخَلَهُ، ثُمَّ جَاءَ الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ مَعَهُ، ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا، ثُمَّ جَاءَ عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ، ثُمَّ قَالَ: ” {إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا}

Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam keluar pada suatu pagi dan bersama beliau sehelai kain selimut diperbuat daripada bulu hitam, lalu datang Al-Hasan bin ‘Ali lantas Nabi menyelimutinya bersama beliau, kemudian datang Al-Husain lalu beliau masuk bersamanya, kemudian datang Fatimah lalu Nabi memasukkan beliau, kemudian datang ‘Ali lalu Nabi memasukkan beliau (menyelimuti mereka semua bersamanya ) kemudian Nabi membaca ayat: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

[Al-Ahzab:33]

Hadits ini diriwayatkan juga oleh:

  1. Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Jami’ At-Tirmidzi, no: 3205
  2. Al-Imam Abu Bakr Ibn Abi Syaibah di dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah no: 32102
  3. Musnad Ishak Ibn Rawahaih no: 1271
  4. Al-Imam Ibn Hibban dalam Shahihnya no: 6976

Walaupun ada beberapa riwayat lain yang dipertikaikan status perawinya namun riwayat dari Shahih Muslim adalah riwayat yang paling shahih.

Syiah mendakwa Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam hanya memanggil ‘Ali, Fatimah, Al-Hassan dan Al-Hussain Radiallahu ‘anhum ke dalam selimut hitam tersebut bersama beliau lalu membacakan ayat 33 surah Al-Ahzab menunjukkan Ahli Bait hanya terbatas kepada mereka berempat dan para Isteri Nabi sallallahu ‘alaihiwasallam termasuk Ummul Mukminin ‘Aisyah, Hafsah Radiallahu ‘anhuma tidak termasuk dari Ahli Bait Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam.

Jawapan Al-Muhaddith Madinah An-Nabawiyyah As-Syaikh ‘Abdul Muhsin ‘Abbad Hafizahullah:

Surah Al-Ahzab (ayat 33) itu menjadi dalil menunjukkan kemasukan mereka (isteri-isteri) Nabi dalam Ahli Bait, kerana khitab dalam ayat tersebut ditujukan kepada mereka, dan kemasukan ‘Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Hussain Radiallahu ‘anhum dalam ayat tersebut ditunjukkan pula oleh As-Sunnah dalam hadits ini, dan pengkhususan Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam ke atas mereka berempat Radiallahu ‘anhum dalam hadits ini (hadits kisa’) tidak menunjukkan terbatasnya Ahli Baitnya hanya kepada mereka (berempat) sambil menafikan kerabat Nabi yang lain, akan tetapi hadits tersebut menunjukkan bahawasanya mereka termasuk daripada kerabat Nabi yang khusus. Dan persamaan dilalah (petunjuk) dalam ayat ini yang menunjukkan kemasukan isteri-isteri Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam dalam Ahli Baitnya, dan juga petunjuk yang ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah Radiallahu ‘anha yang terdahulu yang menunjukkan kemasukan ‘Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Hussain Radiallahu ‘anhum dalam Ahli Baitnya hal ini sebagaimana petunjuk dalam Firman Allah Ta‘ala:

{لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ}

Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama (pembinaannya)

[At-Taubah:108]

Bahawasanya maksud masjid di sini iaitulah Masjid Quba’, dan dilalah (petunjuk) dari As-Sunnah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no: 1398, bahawasanya yang dimaksudkan masjid yang dibina atas dasar taqwa iaitulah masjidnya (Masjid Nabawi) Sallallahu ‘alaihiwasallam. Sesungguhnya hal yang sama telah disebut oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah di dalam Risalah Fadhlu Ahlil Bait Wa Huquqihim m/s 2120.

-Selesai perkataan beliau Hafizahullah- [Rujuk : Fadhlu Ahlil Bait Wa ‘Uluw Makanatihim ‘Inda Ahli Sunnah Wal Jama’ah, Darul Ibn Athir, Riyadh m/s: 9]

Dengan keterangan tersebut maka terbatallah dakwaan bahawasanya para Isteri Nabi Sallallahu ‘alaihiwasallam tidak termasuk dari Ahli Bait Nabi sallallahu ‘alahiwasallam, dan dakwaan hadits Kisa’ itu statusnya lemah juga adalah tidak tepat kerana hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim di dalam Shahihnya.

Wallahu ‘alam,

Abu Ayyub Muhammad Fashan bin Ahmad Ziadi
Universiti Islam Al-Madinah An-Nabawiyyah
21 Muharram 1432 H.

Kewajiban Mencegah Kemungkaran Apabila Melihatnya

Oleh: Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad
Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel http://www.muslim.or.id

//

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

. . .

  • Hadits ini mencakup tingkatan-tingkatan mengingkari kemungkaran. Hadits ini juga menunjukkan bahwasanya barang siapa yang mampu untuk merubahnya dengan tangan maka dia wajib menempuh cara itu. Hal ini dilakukan oleh penguasa dan para petugas yang mewakilinya dalam suatu kepemimpinan yang bersifat umum.
  • Atau boleh juga hal itu dikerjakan oleh seorang ketua rumah tangga pada keluarganya sendiri dalam kepemimpinan yang bersifat lebih khusus. Yang dimaksud dengan ‘melihat kemungkaran’ di sini dapat artikan ‘melihat dengan mata dan yang serupa dengannya’ atau melihat dalam artian mengetahui informasi tentangnya.
  • Apabila seseorang bukan tergolong orang yang berhak merubah dengan tangan maka kewajiban untuk melarang yang mungkar itu beralih dengan menggunakan lisan yang memang mampu dilakukannya.
  • Dan kalau pun untuk itu pun dia tidak sanggup maka dia tetap berkewajiban untuk merubahnya dengan hati, itulah selemah-lemah iman. Merubah kemungkaran dengan hati adalah dengan membenci kemungkaran itu dan munculnya pengaruh terhadap hatinya karenanya.

. . .

Perintah untuk merubah kemungkaran yang terkandung dalam hadits ini tidaklah bertentangan dengan kandungan firman Allah ‘azza wa jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman urusilah diri kalian sendiri. Tidak akan membahayakan kalian orang yang sesat itu apabila kalian sudah berada di atas petunjuk.” (QS. al-Maidah: 105)

Karena makna dari ayat ini adalah: Apabila kalian telah melaksanakan kewajiban beramar ma’ruf dan nahi mungkar yang dituntut (oleh agama), itu berarti kalian telah menunaikan kewajiban yang dibebankan kepada kalian. Setelah hal itu kalian kerjakan, maka tidak akan merugikan kalian orang yang sesat itu selama kalian tetap mengikuti petunjuk.

. . .

Guru kami Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah mempunyai beberapa kajian berharga dalam masalah amar ma’ruf nahi mungkar ini ketika beliau menafsirkan ayat ini di dalam kitabnya Adhwa’ul Bayan. Sangat tepat jika para pembaca berkenan untuk merujuk kepadanya agar dapat memetik pelajaran lebih darinya.

//

Dari hadits ini dapat dipetik pelajaran yang lain yaitu:

  • Wajibnya beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Sesungguhnya dengan hal itulah kondisi umat manusia dan masyarakat suatu negeri akan menjadi baik.
  • Melarang kemungkaran itu bertingkat-tingkat. Barang siapa yang sanggup melakukan salah satunya maka wajib bagi dirinya untuk menempuh cara itu.
  • Iman itu bertingkat-tingkat. Ada yang kuat, ada yang lemah, dan ada yang lebih lemah lagi.

(Diterjemahkan dari Fathu Al Qawiy Al Matin fi Syarh Al Arba’in wa tatimmatil Khamsin li An Nawawi wa Ibni Rajab, islamspirit.com)

Demonstrasi Mazhab Khawarij / Kuffar


http://bm.harakahdaily.net/index.php/headline/3654-pas-lulus-usul-himpun-300000-untuk-bersih-2

  • “Dan sesiapa yang menentang (ajaran) Rasulullah sesudah terang nyata kepadanya kebenaran pertunjuk (yang dibawanya), dan ia pula mengikut jalan yang lain dari jalan orang-orang yang beriman, Kami akan memberikannya kuasa untuk melakukan (kesesatan) yang dipilihnya, dan (pada hari akhirat kelak) Kami akan memasukkannya ke dalam neraka jahanam; dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.i.” (An- Nisaa:115)
  • “Barang siapa yang mengamalkan sebuah perbuatan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Bukhori Muslim)
  • “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad)
  • “Akan muncul nanti tiga perkara (buruk) sebagai tanda dunia hampir kiamat.

1) Tempat makmur (masjid) telah lengang dan tempat lengang (pasar dan tempat hiburan) telah makmur (di kunjungi ramai).
2) Orang berjuang dan berjihad secara tunjuk perasaan (demonstrasi) .
3) Seorang menggesel amanah saperti unta menggesel badannya di pokok kayu.
– [HR At Tabrani].

  • “Sesungguh nya Allah benci kepada orang yang keji dan membuat perkara yang keji dan menjerit jerit di jalanan.” (HR Ibnu Abi Dunya)
  • “Seseorang Muslim (yang sempurna keislamannya) ialah apabila Muslim yang lain selamat dari keburukan lidah dan tangannya.” (HR Muslim)

FATWA-FATWA ULAMA AHLUSUNNAH MANHAJ SALAFUSSOLEH: “DEMONSTRASI”

Berkata Al-’Allamah Ibnu Khaldun rahimahullah- :

“Dan dari bab ini keadaan para pelaku revolusi/pemberontak dari kalangan orang umum dan para fuqaha` yang melakukan perubahan terhadap kemungkaran, sebab kebanyakan orang yang berjalan untuk beribadah dan menempuh jalan agama mereka bermazhab akan bolehnya menentang orang-orang yang melampaui batas dari kalangan para umaro` (pemimpin), dengan menyerukan perubahan kemungkaran dan melarang darinya dan amar ma’ruf dengan mengharapkan atasnya pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga menjadi banyaklah para pengikut mereka dan orang-orang yang berpegang bersama mereka dari kalangan rakyat jelata dan orang-orang awam dan mereka memampangkan diri-diri mereka dengan hal tersebut kepada tempat-tempat kehancuran dan kebanyakan dari mereka hancur pada jalan itu dalam keadaan berdosa tidak mendapatkan pahala, karena Allah Subhanahu tidak mewajibkan hal tersebut atas mereka dan sesungguhnya (Allah) hanya memerintahkan hal tersebut ketika ada kemampuan untuk melakukannya.

Berkata (Rasulullah) shollallahu ‘alaihi wa wa ala alihi wa sallam :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ وَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ

Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran maka hendaknya dia rubah dengan tangannya kemudian siapa yang tidak mampu maka dengan lisannya, siapa yang tidak mampu maka dengan hatinya“. (HR. Muslim dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudry-pent).

– [Muqaddimah Ibnu Khaldun jilid 1 hal 199 dengan perantara Al-Mukhtashor fii Hukmil Muzhoharat karya Abdullah As-Salafy]

Fatwa Asy-Syeikh Al-Imam ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah

Berkata Syeikh Ibnu Baz rahimahullah sebagaimana dalam majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah edisi ke 38 halaman 210 :

Maka uslub (cara,metode) yang baik adalah termasuk wasilah (pengantar/sarana) yang teragung untuk diterimanya suatu kebenaran dan uslub yang jelek lagi kasar temasuk wasilah yang sangat berbahaya kepada tertolak dan tidak diterimanya kebenaran atau menimbulkan kekacauan, kezholiman, permusuhan dan perkelahian. Dan masuk di dalam bab ini apa yang dilakukan oleh sebagian orang berupa muzoharot (demonstrasi) yang menyebabkan kejelekan yang sangat besar terhadap para da’i.

Maka berarak di jalan-jalan dan berteriak-teriak itu bukanlah jalan untuk memperbaiki dan (bukan pula jalan) dakwah, maka jalan yang benar adalah dengan berkunjung dan berutus surat dengan cara yang paling baik kemudian engkau menasihati pemerintah, gabernor dan pimpinan qobilah dengan jalan ini bukan dengan kekerasan dan demonstrasi.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam menetap 13 tahun di Mekkah, beliau tidak menggunakan demonstrasi dan tidak pula mengadakan perarakan dan tidak mengancam orang-orang (dengan ancaman) akan dihancurkannya harta mereka dan dilakukan ightiyal (rampasan kuasa ketenteraan) terhadap mereka. Dan tidak diragukan bahwa uslub seperti ini berbahaya bagi dakwah dan para da’i serta menghambat tersebarnya dakwah juga menyebabkan para penguasa dan para pembesar memusuhinya dan menentangnya dengan segala kemampuan. Mereka menginginkan kebaikan dengan uslub ini (uslub yang jelek yang disebutkan di atas) akan tetapi yang terjadi adalah kebalikannya, maka adanya seorang da’i kepada Allah yang menempuh jalan para Rasul dan para pengikutnya walaupun waktu menjadi panjang itu lebih baik daripada suatu amalan yang membahayakan dakwah dan membuatnya sempit atau menyebabkan dakwah itu habis sama sekali dan La Haula Wala Quwwata Illa Billah.”

– [Lihat tulisan berjudul Al-Mukhtashor fii Hukmil Muzhoharat karya Abdullah As-Salafy].

Dan Syeikh Ibnu Baz rahimahullah juga ditanya sebagaimana dalam kaset yang berjudul Muqtathofat min Aqwalil ‘Ulama :

Pertanyaan :

“Apakah demonstrasi yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan terhadap pemerintah dan penguasa dianggap sebagai suatu wasilah dari wasilah-wasilah dakwah, dan apakah orang yang mati dalam demonstrasi itu dianggap mati syahid di jalan Allah ?”.

Maka beliau menjawab :

“Saya tidak menganggap demonstrasinya perempuan dan laki-laki merupakan terapi/pengobatan, bahkan demonstrasi itu termasuk penyebab fitnah, termasuk penyebab kejelekan dan termasuk penyebab kezholiman dan pelampauan batas sebagian manusia atas sebagian yang lain tanpa hak. Akan tetapi sebab-sebab yang disyari’atkan adalah dengan menyurat, menasehati dan menyeru kepada kebaikan dengan cara damai (tentram). Demikianlah jalannya para ulama dan demikian pula yang ditempuh oleh para shahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut mereka dengan baik yaitu dengan menyurat dan berbicara langsung dengan orang-orang yang bersalah, pemerintah dan dengan penguasa dengan menghubungi, menasehati dan mengirim surat untuknya tanpa tasyhir (membeberkan keburukannya) di atas mimbar dan lain-lainnya bahwa dia telah mengerjakan begini dan sekarang telah menjadi begini, Wallahul Musta’an.

– [Lihat tulisan berjudul Al-Mukhtashor fii Hukmil Muzhoharat karya Abdullah As-Salafy].

Fatwa Fadhilatusy Syeikh Al-’Allamah Faqihuz Zaman Muhammad bin Sholeh Al-’Utsaimin rahimahullah

Dalam kitab yang berjudul Al-Jawab Al-Abhar hal. 79 karya Fu`ad Siraj, Syeikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya :

“Apakah muzhoharoh (demonstrasi) dapat dianggap sebagai wasilah dari wasilah dakwah yang disyari’atkan ?”.

Beliau menjawab :

“Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin Washollallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala Alihi Washahbihi Wasallama Waman Tabi’ahum bi Ihsanin ila Yaumiddin, amma ba’du : Sesungguhnya muzhoharoh adalah perkara baru dan tidak pernah dikenal di zaman Nabi shollallahi ‘alaihi wa sallam dan tidak pula di zaman Al-Khulafa` Ar-Rosyidin dan tidak pula di zaman shahabat radhiyallahu ‘anhum.

Kemudian didalamnya terdapat kekacauan dan keributan yang menyebabkannya menjadi perkara yang terlarang tatkala terdapat didalamnya penghancuran kaca, pintu dan lain-lainnya. Dan juga terdapat pula didalamnya percampurbauran antara laki-laki dan perempuan, pemuda dan orang tua serta kerusakan dan kemungkaran yang semisal dengannya.

Adapun permasalahan menekan pemerintah, maka kalau pemerintah ini adalah pemerintah muslim maka cukuplah yang menjadi nasehat untuknya Kitab Allah Ta’ala dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan ini adalah hal terbaik yang diperuntukkan untuk seorang muslim. Adapun kalau pemerintahannya pemerintahan kafir, maka dia tidaklah mempedulikan orang-orang yang berdemonstrasi itu dan dia akan bermanis muka secara zhohir dan dia tetap berada di atas kejelekan yang disembunyikannya di dalam batinnya, karena itulah kami melihat bahwa demonstrasi itu adalah perkara mungkar. Adapun perkataan mereka bahwa demonstrasi ini adalah dilakukan dengan cara damai (tanpa menimbulkan keributan dan huru hara), maka kadang ia damai dipermulaannya atau di awal kali kemudian berubah menjadi pengerusakan dan saya menasihatkan para pemuda untuk mengikuti jalan para salaf (orang-orang yang telah lalu) karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji atas kaum Muhajirin dan Anshor dan memuji orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”.

– [Lihat tulisan berjudul Al-Mukhtashor fii Hukmil Muzhoharat karya Abdullah As-Salafy].

Fatwa Syeikh Al-’Allamah AL-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah

Dalam kaset yang berjudul Fatawa Jeddah no. 5, Syeikh Al-Albany ditanya tentang hukum demonstrasi yang banyak dilakukan oleh pemuda-pemudi. Maka beliau menjawab dengan jawaban yang panjang yang pada akhirnya beliau simpulkan dengan perkataan berikut ini :

“Karena itu saya nyatakan dengan ringkas tentang demonstrasi-demonstrasi yang terjadi pada sebagian negara Islam (bahwa) perkara ini pada dasarnya adalah telah keluar dari jalannya kaum muslimin dan telah menyerupai orang-orang kafir dan (Allah) Robbul ‘Alamin telah berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu`min, maka Kami biarkan ia larut terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali“.

Fatwa Syeikh Al-’Allamah AL-Muhaddits Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy rahimahullah

Beliau berkata dalam kitab beliau yang berjudul Al-Ilhad Al-Khumeiny fii Ardhil Haramain hal. 56 : “Perlu diketahui bahwa demonstrasi dalam bentuk ini bukanlah Islamy. Kami sama sekali tidak mengetahui ada (riwayat) dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa beliau keluar secara berjama’ah menyerukan suatu syi’ar (simbol,slogan). Tidaklah hal tersebut kecuali hanya sebagai taqlid (ikut-ikutan) kepada musuh-musuh Islam dan menyerupai mereka, padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka“.

Fatwa Syeikh Al-’Allamah Sholeh bin Ghushun rahimahullah

Syeikh Sholeh bin Ghushun merupakan salah seorang anggota Ha’iah Kibarul ‘Ulama Saudi Arabia. Beliau ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut :

“Pada dua tahun yang lalu kami mendengar sebagian para da’i mendengung-dengungkan seputar permasalahan wasilah dakwah dan mengingkari kemungkaran dan mereka memasukkan (menggolongkan) demonstrasi, ightiyal dan pawai ke dalam wasilah dakwah tersebut dan sebagian di antara mereka kadang-kadang memasukkannya ke dalam bab jihad Islami.

1. Kami mengharap penjelasan apabila perkara-perkara ini termasuk wasilah yang disyari’atkan atau masuk di dalam lingkaran bid’ah yang tercela dan wasilah yang terlarang.

2. Kami memohon penjelasan tentang mu’amalah syar’i bagi orang-orang yang berdakwah kepada amalan-amalan ini dan berpendapat dengannya serta menyeru kepadanya”.

Maka beliau menjawab :

“Alhamdulillah sudah dimaklumi bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar, dakwah dan memberikan wejangan merupakan pokok dari agama Allah ‘Azza wa Jalla, akan tetapi Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam muhkam kitab-Nya Al-’Aziz :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik“. (QS. An-Nahl : 125).

Dan tatkala (Allah) ‘Azza wa Jalla mengutus Musa dan Harun kepada Fir’aun, Allah berfirman :

فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut“. (QS. Thoha : 44).

Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan hikmah dan beliau memerintahkan untuk menempuh dakwah yang hikmah dan berhias dengan kesabaran, hal ini terdapat dalam Al-Qur`an Al-’Aziz dalam surah Al-’Ashr :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Dengan seluruh nama-nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran“. (QS. Al-’Ashr : 1-3).

Maka seorang da’i kepada Allah ‘Azza wa Jalla, orang yang memerintah kepada yang ma’ruf dan orang yang mencegah dari kemungkaran hendaknya berhias dengan kesabaran dan wajib atasnya untuk mengharapkan pahala dan balasan dan wajib pula atasnya untuk bersabar terhadap apa yang dia dengar atau apa yang dia dapatkan (berupa kesulitan) dalam jalan dakwahnya. Adapun seorang manusia menempuh jalan kekerasan dan menempuh jalan -wal’iyadzubillah- mengganggu manusia, jalan, kekacauan atau jalan perbedaan, perselisihan dan memecah kalimat (baca : persatuan) maka ini adalah perkara-perkara syaitoniyah dan ia merupakan pokok dakwah Al-Khawarij. Ini pokok dakwah Al-Khawarij, mereka itulah yang mengingkari kemungkaran dengan pedang atau dengan benda tajam dan mengingkari perkara-perkara yang mereka tidak sependapat dengannya atau menyelisihi keyakinan mereka, mengingkarinya dengan pedangnya, menumpahkan darah, mengkafirkan manusia dan seterusnya dari berbagai macam perkara. Maka beda antara dakwah para shahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan Salaf Ash-Sholeh dan antara dakwah orang-orang Khawarij dan orang yang menempuh manhaj mereka serta berjalan di atas jalan mereka. Dakwah para shahabat dengan hikmah dan dengan maw’idzoh, menjelaskan kebenaran, bersabar, berhias dengan baik dan mengharapkan pahala dan balasan. Dan dakwah Khawarij memerangi manusia, menumpahkan darah mereka, mengkafirkan mereka, memecah belah kalimat dan merobek barisan kaum muslimin dan ini adalah pekerjaan yang keji dan perbuatan yang baru (bid’ah). Maka yang paling pantas bagi orang-orang yang menyeru kepada perkara ini hendaknya mereka menjauhi dan mereka dijauhi dan berjeleksangka kepada mereka mereka itu memecah belah kalimat kaum muslimin. Al-Jama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah siksaan dan adzab, wal’iyadzubillah. Dan andaikata penduduk suatu negara bersatu di atas kebaikan dan bersatu di atas satu kalimat, maka niscaya mereka akan mempunyai kedudukan dan mereka akan mempunyai wibawa. Akan tetapi penduduk negara sekarang berpartai-partai dan berkelompok-kelompok, mereka berpecah, berselisih dan masuk kepada mereka musuh-musuh dari diri mereka sendiri sebagian dari mereka mengusai sebagian yang lainnya dan ini adalah jalan yang bid’ah, jalan yang keji dan jalan yang seperti yang telah lalu bahwa ini adalah jalan orang-orang yang mematahkan tongkat dan memerangi amir/pimpinan ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu dan orang-orang yang bersama beliau dari para shahabat dan Ahli Bai’at Ar-Ridwan (orang-orang yang melakukan bai’at Ridwan). Mereka memeranginya menginginkan dengannya kebaikan dan mereka adalah gembong kerusakan dan bid’ah dan gembong perpecahan. Mereka itulah yang memecahkan kalimat kaum muslimin dan melemahkan kekuatan kaum muslimin dan demikian pula sampai yang berkeyakinan dengannya dan membangun bangunannya di atasnya dan menganggap hal tersebut baik, maka orang yang seperti ini (adalah orang yang) jelek keyakinannya dan wajib untuk dijauhi. Dan ketahuilah wal’iyadzubillah- bahwa seseorang itu berbahaya bagi ummat dan bagi teman-teman duduknya”.

– [Dari majalah Safinah An-Najah edisi ke-2 bulan Juli 1997 sebagaimana dalam tulisan berjudul Al-Mukhtashor fii Hukmil Muzhoharat karya Abdullah As-Salafy].

Fatwa Syeikh Al-’Allamah Ahmad Bin Yahya An-Najmy hafizhohullah

Beliau berkata di dalam kitab beliau Maurid Al-’Adzbi Az-Zilal halaman 228 dalam menjelaskan kritikan terhadap Ikhwanul Muslimin, beliau berkata :

Kritikan yang ke-23 : Tandzhim, pawai dan demonstrasi dan Islam tidak mengenal perbuatan ini dan tidak menetapkannya bahkan itu adalah perbuatan yang muhdats/baru (bid’ah) dari amalan orang-orang kafir dan telah diimpor dari mereka kepada kita. Apakah setiap kali orang kafir beramal dengan suatu amalan kita menyeimbanginya dan mengikuti mereka?,  sesungguhnya Islam tidaklah mendapatkan pertolongan dengan pawai dan demonstrasi akan tetapi Islam akan mendapatkan pertolongan dengan jihad yang dibangun di atas ‘aqidah yang shohihah dan jalan yang disunnahkan oleh Muhammad bin ‘Abdillah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dan para Rasul dan pengikutnya telah diuji dengan berbagai macam cobaan dan tidaklah mereka diperintah kecuali dengan kesabaran. Ini Nabi Musa ‘alaihissalam beliau berkata kepada Bani Israil bersamaan dengan apa yang mereka dapatkan dari Fir’aun dan kaumnya berupa pembunuhan laki-laki dari anak-anak laki-laki yang baru dilahirkan dan membiarkan hidup kaum perempuannya, Nabi Musa berkata kepada mereka sebagaimana yang dikhabarkan oleh Allah ‘Azza Wa Jalla, Musa berkata kepada kaumnya :

اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa“. (QS. Al-A’raf : 128).

Dan ini Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam beliau berkata kepada sebagian para shahabatnya tatkala mereka mengadukan kepada beliau apa yang mereka dapatkan dari gangguan kaum musyrikin (beliau berkata) :

إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ مِنْهُمْ فَيُوْضَعُ الْمِنْشَارُ فِيْ مَفْرَقِهِ حَتَّى يُشَقُّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ مَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ وَلَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيْرُ الرَّجْلُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهُ وَالذِّئْبُ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ

Sesungguhnya telah terjadi pada orang-orang sebelum kalian didatangkan seseorang dari mereka kemudian diletakkan gergaji di atas dahinya sampai dibelahlah antara kedua kakinya dan tidaklah hal tersebut menahannya untuk tetap teguh diatas agamanya. Dan demi Allah sungguh Allah akan menyempurnakan perkara ini sampai seseorang berjalan dari Shon’a menuju Hadramaut dan dia tidak takut kecuali Allah dan srigala berada di atas kambing-kambingnya (siap memangsanya-pent.) akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa“. (HSR. Bukhary dari shahabat Khobbab bin Al-Arot-pent)

Maka beliau tidak memerintahkan shahabatnya melakukan demonstrasi dan tidak pula ightiyal.

Fatwa Syeikh Sholeh Bin ‘Abdurrahman Al-Athram ‘afahullah

Syeikh Sholeh Al-Athram adalah salah seorang anggota Hai’ah Kibarul ‘Ulama Saudi Arabia, beliau ditanya tentang hukum demonstrasi dan apakah itu merupakan wasilah dakwah.

Beliau menjawab :

Tidak, ini merupakan wasilah syaithon2, kemudian beliau berkata : “Perbuatan orang-orang Khawarij yang kudeta terhadap ‘Utsman adalah bentuk muzhaharoh“.

Fatwa Syeikh Sholeh Bin Fauzan Al-Fauzan hafizhohullahu

Syeikh Sholeh Al-Fauzan, salah seorang ulama besar di Saudi Arabia dan merupakan anggota Al-Lajnah Ad-Daimah dan Hai’ah Kibarul ‘Ulama, pada malam senin tanggal 2 Safar 1423 H bertepatan tanggal 17 April 2002 dalam acara pertemuan terbuka yang disebarkan melalui Paltalk beliau ditanya dengan nash sebagai berikut :

Apa hukum berdemonstrasi, apakah dia termasuk bagian dari jihad fii sabilillah ?

Beliau menjawab :

“Demonstrasi itu tidak ada faidah didalamnya, itu adalah kekacauan, itu adalah kekacauan dan apa mudharatnya bagi musuh kalau manusia melakukan demonstrasi di jalan-jalan dan (berteriak-teriak) mengangkat suara ? bahkan perbuatan ini menyebabkan musuh senang seraya berkata sesungguhnya mereka telah merasa mendapatkan kejelakan dan meresa mendapatkan mudharat dan musuh gembira dengan ini. Islam adalah agama sakinah (ketenangan), agama hudu` (ketentraman), dan agama ilmu bukan agama kekacauan dan hiruk pikuk, sesungguhnya dia adalah agama yang menghendaki sakinah dan hudu` dengan beramal dengan amalan-amalan yang mulia lagi majdy (tinggi,bermanfaat) dengan bentuk menolong kaum muslimin dan mendo’akan mereka, membantu mereka dengan harta dan senjata, inilah yang majdy dan membela mereka di negeri-negeri supaya diangkat dari mereka kezholiman dan meminta kepada negeri-negeri yang menggembar-gemborkan demokrasi untuk memberikan kepada kaum muslimin hak mereka, dan hak-hak asasi manusia yang mereka membanggakan diri dengannya, tetapi mereka menganggap bahwa manusia itu hanyalah orang kafir adapun muslim disisi mereka bukan manusia bahkan teroris. Mereka menamakan kaum muslimin sebagai gerombolan teroris. Dan manusia yang punya hak-hak asasi hanyalah orang kafir menurut mereka !.

Maka wajib bagi kaum muslimin untuk bermanhaj dengan manhaj islam pada kejadian-kejadian yang sepeti ini dan yang selainnya. Islam tidak datang dengan demonstrasi, hirup pikuk dan berteriak-teriak atau menghancurkan harta benda atau melampaui batas. Ini semuanya bukan dari islam dan tidak memberikan faidah bahkan memberikan mudharat bagi kaum muslimin dan tidak memberikan mudharat bagi musuh-musuhnya. Ini memudharatkan kaum muslimin dan tidak memudharatkan musuh-musuhnya bahkan musuhnya gembira dengan hal ini dan berkata :

saya telah membekaskan pengaruh (jelek) pada mereka, saya telah membuat mereka marah dan saya telah membuat mereka merasa mendapat pengaruh jelek”.

http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg03077.html

“ISLAM MANHAJ SALAFUSSOLEH: BERAGAMA MENGIKUT JEJAK SALAFUSSOLEH”

FATWA ULAMA SUNNAH mengenai SYIAH RAFIDHAH

IMAM MALIK

االامام مالكروى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سمعت أبا عبد الله يقول :قال مالك : الذى يشتم اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم

ليس لهم اسم او قال نصيب فى الاسلام.

( الخلال / السن: ۲،٥٥٧ )

Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakr Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdullah berkata, bahawa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam”.

(Al Khalal / As Sunnah, 2-557 )

Begitu pula Ibnu Katsir berkata, dalam kaitannya dengan firman Allah surat Al Fath ayat 29, yang ertinya :

“Muhammad itu adalah Rasul (utusan Allah). Orang-orang yang bersama dengan dia (Mukminin) sangat keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keredhaanNya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, kerana bekas sujud. Itulah contoh (sifat) mereka dalam Taurat. Dan contoh mereka dalam Injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya (yang kecil lemah), lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang-orang yang menanamnya. (Begitu pula orang-orang Islam, pada mula-mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat), supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan keampunan dan pahala yang besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal salih diantara mereka”.

Katanya : Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik, beliau mengambil kesimpulan bahawa golongan Rafidhah (Syiah), iaitu orang-orang yang membenci para sahabat Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wasallam, adalah Kafir.

Beliau berkata :

“Kerana mereka ini membenci para sahabat, maka dia adalah Kafir berdasarkan ayat ini”. Pendapat tersebut disepakati oleh sejumlah Ulama. (Tafsir Ibin Katsir, 4-219)

Imam Al Qurthubi berkata :

“Sesungguhnya ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya juga benar, siapapun yang menghina seorang sahabat atau mencela periwayatannya, maka dia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin”.

(Tafsir Al Qurthubi, 16-297).

IMAM AHMAD

الامام احمد ابن حمبل:روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سألت ابا عبد الله عمن يشتمأبا بكر وعمر وعائشة ؟ قال: ماأراه على الاسلام.

( الخلال / السنة : ۲، ٥٥٧)

Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakr Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, “Saya berpendapat bahawa dia bukan orang Islam”. (Al Khalal / As Sunnah, 2-557).

Beliau Al Khalal juga berkata : Abdul Malik bin Abdul Hamid menceritakan kepadaku, katanya:

“Saya mendengar Abu Abdullah berkata : “Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka kami khuatir dia keluar dari Islam, tanpa disedari”. (Al Khalal / As Sunnah, 2-558).

Beliau Al Khalal juga berkata :

وقال الخلال: أخبرنا عبد الله بن احمد بن حمبل قال : سألت أبى عن رجل شتم رجلامن اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم فقال : ما أراه على الاسلام(الخلال / السنة : ۲،٥٥٧)

“Abdullah bin Ahmad bin Hambal bercerita kepada kami, katanya : “Saya bertanya kepada ayahku perihal seorang yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wasallam. Maka beliau menjawab : “Saya berpendapat ia bukan orang Islam”. (Al Khalal / As Sunnah, 2-558)

Dalam kitab AS SUNNAH karya IMAM AHMAD halaman 82, disebutkan mengenai pendapat beliau tentang golongan Rafidhah (Syiah) :

“Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari sahabat Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wasallam dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya, kecuali hanya empat orang saja yang tidak mereka kafirkan, iaitu Ali, Ammar, Migdad dan Salman. Golongan Rafidhah (Syiah) ini sama sekali bukan Islam.

AL BUKHARI

الامام البخارى.قال رحمه الله : ماأبالى صليت خلف الجهمى والرافضىأم صليت خلف اليهود والنصارى

ولا يسلم عليه ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم.

( خلق أفعال العباد :١٢٥)

Imam Bukhari berkata : “Bagi saya sama saja, apakah aku solat dibelakang Imam yang beraliran JAHM atau Rafidhah (Syiah) atau aku solat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani. Dan seseorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh berkahwin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan haiwan yang disembelih oleh mereka. (Imam Bukhari / Khalgul Afail, halaman 125).

AL FARYABI

الفريابى :روى الخلال قال : أخبرنى حرب بن اسماعيل الكرمانىقال : حدثنا موسى بن هارون بن زياد قال: سمعت الفريابى ورجل يسأله عمن شتم أبابكر

قال: كافر، قال: فيصلى عليه، قال: لا. وسألته كيف يصنع به وهو يقول لا اله الا الله،

قال: لا تمسوه بأيديكم، ارفعوه بالخشب حتى تواروه فى حفرته.

(الخلال/السنة: ۲،٥٦٦)

Al Khalal meriwayatkan, katanya : “Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail Al Karmani, katanya : Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami : “Saya mendengar Al Faryaabi dan seseorang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakr”. Jawabnya : “Dia kafir”. Lalu dia berkata : “Apakah orang semacam itu boleh disolatkan jenazahnya ?”. Jawabnya : “Tidak”. Dan aku bertanya pula kepadanya : “Mengenai apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaha Illallah?”. Jawabnya : “Janganlah kamu sentuh jenazahnya dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu turunkan ke liang lahatnya”. (Al Khalal / As Sunnah, 6-566).

 

AHMAD BIN YUNUS

Beliau berkata: “Sekiranya seorang Yahudi menyembelih seekor binatang dan seorang Rafidhi (Syiah) juga menyembelih seekor binatang, nescaya saya hanya memakan sembelihan si Yahudi dan aku tidak mahu makan sembelihan si Rafidhi (Syiah), sebab dia telah murtad dari Islam”.

– [Ash Shariim Al Maslul, halaman 570].

 

ABU ZUR’AH AR RAZI

أبو زرعة الرازى.

اذا رأيت الرجل ينتقص أحدا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم

فاعلم أنه زنديق، لأن مؤدى قوله الى ابطال القران والسنة.

( الكفاية : ٤٩)

Beliau berkata:

“Bila anda melihat seorang merendahkan (mencela) salah seorang sahabat Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam, maka ketahuilah bahawa dia adalah ZINDIIQ. Kerana ucapannya itu mengakibatkan membatalkan Al-Qur’an dan As Sunnah”.

– [Al Kifayah, halaman 49].

 

ABDUL QADIR AL BAGHDADI

Beliau berkata:
“Golongan Jarudiyah, Hisyamiyah, Jahmiyah dan Imamiyah adalah golongan yang mengikuti hawa nafsu yang telah mengkafirkan sahabat-sahabat terbaik Nabi, maka menurut kami mereka adalah kafir. Menurut kami mereka tidak boleh di solatkan dan tidak sah berma’mum solat di belakang mereka”.

Beliau selanjutnya berkata:
“Mengkafirkan mereka adalah suatu hal yang wajib, sebab mereka menyatakan Allah bersifat Al Bada’.

– [Al Fargu Bainal Firaq, halaman 357].

 

IBNU HAZM

Beliau berkata :
“Salah satu pendapat golongan Syiah Imamiyah, baik yang dahulu mahupun sekarang ialah, bahawa Al-Qur’an sesungguhnya sudah diubah”.

Kemudian beliau berkata:
“Orang yang berpendapat bahawa Al-Qur’an yang ada ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan mendustakan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam”.

– [Al Fashl, 5-40].

 

ABU HAMID AL GHAZALI

Imam Ghazali berkata :
“Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakr dan Umar Radhiallah Anhuma, maka bererti dia telah menentang dan membinasakan Ijma kaum Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan syurga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”.

Kemudian kata beliau:
“Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun dia tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Kerana dia telah mendustakan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang tersebut adalah kafir”.

– [Fadhaihul Batiniyyah, halaman 149].

AL QADHI IYADH

Beliau berkata:
“Kita telah menetapkan kekafiran orang-orang Syiah yang telah berlebihan dalam keyakinan mereka, bahawa para Imam mereka lebih mulia dari pada para Nabi”.

Beliau juga berkata:
“Kami juga mengkafirkan siapa saja yang mengingkari Al-Qur’an, walaupun hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat yang diubah atau ditambah di dalamnya, sebagaimana golongan Batiniyah (Syiah) danSyiah Ismailiyah”.

– [Ar Risalah, halaman 325.

 

IBNU TAIMIYAH

Beliau berkata:
“Barangsiapa beranggapan bahawa Al-Qur’an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada yang disembunyikan, atau beranggapan bahawa Al-Qur’an mempunyai penafsiran-penafsiran batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya. Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang kekafiran orang semacam ini”.

“Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak lebih dari sepuluh orang, atau majoriti dari mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan lagi, bahawa orang semacam ini adalah kafir. Kerana dia telah mendustakan penegasan Al-Qur’an yang terdapat di dalam berbagai ayat mengenai keredhaan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini, adakah orang yang akan meragukannya? Sebab kekafiran orang semacam ini sudah jelas….”

– [Ash Sharim Al Maslul, halaman 586-587].

 

SYAH ABDUL AZIZ DAHLAWI

Sesudah mempelajari sampai tuntas mazhab Itsna Asyariyah dari sumber-sumber mereka yang terpercaya, beliau berkata :
“Seseorang yang menyemak aqidah mereka yang busuk dan apa yang terkandung didalamnya, niscaya dia tahu bahawa mereka ini sama sekali tidak berhak sebagai orang Islam dan tampak jelaslah baginya kekafiran mereka”.

– [Mukhtashor At Tuhfah Al Itsna Asyariyah, halaman 300].

 

MUHAMMAD BIN ALI ASY SYAUKANI

Perbuatan yang mereka (Syiah) lakukan mencakupi empat dosa besar, masing-masing dari dosa besar ini merupakan kekafiran yang terang-terangan.

  1. Menentang Allah.
  2. Menentang Rasulullah.
  3. Menentang Syariat Islam yang suci dan upaya mereka untuk melenyapkannya.
  4. Mengkafirkan para sahabat yang diredhai oleh Allah, yang didalam Al-Qur’an telah dijelaskan sifat-sifatnya, bahawa mereka orang yang paling keras kepada golongan Kuffar, Allah SWT menjadikan golongan Kuffar sangat benci kepada mereka. Allah meredhai mereka dan disamping telah menjadi ketetapan hukum didalam syariat Islam yang suci, bahawa barangsiapa mengkafirkan seseorang muslim, maka dia telah kafir, sebagaimana tersebut di dalam Bukhari, Muslim dan lain-lainnya.

– [Asy Syaukani, Natsrul Jauhar Ala Hadiitsi Abi Dzar, Al Warogoh, hal 15-16].

 

PARA ULAMA SEBELAH TIMUR SUNGAI JAIHUN

Al Alusi (seorang penulis tafsir) berkata:
“Sebagian besar ulama disebelah timur sungai ini menyatakan kekafiran golongan Itsna Asyariyah dan menetapkan halalnya darah mereka, harta mereka dan menjadikan wanita mereka menjadi hamba, sebab mereka ini mencela sahabat Nabi  Sallallahu ‘alaihi Wasallam, terutama Abu Bakr dan Umar, yang menjadi telinga dan mata Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wasallam, mengingkari kekhilafahan Abu Bakr, menuduh Aisyah Ummul Mukminin berbuat zina, padahal Allah sendiri menyatakan kesuciannya, melebihkan Ali R.A. dari rasul-rasul Ulul Azmi. Sebagian mereka melebihkannya dari Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam dan mengingkari terpeliharanya Al-Qur’an dari kekurangan dan tambahan”.

– [Nahjus Salaamah, halaman 29-30].

Demikian fatwa-fatwa dari para Imam dan para Ulama yang dengan tegas mengkafirkan golongan Syiah yang telah mencaci maki dan mengkafirkan para sahabat serta menuduh Ummul mukminin Aisyah berbuat serong, dan berkeyakinan bahawa Al-Qur’an yang ada sekarang ini tidak asli lagi (Mukharruf). Serta meletakkan imam-imam mereka lebih tinggi (Afdhal) dari para Rasul.

Semoga fatwa-fatwa tersebut dapat membantu pembaca dalam mengambil sikap tegas terhadap golongan Syiah Rafidhah.

“Ya Allah tunjukkanlah pada kami bahawa yang benar itu benar dan jadikanlah kami sebagai pengikutnya, dan tunjukkanlah pada kami bahawa yang batil itu batil dan jadikanlah kami sebagai orang yang menjauhinya.”